Cinta yang tak kunjung menemukan tempat berlabuh kian lama kian meredup dan menyerah pada sang takdir.
Hati yang kini diantara ingin menyerah dan kalah semakin terpuruk karena segala prasangka yang datang. Akan kah Indira akan tetap diam menerima segala takdir yang di berikan pada nya? Atau dia akan mulai mencari jalan takdir nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Indira merebahkan kepalanya di pundak Bang Anggara.
Jujur saja, selalu ada kedamaian yang ia rasakan saat bersandar di sana akhir- akhir ini. Hanya saja Indira sedikit trauma dengan sandiwara cinta yang pria ini mainkan
"Bang..." panggil Indira pada suaminya.
"Ya, sayang ada apa?" jawab bang Anggara lembut.
"Hm- apa rumah dan mobil di rumah ini atas nama mbak Silvia??" tanya ragu, takut kalau niat nya terlihat jelas.
Bang Anggara menatap Indira penuh tanda tanya. Baru kali ini Indira menanyakan soal harta pada nya. Dipandangnya Indira penuh kecurigaan tapi istri nya tetap bertahan dengan wajah polos nya.
"Rumah ini atas namaku. Mobil ini juga atas nama ku. Ada apa? Apa kau meragukan sesuatu sayang?? Rumah dan mobil ini juga milik mu.." Jawab Bang Anggara tersenyum.
"Bagaimana bisa ini bisa menjadi milik ku kalau ini semua bukan atas nama ku?" Indira mulai bermain dengan kata - kata.
"Apa kau ingin rumah dan mobil di rumah ini di alihkan ke atas nama mu?" tanya bang Anggra sambil memeluk erat tubuh Indira.
"Mana berani aku meminta hal- hal seperti itu. Kau saja sudah membelikan seharga lima ratus juta bang!" Ucap nya terdengar sangat tahu diri sekali,.
"Ssts! Jangan sebut - sebut itu lagi Indira. Aku tidak ingin ada orang yang mengingat- ingat itu lagi. Baik itu kau , aku atau pun Silvia. Sudah lupakan semua itu sayang." bang Anggara mengurai pelukan nya menatap dalam manik mata Indira.
"Aku tanya sekali lagi pada mu. Apa kau mau rumah dan mobil di rumah ini atas nama mu?" Tanya nya dengan nada lembut tapi terlihat sangat serius.
"Aku sih terserah abang saja. Toh milik ku akan menjadi milik anak ku kelak." Ujar Indira sambil menyandarkan pipi nya di dada bidang suami nya. Sebuah bujukan yang tidak dapat setiap pria hindari.
"Baiklah. Asal kamu senang aku akan menuruti semua maumu. Asal kamu janji akan menjaga kehamilanmu dengan baik." ujar bang Anggara mengelus lembut rambut panjang Indira.
"Baik, Bang. Aku akan menjaga calon bayi kita dengan baik. Tapi-? bagaimana dengan Mbak Silvia? Apa dia setuju?" Dia harus memastikan hal ini. Jangan sampai madu nya itu datang menyerang nya.
"Tadi sudah kubilang kan, segala sesuatu yang berkaitan dengan Silvia, biar aku yang urus. Kau tidak perlu cemas?" Jawab bang Anggara menenangkan Indira.
Indira bersorak dalam hati. Satu lagi rencana nya berhasil. Dia akan mengambil harta bang Anggara satu persatu lalu kabur bersama anak nya.
Mungkin Indira adalah gadis yang lugu yang terlalu takut dalam memutuskan sesuatu. Tapi mungkin karena telah merasakan rasa sakit yang bertubi- tubi sosok nya pun mulai berubah.
***
Hari untuk berbulan madu pun telah tiba...
Indira mengemasi pakaiannya dalam koper dan bang Anggara.
Dirinya terlihat sibuk menyortir barang apa saja yang akan di bawanya.
"Apa niatan mu sebenarnya hah Indira?? Apa uang lima ratus juta itu masih kurang!!" Teriak mbak Silvia yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya dan berdiri tepat di hadapan Indira yang sedang mengemasi barang- barang yang akan Indira bawa.
Wajah mbak Silvia terlihat garang seolah siap untuk menelan Indira bulat- bulat.
"Jampi apa yang telah kau berikan pada suami ku hingga dia tunduk dengan semua perkataan mu?!!" teriak nya lagi dan mulai membuat Indira kesal.
"Jampi? Jampi apa maksud mbak?! Mbak nuduh aku main dukun??! Astaga mbak! ngucap mbak! ngucap! Mbak ini orang yang punya Tuhan kan!!"Cetus Indira.
"Jangan berlaga tidak tahu apa- apa kamu Ra! Aku tahu kalau kamu sudah mempengaruhi bang Anggara untuk mengalihkan rumah dan mobil atas nama mu! bagaimana mungkin kamu bisa membuat nya melakuan semua itu kalau kamu tidak main dukun!" Tuduh Mbak Silvia lagi dan lagi.
"Mempengaruhi bagaimana mbak!! Bang Anggara sendiri yang memberikan rumah dan mobil ini pada ku! Dan hal itu bukan lah hal tidak wajar mbak! Aku ini kan juga istri bang Anggara! Jadi wajar kalau dia memberikan semau itu pada ku?" balas Indira dengan suara meledek.
"OOO?? Pintar kamu sekarang, ya?! Siapa yang mengajarimu? ibu mu? Pasti ibu mu yang rakus uang itu yang mengajari mu untuk mengeruk semua harta kami kan! Atau jangan - jangan kau tidak perlu di ajari karena semua itu sudah nurun di gen mu? NGalir di bersama dengan darah mu." Tuding mbak Silvia.
“Plak!” satu tamparan mendarat di wajah Mbak Silvia. Indira begitu geram mendengar ucapan Mbak Silvia yang asal keluar.
Mbak Silvia meringis kesakitan. Wajahnya memerah karena bekas tamparan Indira.
"Berani kamu Indiraaa??!!!" pekik nya kesetanan.
"Mbak yang keterlaluan!" Balas Indira tidak gentar sedikit pun.
"Akan aku adukan perbuatan mu ini ke bang Anggara! Biar bang Anggara sadar kalau kau tidak selembut yang dia lihat!" Tunjuk mbak Silvia dengan tangan kiri nay.
"Silakan mbak! Silahkan!!aku gak takut. Harusnya Mbak Silvia tidak berkata kasar pada ku! Aku pasti aakan menghormati Mbakk!"
"Lihat saja kamu, Ra. Kamu akan terima akibat dari sikapmu ini!" teriak Mbak Silvia sambil meninggalkan Indira keluar dari kamarnya.
Indira tersenyum sinis. "Ini baru permulaan, Mbak," bisik Indira.
Indira merebahkan tubuhnya di kasur.
Dipejamkannya mata. Indira mendesah panjang. Pengorbanannya selama ini harus dibayar dengan sesuatu yang memuaskan dirinya. Indira pun tertidu.
"Sayang..." Indira tersentak.
la membuka matanya mendengar suara suami nya.
Hatinya mulai cemas kalau Mbak Silvia sudah mengadukan kejadian tadi pada Bang Anggara. Bukan hal yang tidak mungkin kalau Bang Anggara akan berbuat kasar lagi padanya.
"Kapan abang pulang?" Tanya Indira gugup"
"Aku sudah pulang dari tadi. Bahkan aku sudah puas memandangi wajahmu sedari tadi. Kamu tidur lelap sekali, sayang." Bang Anggara mencium lembut pipi Indira.
"Bang, tadi Mbak Silvia datang kemari. Dan..." Indira buru- buru menjelaskan apa yang terjadi antara dan madu nya. Menurut nya lebih baik jika dia yang bercerita duluan dari pada di tembak di tempat oleh suami nya.
"Sstts.... sudah tidak perlu dibahas. Aku sudah tahu semuanya. Kamu gak ambil hati semua ucapan Silvia kan? Dia memang sudah meledak- ledak orang nya." jelas bang Anggara dengan tenang.
Indira mengerjapkan matanya. Benarkah ini Bang Anggara? Benarkah sekarang suaminya itu sudah benar-benar berubah?
“Aaakh.. tidak! Aku gak boleh terpengaruh dengan sikapnya.” Batin Indira lagi dan lagi.
Bang Anggara mencium Indira dengan lembutnya. Ciumannya terus merambat pada bagian tubuhnya yang lain. Indira kini tak menolaknya. Bahkan Indira mulai merasakan kesejukan dari sentuhan Bang Anggara.
Bang Anggara memang banyak perubahan.
Tak pernah lagi Indira diperlakukan dengan kasar oleh nya. Ucapannya mulai lembut dan santun pada Indira.
Dan sekali lagi Indira membiarkan diri nya menikmati tiap sentuhan suaminya itu. Dibiarkannya tangan nakal Bang Anggara menjamah tiap jengkal tubuh nya.
*****
Bang Ridwan mondar-mandir dalam cafe.
Dirinya terlihat begitu gelisah.
Sesekali matanya melirik pada jam di tangannya. Lalu pandangannya menerawang melalui jendela cafe.
"Huuh!!"dengus nya kesal.
Hampir seharian ini Bang Ridwan uring-uringan. Semua pekerja di cafe kena omelannya padahal tidak ada kesalahan yang berarti.
Pikiran bang Ridwan sedang kacau karena memikirkan Indira yang sedang pergi berbulan madu dengan bang Anggara ke Italia.
Namun disaat yang bersamaan, tidak hanya bang Ridwan yang di landa gelisah yang tidak menentu. DIkta pun mengalami hal yang sama.
Jujur! Dia merasa cemburu!
DIkta tahu kalau Indira pergi dengan suami Indira sendiri tapi entah kenapa perasaannya amat tidak rela.
Berkali- kali Dikta membuka dan menutup berkas- berkas yang di serahkan oleh bang Anggara pada nya untuk dia kerjakan selama bang Anggara pergi ke Italia dengan Indira.
Dan setiap beberapa menit Dikta pasti melihat ke arah Hape itu dan mengambil nya. Hati Dikta terus mengajak dirinya untuk menelepon Indira. Tapi selalu urung dilaksanakan nya karena Dikta tahu Bang Anggara akan selalu berada di dekat Indira.
Kembali Dikta menahan napasnya, lalu menghembuskannya cepat.
Kegelisahan ini semakin menguasai dirinya. Dan Dikta pun mengutuki dirinya yang tak mampu berbuat apa pun untuk mengetahui keberadaan Indira. Hanya satu hal saja yang ada di dalam pikiran nya saat ini. CEMBURU.
Terbayang oleh nya Inidra di sentuh oleh bang Anggara. Di cium. DI rangkul. Di peluk dan yang terakhir di tiduri.
Semua itu membuat Dikta frustasi. Dia tidak iklas. Benar- benar tidak iklas.
"Indira, di mana kamu Indira?" tanya Dikta lirih.
Aaaarrgh... Dikta meradang gelisah. “Kenapa rasa ini terus menghantuiku!! bentak nya kuat entah pada siapa
Dikta meradang sendiri. Hatinya tak akan pernah rela Indira jadi milik Bang Anggara.
Terlebih lagi Bang Anggara sudah memiliki Mbak Silvia yang jelas- jelas dahulu adalah tunangan Dikta.
Dikta tahu pikirannya kacau. Dan ia tak dapat menguasai rasa ini hingga berdampak pada turun nya fokus nya dalam bekerja.
"Indira, cepatlah kembali. Aku merindukanmu." suara Dikta merintih, parau.
****