Alexa, adalah seorang wanita yang hebat. Ia berasal dari keluarga kaya, dan ia adalah anak satu-satunya sekaligus pewaris tunggal dari seorang konglomerat di kotanya.
Alexa terkenal hebat dalam berbisnis sejak muda. Namun sayangnya, wanita itu memiliki sifat yang kurang menyenangkan. Ia sombong, kasar, dan keras kepala.
Ketika usianya semakin dewasa dan tidak kunjung memiliki keinginan menikah, kedua orang tua Alexa memberikan tiga kandidat laki-laki yang berasal dari keluarga terpandang sebagai pilihan calon suaminya.
Namun sayangnya, Alexa justru tertarik pada seorang laki-laki tampan yang bertugas menjadi pengawal pribadinya.
Evano Xavier, seorang bodyguard tampan yang penuh dengan rahasia. Siapakah dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terus Menempel
Setelah setengah hari melakukan meeting dan harus ke sana kemari mengurus beberapa pekerjaan penting. Akhirnya Alexa bisa segera pulang dengan tenang ke rumahnya.
"Kau bisa langsung pulang, Meera."
"Benarkah?"
"Hmm." Alexa mengangguk. "Aku harap semua info yang aku minta bisa siap besok pagi. Karena lusa aku sudah harus bertemu dengan laki-laki itu," lanjut Alexa.
"Baik, Nona. Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak cari pacar saja? Bukankah lebih baik kau memiliki pacar daripada di jodohkan?" tanya Meera penasaran.
Bagi wanita cantik dan berkelas seperti Alexa, pasti bukanlah hal yang sulit untuk mendapatkan seorang kekasih. Namun anehnya, Alexa sama sekali tidak tertarik untuk menjalin hubungan apapun dengan laki-laki manapun.
"Aku tidak tertarik dengan pernikahan," jawab Alexa.
"Hah!" Meera membulatkan mata lebar. Ia pun menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan.
"Nona, apa kau tidak menyukai laki-laki?" tanya Meera.
Alexa menyipit. "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Maksudku, apa kau ...."
"Kau gila!" seru Alexa setelah memahami maksud perkataan sekretarisnya. "Aku wanita normal, Meera."
"Ah, syukurlah, Nona. Kau hampir membuatku takut," ujar Meera sambil tertawa kecil.
Setelah Meera membereskan semua berkas di atas meja kerja Alexa, mereka berdua keluar dari ruangan dan bersiap untuk pulang.
Saat keluar, Evan sudah berdiri di dekat pintu dan mengikuti mereka sampai masuk ke dalam lift bersama.
"Hei, Evan. Apa kau tidak lelah berdiri selama itu?" tanya Meera.
"Tidak," jawab Evan singkat.
"Apa kau juga ikut tinggal di rumah Nona untuk menjaga keselamatannya selama dua puluh empat jam?" tanya Meera lagi.
"Meera!" seru Alexa menegur.
Setelah keluar dari lift, Alexa berjalan bersama Meera dan Evan. Semua pasang mata tertuju pada mereka. Terlebih, para wanita tampak sangat mengagumi sosok laki-laki yang berjalan di dekat Alexa.
Ketampanan Evan memang tidak diragukan, hal itu terbukti dengan banyaknya wanita yang terpesona padanya sejak pandangan pertama.
"Nona, aku akan memesan taksi," pamit Meera.
"Hmm, pergilah."
Meera pergi berjalan kaki keluar dari area hotel dan melambaikan tangan pada Alexa. Sementara Alexa, berdiri dan menunggu Evan mengambil mobil mereka.
Saat dalam perjalanan pulang, Alexa meminta Evan berhenti di sebuah minimarket untuk membeli keperluan dapur. Karena Alexa biasa memasak untuk dirinya sendiri, ia juga senang berbelanja dan memilih sayur serta buah-buahan segar yang ia kehendaki.
"Kau bisa tunggu di sini," ucap Alexa. Ia meminta Evan untuk menunggunya di tempat parkir.
"Tidak, aku akan ikut."
"Aku hanya akan berbelanja di situ. Kenapa kau terus menempel padaku?" ujar Alexa kesal.
Evan tidak memperdulikan penolakan Alexa, laki-laki itu tetap mengikuti Alexa masuk ke dalam minimarket. Ia bahkan mendahului Alexa untuk mengambil keranjang belanjaan.
"Kau!"
"Aku akan membantu, Nona," ucap Evan.
Alexa mulai memilih beberapa jenis buah kesukaannya, mulai dari kiwi, anggur, apel, hingga pisang. Alexa pun membeli beberapa macam sayur sebagai persediaan.
Saat melewati rak susu, Alexa memilih beberapa botol susu segar dalam kemasan. Ia juga memilih beberapa produk olahan susu yang ia temukan.
"Jangan makan ini, Nona," ucap Evan saat mengamati kemasan susu dengan campuran kacang almond.
"Memangnya kenapa?" tanya Alexa ketus. Ia berpikir jika Evan terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya.
"Ini mengandung kacang. Kau bisa sakit," jelas Evan.
Seketika Alexa tersadar, ia mengembalikan susu dengan campuran kacang almond ke atas rak. Wanita itu menatap Evan dengan pandangan aneh sekaligus penasaran, bagaimana bisa Evan tahu jika ia alergi kacang?
"Apa Papa memberitahumu jika aku memiliki alergi berat terhadap semua jenis kacang?" tanya Alexa penasaran.
"Tidak."
"Lalu, dari mana kau bisa tahu?"
"Aku hanya tahu, aku sudah tahu."
...****************...