NovelToon NovelToon
Tanteku Istri Mafia

Tanteku Istri Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang / Mafia
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Modulo12

Willi, pria dengan pemikiran mendalam jatuh cinta dengan teman sekelasnya. Namun, semua tak akan dapat terjadi. Perempuan itu, adik dari pria jahat yang merenggut kebahagiaan tenteku.

Wanita yang terpaksa menikah dan sengsara, Alisya. Adik angkat dari ibunya Willi. Willi dan Alisya memiliki jarak umur yang tak begitu jauh. Cinta, bisa saja hadir diantara keduanya. Namun, pria jahat itu tak akan membiarkannya.
"Semua wanita adalah milikku." Damar, sang pria kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Modulo12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nikmatilah

Alisya

Aku merasakan kenikmatan yang memuncak, rasanya benar-benar nikmat. Tubuhku telah lemas dibuatnya. Pria itu membayarku tiga juta untuk seharian ini. Tak seberapa dibandingkan dengan wanita pada novel yang dibayar satu miliar untuk semalam namun harus menanggung sengsara dengan membesarkan anak dari pria bejat. Aku berharap bibitnya tak pernah tumbuh di dalam. Hanya untuk pria mapan dan bermartabat. Damar, belum memenuhi syarat.

"Sya, aku telah puas hari ini. Aku akan pulang. Dadamu tidak ada kemajuan, tapi itu cukup." Pria itu, ya dia. Seenaknya mengambil sariku, namun terkadang menghina seperti ini.

"Kamu sudah sering bermain, tapi ukuranmu tidak membesar. Apa-apaan." Lanjutnya lagi.

"Hey, kalau kamu tidak merasa cukup. Pergi dari sini!" Dasar laki-laki, cintanya sesingkat itu.

"Tentu, aku akan pergi."

Aku terdiam sesaat, menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Kata-katanya masih menggema di kepalaku. Sesederhana itu? Begitu saja? Rasanya aneh. Setelah semua yang kita lalui bersama, ternyata akhirnya hanya seperti ini. Aku menggigit bibir, menahan emosi yang bercampur aduk di dalam dada.

Langkahnya tegas, seolah sudah yakin dengan keputusan yang diambil. Sementara aku, masih terpaku di tempat, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa semuanya berakhir begitu cepat? Apakah salahku? Atau memang sejak awal, dia tidak pernah benar-benar ada untukku?

Aku menunduk, memandangi tangan yang dulu sering dia genggam dengan hangat. Sekarang terasa hampa. Hatiku mengeras. "Baiklah," gumamku pelan pada diriku sendiri, "kalau memang ini yang terbaik, aku juga harus belajar melepas."

Namun, jauh di dalam hati, aku tahu melepaskan tidak pernah semudah itu. Percintaan paruh waktu, apa-apaan ini. Hah sudahlah, aku punya banyak Klin yang lama tak ku kunjungi. Mami Germo juga pasti tengah menanti ke hadiranku.

Rumah Bordil, ya itu tempat kerjaku dulu. Dan disitulah pertama kali aku bertemu dengan Damar. Pria mapan dan Kalem, aku pikir ia membayarku untuk menyelamatkanku. Ternyata sama saja. Ia memakaiku. Huh, sudah rusak ya udah sekalian aja. Lagipula aku perlu banyak biaya untuk menghidupi adik tampanku.

Jam 21.30 Damar telah Pergi, aku keluar kamar untuk melihat keadaan Willi. Pintu kamarnya terbuka, kulihat ia tidur begitu pulas. Tak nyaman membangunkan, aku hanya menutup pintu kamarnya.

"Okey, lebih baik aku ke rumah Bordil. Ada banyak cuan menanti."

Aku menghela napas panjang sebelum melangkah keluar dari kamar. Kamar mandi ada di luar, di ujung lorong. Saat air mulai menyentuh kulitku, pikiranku melayang, mencoba menghapus kenangan yang masih berputar-putar di kepala. Aku membiarkan air hangat mengalir di seluruh tubuh, seperti mencoba mencuci perasaan-perasaan yang tersisa. Sesekali aku mendongak, membiarkan pancuran membasahi wajahku, berharap segala sesak bisa ikut terbuang bersama air yang mengalir ke lantai.

Selesai mandi, aku mengeringkan tubuh dan membungkus diri dengan handuk. Kembali ke kamar, aku memilih pakaian. Sebuah rok selutut yang simpel tapi elegan, dan baju crop top merah kesukaanku. Warnanya membuatku merasa lebih percaya diri, lebih hidup, meskipun di dalam hati masih ada luka yang terbuka.

Aku berdandan dengan teliti mengoleskan foundation yang ringan, sedikit blush di pipi, eyeliner tipis untuk mempertegas mata, dan lipstik merah yang melengkapi penampilan. Tatapan terakhir ke cermin menunjukkan refleksi seorang perempuan yang tampak kuat dari luar, meskipun di dalam masih rapuh.

Dengan napas panjang, aku keluar rumah, menutup pintu dengan perlahan. Langit tentu gelap ketika aku melangkah menuju tempat kerja. Mungkin hari ini, aku bisa menemukan sedikit kebahagiaan di balik rutinitas.

Aku melambaikan tangan di pinggir jalan, berharap sebuah angkutan umum datang. Oh ya, ada angkot. Itu boleh juga.

"Pak!"

Angkot berhenti tepat di depanku.

"Mau kemana neng?"

"Ke rumah Pink di ujung jalan pak."

"Oh itu, naik neng."

Akupun menaiki angkot ini, malam begitu sunyi di jalanku. Angkot ini pun hanya ada kamu bertiga, yaitu aku, supir, dan temannya supir.

Temannya supir itu duduk di sampingku. Supir melajukan angkot dengan pelan. "Neng, sendirian aja?"

"Iya kak."

"Namanya siapa, saya Anton."

"Alisya kak."

"Oh, saya panggil Sya aja ya."

Aku hanya mengangguk, dari tatapannya aku tau ia begitu tergiur dengan penampilanku. Pria itu duduk tepat di sampingku, kulihat sebuah tonjolan mengeras di balik celananya. Menggiurkan. Aku memberanikan diri menyentuh pahanya. Anton terlihat biasa saja, entahlah apa ia pura-pura tidak tau.

Okey, aku akan pancing dia. Permainan dengan Damar beberapa waktu silam tak memuaskan.

Tanganku menyusuri pahanya, menyentuh benda di depan itu. Oh, begitu menarik. Pria itu masih pura-pura tak tau. Aku semakin berani. Ku usapkan tanganku lebih kuat pada kemaluannya, lebih dalam dan berasa. Ia mulai beraksi, kepalanya membalikan wajah. Namun aku tau, ia begitu menikmati. Bibirnya semakin mengerat, punggunya bersandar pada dinding angkutan umum. Tangan kanannya digunakan untuk menahan tanganku semakin dalam.

"Ehh, neng." Lenguhan lolos keluar dari mulutnya. Ini sangat imut.

"Iya mas?"

"Sini." Ia menarik tanganku, membuat tubuhku semakin mendekatinya. Tanganku terlepas dari hal keras itu. Dia menarik ke dalam pangkuannya.

'Terpancing'

Ia mengasuhku seperti bayi. Tanpa berbicara sepatah katapun, rokku tersingkap ke atas. Aku sengaja hanya mengenakan dalaman Gstring agar lebih mudah di lepaskan. Tangannya meraih, masuk kedalam pakaianku. Sebelah tangan lainnya memegang pinggangku. Aku merasakan hal keras di belakang sana.

Semakin lama, tangan itu bermain pada bagian bawahku. Aku penasaran akan sampai mana permainan ini. Ingin juga rasanya bermain dengan yang di depan. Tapi, ah sudahlah. Nikmati saja, toh belum tentu mereka sanggup membayarku puluhan juta.

"Aahh." Aku sengaja menyuarakan dengan keras, untuk memancing supir di depan sana. Namun tampaknya ia acuh. Okey, tak masalah. Hanya kami berdua saja.

Ia memainkan bagian bawahku, mengelus dan sesekali menekan. Ohh, ini, ah entahlah. Aku suka. Ia menekan bagian intiku, ia aahhh, jangan. Sebuah jari besar memasukiku, jari itu menari-nari di dalam. Aku benar-benar basah.

Setelah sekian lama, angkot berhenti. Dengan nafas ngos-ngosan, aku bertanya pada supir, "Pak, kok berhenti?"

"Saya mau juga."

"Oh, yaudah sini." Jawabku, Anton merasa heran. "Boleh bertiga neng?"

"Iya mas, Anton, kalau mau bertiga sini."

Kebetulan sekali, kami berhenti di jalan yang cukup sunyi. Ah dasar laki-laki, ada saja modusnya. Beri aku satu miliar!!! Enak saja gratis. Tapi mari kita coba.

Supir itu keluar dari bangku depan, ia masuk ke bangku belakang. Supir itu bernama Reza. Reza berdiri di depanku. Ia membimbingku untuk berdiri. Lalu menanggalkan seluruh pakaian ini.

Kedua pria itu memeloroti celananya. Kemudian Anton berbaring. "Sya kamu diatasnya ya. Nanti saya dibelakangmu." Ucap Reza.

1
setetes tinta
semangat thor
gemar
wowww
Subah Man
rezdod bati bali
Iky Yy
🥰
Modulo: baca teruus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!