Semenjak kejadian malam itu, kehidupan Rosaline berubah 180 derajat, ketika Rosaline mengetahui dirinya hamil. Dirgantara Delta Lelaki tampan nan arogan itu, tidak mengakui janin yang dikandung oleh Rosaline. Sehingga membuat Rosaline harus pergi jauh dari Dirga.
Dirga mulai mencari Rosaline, tapi Rosaline tidak kunjung ia temukan, bagaikan hilang di telan bumi.
Dan selama pencarian Rosaline, ada seseorang yang mengisi kekosongan dalam hidup Rosaline. Yaitu, mantan kekasihnya sewaktu dulu. Cosmos Orlando. Dan hari hari Rosaline, mulai hidup kembali dengan kedatangan Cosmos. Cosmos datang dan menyamar luka pada diri Rosaline.
(sapa author via Instagram : @nindyalivia_)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nindy alivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baku Hantam
Ros menggulung rambutnya keatas lalu mulai melakukan gerakan perenggangan otot, tubuhnya pegal sekali. Memang semenjak perutnya mulai membesar tubuhnya menjadi gampang lelah dan pegal. Apalagi kakinya, yang semakin hari, semakin membengkak. Tapi Ros tidak perduli, Ros menikmati setiap detik masa kehamilannya. Karena tidak semua perempuan dapat merasakan anugerah ini.
Ros menoleh keluar jendela yang menampilkan hiruk pikuk kota Bandung yang ramai. Mungkin tidak seramai Jakarta, tapi Ros menikmatinya.
Semenjak kandungannya memasuki usia delapan bulan. Ros tidak boleh bekerja lagi oleh nancy, jadi Ros seharian hanya bolak balik dalam apartemennya saja dan hal itu membuatnya bosan. Ros baru teringat, ia bisa saja menghubungi Steffi atau Cosmos untuk main di apartemennya. Pasti mereka mau. Pikir Ros. Dengan cepat Ros meraih ponselnya yang ada diatas meja kaca lalu ia mulai mencari nama Steffi di kontak hpnya. Namun gerakan jarinya terhenti karena ia baru menyadari kejadian kemarin dan itu mampu membuat Ros mengurungkan kan niatnya.
Ros membuang nafasnya ketika mengingat kejadian itu, Ros menggelengkan kepalanya seraya berkata.
"Lupakan kejadian kemarin... Lupakan kata katanya... Karena ia tidak tau apapun... Jadi, maafkan dia Ros," ucap Ros kepada dirinya sendiri dan Ros sudah bertekad untuk memaafkan Steffi.
Ting...nong....
Ros menoleh kearah pintu dan berdiri lalu berjalan menuju pintu itu berada.
Ting...nong....
"Tunggu seben...." ucapan Ros terhenti ketika ia membuka pintu apartemennya dan melihat sosok yang ia hindari selama ini.
Sementara Dirga menegakan kepalanya ketika pintu sudah terbuka dan menampilkan sosok yang ia sangat rindukan. Dirga menatap Ros dengan sendu.
"Ros..." Ucap Dirga dengan lemah. Ros menelan Salivanya dengan susah payahnya dan berkata.
"Anda mencari siapa? Mungkin ada salah orang," Setelah berkata seperti itu Ros menutup pintu apartemennya, namun dengan cepat ditahan oleh Dirga.
"Please... Aku ingin membicarakan suatu hal yang penting kepadamu," Ucap Dirga dengan nada memohon.
Ros terdiam lalu membuka pintu itu kembali, Ros menatap Dirga dengan sinis.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kita sudah tidak ada ikatan apapun. Oh ya... Kita memang tidak ada ikatan apapun," ucap Ros dengan emosi yang ia tahan.
"Anak itu adalah ikatan kita," ucap Dirga dengan cepat.
Ros menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis.
"Kau yang menggodaku. Aku tidak menginginkan anak ini atau kau gugurkan saja anak ini, nanti aku akan mengirimkan uang untukmu. Begitukan ucapanmu dulu kepadaku?" Airmatanya Ros mulai berkumpul dipeluk matanya, ia tak kuasa menahan air matanya bila mengingat kejadian hari itu, hari dimana Dirga menolaknya secara mentah mentah.
Dirga menundukkan kepalanya sembari berkata.
"Maafkan aku, Ros,"
Ros menatap Dirga dengan tatapan bertanya. Kemana sifatnya yang arogan itu. Pikir Ros.
"Aku menyesal. Aku bersumpah, aku benar benar menyesal," ucap Dirga dengan penuh kejujuran. Ia memang menyesali kejadian hari itu.
"Aku tidak berniat untuk berkata seperti itu. Kau tidak tau, pada hari itu perusahaan ku hampir bangkrut dan kau datang dengan keadaan seperti itu," jelas Dirga.
Ros menatap Dirga dengan tidak percaya, bagaimana bisa ia tidak tau akan hal itu. Sedangkan dia sendiri adalah sekertarisnya, lebih tepatnya mantan sekretarisnya.
"Bohong... Kau lupa, aku adalah manatan sekretaris mu," Ucap Ros.
"Ya... Aku merahasiakan ini dari seluruh karyawan termasuk kau, aku hanya tidak ingin kinerja kalian menjadi turun dan akhirnya menjadi lebih kacau," Jelas Dirga kembali.
Ros terdiam mematung mendengar penjelasan dari Dirga. Seharusnya sebagai sekretaris yang baik, dia harus selalu menemani bosnya dalam keadaan susah maupun senang. Ros baru tersadar kalau keadaannya tidak seperti itu, ia hamil dan ayah dari bayi ini tidak mengakuinya.
"Dan ketika keadaannya sudah normal kembali, aku mulai mencarimu kemana pun. Tapi aku tidak menemukanmu dimana-mana," lanjut Dirga dengan perlahan. Dirga tau, kini Ros tengah mencerna penjelasannya dan Dirga harap Ros percaya kepadanya. Karena Dirga memang menjelaskan dengan sejujurnya tanpa ada yang dilebih-lebihkan sedikit pun.
"Lalu Steffi?" Tanya Ros, karena penasaran.
"Dia datang, pada saat aku mulai mencarimu. Dia memang menyukaiku dari dulu dan karena pikiranku sedang kalut, aku menerima dia sebagai pacarku," Ucap Dirga. Dirga menyesali kejadian pada hari itu.
"Kau memanfaatkan dia, seperti kau memanfaatkan ku," ucap Ros, lalu Ros membuang arah pandangnya ke kekanan. Seketika tubuhnya menegang karena melihat sosok Cosmos yang berdiri diujung lorong dan ketika Ros sudah menyadari kehadirannya, Cosmos pun menggelengkan kepalanya kerah Ros.
"Maafkan aku, Ros," ucap Dirga sembari menyatukan kedua tangannya. Menyadari Ros yang tidak fokus kepadanya membuat Dirga ikut menoleh ke arah fokus Ros. Dirga tersenyum samar lalu ia mulai memikirkan hal gila.
Dirga berjalan mendekati Ros, lalu Dirga memeluk Ros dengan erat. Sontak Ros kaget dan berusaha mendorong Dirga dari pelukannya.
"Lepaskan Dirga, lepaskan aku!" Ucap Ros sembari mendorong Dirga dengan sekuat yang ia bisa. Namun, tenaganya kalah dengan Dirga.
Cosmos mengepalkan tangannya lalu mulai berjalan cepat kearah Ros dan Dirga. Cosmos melepaskan paksa pelukan dengan paksa, sehingga membuat Dirga sedikit terhuyung kebelakang. Tapi aba aba lagi, Cosmos mulai meninju wajah Dirga.
"********! Mau apa kau memeluk kekasih ku!" ucap Cosmos dengan amarah yang mengebu gebu lalu Cosmos memukul lagi wajah Dirga.
Dirga tertawa sinis kearah Cosmos.
"Dia adalah ibu dari anak ku". Ucap Dirga, lalu Dirga membalas tinjuan Cosmos. Sehingga membuat Cosmos terhuyung kebelakang.
"Jaga ucapanmu. Dia adalah ibu dari anakku". Lalu Cosmos memukul Dirga tetpat diujung bibirnya, sehingga membuat bibir Dirga sobek.
Ros yang melihat adu tonjok itu pun berteriak dengan panik.
"Hey!. Berhenti atau ku panggil satpam". Ucap Ros. Namun, kedua lelaki itu tak mendengarkan ucapan Ros. Hal yang paling Ros takuti adalah melihat dua orang lelaki bertengkar.
Bugh.
Tonjok Cosmos kembali kepada Dirga.
"Ini untuk adikku yang kau sakiti".
Bugh.
Cosmos memukul Dirga dengan membabi-buta.
"Dan ini untuk ca.lon is.tri.ku yang kau sakiti!". Ucap Cosmos dengan penuh penekanan di kalimat 'calon istriku'.
Mendengar ucapan Cosmos membuat Dirga mematung dan menatap Ros dengan cemas.
"Ros... Benarkah itu?". Tanya Dirga dengan was was. Ia hanya takut dengan jawaban Dirga.
Jantung Ros berpacu dengan cepat. Ros menatap Dirga yang sudah kacau, lalu menatap Cosmos yang juga sudah kacau, namun tidak Sekacau Dirga.
"Ros...". Panggil Cosmos dengan takut, karena Cosmos juga takut dengan jawaban yang diberikan oleh Ros.
Ros menelan Salivanya dengan susah payah. Ros menatap Dirga dengan penuh keyakinan dan berkata.
"Ya... Dia adalah calon suamiku". Ucap Ros.
Tubuh Cosmos lebih relaks dan amarahnya pun sirna karena mendengar jawaban dari Ros. Sebenarnya kedatangan Cosmos ke apartemen ini adalah untuk meminta maafkan kepada Ros atas kelakuan adiknya dan dirinya kemarin. Namun, ia mengurungkan niatnya karena melihat Dirga yang sudah berada didepan apartemen Ros. Awalnya Cosmos ingin langsung meninju wajah Dirga, namun ia kembali mengurungkan niatnya karena mendengar nama adiknya disebut oleh Ros. Amarahnya memuncak ketika Cosmos melihat Dirga memeluk Ros secara paksa, lalu Dirga tersenyum sinis kearahnya. Dan itu berhasil untuk memancing kemarahan Cosmos.
Cosmos menarik tangan Ros kedalam apartemennya dan meninggalkan Dirga sendiri terkapar sendiri diatas lantai. Dirga terbaik batuk dan berusaha berdiri, namun ada seseorang wanita yang juga membatunya berdiri.
"Sini aku bantu". Ucap wanita itu dengan sesih.
Dirga menoleh kaget kearah wanita itu dan ia lebih kaget ketika melihat wajah wanita itu.
"Steffi..."
Steffi melihat Dirga yang sudah kacau, lalu tersenyum miris.
"Ya...".
"Sejak kapan kau ada disini?". Tanya Dirga dengan terkejut.
"Sejak pertama kali kau datang". Ucap Steffi yang diakhiri dengan senyuman pedihnya. Keputusannya untuk mengikuti Dirga pun membuahkan hasil. Awalnya Steffi datang ke apartemen untuk membenahi hubungan mnya dengan Ros. Namun sepertinya ia urungkan dulu niat itu. Mengingat hal yang terjadi barusan.
Dirga melepaskan rangkulan Steffi dan berkata.
"Maafkan aku...". Ucap Dirga. Dirga merasa semuanya lebih rumit, karena semuanya saling berkaitan.
Steffi terdiam dan melihat Dirga dengan sedih, namun ia berusaha menutupi itu.
"Untuk apa?". Tanya Steffi.
"Kau pasti mendengar ucapanku tadi. Maafkan aku, karena telah menyakitimu". Ucap Dirga kembali.
Steffi tersenyum kearah Dirga lalu Steffi melepas headset dari kuping dan menggerakkannya didepan wajah Dirga.
"Tarraa.. aku pakai ini, jadi tidak bisa mendengar apapun". Ucap Steffi dengan nada yang dibuat bahagia lalu Steffi tertawa, lebih tepatnya menertawai dirinya yang sangat menyedihkan. Padahal steffi sedang tidak mendengarkan apapun. Steffi sengaja memasang earphone dikupingnya karena tidak ingin mendengarkan kalimat putus lagi dari Dirga. Namun, bukan kalimat putus yang ia dengar namun kalinya yang lebih menyakitkan, kalau Dirga hanya memanfaatkan dirinya.
Dirga diam mematung melihat benda putih yang digerakkan steffi di depan wajahnya, lalu Dirga menelusuri kabel putih itu dan berakhir pada lantai yang ia injak. Colokan kabel itu menjuntai kelantai. Itu artinya benda itu tidak dicolokkan ke handphonenya. Jadi ia tau, kalau Steffi sedang membohonginya.
"Kau tidak pandai berbohong". Ucap Dirga kembali. Seketika tawa Steffi terhenti karena mendengar ucapan Dirga, mata Steffi membulat dan berkata.
"Apa? Aku tidak membohong. Kau yang berbohong karena pura pura mencintaiku". Ucap Steffi dengan nada kesal.
Lalu Steffi berdecak kesal dan melirik kearah Dirga dengan sinis.
"Kenapa sih? Lelaki itu pandai membuat wanita berada diposisi 'aku membutuhkanmu'. Padahal tidak sama sekali". Ucap steffi.
Dirga membalas ucapan Steffi dengan cepat.
"Aku ini pria".
"Pria itu bertanggungjawab atas perbuatannya". Balas kembali Steffi.
"Aku sedang berusaha". Ucap kembali Dirga dengan tidak terima. Ia memang sedang berusaha untuk bertanggungjawab atas Ros, walaupun terlambat.
"Aku tidak melihat itu. Mana? Mana?". Ucap Steffi sembari melihat sekelilingnya mencari cari sesuatu yang tidak akan bisa ia temukan dengan kasat mata.
"Mana cincin tunangan kita?". Tanya Steffi kembali.
Dirga membuang nafas lelahnya.
"Kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik lagi daripada aku".
"Ya... Aku bisa, dari pria baik itu adalah kamu". Ucap kembali Steffi. Steffi harus pandai dalam membalas ucapan Dirga.
"Akan lebih baik jika kita mengakhiri ini semua. Aku lelah, selamat tinggal". Ucap Dirga dengan menatap Steffi dengan serius.
Steffi menyuruh kepalanya menggunakan Hoodie yang menempel pada jaketnya dan berkata.
"Aku tidak dengar".
"Aku harap kau menerima ini. Bersikaplah sebagai wanita dewasa, Sekali lagi aku ingin berkata kalau. kita berakhir sampai disini". Ucap kembali Dirga dengan tegas kepada steffi. Lalu meninggalkan Steffi sendiri.
Dirga mulai menaiki mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan cepat. Mendengar mobil Dirga yang sudah menjauh Steffi pun tak kuasa lagi menahan air matanya, Steffi menarik sedikit Hoodienya kebelakang lalu berjalan lemas ke tempat dimana mobilnya berada. Steffi menaiki mobilnya dengan air mata yang membanjir pipinya. Steffi menutup pintu mobilnya dan menangis sejadi jadinya di dalam mobil, isakan pilu memenuhi mobil ini.
Steffi memukul dadanya yang terasa perih.
"Kenapa...hiks... Begitu...hiks... Sakit". Ucapnya dengan terbata bata.
Steffi menyalakan mesin mobilnya. Sepertinya tangannya sangat lemas hanya untuk sekedar memegang stir mobil ini. Ia tidak tau apa yang akan terjadi bila ia nekat membawa mobil ini. Jadi dia lebih memilih untuk menangis didalam mobil.
Steffi mendongakkan kepalanya berusaha untuk memberhentikan air matanya yang turun secara bebas. Namun, usahanya tak membuahkan hasil. Steffi menaruh kepalanya diatas stir.
Tinnnnnn.
Suara klakson dibunyikan panjang. Steffi mendongakkan kepalanya karena kaget. Menyadari itu adalah ulahnya dan itu membuat dia meringis.
Tok... Tok... Tok...
Steffi menoleh kearah kaca mobil yang di ketuk oleh seseorang. Lalu Steffi menurunkan kaca mobilnya dan melihat sosok yang ia rindukan.
"Jayden Martin". Ucap Steffi dengan pelan. Namun masih bisa didengar oleh sang pemilik nama. Dan pemilik nama itu juga terkejut, karena melihat gadis yang ia rindukan sejak dulu. Akhirnya ia memukan gadisnya.
Jangan marah ya thor
sukses....semangat
mksh
aku bacanya pake perasaan banget sih, jadinya ngena. apalagi baca sambil dengar lagu, uhhh...
ini kesannya memberi dampak - pada pembaca.