Menjelang pernikahan, Cahaya harus menerima kenyataan bahwa sang calon suami ternyata sudah menikah dan hanya memanfaatkannya saja.
Saat mengadu pada Paman dan bibinya, ia malah akan dijodohkan dengan pria tua agar mendapatkan uang dari calon suaminya.
Merasa putus asa, ia pun nekat melakukan percobaan bunuh diri dari atas jembatan penyeberangan orang.
Namun, aksinya itu berhasil digagalkan oleh seorang pria kaya dan tampan bernama Davin Pramudya.
Karena merasa saling membutuhkan, mereka pun sepakat menikah.
Namun, apa yang terjadi jika salah satu diantara mereka terjebak cinta yang seharusnya tidak perlu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru
Keesokan harinya, Cahaya dan Davin pun siap-siap untuk pergi dari hotel tersebut. Mereka pun pulang ke rumah orang tua Davin mempersiapkan pesta penyambutan untuk mereka.
Cahaya senang karena diterima baik oleh keluarga Davin. Namun, dirinya merasa sedih karena Davin hanyalah sebatas pengganti untuknya. Begitu juga dengan dirinya yang hanyalah sebatas status untuk menghindari perjodohan yang dilakukan oleh orang tua Davin.
"Ini kunci rumah kalian pergilah dari sini," ucap Sevina kunci rumah kepada Davin.
"Ma, apa ini?" tanya Davin heran.
"Sudah Mama katakan bahwa itu kunci rumah, Davin, apa kau tidak dengar?"
"Iya, aku dengar, Ma, tapi kami harus diusir dari sini?" Davin mengernyitkan dahinya.
"Karena kau dan Cahaya harus memiliki rumah sendiri agar cucu kami cepat jadi."
Sontak ucapan Sevina membuat mata Davin membulat sempurna. Begitu juga dengan Cahaya yang kini berubah gugup.
"Kenapa diam? Ingat, ya, jangan mencoba menunda anak atau kau akan tahu akibatnya!" Sevina menatap Davin dengan tatapan tajam. Tatapannya penuh dengan ancaman yang membuat Davin terlihat ragu.
Sevina memberikan kunci rumah pada Cahaya yang langsung diterimanya dengan perasaan bingung.
"Ya sudah, baiklah, Ma, dimana rumah ini?" tanya Davin pasrah.
"Itu, di sebelah." Dengan santainya Sevina menunjuk rumah di sebelah rumah mereka.
"Ma, bukankah itu rumah tetangga kita, Tante Mutia?"
"Ya, Mama sudah membeli rumahnya sebulan yang lalu. Dan dia setuju angkat kaki dari rumah itu."
"Apa? Mama membelinya? Dengan harga berapa?" tanya Davin tak percaya. Yang dia tahu, wanita separuh baya yang bernama Mutia itu terkenal sangat pelit dan perhitungan. Bisa dibayangkan seberapa besar keuntungan yang diambilnya dari keroyalan mamanya.
"Sudahlah itu tidak penting. Daripada setiap hari dia selalu curi-curi pandang dengan Papamu, lebih baik Mama usir saja. Sekarang Mama tidak perlu khawatir lagi kalian akan jauh dari kami." Sevina tersenyum aneh pada Davin. Seakan dia bisa membaca situasi di mana Davin dan Cahaya menikah bukan karena cinta, melainkan dipaksa keadaan.
"Baiklah, Ma, terima kasih. Kami akan segera pergi dari rumah ini sesuai dengan keinginan Mama." Davin pun mengajak Cahaya pergi ke rumah baru mereka.
Di sana, Cahaya sangat takjub dengan keindahan dan kemegahan rumah itu. Davin merasa bahwa dekorasi luar dan dalam rumah adalah ulah mamanya. Karena dekorasi itu persis dengan seleranya.
"Cahaya, itu kamarmu, ya, dan ini kamarku," ucap Davin sambil menunjuk dua kamar yang bersebelahan di depan mereka.
"Mas, kita tidak berada dalam satu kamar?" tanya Cahaya heran.
"Tidak, Cahaya, aku tidak terbiasa tidur dengan orang lain. Tolong dimaklumi, ya."
"Tapi Mama ingin agar kita segera memiliki anak, Mas."
"Cahaya, semua omongan mama tentang anak atau yang lainnya tolong jangan didengarkan. Cukup kau pahami saja bahwa pernikahan kita ini hanya sementara. Aku akan menunggu waktu yang pas agar kita segera bercerai."
Mendengar ucapan Davin, Cahaya pun langsung menunduk sedih. Dia mengangguk lemah sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Davin yang sudah berada di dalam kamarnya langsung membenahi isi tas yang dibawanya dari rumah mamanya. Tas itu isi barang-barang berharga miliknya.
Saat sedang mengeluarkan satu persatu barang itu, tanpa sengaja sebuah foto kecil pun jatuh. Foto seorang wanita berhijab yang sangat cantik dan anggun. Dia adalah Safira, wanita yang sangat dicintai Davin meski sekarang sudah berstatus menjadi istri sepupunya.
Dia menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. "Aku rasa memang sulit melupakanmu, Safira."
sungguh mantap sekali
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘