NovelToon NovelToon
Aku Atau Dia Yang Pelakor

Aku Atau Dia Yang Pelakor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:96.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

“Aku atau dia yang pelakor!” Dia berteriak dengan kerasnya di pinggiran pantai berpasir putih.

Semuanya berawal dari ...

Isyana yang sudah bersuami tidak sengaja bertemu dengan Elvano yang saat itu juga memiliki seorang istri dan putra. Saat mengerjakan proyek bersama. Keduanya menjadi sangat dekat dan perlahan tumbuhlah perasaan cinta itu. Dengan penuh rasa bersalah kepada pasangan masing-masing, mereka menjalin hubungan terlarang itu. Tapi hubungan itu kandas, saat Isyana mulai sadar bahwa mereka tidak ditakdirkan bersatu.

Akan tetapi, disaat yang sama Isyana dan Elvano tidak sadar. Kalau Ikbal suami Isyana dan Nabila istri Elvano ternyata sudah menjalin hubungan lebih dulu dari mereka berdua. Bahkan Ikbal dan Nabila sampai melakukan hubungan intim di belakang mereka.

Kemudian beberapa bulan setelah Isyana dan Elvano berpisah. Isyana mengetahui bahwa Ikbal suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, yang ternyata adalah Nabila istri Elvano. Pria yang dia cintai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 : Bertemu takdir.

Disisi lain. Seorang laki-laki tampan dengan baju kaos hitam yang dilapisi jaket kulit berwarna coklat, serta celana levis yang juga hitam dipadukan sepatu boots kulit hitam. Berjalan dengan gagahnya memasuki lobi yang sama diresor tempat Isyana berada.

Dia disambut dengan ramah oleh pegawai resor itu. Elvano melirik arloji ditangan nya sudah hampir pukul enam sore. Elvano pergi menemui manager resor dan menanyakan tentang even nya. Apakah ada orang dari GS ORGANIZER datang untuk melihat resor tersebut.

Manager resor sudah memberitahunya dengan detail. Bahkan Elvano juga bertanya apakah Isyana masih berada diresor itu. Karena hanya menerka saja manager resor mengatakan bahwa Isyana sudah pulang sejak tadi. Padahal saat itu Isyana tengah berada di mansion puncak menikmati pemandangan sore.

Entah ada ikatan batin atau perasaan. Elvano pun juga meminta petugas stasiun kereta gantung itu mengizinkan nya naik keatas puncak. Tentu sempat di tolak oleh petugas. Akan tetapi dengan memohon seperti yang dilakukan Isyana dan berjanji akan turun sebelum jam 7 malam. Elvano pun di perbolehkan naik.

Elvano memijakan kakinya di mansion tersebut. Ujung jari telunjuk tangannya menyentuh debu di kaca yang nampak kusam. Mansion itu sudah lama tidak dipakai. Ada dua lorong menuju balkon. Dia memilih lorong yang pertama disebelah kiri.

Tanpa dia sadari baru saja ada perempuan yang berjalan melewatinya melalui lorong yang kedua. Karena terlalu sibuk dengan diri sendiri mereka tak sadar. Isyana berjalan dengan pandangan ke arah ponselnya.

“Entah kenapa aku jadi teringat olehnya,” ucap Isyana menatap layar ponselnya yang memunculkan kontak Elvano.

Tiba-tiba dia kepikiran laki-laki tersebut. Begitu pun juga dengan Elvano yang melihat hujan salju sudah mulai berjatuhan. Dia teringat sosok cantik seputih salju yang waktu itu hujan-hujanan bersamanya.

Sudut bibir nya tertarik. Dia mulai tersenyum mengingat raut wajah Isyana saat mereka tertawa bersama. “Aku merindukanmu, Sya.”

Hujan salju semakin deras berjatuhan. Isyana melirik arloji nya yang ternyata sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam. Cepat-cepat ia kembali ke kereta gantung. Namun, kereta itu tak kunjung bergerak.

Buram-buram matanya melihat kearah bawah sana di tengah hujan salju. Isyana tidak bisa melihat petugas tersebut. Bahkan resor mewah itu hampir setengah tidak terlihat.

Dia panik tidak tahu harus berbuat apa. Isyana merogoh sakunya. Bodoh sekali, ponselnya malah mati. Karena terlalu banyak mengambil gambar dia sampai lupa jika baterai ponselnya hampir mati tadi.

“Bagaimana ini?” harap nya cemas.

Isyana menoleh kearah mansion yang sudah lama tidak terpakai itu. Saat hari semakin gelap mansion itu terlihat sedikit menyeramkan baginya.

Hujan salju semakin deras. Tiba-tiba listrik padam membuat sekeliling mansion menjadi gelap. Isyana terkejut setengah mati. Dia sangat takut kegelapan. Isyana berlari ke arah lorong. Berjongkok dengan memeluk lututnya di sudut lorong tersebut.

Hawa semakin dingin menusuk. Jaket tebal yang dia kenakan sudah basah akibat hujan salju saat dia hendak naik ke kereta gantung tadi. Isyana terus berdoa dalam hatinya.

Dia takut membuka matanya di tengah kegelapan. Tanpa sadar air matanya menetes. Dia menggigil, badan nya terus bergetar. Kulitnya yang putih semakin memucat. Isyana merasakan pusing yang hebat, namun dia harus tetap terjaga.

“El, tolong aku,” gumam Isyana tanpa sadar yang dia ingat adalah Elvano disaat seperti ini. Dengan suara nya yang melemah dan bergetar.

Sedangkan disisi lain. Listrik tiba-tiba padam. Elvano yang saat itu masih nyaman di balkon, terkejut. Dia menatap sekelilingnya yang menjadi gelap. Dia berlari dengan cepat kearah kereta gantung. Tebakan nya benar, kereta gantung itu juga mati. Dia tidak bisa kembali turun.

“Sial!!!” umpat Elvano frustasi sambil meremas rambutnya.

Hujan salju itu begitu deras mengenai jaket kulitnya. Elvano pun cepat-cepat kembali masuk kelorong sebelah untuk menghindari hujan salju itu.

Di kegelapan dia tidak sengaja mendengar suara perempuan. Apakah itu hantu. Elvano berpikir yang aneh-aneh. Karena yang dia tahu kalau dirinya hanya sendirian di mansion itu.

Matanya menyipit mencoba menatap sekeliling lorong gelap itu. Pandangan nya tertuju pada satu titik. Sosok berbaju putih tengah berjongkok disudut lorong, dia seorang perempuan. Cepat-cepat Elvano berlari kearah perempuan tersebut.

“Hey, miss are you okay?” tanya nya kepada perempuan yang tengah menunduk dengan badan bergetar itu.

Deg.

Isyana bisa mengenali suara yang akrab itu. Suara itu, suara yang dia rindukan beberapa hari ini. Dengan perlahan dia mendongak menatap seseorang yang mungkin sedang dikhayalkan nya saat ini.

“El,” ucap nya tersenyum lemah. Namun sesaat kemudian pandangan nya mulai kabur dan dia pingsan.

“Sya!!” teriak Elvano histeris menangkap tubuh Isyana yang melemas dihadapan nya. perempuan itu tidak sadarkan diri. Elvano panik dan mendekap erat tubuh Isyana. Sambil terus memanggil-manggil namanya agar tetap terjaga.

Badai salju telah di mulai. Elvano terpaksa harus mendobrak pintu mansion yang telah lama tidak di pakai itu. Aroma debu nampak tercium di rongga hidungnya.

“Sya, bangun Sya...” Dia terus memanggil nama Isyana seraya menggendong tubuh Isyana yang masih melemas. Membawanya masuk kedalam mansion.

Di dalam mansion itui tidak terdapat barang-barang apapun, hanya sebuah sofa sepanjang dua meter yang berada di pojok ruangan. Elvano merebahkan perlahan tubuh Isyana di atas sofa itu.

Elvano duduk di lantai tepat disebelah kepala Isyana. Dia memandangi wajah pucat Isyana yang beberapa hari ini tidak dia lihat. Dia meraih tangan kanan Isyana. Mengecupnya dengan lembut.

“Sya, kumohon bertahanlah.” Sorot matanya nampak begitu khawatir.

Elvano mengusap wajahnya dengan kasar. Dia frustasi tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Isyana. Isyana harus di beri pertolongan.

Elvano pun berdiri dan hendak keluar meminta bantuan atau melakukan sesuatu untuk menolong Isyana. Namun, ketika dia akan melangkahkan kakinya.

Terasa sesuatu yang dingin menggenggam tangan nya, menahan dirinya pergi. Elvano menoleh kearah Isyana. Wanita itu membuka matanya dan tersenyum lemah.

Elvano kembali berjongkok dan mengusap-usap kepala Isyana. Dengan lembut ia memegangi pipi perempuan itu. “Sya, kamu sudah sadar?”

Isyana mengangguk pelan dan tersenyum lemah. “A-aku baik-baik saja, El.”

“Aku cari bantuan dulu ya,” ucap Elvano seraya berdiri. Tapi lagi-lagi ditahan oleh Isyana.

“Sya, plis ini untuk kebaikan mu,” ucap Elvano menatap nanar di matanya.

“El, tetaplah disini...” Isyana mendekatkan telapak tangan Elvano ke wajahnya.

“Tapi, Sya-”

“Ini badai salju El, kalau kamu keluar ... kamu juga bakalan sakit,” jelas Isyana dengan suara nya yang masih lemah.

Elvano diam sejenak menatap arah luar jendela. Benar yang dikatakan Isyana. Di luar sedang ada badai. Bahkan ponselnya juga tidak ada jaringan. Elvano pun kembali duduk di tempatnya tadi.

Dia memandangi wajah Isyana yang begitu pucat. Begitu pun Isyana yang menatap Elvano dengan begitu lekat. Bahkan air matanya yang menetes sudah tidak terasa lagi, karena tubuhnya yang perlahan membeku.

Elvano terus terjaga. Dia tidak mau terjadi apa-apa terhadap Isyana. Tangan nya terus bergerak mengusap-usap kepala Isyana dengan lembut. Memberikan rasa nyaman yang teramat dalam buat Isyana.

Tidak terasa sudah satu jam berlalu. Tidak ada tanda-tanda badai akan redah. Malah suasana semakin dingin mencekam. Elvano menoleh kearah Isyana yang terlelap.

Badan nya bergetar hebat. Wajahnya semakin pucat. Pemilik mata indah itu membuka matanya. Mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu. Tapi, bibirnya terasa kelu karena kedinginan.

“Ada apa Sya? Kamu kenapa? Bicara,” ucap Elvano panik. Dia memegangi pipi Isyana dan terus menggenggam tangan nya dengan kuat.

“A-aku...di-ding-”

“Kamu dingin?” serobot Elvano yang mengerti ucapan Isyana. Ia pun mengangguk.

Elvano memegangi baju yang Isyana kenakan. Semua nya basah, bahkan sampai kedalam nya sudah pasti basah. Membuat Elvano semakin frustasi. Dia bingung harus berbuat apa.

Elvano kesana kemari. Mencari sesuatu di dalam mansion itu yang barang kali bisa dipakainya untuk menghangatkan tubuh Isyana. Namun hasilnya nihil.

“SIAL!!!!”

Elvano memukul dinding mansion itu. Kenapa hal ini bisa terjadi. Dia membayangkan bagaimana jadinya Isyana jika tidak ada dia disini. Isyana bisa mati membeku diluar sana. Walaupun sudah sempat menjauh dari perempuan itu. Tapi, takdir mempertemukan mereka lagi. Bahkan di tempat ini, yang rasanya sangat kebetulan sekali.

To be continued...

1
Elok Pratiwi
cerita tidak menarik
Elok Pratiwi
sangat tidak menarik tokoh utama wanita nya lemah hanya bisa menangis .. cerita yg sangat buruk
Cis Siu
uhuy
Ruth Khoiriyah
sama mbuletnya thor kenapa ceritanya mbulet
Ruth Khoiriyah
mbulet coba langsung ambil perusahaan nya aja biar tau rasa
Endang Supriati
oneng si isyana, lola lemot
Endang Supriati
ya iyalah ibunya berzinah, anak yg jadi korvan. adq hadisnya.
Wiwit
bingung dgn cerita isyana nya bodoh atw gmn ya
A Yes
❤️❤️❤️🌺🌺🌺🌺
A Yes
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
A Yes
ikuuuut💃💃💃💃😂😂😂😂😂✌️😅
YuWie
bunga untuk evan yg bisa teges...
YuWie
el gak peka..tio aja paham
YuWie
heran aku..gampang bgt diprovokasi. wong ya sdh tau sama2 janda dan duda dan ada anak. Isyana malah perasa bgt klo sama nino..
YuWie
duluuu disia2 elvanonya..sekarang kelimpungan sendiri nabila.
YuWie
ngonooo wae..nino ya gitu, dah pernah diabaikan ibunya jadinya skrg cari perhatian.
YuWie
hah
YuWie
ini baru laki2 hentelmen...gak dibalas cintanya mundur bukannya bikin hal yg licik2
YuWie
nahhh gitu...komunikasi tanpa emosi.
YuWie
buruk banget sih komunikasi el dan is.. padahal sdh sama2 pernah gagal tapi gak belajar dr kegagalan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!