Apakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidaApakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada ucapan sakinah mawadah warahmah, dalam pernikahan.
Bertahan dalam pernikahan yang memberi tangis kesedihan bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi bentuk dari perjuangan dalam mencapai pernikahan yang bahagia. Karena tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Begitu juga pernikahan antara Zaara dan suaminya–Arjuna.
Malam pertama pernikahan yang harusnya memberikan Zara kebahagiaan, justru memberikan luka yang begitu menyakitkan untuk Zara, saat Zara mengetahui jika suaminya mencintai wanita lain.
Apakah Zara memilih menyerah? Tidak. Karena Zara mencoba bertahan dan berjuang untuk pernikahannya.
Apakah perjuangan Zara akan berbuah manis? Entahlah.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Apa Non Zara ingin melihat-lihat rumah ini? Jika iya, Bibi temani," tanya Ina satu jam kemudian setelah mereka cukup lama mengobrol di teras rumah.
Zara merasa senang setelah mengetahui banyak hal tentang Juna, mengetahui semua tentang Juna adalah bekal untuk Zara agar tidak melakukan kesalahan di kemudian hari. Zara benar-benar ingin memahami semua hal tentang suaminya.
Zara yang menyadari jika hari sudah malam, terpaksa mengakhiri pembicaraan mereka. Zara pikir lebih baik membiarkan pelayan beristirahat, meskipun tawaran Ina jelas diinginkan oleh Zara.
"Bibi istirahatlah. Lain kali saja, ini sudah waktunya istirahat. Kalian pasti lelah seharian bekerja," tolak Zara dengan sangat halus pada Ina.
"Nona yakin? Apa Non Zara juga akan beristirahat?" tanya Ina yang merasa iba melepaskan Zara sendirian terlebih ini adalah malam yang seharusnya menjadi malam yang bahagia untuk Zara, tetapi justru harus dilalui sendiri tanpa sosok suaminya. Berbeda dari pasangan pengantin lainnya, untung saja Zara wanita yang benar-benar suci, karena itu tak ada sedikitpun prasangka buruk darinya pada siapa pun.
"Iya, Bi. Bibi istirahatlah. Pergilah ke kamar! Aku juga akan tidur sebentar lagi," ucap Zara yang pada akhirnya dituruti oleh Ina.
"Baiklah, Nona. Panggil saya atau pelayan lainnya jika Nona butuh sesuatu," ucap Ina lagi sebelum pergi meninggalkan Zara.
Beberapa saat kemudian, setelah Ina pergi. Zara yang sama sekali belum mengantuk memilih untuk berkeliling sendiri. Zara masuk ke dalam rumah dan mulai menyusuri setiap sudut rumah, semua hal yang Zara lihat selalu membuatnya merasa kagum. Rumah Juna benar-benar terlihat bagus di matanya.
Zara terus saja melangkah menyusuri semua tempat yang ada di rumah, hingga saat mendengar suara beberapa orang tengah mengobrol, Zara tersenyum saat Zara berpikir dia akan bergabung dengan pelayan lainnya yang belum tidur. Namun, saat mendengar nama Juna yang tengah mereka bicarakan, Zara mengurungkan niatnya dan justru menguping di balik tembok pemisah ruangan yang ada.
"Kenapa tuan Juan meninggalkan Non Zara di malam pertama pernikahan mereka? Kasihan sekali Non Zara," ucap pelayan.
"Ya, Kamu benar. Aku merasa kasihan pada Non Zara. Dia terlihat jauh lebih baik dari kekasih tuan Juna." Pelayan yang lain menyahuti.
"Apa menurut kalian tuan Juna pergi menemui kekasihnya?" Kata kekasih yang disebut terdengar seperti bom yang meledak menghancurkan Zara.
Zara dibuat amat terkejut saat mendengar ucapan yang mengatakan tentang kekasih tuan Juna. Tubuhnya menjadi lemas, kakinya seakan tak dapat menopang tubuhnya. Zara dengan cepat bersandar di tembok, yang menjadi penahan tubuhnya agar tidak terjatuh setelah kalimat yang didengar berhasil mengguncang hati dan jiwanya.
"Kekasih. Apa maksud mereka?" gumam Zara pelan, berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak.
"Ya, aku pikir tuan Juna masih berhubungan dengan kekasihnya. Karena, jika tidak, tuan Juna tidak mungkin pergi di malam pertama pernikahannya. Tidak ada pasangan yang meninggalkan pasangannya di malam pernikahan, semua pasangan pastinya akan mengurung diri di kamar berdua dan melakukan hal-hal yang menyenangkan yang akan menjadi tali pengikat hubungan mereka agar semakin terikat luar dan dalam." Zara merasa tidak sanggup mendengar itu semua, tetapi tubuhnya tetap saja berada disana untuk mendengar lebih jauh pembicaraan para pelayan.
Deg.....
Jantung Zara seakan ditarik keluar dari tubuhnya setiap kali mendengar ucapan para pelayan yang semakin jelas terdengar olehnya. Mata Zara memanas, dan perlahan mata cantik itu terlihat berkaca-kaca. Ucapan para pelayan semuanya benar, dan Zara merasa mungkin benar jika hanya dialah pasangan yang ditinggalkan di malam pertama pernikahan.
Meskipun sesuatu yang tidak nyaman terasa di hatinya, tetapi Zara tetap saja bertahan di sana, Zara ingin mendengar semuanya karena semua sudah terlanjur didengar olehnya, sakit pun sudah terlanjur sakit. Pikirnya.
"Siapa dia?" ucap Zara pelan, nyaris tak dapat menahan tubuhnya sendiri. Zara perlahan jatuh terduduk lemas di lantai, dengan tubuh bersandar di tembok.
Air mata Zara jatuh mengalir deras di wajahnya mendengar setiap pembicaraan pelayan.
Jangan berpikir buruk tentang suamimu Za, bisa saja wanita itu mantan kekasihnya. Batin Zara coba menenangkan hati dan pikirannya yang mulai terisi dengan banyak sekali pertanyaan.
Zara bangkit berdiri dan perlahan ingin pergi dari sana saat Zara tak lagi bisa bertahan mendengar semua ucapan pelayan, tapi satu nama yang didengar olehnya kembali menghentikan Zara.
"Nona Zara jauh lebih baik dari Nona Laura. Dia begitu sempurna di mataku. Aku menyukai Non Zara." Pembicaraan antara pelayan masih terus berlanjut, tetapi Zara dengan cepat berlari dari sana.
"Laura. Siapa Laura, mas?" ucapnya.
Perfect deh.....
ada season kedua kah???
ternyata selama itu kamu pergi , gimana keadaan papa Emir juga Juna sekarang....