"Aku bersumpah demi setiap tetes darah Chaca yang menyatu dengan air, demi setiap air mata yang ia keluarkan hari ini, dan demi setiap detik rasa sakit yang ia rasakan. Kau ... Devon Albara dan yang lainnya, jika suatu hari nanti kalian tahu kebenarannya, kalian akan merasakan yang namanya kematian itu lebih baik daripada hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Dan untukmu Darent Al Jeck, semoga kau bahagia setelah menghianatiku dan memilih dia. Sekarang aku sudah tidak memiliki harapan untuk hidup, semuanya sudah terbawa bersama buih lautan darah Chaca, jadi untuk apa aku tetap tinggal di dunia ini, selamat tinggal, semoga suatu hari kita bisa dipertemukan lagi di akhirat teman-teman."
~Lisa~
"Enggak ada gunanya gue hidup, semua teman-teman gue udah pergi menyusul Chaca, dan satu-satunya orang yang gue cintain ternyata tega ingin membunuh gue karena rekaman palsu yang di buat seseorang, jadi ... selamat tinggal."
"Tidaaaakkk!"
~Lista~
__________________
JAUH JAUH SANA PLAGIAT!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha_Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar tradisional part 2
**Maaf guys, selama ini banyak kata kata yang agak asing di pendengaran kalian, jadi kali ini author berinisiatif untuk memberikan penjelasan singkat, jadi...
Enjoy 😊😊😊**
Chaca dkk+gegenya+Zia dan ibunya, masih setia melihat-lihat keadaan pasar ChingHua.
*Gege: kakak laki laki
Chaca dkk merasa amat senang karena di masa depan sangat jarang menemukan pasar tradisional yang ramai seperti di zaman ini.
Kebanyakan di kota mereka, hanya ada supermarket, mall, minimarket, dan semua yang berbau modern.
Pembeli akan tahu secara langsung harga barang yang mereka inginkan. Tanpa adanya interaksi antara penjual dan pembeli yaitu tawar menawar harga barang.
"Bibi minta uangnya ... satu perak pun tak apa." Seorang anak menarik hanfu milik ralia seraya menengadahkan tangannya yang lain.
*Hanfu: busana tradisional bangsa Han Tionghoa yang berasal dari Tiongkok
"Sayang, memangnya uang itu untuk apa? Kamu ini masih kecil, tugas kamu hanya satu, yaitu belajar untuk membanggakan orang tuamu kelak," Ralia memberi penerangan dengan lembut.
Ya, dibalik sosok keras dan dinginnya, ia memiliki hati selembut sutra, dan ralia memang suka sekali sama anak kecil. Ia bahkan menjadi sosok ibu bagi sahabatnya yang lain.
"Hiks ... Ibu ... hiks ibu, i..ibu edang atit. Yiyin hiks ... haluy cali uang u...upaya ibu embuh huuaa," tangis anak itu pecah.
"Aaoouhh..."
"Lucunya..."
"Imutnya..."
Harusnya, tangis anak itu membuat orang disekelilingnya merasa ibah. Namun karena belum dapat mengucapkan huruf C,R, dan S, membuat orang-orang merasa gemas dengan kelakuan imut anak itu.
"Yiyin mau tidak, kakak-kakak ini bantu Yiyin cari uang yang banyak?" tawar Ralia pada anak kecil itu.
Anak kecil itu hanya mengangguk polos dengan seulas senyum yang terukir di wajah imutnya.
"Tapi Yiyin harus janji dulu. Setelah ini Yiyin tidak boleh mengemis lagi. Tugas Yiyin itu cuman satu, yaitu belajar dengan giat, Ok!" Ralia menunjukkan jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian.
Gadis kecil bernama Yiyin itu bingung harus melakukan apa, ia hanya menuruti instingnya lalu menautkan jari kelingking kecilnya ke jari kelingking Ralia.
Seketika seulas senyum tipis di wajah yang selama ini datar milik Ralia terekspos didepan teman temannya.
"Cekrek!!" suara sebuah handphone yang berhasil menangkap sebuah gambar.
"Okey...."Senyum licik seketika terukir di wajah orang itu.
Sementara itu Ralia hanya fokus memikirkan sebuah cara untuk mencari uang untuk Yiyin dengan cepat.
Seketika sebuah ide masuk kedalam pikirannya.
"Aha!" celetuk Ralia menunjuk ke atas.
"Guys, kalian mau kan bantuin gadis kecil ini?"
Tanya ralia dengan tanpa ekspresi memohon tapi sangat tipis. Wajah datarnya masih setia menghias seperti biasa.
"Yaelah, itu muka apa tembok!" sewot Chalista sinis.
"Mau apa enggak?" tanya Ralisa yang kini semakin mengumbar aura dingin kesekitarnya.
"Berrrr! Kok tiba tiba dingin banget yah? Perasaan cuaca cerah cerah aja tuh," sindir Ralisa dengan akting menggigilnya.
"Hmmm" Geram Ralia dengan yang kini mengeluarkan aura menindas.
____________________________________________
Tidak jauh dari chaca dkk berada...
"Demi tuhan, itu cewek kok bisa dingin begitu."
"Iya nih, kayak situ tuh."
"Wah Ben Wang jadi kaget loh, ternyata ada yang lebih dingin dari dia."
*Ben wang: pangeran ini
Sedangkan yabg disindir hanya bergumam datar plus dingin
4 orang cowok yang ternyata adalah pangeran mahkota dari kerajaan berbeda. Mereka tengah memperhatikan Chaca dkk sedari tadi, dari kejauhan. Dan tentunya menyaksikan semua kelakuan aneh mereka.
____________________________________________
Kembali ke chaca dkk...
Ralia telah menceritakan rencananya kepada para sahabatnya, dan untunglah sahabat-sahabatnya itu menyetujui usulannya.
Ralia mengeluarkan sebuah gitar berwarna pink miliknya, lengkap dengan antek-anteknya.
*gitar Ralia
Chaca mengeluarkan mikrofon spiker berwarna pink miliknya.
*mikrofon milik Chaca
Chalista dan Ralisa mengambil topi jerami yang baru saja mereka beli dari salah seorang pedagang topi.
*Topi yang dibeli Ralisa dan Chalista
Chaca dkk kini tinggal mencari tempat untuk menggalang dana, dan untunglah seseorang yang baik hati meminjamkan mereka tempat tepat di depan tokonya.
"Hei warga desa sekalian, kami mengadakan penggalangan dana untuk adik kecil ini. uang itu akan ia gunakan untuk berobat ibunya yang sedang sakit. datanglah merapat untuk menyaksikan pertunjukan spektakuler yang pernah ada!" Teriak Chalista mengumumkan. Namun hanya beberapa orang saja yang berdatangan, yang lain sibuk dengan urusan masing-masing.
____________________________________________
4 pangeran yang menyamar menjadi rakyat biasa juga termasuk dalam segelintir orang yang penasaran dengan pertunjukan yang akan ditunjukan oleh Chaca dkk.
"Hei, menurutmu alat apa yang di pegang gadis dingin itu," tanya salah seorang dari mereka.
"Mana aku tahu...," cuek pangeran yang paling dingin. Namun yang ia rasakan adalah sebaliknya, sebenarnya ia juga sedikit penasaran. Tapi bukan dengan alat yang di maksud temannya itu, ia hanya penasaran siapa orang yang menarik perhatiannya sedari tadi.
"Sudahlah, kita lihat saja dulu, siapa tahu bagus," sahut pangeran lainnya.
"Aku tantang kalian bertiga. Kalau pertunjukannya bagus, kalian harus merelakan 5 koin emas untuk diberikan pada anak kecil itu," ucap pangeran terakhir yang kelihatan lebih friendly dari yang lain.
"Setuju, siapa takut!" celetuk ke tiga pangeran bersamaan.
____________________________________________
Back to Chaca dkk....
"Ralia siap-siap?" tanya Chaca yang langsung di balas anggukan dari sang empunya.
One
Two
Three
Let's go!
🎶KALI KEDUA BY RAISA🎶
Jika wanginmu saja bisa
Memindahkan duniaku
Maka cintamu pasti bisa
Mengubah jalan hidupku
Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang slalu kunanti
Takkan kulepas lagi
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
Jika senyummu saja bisa
Mencuri detak jantungku
Maka pelukkan mu yang bisa
Menyapu seluruh hatiku
Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang slalu kunanti
Takkan kulepas lagi
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
(Satukan hati, tanpa peduli)
Kedua kali kita bersama lagi
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
Sama Indahnya
Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama
Sama Indahnya
1 detik
"...."
2 detik
"...."
3 detik
"...."
Prok ... prok ... prok ...!
Suara tepuk tangan para warga bergemuruh di seluruh sudut pasar ChingHua.
Chanisa dan Ralia yang sedari tadi fokus pada nyanyian mereka, sontak syok dengan ramainya orang yang menonton mereka. Tidak seperti waktu diawal tadi mereka konser.
"Terima kasih untuk kalian semua yang telah menyisihkan waktunya untuk menonton acara penggalangan dana kami. Kami harap kalian semua memberikan sedikit rezeki kalian untuk anak kecil itu, karena ibunya sedang sakit dan butuh biaya untuk berobat" ucap Chaca dengan tulus.
Calista dan Ralisa mengumpulkan uang perak, bahkan ada yang menyumbang emas dalam topi jerami milik mereka.
"Cantik!" ujar orang itu.
"Imutnya!" celetuk orang satunya lagi.
Ralisa dan Chalista tidak menggubris komentar mereka tersebut. Bagi mereka gombalan cowok itu hanya angin lalu yang tidak akan membekas lagi kedua kalinya.
"Untuk menghibur kalian yang lagi sedih, ini sebuah lagu yang kami persembahkan untuk kalian semua," ujar chaca sambil melirik ke arah Ralia untuk memberikan suatu kode.
1
2
3
Suara gitar ralia kembali mengeluarkan senandung suara musik yang menciptakan nada nada yang berirama harmonis.
Chaca menyanyikan sebuah lagu kesukaannya untuk menghibur adik-adik panti di abad 21dulu dikala mereka dilanda kesedihan.
BAHAGIA BY GAC
Hai hai apa kabar kawan
Siapkah kau untuk melangkahi masalahmu hadapi esok pagi
Hai hai apa kabar kawan
Siapkah kau untuk melangkah kemasa depan menantikan pelangi
Percayalah kawan esok kan berbeda
pasti kan engkau mencoba
Buat mimpimu jadi nyata oh nyata
Kita semua pasti bisa asalkan kita melangkah
Sambut hari yang indah
Marilah kita mensyukuri semua berkat Tuhan hidup ini
Kita bahagia kita bahagia
Bersama hangatnya mentari nikmati dan lukiskan memori
Kita bahagia kita bahagia
Ba ha gia iya
Ba ha gia iyaiya
Ba ha gia hoyeee
Hai hai bagaimana kawan
Apakah kau merangkai semua citamu bebaskan harapanmu
Hai hai bagaimana kawan
Apakah Kau menapaki babak baru pancarkan semangatmu
Percayalah kawan esok kan berbeda
pasti kan engkau mencoba
Buat mimpimu jadi nyata oh nyata
Kita semua pasti bisa asalkan kita melangkah
Sambut hari yang indah
Marilah kita mensyukuri semua berkat Tuhan hidup ini
Kita bahagia kita bahagia
Bersama hangatnya mentari nikmati dan lukiskan memori
Kita bahagia kita bahagia
Ba ha gia iya
Ba ha gia iyaiya
Ba ha gia hoyeee
Marilah kita mensyukuri nikmati dan lukiskan memori
Kita bahagia kita bahagia
Ba ha gia iya
Ba ha gia iyaiya
Ba ha gia hoyeee Jalani hidup ini
Ba ha gia iya
Ba ha gia iyaiya
Ba ha gia hoyeee Jalani hidup ini
Lagi lagi mereka di suguhi suara tepuk tangan yang meriah dari para warga desa.
"Huowww, gege bangga pada kalian," sahut pangeran Jian Lu di tengah sorakan penonton.
"Piuit...," Hua luan menyorakkan siulan penuh semangat.
Keempat pangeran mahkota yang menyamar juga ikut tercengang dengan pertunjukan kedua orang tersebut.
"Whaw! Sungguh aku baru pertama kali menyaksikan pertunjukan sehebat itu."
"Sama aku juga, mereka terlihat bersinar, lihatlah berapa pasang mata laki laki keranjang mengarah pada mereka," ungkapan pangeran berwata friendly itu dengan begitu frontal.
Entah mengapa, karena perkataanya yang baru saja itu, seketika mendapat tatapan mengintimidasi dari 2 temannya. mereka berdua dijuluki pangeran kegelapan dan pangeran berdarah dingin oleh masyarakat setempat.
"Hei hei, kalian kenapa jadi mengerikan seperti itu? Tolong ... tolong Ben wang!"
Pangeran friendly itu sontak bersembunyi dibalik punggung temannya yang lain.
*Ben wang: pangeran ini
"Hei kawan, tenanglah dia hanya memanas-manasi kalian. Kami berdua tahu kalau kalian menyukai mereka kan? Kau menyukai gadis yang bernyanyi itu kan? Dan kau menyukai gadis yang satunya bukan?"
Pangeran itu mencairkan suasana mencekam ke tiga sahabatnya
"TIDAK!"
Elak kedua pangeran itu bersamaan.
"Elleh! Kalau tidak suka, buatku saja kalau begitu," canda pangeran yang sedang bersembunyi itu.
"JANGAN!" celetuk mereka berdua bersaman.
"Hahahaha, jangan membohongi diri kalian. Kami tahu kalian menyukai salah satu dari mereka, karena aku juga menyukai salah satunya," jujur pangeran itu main ceplos saja.
"YANG MANA?" dekik mereka berdua yang lagi-lagi bersamaan.
"Tuh kan! Cie cie, tenang saja, aku menyukai yang pendek itu. Dia terlihat sangat imut di mataku," gumam pangeran itu lagi dengan senyum senyum layaknya orang tak waras
"Hoek!" Ketiga temannya itu serasa ingin muntah mendengar perkataan itu terlotar begitu saja dari mulut temannya yang tak waras itu.
"Kalau aku yang disamping gadismu itu teman," kata pangeran yang bersembunyi dibelakang punggungnya itu.
"Tadi katanya mau mengambil gadis kami, sekarang sudah pindah ke lain hati," cibir pangeran berdarah dingin itu yang langsung di iyakan oleh pangeran kegelapan.
"Tidaklah, tadi itu cuma bercan—" (terpotong karena menyadari sesuatu) "tuh kan, kalian menyukai mereka. Buktinya tadi kalian keceplosan menjuluki mereka dengan kata 'gadisku' lagi," tukas pangeran friendly itu. Hal itu membuat kedua pangeran itu diam membisu.
"Hahahaha! Ok, kalau begitu mari berjuang bersama-sama menggapai hati gadis kita"
Pangeran itu merentangkan tangannya kedepan agak kebawah.
Pangeran friendly yang dibelakangnya sontak menaruh tangannya juga diatas tangan temannya itu sebagai ungkapan setuju.
2 pangeran lain mengikuti instruksi temannya dengan perasaan pasrah, karena tak bisa lagi menyembunyikan perasaan mereka dari teman-temannya.
"Hei kemana Meraka pergi?" sadar pangeran friendly.
"Sial kita kehilangan jejak meraka,"kesal pangeran kegelapan.
"Padahal baru saja aku mau menanyakan namanya," sahut pangeran baik hati itu.
"Kalau aku bertemu dengannya lagi, tidak akan aku lepaskan, akan aku jadikan ia milikku seorang!"
"...."
"...."
"...."
"Huooo, pangeran es bisa berkata sepanjang itu hanya karena seorang gadis?"
"Hal mustahil baru saja terjadi di bumi pertiwi saudara-saudara."
"Demi tuhan, baru kali ini aku mendengarnya berbicara lebih dari 5 kata."
Orang yang dibicarakan ke 3 pangeran lain itu hanya diam dan menatap lebih datar dari sebelumnya.
**Tetap Vote and comen yang banyak kalau bisa guys,
See you next time 😊**
semngat thor..
pada nunggu nih kita kita
apa ni crita mau di berhentikankah thor
kok udah habis sih 🥺🥺🥺🥺
Lagi dong, please🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Next....
Semangat buat kelanjutan ceritanya ya...
Semangat....
ih jahat banget sih🥺🥺🥺🥺