Dyah Alfah Antariksa.
Menemukan dirinya terjebak dalam kehidupan fresh graduate yang penuh tekanan. orangtua yang menuntut untuk segera mendapat pekerjaan mapan, juga soal perjodohan. rasanya kehidupan sesak, oleh tuntutan lingkungan.
Taurus Eka Pradipta cowok ganteng, yang konyol dan sembrono. Menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggalkan Sang Ayah. Jalan hidupnya terjal, namun dia selalu ceria.
Bagaimana jika mereka berdua ditemukan oleh takdir??
Tulisan pertama genre Romance
Nggak tahu bakalan asyik atau nggak
coba saja dulu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan
"Sebuah lagu Dyah luncurkan untuk menemani aktivitas petang kamu agar lebih bersemangat. Check this one out," ucap Dyah di depan microphone.
Sebuah lagu pop Indonesia mengalun merdu. Dyah melepas headset di telinga dan meletakkannya di atas meja. Dia sudah menyiapkan beberapa lagu dan iklan yang mesti diputar. Dyah menggeliat di atas kursi empuk ruang siar. Baru jam 7 malam, namun penat membuatnya mengantuk.
Perseteruan Dyah dengan Sang Bunda kian hari tambah meruncing. Dyah telah menolak tawaran mengajar di sekolah yang Pak Sukito pimpin. Dia juga sudah mengambil paksa ijasahnya yang dibawa Pak Sukito. Tentu saja hal itu memancing kemarahan Bu Ngaimah. Sudah hampir tiga hari Dyah dan Sang Bunda terlibat perang dingin. Bahkan lemari es dua pintu yang ada di rumah langsung rusak karena merasa kalah dingin.
Dalam lamunan, Dyah merasakan getaran di dadanya. Ternyata handphone di saku kemeja berdering. Sebuah pesan WA masuk. Dari nomor yang beberapa hari ini menemani pagi dan petangnya.
'Bolehkah aku menelponmu?'
Pesan dari Mas Ta membuat mata Dyah melotot. Sebuah pertanyaan yang tak terduga, Dyah gelagapan. Dia bingung, harus membalas apa. Dadanya berdegup kencang. Hanya perkara telepon saja bagaimana mungkin Dyah se nervous ini?
'Boleh Mas'
Dyah membalas pesan Mas Ta. Menit berikutnya, sebuah panggilan masuk di handphone Dyah. Bukan panggilan suara melainkan panggilan video. Dada Dyah semakin berdegup kencang. Keringat dingin menetes di pelipis. Dyah meraih kaca kecil di tas nya, kemudian bercermin sekejap sebelum menerima panggilan dari Mas Ta.
"Halloo," ucap Mas Ta saat panggilannya diterima. Mas Ta terlihat mengenakan baju koko di sebuah ruangan sempit bercat hijau.
"Hey. Katanya telepon, kok video call?" tanya Dyah mengusir kegugupannya. Sebagai seorang penyiar radio, Dyah cukup ahli mengatur nafas dan intonasi suara agar tidak terdengar bergetar.
"Apakah kamu keberatan? Atau mungkin aku mengganggumu?" tanya Mas Ta. Raut wajahnya menunjukkan rasa kecewa.
"Tidak juga. Hanya saja aku sedang terlihat kusut saat ini," sahut Dyah sambil tersenyum.
"Oh ya? Tapi sejujurnya, kamu cantik," ucap Mas Ta mengalihkan pandangan kemudian berdehem. Rasa gugup yang terlihat jelas. Dyah tersenyum geli melihatnya.
"Emm, kamu lagi dimana?" tanya Mas Ta kemudian.
"Aku di studio Mas. Jadwal siarku sampai jam 8 malam nanti," jawab Dyah.
"Oohh, ku pikir kamu sedang duduk manis di rumah. Pulangmu cukup malam ya. Jauh ndak sih jarak tempat kerjamu dengan rumah?" tanya Mas Ta.
"Emm, lumayan Mas. Tempatku siaran kan di Madiun kota, sementara tempat tinggalku ada di kabupaten," jelas Dyah.
Mas Ta terlihat mengangguk-angguk. Mereka beradu pandang melalu sambungan video call. Mendadak suasana berubah sunyi. Di saat yang sama sebuah lagu di radio mengalun perlahan. Lagu dari Andmesh bertajuk Cinta Luar Biasa.
Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa geloranya hati ini tak ku sangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu
Seperti terhipnotis, dalam beberapa saat dua insan manusia itu menikmati alunan lagu dalam diam. Manusia memang makhluk yang aneh. Padahal baru bertemu satu kali saja, tapi sudah memiliki rasa akrab dan nyaman seolah sudah bersama dalam waktu yang lama.
"Oh iya, ada yang mau aku ceritakan," ucap Mas Ta setelah beberapa menit terdiam. Mas Ta khawatir jika terus menerus saling pandang lewat handphone, nanti pulsanya habis.
"Apa Mas?" tanya Dyah lirih. Suaranya terdengar kecil, kalah oleh detak jantungnya yang bertalu-talu. Bahkan suara gebukan drum di lagu yang sedang diputar pun minder.
"Aku dipindah tugas ke madiun," ucap Mas Ta setelah menghela nafas.
"Oh ya? Madiun mana?" tanya Dyah antusias. Entah kenapa ada rasa senang di hatinya.
"Di kanigoro. Aku belum tahu tempatnya. Aku belum pernah datang ke kotamu sebelumnya. Emmm, bisakah membantuku saat disana? Sejujurnya aku belum pernah merantau sebelumnya," pinta Mas Ta malu-malu.
"A elah, cuma melewati 2 kota Mas, sampek disebut merantau," ejek Dyah. Tawanya terdengar renyah.
"He he, aku anak rumahan soalnya. Seperti yang kuceritakan di WA kemarin, selepas lulus SMA aku langsung fokus kerja disini," jelas Mas Ta. Wajahnya memerah karena malu.
"Ibuk sama adikmu gimana Mas?" tanya Dyah setelah teringat keluarga Mas Ta. Selama 3 hari terakhir Dyah dan Mas Ta memang intens berkirim pesan. Mas Ta menceritakan tentang keluarganya, sedangkan Dyah lebih banyak bercerita soal kerjaan. Dyah masih belum ingin membagikan keluh kesahnya soal Bu Ngaimah yang terlalu memaksakan kehendak.
Dyah sudah tahu Mas Ta adalah tulang punggung keluarga. Bapak Mas Ta yang pergi entah kemana, meninggalkan Ibuk dan adiknya yang masih SMP. Tiga hari yang singkat, namun Dyah merasa sudah sangat mengenal laki-laki yang saat ini tengah menelponnya itu.
"Tadi aku sudah ijin Ibuk. Dan Ibuk merestui. Sebenarnya berat juga meninggalkan mereka, tapi ya gimana lagi," ucap Mas Ta, sekali lagi menghela nafas panjang.
"Memang kenapa Mas, kok kamu dipindah?" tanya Dyah penasaran.
"Aku malu ngomongnya. Sebenarnya, bisa dikatakan aku naik pangkat gitu," ujar Mas Ta malu-malu.
"Waahhh, selamat ya Mas. Ikut seneng," ucap Dyah tulus.
"Jadi, mau nggak bantuin aku di kotamu? Aku ndak ada kenalan sama sekali," pinta Mas Ta memohon.
"Iyaa, gampang. Kuajak keliling-keliling nanti." Dyah mengangguk menyanggupi.
"Yesss. Tengkiyu ya. Tuhan memang selalu punya cara untuk membuat manusia tidak lupa bersyukur. Meskipun aku harus kehilangan tas kurirku alias obrok, hikmah dan rejekinya aku bertemu denganmu Dyah. Senang rasanya bisa mengenalmu." Mas Ta tersenyum. Dyah kali ini yang diam tersipu.
"Engg, Mas Ta berangkat ke madiun kapan?" tanya Dyah kemudian.
"Besok. Nih, kopernya sudah kusiapkan," jawab Mas Ta sambil mengarahkan kamera pada setumpuk baju yang diletakkan dalam kardus bekas wadah biskuit. Dyah menutup mulutnya menahan tawa.
Beberapa menit berikutnya panggilan dan obrolan harus diakhiri. Dyah mesti kembali menyapa pendengarnya. Membacakan request lagu, juga salam-salam lucu dari para pendengar untuk pasangannya.
"Oke sahabat Pesona, kebersamaan kita harus berakhir di kesempatan hari ini. Kita jumpa lagi, esok hari di jam dan program yang sama. Tetap sehat dan semangat, jangan malas untuk menebarkan cinta serta kebaikan. Dari jalan mayjend sungkono Madiun, Dyah Alfah Antariksa pamit undur diri, salam pesona musik Indonesia. . .sampai jumpa," ucap Dyah mengakhiri program siarnya pada jam 8 kurang sepuluh menit. Lagu syahdu mengalun malam itu. Lagu dari Tulus berjudul 'Hati-hati di jalan'.
Bersambung___
gasss.. utk semua novelnya /Good/
karya sangat bagus