NovelToon NovelToon
Once Again

Once Again

Status: tamat
Genre:Beda Usia / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mesta Suntana

Terikat, membelenggu dirinya dalam ruang gelap yang dingin. Pewaris Perusahaan Shimizu, merupakan sebuah takdir yang terwariskan padanya. Lumi harus hidup sesuai darah yang sudah mengalir padanya.

Terang dan uluran tangan, bahkan ketulusan seseorang padanya dia kubur dalam-dalam. Baginya gelap dalam sebuah dendam yang tergenggam akan jauh lebih baik tanpa ada secerca cahaya apapun.

Tapi, kehidupannya sedikit terguncang akan dua sosok wanita yang mengisi relung pikirannya. Wanita yang dia rindukan tapi rupa wajahnya tidak Lumi kenali. Lalu satu sosok wanita yang tulus perhatian padanya meski mereka saling membenci.

Apakah, Lumi akan membuka tirai dan membiarkan secerca cahaya masuk dalam dunia gelap dengan penuh dendam?

Lalu, kemana hatinya akan berlabuh? wanita masalalu? atau wanita yang dia anggap pengacau sekarang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mesta Suntana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 - Fight

Malam yang gelap begitu mencekam. Terang lampu jalanan tak kuasa menerangi kegelapan. Berdiri tegang di bawah sorot lampu temaram, matanya tajam mengawasi lima bayangan hitam yang mulai mendekat dari luar jangkauan cahaya. Langkah mereka berat dan terukur. Kaki yang sudah menapaki sorot cahaya, perlahan menyibak gelap — jelas terlihat dari ujung bawah hingga atas. Beringas, sorot mata memburu —haus kekerasan tersingkap dalam sorot cahaya lampu.

Lana menelan ludahnya sendiri melihat pria kekar beringas itu semakin mendekati dirinya. Gemetar, tangan itu menguat erat pipa besi.

'Haruskah aku menyerang duluan?' pikirnya, gugup. Tak satu pun dari mereka bergerak lebih dulu, menciptakan ketegangan yang menggantung di udara.

"Sial!" Lana mulai mengayunkan pipa besi ke udara, mencoba peruntungan apakah dia bisa memukul satu orang.

Belum sempat Lana melancarkan aksinya, tanpa Lana prediksi. Dari samping, pria kekar perutnya yang menggumpal sudah mulai menyerang Lana. Refleks Lana menghindar begitu cepat mendengar suara pria gumpalan lemak itu bergarau. Nyaris. Lana mulai membuat jarak, menarik garis mundur.

Ketidakpuasan yang menggarang, terlihat dari wajah pria gumpalan itu karena tidak berhasil menyerang Lana. Tanpa waktu rehat dari penyerangan awal, lima preman itu mulai bergerak serempak menyerang Lana.

Perkelahian mulai tak terelakkan. Pertarungan pecah di tengah malam yang sunyi.

.

.

.

.

.

Waktu yang berpacu dalam lingkaran normal, namun baginya waktu berpacu begitu panjang dan lambat akan perkelahian yang berlangsung brutal — tiada henti. Begitu beringas. Lana terdesak, tubuh mungilnya dihantam gelombang serangan yang datang tanpa jeda. Dia berusaha bertahan, tapi melawan lima pria kekar nyaris mustahil. Nafasnya memburu, pikirannya berpacu cepat, mengandalkan ingatan samar tentang bela diri yang pernah dia pelajari semasa kecil.

Sebuah celah terbuka.

Dengan ayunan penuh tekad, Lana menghantam kepala salah satu pria.

Dugg!

Satu pukulan keras berhasil mengenai salah satu dari mereka. Tepat di bagian kepalanya. Pria itu tersungkur, tubuhnya limbung tak sadarkan diri di teras aspal yang dingin dan keras.

Kini tersisa empat orang. Mata pria itu kini mulai beringas dan menajam, sorotnya liar penuh dendam —ketika salah satu temannya tumbang.

Babak pertarungan berikutnya, menyeret Lana dalam serangan yang datang bertubi-tubi.

Pukulan dan tendangan terus menghujam Lana dari segala arah. Sudah berapa banyak dia menangkis, menghindar, menggeliat keluar dari jangkauan serangan mereka. Serangan Lana tidak terlalu banyak memeberikan efek pada mereka, meski tepat sasaran —tak cukup kuat menggoyahkan lawan. Walaupun Lana selalu dapat menangkis dan menghindari serangan mereka, tetapi tenaga Lana terkuras begitu banyak. Dia terus bertahan, tapi tak tahu sampai kapan bisa tetap berdiri. Lana mulai merasakan tenaganya berangsur melemah, tubuhnya mulai menjerit lelah. Otot-ototnya menegang, nafasnya semakin berat. Setiap gerakan terasa lebih lambat.

Tenaganya sudah mencapai titik batas.

'Aku tidak boleh tumbang... Bukan sekarang... bukan di tempat ini.' ujarnya dalam hati seraya melirik

Lana mulai berpikir dan harus bertindak lebih cepat.

Bruugh!

Satu pukulan menghantam keras perut Lana, membuatnya terpental dari lingkaran sorot cahaya lampu jalanan. Keseimbangannya hampir rubuh dan terjatuh akibat kelengahan Lana dalam bertarung. Tubuhnya sedikit meringkuk,tangannya meremas —menahan rasa sakit perutnya. Kegelapan telah menyergap Lana, ketegangan mulai merangkak, merenggut nyawa dalam rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Langkah mengintimidasi merangkak, mempersempit penuh ancaman. Samar, deru nafas memburu terdengar menelusup kesunyian malam. Detak jantung Lana bergema ditelinganya.

Sebuah serangan mendadak datang dari depan. Refleks, Lana mengangkat pipanya— menangkis pukulan tersebut. Dentang logam terdengar keras bertabrakan. Pria itu berteriak, meraung kesakitan — dihantam pipa besi yang Lana ayunkan tanpa ragu. Dia menggenggam pergelangan tangannya yang seolah remuk.

Langkah tergesa menerkam, terdengar mendekat dari arah belakang. Tanpa pikir panjang, Lana mendorong pria yang meringis di depannya — membiarkan pria itu lepas landas dan terhuyung menghantam rekannya sendiri. Itu cukup untuk Lana menyelinap keluar dari kepungan.

Namun, kebebasannya hanya sesaat. Jengah yang mereka rasakan, menarik keluar bilah-bilah tajam — yang memantulkan kilauannya. Mereka kini bersenjata. Lana mulai terkejut dan panik karena dia tidak memperkirakan hal itu.

Lana tertegun. Jantungnya berdebar lebih cepat, matanya melebar.

"Anak kurang ajar." umpatnya menggeram seraya melangkah lebih dekat dengan Lana.

Pisau itu terus mengacung kepada Lana di setiap langkah pelannya. Mata si pemimpin preman menyala tajam buas, menatap Lana seolah kematian adalah satu-satunya akhir yang dia inginkan untuk gadis itu.

'Sial… Aku lupa kalau mereka ini preman.' Kaki Lana mulai mundur pelan, tak berani berpaling, pipanya terangkat waspada.

"SERANG!!" teriak pria beringas berperawakan tinggi yang mendominasi preman yang lain.

Titahnya menggema, memecah keheningan. Mencekat jiwa yang berada dalam tekanan maut.

Senjata tajam itu mulai menyerang Lana brutal. Rasa panik bergelayut di setiap pertarungannya, tapi Lana tetap berusaha menjaga ketenangannya. Dia tahu, jika panik menguasainya, ketakutan akan lebih gencar memakannya. Saat Lana mencoba menghindar, sialnya dia tergores cukup panjang dibagian lengan punggung. Darah mulai mengalir hangat — segar. Luka sayatan itu cukup dalam. Rasa sakit begitu perih mencengkram kuat, namun Lana, tetap mengeratkan pegangan pada pipa besi tersebut.

Brugh!

Prankk!

Suara pecahan kaca nyaring terdengar, memekakkan telinga. Lana menoleh cepat — wanita paruh baya — sebuah mobil, jendela pintu kaca mobil pecah berserakan. Ternyata salah satu dari mereka lebih memilih untuk segera menangkap wanita paruh baya itu. Terlihat rona ketakutan pada wajahnya yang sudah keriput begitu terperangah. Dia meringkuk — gemetar.

"Tidak!!!" sergah Lana — matanya terbelalak hebat.

Kepanikan yang dia tekan, seketika buyar — membiarkan rasa panik melilitnya. Segera Lana berlari ke arah mobil. Tanpa pikir panjang. Tanpa dia sadari. Satu tarikan, merampas pipa besi yang Lana genggam —terlepas.

Tangan Lana di tarik.

Duugh!

Tubuh Lana terbanting menghantam aspal begitu keras. Tubuhnya yang tergeletak terlentang, dunia terlihat berputar-putar dalam netranya. Nyeri menjalar pada seluruh tubuhnya. Tak mampu bergerak. Rasa pusing mulai menusuk kepala Lana bersamaan kabur pada pandangannya.

Desiran suara angin, langkah kaki yang mendekati tubuh yang tergeletak tak berdaya. Matanya terpejam setengah. Di tengah rasa sakit tersebut, Lana masih bisa mendengar samar dari dengungan yang perlahan lenyap. Baginya, tidak ada waktu untuk merasakan sakit. Nyawanya masih dipertaruhkan, wanita paruh baya itu masih dalam bahaya. Rehat sama dengan mati.

Langkah kaki yang melenggang melewati tubuh mungil yang tergeletak — mengira Lana sudah tidak berdaya. Itu salah besar.

Dengan teriakan terpendam, Lana memaksa tubuhnya bangkit. Lututnya gemetar, tapi matanya menyala penuh tekad.

Brugh!

Tendangan kuat dari belakang menghantam pria itu, membuatnya terjungkal keras ke aspal. Suara tubuhnya menghantam lantai jalan menggema mengerikan. Saat itu juga tiga ekor kepala yang masih kokoh, langsung menoleh — membangkitkan amarah dalam sorot matanya, kala melihat wanita kecil itu kembali bangkit. Pisau kembali melayang, meluncur pada Lana. Perkelahian kembali terjadi dengan sisa tenaga yang tersisa.

Kali ini Lana tidak terlalu banyak menangkis, dia terus menyerang lawan tidak peduli benda tajam itu akan melukai dirinya. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal—selamatkan wanita itu. Nekat, menantang maut — hanya berbekal tangan kosong. Setiap serangannya adalah ledakan dari sisa tenaga terakhir, dari rasa takut, dari keberanian yang terpaksa dibangkitkan.

Sesuatu yang ditunggu akhirnya datang — kesempatan itu tidak Lana sia-siakan. Saat pria itu menghunuskan pisaunya ke arah Lana, menginginkan kematian di tangannya. Lana dengan sigap menghindar dan mencengkram pergelangan tangannya. Satu tarikan penuh seraya satu tinjuan penuh dan cepat menghantam perutnya. Lalu, sekuat tenaga Lana membanting tubuh kekar itu ke aspal sekeras mungkin — menimbulkan dentuman keras dan menyakitkan.

Melihat pria itu masih menggeliat, setengah sadar. Tak memberi ampun. Benda yang terhempas dari tautannya. Lana mengambil kembali pipa besi dingin yang tergeletak, menggenggamnya erat. Satu hantaman telak pada kepalanya, Lana layangkan pada pria yang tergeletak di jalan — begitu keras, tanpa belas kasihan.

Darah mengucur—merembes dari pelipis, mengalir menodai aspal hitam. Setengah kesadaran pria itu perlahan lenyap, sepenuhnya — tenggelam bersama bunyi napas terakhirnya yang tertahan.

Satu pukulan terakhir menghantarkannya ke dunia sunyi.

"Semoga kau tenang di neraka sana," lirih Lana menyeringai remeh, kejam.

Lana berdiri sejenak, dadanya naik turun, napasnya berat, tapi matanya tetap menyala. Saat ia menggeser kuda-kudanya, lawannya mengira ia lengah—sebuah kesalahan fatal. Hanya butuh satu gerakan.dl Dugaannya salah dan membawa dirinya lenyap dan terkapar di jalanan. Satu pukulan kembali menjatuhkan lawannya.

"Tersisa dua orang lagi." Suaranya parau, nyaris seperti bisikan, tapi cukup untuk membuat dua pria di depannya mundur setapak.

Lana melangkah pelan, tertatih, tapi tangan kanannya masih teracung, menggenggam pipa besi yang kini lengket oleh darah.

Dua pasang mata menatapnya—terbelalak, tercekat. Siapa sangka wanita mungil itu begitu berduri yang mampu menusuk dan memberikan rasa sakit. Tidak hanya sekedar memukul, tapi dia begitu pandai menggunakan benda besi panjang tersebut. Wajah yang semula lembut dan manis itu, kini berubah menjadi ancaman hidup. Seperti bunga ranum yang kelopaknya mengucurkan bisa, ia bukan sekadar indah. Ia mematikan.

Mata berwarna hijau dengan warna coklat keemasan ditengahnya — awal terasa tenang seperti berada dalam hutan rimbun yang cerah. Kini hutan itu terlihat menakutkan, mencekat mereka mengikat dalam ketakutan yang menegangkan.

Wajah panik itu mencoba untuk tidak terpengaruh akan jagonya Lana bertarung, mereka harus tetap beringas. Preman yang menatap ekspresi Lana yang tidak lagi takut, bahkan darah Lana bercampur dengan darah rekannya menambah aura gelap dan mengintimidasi mereka. Rasa takut membuat mereka menelan salivanya masing-masing.

Bercak darah sudah menodai baju Lana. Lengan Lana sudah mulai terasa kebas, nafasnya sudah mulai tidak karuan. Mata Lana kini menatap tajam pria yang terus menarik wanita paruh baya itu keluar dari mobil. Satu lemparan kuat tepat mengenai kepala pria itu. Seperti tombak yang mengenai mangsanya. Untuk kesekian kalinya Lana berhasil membuat lawannya itu tersungkur tak sadarkan diri. Lemparan kuat itu mengenai pelipisnya pada ujung pipa yang membuat darah mengucur.

"Satu orang lagi." Mata Lana tajam menatapnya, wajahnya yang penuh keringat di tengah udara yang begitu dingin dia seka dengan punggung tangannya yang berlumuran darah. Kini darah berlumuran di wajahnya.

Tanpa ada jeda istirahat dan rasa gugup yang melanda karena tinggal dirinya yang tersisa. Terburu-buru dan gelagapan. Preman yang tersisa langsung menyerang Lana dengan pisau secara tidak teratur. Pisau itu menghunus kepada Lana begitu tidak berpola. Pisau itu bergerak sesuai kegugupan preman tersebut.

Lana yang sudah tidak ada senjata di tangannya hanya bisa menghindar. Hujaman pisau yang tidak berpola membuat Lana sedikit kebingungan dan begitu fokus.

Lana merasa tenaganya sudah habis. Dia sudah tidak bisa menghindar lagi. Lana mulai terpojok, preman itu menarik kerah Lana ke atas kemudian berpindah ke leher. Tubuh Lana yang ringan membuat pria itu mudah mengangkatnya. Lana mulai tercekik, wajahnya mulai memerah akan tenggorokannya yang tercekat.

"Kau benar-benar perempuan yang sulit," pekiknya penuh penekanan dan cengkraman kekesalan yang teramat pada Lana.

"Hari ini adalah akhir bagimu!" lanjutnya menyeringai puas bak setan.

Seringai seram itu tidak lama melekat pada wajahnya. Mata pria itu terbelalak ketika Lana menyeringai kepadanya dengan wajah yang hampir membiru kehabisan nafas.

"Beraninya, kau ters —" Satu hantaman mobil menabrak mereka berdua. Tubuh mereka berdua berhamburan di jalanan. Kalimat tersebut tidak sempat terucap sempurna.

Mobil kembali mundur perlahan. Untung saja mobil hanya menabrak preman tersebut meskipun Lana masih terpental namun tidak terlalu keras.

"Ayo Nak! Cepat bangkit!" teriak wanita paruh baya itu dari dalam mobil.

Tubuhnya yang sudah lemah tak berdaya dengan nafas yang masih tak karuan mencoba untuk bangkit dan segera masuk ke dalam mobil. Langkah yang tertatih-tatih tersebut berhasil menginjak ruang mobil.

Pria kekar itu masih bisa bangkit, membuat wanita paruh baya itu terkejut. Tanpa pikir panjang wanita paruh baya itu menancap gas, menabrak pria tersebut tanpa ampun. Pria itu terpental begitu keras menghantam jalanan. Tubuhnya sudah tidak bisa bangkit kembali. Tanpa ada rem dan menengok ke belakang mereka melesat meninggalkan lima preman yang terkapar tersebut.

Tubuh Lana sudah tak berdaya, entah sejak kapan penglihatannya kabur dan akhirnya menggelap.

1
JEJE @●@
Punya sahabat gini asyikkk
MN.Aini
up lg dong thor🥺
Wang Lee
Mampir thor
Wang Lee
Ceritanya bagus
Aksara_Dee
cemas tanda suka gak sih 🫶
Aksara_Dee
aroma kayu putih biasanya bayi, lumi.
Aksara_Dee
Leta, hmm...
Aksara_Dee
thor aku masih ketuker² saat membayangkan tokoh lumi, lana, leta
Aksara_Dee
ibunya gak ada idekah?
Aksara_Dee
bener banget ini
Aksara_Dee
Terima kasih untuk karya bagusnya, kalimatnya sangat indah
Aksara_Dee
aahh aku jadi ngiler
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak aku mampir🤗 klo berkenan boleh mampir juga kecerita baruku "Falling Into You" makasih🥰
Tini Timmy
wahh dah lma bener gak up kak
Oma yeni*🦋
Oma sibuk kejar target misi baca novel lain jadi belum sempat mampir kesini 🤧🙏
Oma yeni*🦋: wkwkkw,, udah kecapean ya. Iya, harus byk istirahat apalagi kalo kesibukan real byk menyita waktu.
total 2 replies
Oma yeni*🦋
hai lumi, maaf baru mampir lagi 🤗
Tan
tau aja /Joyful/
Oma yeni*🦋
mungkin itu suara lana
Oma yeni*🦋
keren nih, cara menggambarkan hasratnya lumi sangat halus dan membuat nyaman pembaca
Oma yeni*🦋: iya syg, sama sama 🥰😘
total 2 replies
Oma yeni*🦋
semua berawal dari hal kecil ya lumi, lama lama benih itu akan tumbuh perlahan seiring waktu berjalan.
Tan: betul, apalagi hal-hal kecil itu sering datang dan bertumpuk banyak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!