"Apa sekarang kamu puas?! Kamu saat itu memutuskan aku begitu saja dan sekarang kamu menikahi aku untuk menjadi istri ke dua. Bukan, tepatnya istri simpanan! Aku membencimu Arsen!" ucap Kinar
"Aku akan buktikan keseriusanku padamu bahwa kamu akan aku jadikan istri satu-satunya untukku, tidak apa-apa kamu membenciku, karena benci dan cinta beda tipis." ucap Arsen
Kinar yang mencintai mantan kekasih dan sekaligus suaminya itu begitu mudah, lalu bagai mana kisah rumah tangga mereka?
Apa yakin Arsen bisa menceraikan istri pertamanya yang memang wanita pilihan orang tuanya? Atau Kinar tetap selamanya akan menjadi istri ke dua dari Arsen?
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 9 Nasehat Riko
Riko menghela nafas berat saat mendengar jawaban dari Arsen, ia yakin Kinar sangat tersiksa karena sifat pengecut dan keegoisan dari Arsen.
"Bagai mana kalau nanti Tiara tau kamu diam-diam menikah lagi?"
"Aku sama sekali tidak peduli, tapi untuk saat ini kamu jangan sampai memberi tau Tiara, aku takut Tiara melukai Kinar, aku tidak ingin Kinar menanggung segalanya karena keegoisanku, suatu saat aku juga akan jujur, tapi bukan sekarang, karena sekarang Kinar masih belum mencintaiku."
"Apa kamu tidak merasa bersalah pada Kinar? Kinar sudah kamu lukai hatinya, dan sekarang kamu menikahinya, kasian Kinar Arsen, Kinar menjadi tidak bisa bersama orang yang Kinar cintai."
"Aku tidak peduli, aku tetap akan mempertahankan Kinar bagai mana pun caranya."
Riko menghela nafas berat, ia tidak menyangka kalau sahabatnya sangat egois. Riko menatap Kinar dari kaca tengah, bisa ia lihat wajahnya begitu pucat, dan ia yakin kalau Kinar tersiksa dalam pernikahannya.
"Arsen, jangan buat kesalahan untuk yang ke dua kalinya, kalau sampai kamu membuat kesalahan yang ke dua kalinya terhadap Kinar, aku bisa saja mengambil Kinar dari genggamanmu, jadi tolong, jangan terus lukai hatinya dan perhatikan Kinar, bisa saja hari ini Kinar hanya mabuk-mabukan, tapi siapa tau kalau sudah tidak tahan dengan sikapmu Kinar akan bunuh diri, kita tidak tau sifat manusia, jangan terus memaksakan keinginanmu."
"Kalau kamu berani mengambil Kinar dariku, aku bisa berbuat nekad padamu, aku bisa saja membunuhmu, karena Kinar hanya akan menjadi milikku."
Tidak ada nada bentakan di semua kata dari Arsen, tapi mampu membuat Riko menggeleng pelan saat mendengar jawaban dari Arsen. Riko tau selama ini Arsen adalah lelaki yang baik, tapi ia tidak menyangka kalau akan melakukan apa pun untuk membuat Kinar selalu ada di sisinya.
"Kamu sudah making love sama Kinar?"
"Aku belum menyentuhnya sampai sejauh itu, aku tidak akan membuat Kinar hamil kalau di hati Kinar masih ada nama lelaki lain, karena Kinar memaksaku untuk melakukannya agar Kinar bisa hamil, setelah melahirkan Kinar meminta berpisah dan akan kembali bersama Martin, aku tidak akan pernah mau kalau sampai itu terjadi."
"Kamu terlalu serakah Sen, harusnya kamu bersyukur bisa menikahi Kinar sampai bisa mendapatkan anak darinya, kamu bisa kembali dengan Tiara dengan bahagia karena sudah memiliki anak, orang tuamu tidak akan menuntut keturunan lagi, jadi biarkan Kinar bahagia bersama kekasihnya Arsen."
"Aku tidak akan mau kalau sampai itu terjadi."
Riko menghela nafas, akhirnya ia diam, ia tidak ingin berdebat lagi dengan Arsen yang memang sangat keras kepala. Arsen menatap wajah istrinya yang masih terpejam.
"Maafkan aku Kinar, aku tidak akan melepaskanmu."
Untuk ke dua kalinya Arsen meminta maaf pada istrinya yang masih terpejam. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mereka sampai di pekarangan rumah.
"Riko, kamu mau ngenginap di sini apa mau langsung pulang?"
"Pulang."
"Iya sudah bawa mobil aku, besok kamu jemput ke sini dan tololong telpon istriku kalau aku tidak bisa pulang, bilang saja aku menginap di apartement kamu."
"Iya nanti aku telpon istrimu."
Arsen turun dari mobil sambil menangkat tubuh istrinya. Sedangkan Riko yang menatap Arsen masuk ke dalam rumah, ia menghela nafas kasar, ia kesal dengan sifat Arsen yang begitu egois, mengejar cinta memang boleh, tapi kalau merusak kebahagiaan orang yang di cintai itu apa masih termasuk di katagorikan cinta? Menurut Riko bukan cinta yang di miliki oleh Arsen untuk Kinar, tapi obsesi yang ingin terus memiliki Kinar, terlebih sekarang ia di suruh menelpon Tiara, ia lebih kesal karena Arsen tidak adil dengan ke dua istrinya.
"Arsen, kalau suatu saat kamu ketahuan menikah lagi, yang akan menjadi korban adalah Kinar, semua orang pasti mengatakan kalau Kinar sebagai orang ke tiga."
Setelah itu Riko langsung melajukan mobilnya untuk pulang. Bi Asih yang melihat ke dua majikannya, ia langsung bertanya.
"Den, non tidak apa-apa?"
Bi Asih menatap kuatir pada Kinar yang ada di gendongan suaminya.
"Tidak apa-apa bi, Kinar hanya tertidur, kalau begitu bibi juga tidur, ini sudah mau pagi, dan terima kasih sudah menghubungi saya tadi."
"Iya den, sama-sama."
Arsen langsung menaiki tangga. Sedangkan bi Asih hanya menggelengkan kepalanya, ia yakin kalau Kinar mabuk, bau alkohol begitu menyengat di indra penciuman bi Asih.
Arsen langsung membaringkan tubuh istrinya, ia juga melepas baju crop yang di pakai istrinya yang terkena sedikit siraman alkohol. Setelah membuka baju istrinya, Arsen menghela nafas berat sambil menelan ludahnya sendiri, saat melihat perut rata istrinya, lalu ia langsung menyelimuti istrinya. Arsen mengelus lembut pipi istrinya.
"Aku tidak pernah tau, sesakit apa hatimu Kinar, tapi aku merasa sangat sakit, saat melihat kamu terjun bebas ke club, apa selama aku pergi juga begini? Apa Martin tidak melarangmu? Apa lelaki seperti itu kamu anggap sempurna?"
Arsen bertanya pada istrinya dengan suara yang sangat lirih, karena istrinya masih memejamkan mata. Arsen langsung membaringkan tubuhnya, ia juga menyelumuti tubuhnya sambil memeluk tubuh mungil istrinya. Sebelum ikut memejamkan mata Arsen mengecup kening istrinya cukup lama, lalu baru ia ikut memejamkan mata.
Jam menunjukan pukul 04.00WIB, Kinar terbangun, karena rasa mual, ia langsung duduk, baru saja akan turun dari ranjang dan akan ke kamar mandi, tapi ia sudah tidak tahan, hingga memuntahkan semua isi perutnya, ia sesekali memukul kapalanya yang sangat pusing, mungkin karena sudah lama ia tidak minum alkohol lagi.
Arsen yang mendengar suara istrinya seperti sedang muntah, ia langsung duduk, lalu memijat tengkuk istrinya, sedangkan tangan satunya mengucek ke dua matanya.
"Kenapa Kin?"
Kinar menggeleng pelan, tanpa mau melihat ke arah suaminya. Setelah jauh lebih baik, Kinar memutuskan untuk membersihkan muntahan yang ada di lantai, tapi baru saja akan turun, suaminya sudah mencekal lengannya.
"Tidak usah biar aku saja."
Kinar hanya mengangguk pelan, ia sedang tidak mau berdebat. Arsen langsung turun, ia mengambil baskom kecil di kamar mandi untuk istrinya, lalu mengambil gelas yang berisi air putih.
"Kumur-kumur terlebih dahulu Kin?"
Arsen memberikan baskom kecil dan air untuk istrinya berkumur-kumur. Kinar mengangguk pelan, ia langsung berkumur-kumur, setelah selsai ia langsung memberikannya pada suaminya. Arsen langsung meletakan gelas dan baskom, lalu ia membantu istrinya untuk berbaring lagi, setelah itu menyelimuti tubuh istrinya.
"Tidurlah Kin, biar tubuhmu besok lebih segar."
Kinar mengangguk pelan, lalu langsung memejamkan mata. Sedangkan Arsen membersihkan muntahan istrinya, seumur hidup Arsen, ini pertama kalinya ia membersihkan muntahan, bahkan muntahan sendiri saja yang membersihkan asisten rumah tangganya, tapi ia sama sekali tidak merasa jijik. Setelah selsai Arsen langsung mencuci tangannya, lalu langsung duduk di samping ranjang, ia menatap wajah istrinya yang masih memejamkan mata.
"Maafkan aku Kinar, aku telah membuat hati kamu tersiksa, tapi perlu kamu tau, aku akan berusaha membuatmu selalu bahagia ."
Setelah mengatakan itu Arsen menghela nafas berat, jangankan bisa membuat istrinya bahagia, bakan ia merasa kalau ia selalu membuat hati istrinya terluka.