"Apa tidak ada cara lain Pak?, mungkin jika cacat di salah satu kaki dan tangan saya masih bisa menerimanya tapi ini tuli dan bisu, bagai mana saya bisa berkomunikasi dengannya?" ucap Frayogha yang tidak bisa mengerti dengan permintaan seorang pimpinan sebuah pondok pesantren yang memintanya menikahi putrinya yang tuli dan bisu, hanya karena dia ingin menghalalkan makanan yang telah dia makan.
Di paksa untuk menikahi seorang yang tidak dia kenal, dan katanya tuli juga bisu, rasanya jika menikahpun pernikahan mereka tidak akan lama atau mungkin sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Diah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma bos
Di sepanjang jalan, Yogha melirik kiri dan kanan untuk mencari apakah ada penjual makanan yang masih buka, dan jawabannya tentu saja tidak ada.
Ya tidak ada penjual makanan yang masih buka, kecuali pedagang sate yang juga terlihat akan membereskan dagangannya.
Yogha yang tahu jika pedagan sate adalah pedagang terakhir, langsung memborong semua sisa sate yang ada, sampai Bagus yang melihat betapa banyaknya sate yang di beli Yogha berkata, "Kamu kira istri mu itu sunder bolong, sampai mau di kasih sate segitu banyaknya".
"Habis gak ada lagi makanan yang bisa di beli Bagus... kalau beli sedikit takut dia tidak akan kenyang". ucap Yogha beralasan.
"Ya memang, tapi gak sebanyak itu juga, kalau gak kemakan mubajir, dan lagi di apartemenku masih ada beberapa bahan makanan yang bisa kita olah sebelum keapartemenmu".
"Kalau gak habis kita kasih sekuriti saja, eh, memangnya di apartemen mu ada bahan makanan?" tanya Yogha yang tidak percaya jika di apartemen Agus ada bahan makanan pasalnya setiap hari Agus selalu numpang makan di rumah kedua orangtuanya.
"Adalah kamu maunya makanan seperti apa? apa kamu mau soto, bakso, ayam geprek atau apa?" ucap Bagus sombong karena memang makanan dengan aneka rasa seperti itu ada di rumahnya.
"Jangan bohong! bohong itu dosa" ucap Yogha yang tak percaya jika ada semua makanan itu di apartemen Bagus.
"Tak percaya? kita lihat jika semua makanan itu ada, bos mau kasih hadiah apa?".
"Apapun yang kamu ma...... eh ralat takut di manfaatkan seperti yang sudah-sudah".
"Trauma ceritanya" ucap Bagus meledek
"Lumayan bayangin aja karena berkata apapun, aku sampai harus halalin anak orang" Ucap Yogha masih saja tak menyangka, hanya karena kata apapun dia sampai harus menikahi wanita bisu dan tuli.
"Bener juga si bos, aku turut prihatin, tapi, bukannya jodoh kita itu biasanya cerminan diri kita?, berarti ada sesuatu yang istimewa sampai sampai Ainur menjadi istri Bos," ucap Bagus mengeluarkan pendapatnya.
"Ya aku tahu, dan semoga istimewanya bukan hanya karena dia anak pimpinan pondok saja" ucap Yogha lesu karena rasanya tidak mungkin jika istrinya itu memiliki hal yang istimewa selain anak pimpinan pondok.
"Sabar!!"
"Ya sabar, eh iya aku baru ingat aku pernah dengar, jika ada alat agar orang yang tuli bisa mendengar? apa kamu tahu tentang hal itu?" tanya Yogha yang tidak terlalu tahu pasti apakah alat seperti itu memang ada atau hanya isu saja.
"Aku juga hanya pernah dengar, emm, mungkin tante fatma tahu jadi lebih baik kamu tanya tante fatma saja". saran Bagus karena menurutnya tante Fatma pasti tahu tentang hal seperti itu, mengingat dia orang yang mempunyai banyak teman yang berkebutuhan khusus.
"Ya, aku akan bertanya sama mamah, terus mamah tanya untuk siapa? aku jawab bohong dosa, kalau jujur takut mamah kaget dan penyakit jantungnya kambuh, kau tahu? aku belum siap kehilangan mamah."
Bagus yang merasa bersalah karena salah bicara langsung meminta maaf, dan berjanji akan mencari tahu tentang alat tersebut, dan jika ada dia akan segera membelinya, tapi dengan uang sang bos tentunya, tetep gak mau rugi.
Akhirnya mereka sampai di gedung apartemen dan tujuan mereka sekarang adalah apartemen Bagus.
"Mana makanan yang kamu katakan tadi, Bakso, soto ayam geprek itu?" ucap Yogja setelah masuk kedalam apartemen Bagus.
"Masih belum percaya juga?.., ayo ikut aku!!" ucap Bagus mengajak Yogha ke area dapur, dan setelah di dapur Bagus membuka rak tempat dia menyimpan semua makanan itu.
Yogha yang hanya melihat mie disana mengerutkan kening dan berkata "Mana?.. itu cuman mie."
"Sebentar Bos!" ucap Bagus sambil mengambil satu bungkus mie, dari setiap parian rasa yang ada di rakya, dan setelah semua di ambil baru Bagus berkata sambil menunjukan satu persatu mie dengan aneka rasa yang ada di dalam raknya.
"Ini rasa baso, rasa soto, ayam geprek, seblak, rendang, kari, mie kocok bandung, mie aceh, ini sih baru sebagian karena di toko sana masih banyak Parian rasa yang lain."
Yogha hanya bisa melongo karena yang di maksud Bagus itu, bukan benar-benar dalam bentuk asli melainkan rasanya saja yang mirip.
"Aku tidak bohongkan, kalau tidak percaya baca sendiri." tunjuk Bagus pada tulisan dalam kemasan mie.
"Iya tidak bohong, tapi aku mikirnya tadi beda, ya sudah ayo kita masaknya di apartemenku, sekalian bawa telurnya juga!".ucap Yogha yang tadi sempat melihat ada beberapa telur di pulkas.
"Baik bos, eh gak sekalian sama nasinya siapa tahu dia gak doyan mie."
"Nasi?? mungkin maksud mu beras " ucap Yogja yang berpikir jika Bagus salah berkata.
"Hak percayaan, ini nasi bos bukan beras" ucap Bagus yang langsung membuka ricekooker yang masih panas.
"Ko bisa?."
"Ya bisa, kan tadi saat bos sibuk nunjukin apartemen sama Ainur, aku kemari masak nasi."
"Pantes ya sudah ayo!" dan mereka pun bergegas keapartemen milik Yogha.
Setelah masuk Bagus menunggu di dapur, sementara Yohga menuju kamar Ainun dan disana terdengar suara seseorang yang sedang membaca Al-qura, dan terdengar sangat merdu di telinga Yogha.
"Pasti mutar video orang yang lagi ngaji" pikir Yogha padahal yang sedang mengaji itu istrinya, lalu setelah itu baru dia mengetuk pintu kamar Ainur, dan seketika suara tadi berhenti lalu pintu kamar terbuka, dan menampilkan Ainur yang sudah memakai cadarnya kembali.
Yogha merasa bingung, saat melihat situasi barusan, pas pintu di ketuk, suara yang mengaji berhenti, dan tak berselang lama pintu terbuka "aneh??" pikir Yogha