Elena, seorang wanita cantik berkulit putih dengan lesung dipipi kanan dan kirinya. Ia adalah seorang ibu dengan sepasang anak kembar, Cantika dan Brian.
Pernikahan Elena dan suaminya bukanlah pernikahan berlandaskan cinta. Mereka menikah karena desakan dari Ana, ibu dari suaminya.
Elena menahan diri selama tiga tahun dengan pernikahannya, Elena memikirkan kedua anaknya jika ia bercerai dengan suaminya.
Suatu hari, Elena murka dengan perilaku Rendra, suaminya. Ia pun mengajukan cerai kepada Rendra. Rendra yang tak mencintai Elena pun akhirnya menyetujui untuk bercerai.
Apakah perceraian Elena akan berjalan lancar? Bagaimana Elena menjalani kehidupannya sebagai single mom? Ayo, simak kisahnya! 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai di Sumba
Satu jam lebih dua puluh menit kemudian. Pesawat yang dinaiki Elena, telah sampai di Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin. Elena mengajak kedua anaknya untuk turun dari pesawat. Setelah turun, Cantika meminta mamanya untuk mengambil gambar dirinya bersama Brian disamping pesawat.
"Duh, bentar aja ya tapi. Kita kan masih harus ambil koper kita," ucap Elena.
"Iya-iya, Ma. Ayo Kak, kita foto." Cantika menarik tangan Brian dan merangkulnya.
"Ayo, cepet Ma difoto," pinta Cantika.
"Ih, aku kan nggak mau foto. Norak!" protes Brian.
"Udah diem aja. Ini buat kenang-kenangan!" Cantika berpose dengan beberapa gerakan.
"Sudah ya, ayo kita ambil koper." Elena menggandeng tangan Cantika disampingnya. Sementara Brian, tentu saja tidak mau jika tangannya digandeng, bisa-bisa ia mengamuk dan akan mengatakan jika dirinya bukan anak kecil.
Setengah jam kemudian. Elena kini telah mendapatkan koper milik dirinya dan kedua anaknya. Elena memesan sebuah mobil untuk ia gunakan selama berlibur di Sumba. Elena menunggu kedatangan mobil yang ia sewa. Tak berselang lama, mobil itu pun tiba.
Elena membayar biaya sewa mobil selama tiga hari. Elena menyewa mobil saja tanpa supirnya. Elena memasukkan barang bawaan kedalam bagasi mobil. Setelah semua selesai dimasukkan, Elena dan kedua anaknya masuk kedalam mobil. Elena melajukan mobil ke sebuah penginapan yang letaknya tak jauh dari pantai.
Jarak antara bandara dan penginapan tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu dua puluh menit jika ditempuh menggunakan mobil. Selama perjalanan, Cantika begitu bersemangat, ia menyanyikan lagu riang yang berhubungan dengan pantai. Cantika benar-benar sudah tidak sabar untuk bermain pasir di tepi pantai.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Elena telah sampai didepan penginapan. Elena keluar dari mobil, Cantika dan Brian pun juga keluar. Cantika langsung berlari ke bibir pantai.
"Cantika, kita check in penginapan dulu," teriak Elena kepada Cantika yang sudah agak jauh.
Huh, ya sudahlah, aku temani Cantika bermain sebentar, batin Elena. "Brian, ayo kita susul Cantika," ajak Elena kepada Brian.
"Baik, Ma." Brian berjalan bersama Elena menghampiri Cantika.
Cantika sedang bermain pasir menggunakan satu set peralatan bermain pasir. Cantika meletakkannya didalam tasnya. Sepanjang perjalanan, Cantika terus membawa tasnya itu.
"Lagi bikin apa, Cantika?" tanya Elena kepada putri kesayangannya.
"Lagi bikin kastil, Ma," jawab Cantika.
"Oh, kastil. Lanjutkan ya, mama tunggu hasil akhirnya. Mama mau duduk disitu ya." Elena menunjuk ke sebuah tempat duduk dibawah payung besar, disana terdapat dua buah kursi disamping kiri dan kanan gagang payung.
"Baik, Ma," respon Cantika.
"Brian mau main pasir sama Cantika atau mau ikut mama duduk disana?" tanya Elena kepada Brian.
"Aku ikut mama aja," jawab Brian.
"Baik, ayo kita kesana." Elena berjalan bersama Brian menuju ke tempat duduk dibawah payung itu, mereka meninggalkan Cantika sendirian yang sedang asyik main pasir.
Setelah Elena dan Brian sampai di tempat duduk itu, mereka langsung merebahkan badan mereka dikursi besar itu." Mama capek, Brian, kamu capek nggak?" tanya Elena.
"Dikit, Ma. Ini, mama minum dulu." Brian menyodorkan sebotol air mineral yang ia bawa kemana-mana selama perjalanan tadi.
"Terima kasih, Sayang." Elena membelai pipi Brian. Tentu saja Brian tak mempermasalahkan jika mamanya yang membelainya.
"Sama-sama, Ma," respon Brian sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, turun rintik hujan. Elena dan Brian langsung berlari ke arah Cantika. Mereka membantu Cantika membereskan peralatan mainnya Cantika. Setelah semua peralatan main masuk kedalam tas, ketiga orang itu berlari ke teras penginapan.
"Huh, capek juga ya larinya, padahal cuma deket loh. Mama kayaknya sudah lama tidak berolahraga," ucap Elena terengah-engah.
"Iya, Ma, Brian juga sudah lama tidak berolahraga," ucap Brian.
Setelah beristirahat sejenak, Elena membawa masuk barang bawaannya dan melakukan check in. Setelah mendapatkan kamar, ia mengajak kedua anaknya untuk masuk kedalam kamar penginapan. Kamar yang Elena sewa menghadap langsung ke pantai.
Sesampainya di kamar, Elena langsung meletakkan barang bawaan. Elena pergi mandi setelah itu. "Mama mandi dulu ya, badan sudah lengket nih," ucap Elena.
"Baik, Ma," ucap Cantika dan Brian bersamaan.
"Kak, menurut kakak pantai disini bagus nggak?" tanya Cantika kepada Brian.
"Bagus sih, cuma tadi kakak lihat masih ada pengunjung yang buang sampah sembarangan. Hmm, bikin tempat jadi kumuh kalau tidak ditindak lanjuti," jawab Brian.
"Iya ya, Kak. Cantika juga heran sama orang yang seperti itu. Padahal pengen menikmati pantai indah nan bersih. Tapi, untuk merawat bersama dengan tidak membuang sampah sembarangan saja tidak mampu!" Cantika menepuk jidatnya.
"Ya begitulah, Dik." Brian mengangkat kedua tangannya kesamping kanan dan kiri.
"Eh, ngomong-ngomong, Kak. Kakak pengen punya papa baru nggak sih?" tanya Cantika bisik-bisik.
"Pengen sih, tapi yang terpenting kebahagian mama. Mama bahagia ada suami atau tanpa suami," jawab Brian.
"Kalau Om Gilang, gimana Kak, cocok nggak sama mama?" tanya Cantika lagi.
"Kamu kan tahu jika Om Gilang sudah pernah menolak permintaan kamu itu. Menurutku, Om Gilang sudah menganggap mama seperti adik sendiri," jawab Brian.
"Begitu ya, terus siapa ya? Cantika melemparkan tubuhnya ke atas kasur.
"Sudah, kamu nggak usah terlalu mikirin hal itu. Kelak, jika memang ada jodohnya, mama pasti akan dipertemukan oleh orang itu." Brian mencoba menenangkan Cantika agar tidak terlalu sedih dengan keadaan mereka yang tidak ada papa.
"Kak, kamu kangen nggak sama papa Rendra?" Tiba-tiba Cantika teringat papa kandungnya.
"Nggak! Buat apa kangen, orang itu dan keluarganya bisanya nyakitin mama terus!" geram Brian.
"Iya, Kak, nasib mama Elena kurang beruntung ya, Kak," ucap Cantika lesu.
"Kurang beruntung bagaimana?" tanya Elena tiba-tiba, ia telah keluar dari kamar mandi.
"Eh, enggak Ma. Enggak ada apa-apa kok," jawab Cantika panik. Kapan mama keluar dari kamar mandi ya? Kok aku nggak nyadar sih! batin Cantika..
"Enggak Ma, mama pasti salah dengar. Maksud Cantika itu, mama Elena beruntung mempunyai anak seperti aku dan Cantika. Kami ini kan berparas rupawan, pintar lagi, semua orang pasti akan terpana melihat paras kami," ucap Brian berbohong. Sebenarnya Brian tidak mau membohongi mamanya. Tapi, kali ini ia terpaksa melakukannya. Brian tidak mau membuat mamanya bersedih, dengan mengingat lika-liku kehidupan mamanya.
"Begitu, tentu saja mama beruntung memiliki kalian." Elena memeluk Cantika dan Brian secara bergantian. Elena juga mengusap-usap rambut kedua anaknya.
"Mama, rambut cantiknya Cantika kan jadi nggak cantik lagi," rengek Cantika.
"Iya kah? Maaf ya, Sayang. Nanti setelah mandi mama kepang deh rambut panjang kamu, mau nggak?" tanya Elena.
"Mau-mau, Ma." Cantika bersemangat kembali.
"Ya sudah, sekarang kalian mandi ya," suruh Elena. Cantika dan Brian pun mandi secara bergantian, Cantika mandi terlebih dahulu. Sedangkan Brian, ia berbincang dengan mamanya diatas kasur.
☠️⃝🖌️M⃤
Perjuangan Ucup mampir
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
sabar ya elena 😬 semoga Joe segera sadar
coba diselipin kejadian apa di bbrapa moment biar lebih kelihatan nyata ceritanya
kok bisa rukyah nya gagal?
☠️⃝🖌️M⃤