Asyifa adalah seorang gadis yatim piatu yang hidup bertiga dengan kedua adiknya. Sebagai anak sulung, dia bertanggung jawab membesarkan kedua adiknya, setelah ayah dan ibunya meninggal akibat kecelakaan hebat saat pulang dari berjualan.
Suatu hari dia terlibat skandal dengan teman satu kelasnya, teman yang juga dia kagumi dalam diam.
Sebab skandal tersebut, dia harus kehilangan beasiswa dan menuntutnya untuk keluar dari sekolah favorit tersebut.
5 tahun kemudian, dia dipertemukan dengan teman sekelasnya dengan kondisi yang berbeda.
Tetapi cinta yang dulu pernah singgah... ternyata masih tetap menetap tanpa bisa terungkap.
Bagaimana kisah selanjutnya...
selamat membaca guys... semoga kalian terhibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMPLOP MASA LALU
Memalsukan senyuman jauh lebih mudah, dari pada menjelaskan kesedihan.
Memendam rasa... sakitnya bagai tertusuk puluhan duri.
Angan yang terbayang hanya sekedar impian... Yang sirna di telan kehampaan...
"Tuhan... Peluk aku sebentar saja... Dan yakinkan aku semua akan baik baik saja... " Doa itu terlepas dari bibir Asyifa ketika dia berjalan menuju perusahaan.
2 minggu berlalu... Dan terhitung 2 minggu dia bekerja. Hari harinya hanya menghinda dan menghindar dari masa lalu.
Benar kata Ima, bagaimana bisa dia mendapatkan pekerjaan sebagus di sini hanya dengan ijazah SMP?.
Asyifa memutuskan bertahan, membuang rasa malu demi adik adiknya. Cinta... Bahkan dia sudah mengubur dalam dalam rasa yang sempat singgah. Rasa yang dia anggap sekedar hiburan semata.
" Asyifa, hari ini dan satu minggu kedepan kamu dan Ima lembur ya... Mau ada Tamu dari QA dan tidak tahu sampai jam berapa. Aku cuti 2 hari, aku harap kalian berdua bisa aku andalkan." kata kepala CS.
" Baik Bu" Jawab Asyifa dengan singkat.
" Kalian harus bekerjasama... Jas laboratorium harus siap sebelum tamu datang." jelas kepala CS.
Asyifa menanggalkan tas yang akan di bawanya pulang.
" Dek... aku pulang malam, kalian kunci saja pintunya" pesan singkat di kirim Asyifa kepada Radit.
" Iya mbak... Hati hati. Nanti pulangnya Mbak chat aja, aku jemput." jawab Radit.
Asyifa mencuci jas lab dan menyetrikanya, lalu menempatkan pada rak yang sudah tersedia.
Setelah selesai dia mengepel lantai hingga ke lorong lorong ruang staff.
" Ayo aku bantu," kata Ima.
"tidak usah... Ini hampir selesai" jawab Asyifa.
Ima tersenyum dan berjalan ke ruang laundry.
"Asyifa pekerjaannya memang bagus. kenapa dia nggak lanjut sekolah ya, padahal cantik dan terlihat pinter." batin Ima.
Tiba tiba HP Ima berbunyi
" Hallo mak..." jawab Ima
" ............."
"Astagfirullah...." Ima menutup panggilan di ponselnya.
Dia berlari mencari Asyifa. Ternyata Asyifa ada di pantry.
"Fa maaf ya... Aku harus pulang sekarang, bapakku masuk rumah sakit" kata Ima sambil tergesa gesa.
" Ya Allah... semoga lekas sehat ya mbak ima buat bapaknya..." jawab Asyifa.
Semua pekerjaan sudah selesai, dia hanya menunggu sampai rapat berakhir dan membersihkan ruangan tersebut sebelum dia tinggal pulang.
Hari sudah gelap... Jam menunjukkan pukul 7 malam saat ruangan rapat terbuka.
Satu per satu peserta rapat keluar ruangan dan berjalan menuju parkiran.
Setelah semua terlihat keluar dan ruangan tampak sepi, Asyifa berjalan memasuki ruangan untuk membersihkan sisa sisa makanan dan minuman.
Asyifa sampai di pintu masuk dengan menunduk karena membawa alat kebersihan, pintu yang terbuat dari kaca dengan rangka stainless itu terbuka tanpa suara.
Arka yang masih berada di dalam ruangan, mengerutkan dahi saat melihat asyifa masuk dengan membawa troli dan alat kebersihan lainnya.
" Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk ke dalam ruangan orang?" tanya Arka dengan nada sarkas.
Dia paling tidak suka dengan orang yang main masuk tanpa permisi. Bagi Arka mengetuk pintu dan permisi adalah cermin attitude seseorang.
" Ma maaf pak... Saya... Saya kira ruangan sudah kosong... karena saya melihat orang orang sudah keluar. " Jawab Asyifa yang terkejut sekaligus takut dan.... Malu.
"Kalau begitu saya permisi keluar, Bapak bisa melanjutkan pekerjaan, saya akan kembali nanti." Lanjut Asyifa yang berniat kembali ke ruan laundry.
"Tunggu." cegah Arka
Asyifa berniat berbalik badan... Tetapi sebelum dia keluar, suara Arka menghentikan langkahnya.
" Kemarilah, ada yang ingin aku berikan padamu" kata Arka.
Asyifa mendongakkan kepala, menatap wajah tampan yang begitu dia kagumi sejak dulu.
Perlahan... Asyifa berjalan maju.
"Duduk" kata Arka.
Asyifa menganggukkan kepala dan dudu di kursi depan Arka.
Arka mengambil amplop coklat yang ada di tasnya, lalu menyerahkan amplop coklat tersebut di hadapan Asyifa.
" Itu adalah amplop yang sama, yang mama berikan saat beliau datang ke rumah kamu. Kamu tentu masih ingat bukan?" Arka berkata sambil berdiri di samping Asyifa.
"Maaf Pak... Saya..." suara Asyifa tercekat.
" Arka... Namaku Arka kalau kamu lupa" potong Arka.
" Ambillah amplop itu, dan jangan lagi meninggalkannya di mejaku. Kamu sudah membuat buruk namaku, jangan kamu tambah dengan menambah bebanku karena uang itu." Arka melanjutkan kalimatnya.
Dan setiap kalimat terasa seperti api yang membakar sendi sendi Asyifa.
Asyifa berdiri... Dan mengambil amplop itu dari meja...
" Maaf Pak... Saya sempat membuat nama anda buruk di masa lalu, saya tidak bermaksud memberikan beban di bahu anda, tetapi... Saya mengembalikan uang yang bukan hak saya..." jawab Asyifa.
"Bukan hak mu? , bahkan mama ku memberikan uang ini langsung padamu. Uang halal yang mama hasilkan dari usaha beliau." kata Arka menahan kesal.
" Dan... Kenapa waktu itu kamu keluar sekolah?, kamu malu terhadapku?? Lalu kamu menghancurkan masa depanmu sendiri?... Atau... Kamu memiliki rencana baru, menarik simpatiku dengan mengembalikan uang ini" sarkas Arka.
Asyifa menatap mata itu dengan sendu, rencana??... Jangankan rencana, bahkan dia tidak memiliki kesempatan untuk mengambil beberapa karya seninya.
Semua penghakiman tertuju padanya, semua intimidasi dia dapatkan, cemooh dan hinaan dia terima, bahkan... Saat berada di luar gedung sekolah sekalipun.
Bersalah... Ya, dia bersalah... Tetapi... Dia sudah menerima hukuman. Di caci, di hina, di bully, dan... Di keluarkan dari sekolah yang hanya tinggal 1 tahun.
Dan sekarang... Dia di tuduh memiliki rencana??
Asyifa tertawa sumbang, air matanya mengalir begitu saja.
" Hukumanku ternyata belum selesai..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai manteman... Terimakasih ya masih setia beraama Dewi ars. Tidak putus ucap terimakasihku pada kalian atas suportnya. tidak putus juga doaku... Semoga kalian semua selalu sehat dan lancar rizki. Aamiin
Jangan lupa tinggalkan jejak ya... Like komen dan... Follow.
syifa sdh mngatakn ber kali".... untuk mnyudahi prnikahan kalian... agr kalian tak saling mnyakiti....
up bnyak"
capek mncintai sendirian... wloupun arka sbg suami sangt bertanggung jawab.....
untuk arka.... yakin km bneran g ada cinta untuk syifa.... yakin cinta sdh g pnting.....
ms iya km bisa mnjalani prnikahan dgn syifa smpe saat ini tnpa km merasakn cintamu untuk syifa🤔🤔🤔