Qiana akhirnya menyetujui permintaan Reino untuk menikah dengannya , meski harus menyembunyikan pernikahan mereka karena status keduanya yang masih pelajar.
Kedua orangtua Qiana pun tak bisa menolak , apalagi mereka sudah banyak menerima kebaikan Orang tua Reino, Majikan mereka yang sudah sangat baik pada mereka, bahkan mau menyekolahkan Qiana di sekolah yang sama dengan Reino.
Pernikahan Qiana dan Reino pun akhirnya kandas setelah orang tua Reino mengetahuinya. Meski tidak rela , Reino dengan terpaksa mentalak Qiana , demi keselamatan orang yang diam - diam sudah mencuri hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wahyoeni"23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09. Keinginan Azka dan Aric
" Om Azkaaaaa ". teriak Aric berlari mendekati Azka yang baru turun dari mobilnya.
Ini sudah ke sekian kalinya Azka bertandang ke rumah Qiana , Ia pun sudah akrab dengan Aric , dan juga dengan Pak Agus.
Pintar sekali Azka bisa mengambil hati dua pria beda usia di rumah itu. Mau sama Emaknya ya harus sayang juga sama anaknya.... itu yang selalu Azka sematkan dalam hatinya.
Azka pun langsung berjongkok menyambut Aric ke dalam gendongannya.
" Om kangen sama Aric , Aric kangen enggak sama om ? ,sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
" Kangen dong ". " Om lupa sama pesanan aku , mobil pemadam kebakalannya mana ?".
" Oh iya ". Azka menepuk jidatnya.
" Maafin Om ya ". bibir Aric mengerucut , bagaimana bisa om Azkanya ini lupa membawa pesanannya , kalau om Azka sendiri yang menawarinya mau di bawakan apa ketika ia akan datang ke rumahnya.
" Begini saja , ayo pergi sama Om ke toko mainan , jadi Aric bisa pilih mobil pemadam kebakaran yang Aric mau , kamu ajak Bunda sekalian ya ". rayu Azka ke Aric, inilah rencananya untuk bisa mengajak Qiana keluar bersamanya, bahkan sebenarnya ia tidak melupakan sama sekali apa yang jadi permintaan Aric.
Mata Aric berbinar, mendapat perhatian kecil dari Azka adalah suatu hal yang terindah , yang bisa mengobatinya kala ia merindukan sosok Ayahnya.
" Apa Bunda halus ikut Om ?".
" Harus dong, kasihan Bunda kalo enggak di ajak , nanti nangis ".
Kalau Bunda kamu enggak ikut berarti rencana ku gagal dong..
" Kok Nenek dan Kakek enggak di ajak juga , kalau meleka nangis juga gimana Om ?". Azka benar - benar polos.
Kalau mereka berdua juga ikut bukan kencan namanya....
" Ya jangan , nanti yang akan menjaga warung siapa ". Dengan cepat Azka menemukan jawaban yang tepat.
" Oh iya , Om Azka benal ".
" Sekarang kamu ganti baju dulu, dan jangan lupa ajak Bunda supaya mau , kalau Bunda kamu menolak pura - pura menangis saja , Om akan tunggu di sini !". Azka mulai mempengaruhi Aric, dan bocah itu ternyata menuruti permintaan Azka.
Karena sang putra terus merajuk , dengan berat hati Qiana pun ikut ke toko mainan. Betapa senangnya Azka , sedari tadi senyumnya tidak pernah luntur.
" Menyebalkan ". ucap Qiana lirih, karena melihat wajah Azka yang seakan berkata.....aku menang..
Azka terkekeh mendengar ucapan Qiana, " Kenapa , enggak ikhlas nemenin anaknya ?" Azka mengedipkan satu matanya. membuat Qiana langsung mendelik ke arah Azka.
Aric sendiri tidak perduli, ia sedang asik bernyanyi dan menikmati jalan , karena ulah Aric juga Qiana duduk di depan , dan tentu saja dengan campur tangan Azka.
" Galak amat sih, tapi makin cantik kok ".
" Diam Kak ".
" Oke oke , aku akan diam ". tapi mata Azka selalu melirik ke arah Qiana.
" Enggak usah lirak lirik matanya, fokus aja menyetirnya , nanti nabrak...aku belum mencarikan Ayah buat Aric ".ketus Qiana.
" Ngapain nyari sih , memang enggak lihat ada pria tampan di samping kamu yang siap lahir batin buat jadi Ayah anak kamu ".
Qiana menggeleng, " Strata kita jauh berbeda Kak , kamu akan mendapatkan gadis yang sepadan dengan kamu, bukan aku , janda beranak satu miskin pula ". Qiana tentu saja tidak mau mengulangi kesalahannya yang lalu , menjalin cinta dengan orang kaya akan berakhir sangat menyakitkan. Ia ingin mencari orang dari kalangan biasa saja.
" Kamu ngomong apaan sih Qi , aku enggak pernah melihat orang sebelah mata hanya karena dia miskin, kita sama - sama manusia Qi , aku hanya beruntung karena di lahirkan dalam lingkungan keluarga yang berada, kamu tau aku mengejarmu sejak pertama kamu menginjakkan kakimu di kampus, cintaku tulus padamu Qiana ". Azka tersinggung karena Qiana membicarakan tentang perbedaan mereka.
" Kamu mungkin enggak masalah Kak ,tapi bagaimana dengan orang tua kamu...tapi, terima kasih sudah mencintai aku dengan tulus , hatiku tersentuh ".
" Karena itu, kamu harus mengenal keluarga aku terlebih dahulu, setelah itu baru kamu bisa menyimpulkannya....aku serius Qiana ".
Hembusan nafas terdengar dari mulut Qiana , Kita bicarakan ini nanti Kak , aku masih takut untuk menjalin hubungan , mungkin trauma masa laluku ".
" Baiklah , kali inj kita akan membuat Aric bahagia , hingga ia tidak akan melupakan hari ini ". Qiana setuju dengan ucapan Azka.
Mereka akhirnya menuju Mal , tujuan pertama mereka adalah area bermain untuk Aric. Aric terlihat begitu senang, Qiana sampai meneteskan air matanya.
Dia memang sering membawa Aric ke tempat seperti ini, tapi tidak sebahagia seperti hari ni , Aric terus saja tertawa lepas bersama Azka....terlihat seperti Ayah dan anak..
Lihatlah Rei , putra kita sudah besar....kasihan dia , pasti metindukan sosok seorang Ayah...kapan kamu akan mengingat kami dan krmbali ke sini...
Setelah itu mereka ke toko mainan. tiba - tiba Aric terdiam, Azka melihat ke arah mata Aric memandang.
" Hey , kenapa melamun, apa sudah selesai memilih mainannya ?". tanya Azka membuyarkan lamunan Aric.
" Kenapa Alic tidak punya Papa ya Om , Alic tidak nakal loh , Alic sayang sama Bunda, nenek juga kakek, tapi kenapa Papa tidak mau pulang juga ". Qiana ikuy sesak hatinya , benar saja sang buah hati merindukan Ayahnya.
" Jadi cowok tidak boleh cengeng, Aric bisa panggil Om.. Papa..".Qiana kaget dengan ucapan spontan Azka.
" Memang boleh Om ?".
" Bolehlah , Om juga mau kok jadi Papa sungguhan buat Aric ".
" Asikkkk , akhilnya aku punya Papa , telima kasih Om...eh Pa ". mata Aric kini kembali berbinar.
Qiana ingin protes , tapi malah mendapat tatapan tajam dari Azka. Azka berbusik ke Qiana.
" Jangan rusak kebahagiaannya Qiana ".
Aku ..Azkara Dirgantara, akan mewujudkan keinginan Aric , aku akan menjadi Papa kamu dan tentu saja memperistri Bunda kamu Aric...tunggu saja tanggal mainnya...
Azka menyeringai.....ia yakin akan mendapatkan Qiana , apalagi dua pria yang Qiana sayangi sudah berada dalam genggama tangannya .
Jangan lupa dukungannya ya
Bersambung.....