NOVEL Ke.8 berjudul: SUGENG RAWUH
Bukan inginku untuk menjadi berbeda dan Serena adalah temanku dari alam yang berbeda. Teman dengan palung rahasia yang mendorongku ke dalam kegelapan nan pekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERKENALAN
Pada suatu siang, Ndoro Retno sengaja menunggu Karin di depan sekolahnya. Ia meminta seseorang yang juga merupakan pelayan di rumahnya untuk berpura-pura menyebarkan brosur kursus hair stylist. Sementara pelayannya melakukan perintah yang diberikan. Ndoro Retno beserta bik Irah dan pak Yanto mengamati dari dalam mobil. Karin yang melihat brosur tersebut, tentu langsung tertarik dan lekas bertanya lebih lanjut.
"Jika adik tertarik, bisa hubungi nomer dibawah ini untuk di data ya! semua yang mendaftar akan diseleksi. Harap maklum, ini sama seperti bea siswa. Siapa yang terpilih akan mendapatkan kursus hair stylist gratis sampai mahir," terang pelayan suruhan ndoro Retno.
Karin mengangguk senang lalu berpamitan untuk pulang dan berjanji akan menghubungi nomer yang tertera. Ndoro Retno juga tersenyum sebab, rencananya berjalan dengan lancar. Hal ini kembali menimbulkan rasa penasaran dalam benak bik Irah.
"Ndoro.."
"Iya bik?"
"Dari mana ndoro tahu kalau anak itu tertarik dengan kursus hair stylist?"
Ndoro tersenyum.
"Ada yang membisiki saya," jawab ndoro Retno kemudian.
"Hemm.." gumam bik Irah sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Jalan pak Yanto!" titah ndoro Retno, membiarkan bik Irah yang masih kebungungan.
"Baik ndoro."
Mobil kembali melaju ketika si pelayan yang diminta untuk menyamar telah masuk kembali ke dalam mobil.
"Sebentar lagi, kita akan berkenalan," ucap ndoro di dalam hati.
...🍁🍁🍁...
Malam harinya, Karin menghubungi nomer yang ada di brosur kursus melalui pesan WhatsApp. Tak lama kemudian, sebuah pesan balasan Karin terima. Pesan itu berisikan informasi hari dan jam pelaksanaan pendataan diri sekaligus seleksi. Karin bersorak senang sebab mendapatkan kesempatan yang tidak pernah ia sangka-sangka.
"Alhamdulillah! senangnya."
Tak henti-hentinya Karin tersenyum sebelum kemudian, ia mengirimkan foto brosur kursus kepada Nanda dan Agam. Andai mereka berminat untuk ikut juga.
...🍁🍁🍁...
Minggu pagi, Karin berangkat seorang diri ke lokasi tempat pendaftaran kursus sebab, baik Nanda maupun Agam, tidak ada yang tertarik. Lokasi pendaftaran adalah sebuah ruko yang mana di lantai satu difungsikan sebagai salon dan di lantai dua digunakan untuk tempat pelaksanaan kursus. Karin menunjukkan brosur serta histori chat WhatsApp kepada seseorang di lantai bawah lalu, Karin pun diajak ke atas.
Di lantai atas, sudah ada beberapa anak lagi yang juga merupakan teman satu sekolahnya. Namun, mereka berada di kelas yang berbeda. Tak lama kemudian, seorang perempuan berumur sekitar tiga puluh tahunan datang seraya menyapa semuanya. Ia memperkenalkan diri sebagai Mirna. Dia juga yang akan melakukan pendataan serta prosesi wawancara yang pertama.
Setelah itu, wawancara pun dimulai. Pertanyaan yang diberikan sama sekali tidak sulit. Sekedar pengenalan diri masing-masing serta sebesar apa minat mereka dalam dunia hair stylist? selain itu, juga ada pertanyaan tentang kapan dan bagaimana awal mula mereka akhirnya memiliki minat dalam dunia hair stylist? Tentu, semua bisa menjawab sesuai keadaan masing-masing. Para peserta juga diminta untuk menyebutkan peralatan dan perlengkapan salon apa saja yang mereka ketahui beserta kegunaannya. Setelah seluruh prosesi telah dilakukan, para peserta dipersilahkan untuk pulang. Menunggu kabar selanjutnya di rumah.
...🍁🍁🍁...
Beberapa hari kemudian, Karin mendapat pesan WA kalau ia berhasil melewati tahapan pertama dan diminta untuk datang lagi pada hari minggu berikutnya. Karin lekas bersorak senang membuat teman-temannya penasaran.
"Kenapa Rin?" tanya Tika, teman satu bangkunya.
"Aku lolos seleksi pertama!" seru Karin dengan raut gembira.
"Seleksi apa?"
"Kursus hair stylist gratis."
Tika dan dua teman Karin yang lain menelisik lebih dalam tentang kursus yang Karin sebutkan. Mereka turut senang dengan peluang menjanjikan yang tengah Karin perjuangkan. Karin sendiri membekali diri dengan banyak membaca dan melihat beragam tutorial hair stylist di kanal you tube. Dia telah merasa sangat siap untuk seleksi kedua mendatang.
...🍁🍁🍁...
Setelah hari demi hari berlalu, kini tibalah di hari minggu. Dengan semangat yang membumbung dalam kalbu, Karin melaju menuju lokasi yang sama dengan minggu lalu. Di sana, tersisa dua temannya dari sekolah yang sama. Ditambah dirinya, jadi ada tiga orang. Ternyata, hanya mereka bertiga yang lolos seleksi pertama.
Bu Mirna kembali menemui mereka. Namun, kali ini, ia ditemani dengan seorang perempuan paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai Retno. Ya, dia adalah ndoro Retno. Setelah menanti belasan tahun, akhirnya ndoro Retno dan Karin bisa berkenalan secara langsung. Bu Mirna menjelaskan kalau ndoro Retnolah yang memiliki ruko serta usaha salon tersebut. Ndoro Retno juga yang akan menanggung seluruh biaya kursus yang nantinya akan diemban si peserta yang lolos di seleksi kedua ini.
Kesan pertama Karin ketika melihat ndoro Retno adalah keibuan. Wajahnya terlihat cantik dan teduh. Sungguh terasa nyaman dan seolah membuat Karin merasa kalau sungguh tak masalah jika suatu hari, ia akan menceritakan keluh kesahnya kepada ndoro Retno. Mengenai penampilan, ndoro Retno terlihat fashionable. Meski beliau mengenakan kebaya dan rok motif batik. Namun, tetap terlihat trendi dan berkelas. Selebihnya, Karin belum tahu dan tak bisa menebaknya.
Yang ndoro lakukan, sekedar berbincang ringan dengan para peserta. Tanpa ada ujian apa pun, tebakan apa pun, atau pun ujian pemahaman. Karin menduga kalau ndoro tengah menilai kepribadian dari masing-masing peserta. Karin berusaha menjawab dan bersikap sebaik yang ia bisa. Setelah kurang lebih dua jam di sana. Para peserta pun diminta untuk pulang. Pengumuman peserta yang lolos seleksi akan diinformasikan melalui pesan singkat WhatsApp.
"Terima kasih bu Mirna, ndoro Retno!" ucap ketiga peserta sebelum kemudian beranjak turun lalu melaju kembali ke rumah masing-masing.
"Akhirnya kita berkenalan," gumam ndoro Retno di dalam hati.
"Mirna.."
"Iya ndoro."
"Saya mau, yang bernama Karin yang kamu loloskan."
"Baik ndoro."
"Saya sudah membeli tanah dan sedang membangun salon baru di jalan mawar. Lokasinya lebih luas dan berada di tepi jalan raya tepat. Setelah semuanya siap, kamu dan yang lainnya bisa pindah bekerja di sana. Termasuk juga si Karin tadi."
"Iya ndoro."
Ndoro Retno menyunggingkan segaris senyum lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Tanpa disadari semuanya, Serena sedari tadi berada di sana. Mengamati Karin dan semua orang yang ada di sana. Sekarang pun, Serena masih duduk sembari mengayun-ayunkan kaki di atas etalase yang berada di samping kiri ndoro Retno. Entah apa yang Serena lakukan. Ia masih berada di sana setidaknya sampai ndoro Retno memutuskan untuk turun ke lantai satu. Barulah kemudian, sosok Serena menghilang dan kembali muncul di kamar Karin ketika gadis itu telah sampai di rumahnya. Serena lantas tersenyum, menyambut kedatangan temannya, Karin.
...🍁 Bersambung.... 🍁...
Thanks thor 😘🙏😍