Dinikahi secara paksa oleh pria yang tidak dikenal nya. Membuat Valencia membenci pria yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.
Sikap baik yang selalu di tunjukan oleh suaminya (Devano). Sama sekali tidak membuat hatinya luluh. Namun, berkat semua nasehat yang di berikan orangtua serta saudara dan juga orang-orang terdekatnya. Membuat ia bisa membuka hati dan menumbuhkan perasaan untuk suaminya itu.
Tapi, bagaimana jadinya?! Jika di saat ia sudah benar-benar membuka hati dan mencintai suaminya, ia malah mendapati dan mengetahui rahasia besar yang di sembunyikan suami dan juga mertuanya.
Devano, pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Ternyata menderita penyakit kanker otak stadium lanjut.
Bersamaan dengan itu, ia juga mendapati bahwa dirinya tengah mengandung benih suaminya. Bahagia dan juga sedih bercampur menjadi satu didalam hatinya! Beberapa bulan kemudian, Devano menghembuskan napas terakhirnya yang membuat perasaan Valencia begitu hancur, dunianya terasa runtuh!
Bagaimana kisahnya? Akankah ia mampu menata hidupnya tanpa sosok Devano yang telah mampu mencuri hatinya dan juga menghancurkan hidupnya dalam waktu sejekap itu?!
“Jodoh PENGGANTI Untuk Nona Muda”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VALENCIA PANIK!
Seminggu kemudian, Valencia mengajak putri kecilnya jalan-jalan ke mall. Ia menggendong Devanka memasuki mall, di belakangnya ada pengasuh Devanka yang mengikuti.
“Sayang, jangan kemana-mana. Mommy mau ke toilet sebentar,” kata Valencia kepada putrinya. “Tina, jagain ya. Awas dia jalan ke jauh!”
“Iya, mbak,” kata pengasuh Devanka.
Maka, Valencia segera pergi ke toilet. Meninggalkan Devanka pada pengasuhnya di toko pakaian.
Pengasuh Devanka yang bernama Tina itu sibuk memilih pakaian untuk gadis kecil itu. Hingga membuat ia lengah, ia tidak sadar bahwa Devanka sudah menghilang di antara kerumunan orang-orang yang ada di dalam gedung mall itu.
Beberapa saat kemudian, Valencia kembali dari toilet. Ia mencari keberadaan putrinya bersama Tina. Tapi, ia hanya melihat keberadaan Tina yang sendirian.
“Tina!” panggil Valencia sembari menghampiri pengasuh anaknya.
“Ya, mbak!” sahut Tina.
“Mana Devanka?” tanya Valencia.
“In- Astagfirullah.. Kemana Devanka?” pekik Tina dengan panik. “Tadi di belakangku, mbak.”
“Astaga Tina! Kamu lalai,” kata Valencia. Dengan panik ia berlari mencari putrinya.
Tina ikut berlari dan mencari keberadaan Devanka. Dengan panik, kedua orang itu berkeliling.
“Keamanan!” teriak Valencia. “Tolong periksa rekaman CCTV beberapa menit yang lalu!” pinta Valencia kepada keamanan gedung mall.
“Ya, Nona. Mohon tunggu sebentar,” kata salah satu petugas keamanan itu. Tangannya sibuk menekan keyboard komputer dan membuka rekaman CCTV beberapa menit yang lalu itu.
Di dalam rekaman itu, terlihat Devanka berjalan menuju ke toko mainan. Gadis kecil itu masuk ke dalam toko mainan itu, tapi di dalam rekaman itu. Tidak terlihat anak itu keluar.
“Tolong temukan putriku! Jika tidak, aku akan menutup akses gedung ini!” teriak Valencia. Airmata nya terus menetes membasahi pipi.
“Mbak, tolong maafkan aku. Aku bener-bener lalai,” kata Tina. Valencia tidak merespon. Singel perent itu terus menyusuri gedung mall untuk mencari keberadaan putrinya.
Lebih dari setengah jam Valencia menyusuri gedung itu. Begitu pula dengan petugas keamanan, tapi mereka tidak dapat menemukan Devanka.
“Ya tuhan! Dimana putriku?” Valencia duduk dengan menekuk lututnya di sebuah kursi yang ada di pojokan sebuah toko. Ia menangis terisak disana.
“Mi, apa ngis?” tiba-tiba terdengar suara putrinya itu. Valencia segera mendongakkan wajahnya, ia melihat putrinya itu di gendong oleh seorang pria.
Alangkah terkejutnya ia setelah melihat wajah pria tersebut.
“Mi, Dy lang,” kata Devanka. Gadis kecil itu tertawa senang berada di dalam dekapan pria itu.
Dengan cepat, Valencia bangkit dan merebut putrinya dari gendongan pria itu. Devanka yang di gendong paksa oleh Mommy-nya menangis dengan keras.
“Huwaaaa! Mi hat, Ka au ma Dy!” teriak Devanka.
“Tolong berikan anak itu pada saya, kasian dia menangis,” kata Pria itu yang ternyata adalah Revano. Pria tampan dengan rambut yang agak pirang.
“Dia bukan Daddy, sayang,” kata Valencia.
“No! A Dy, Ka!” teriak Devanka.
“Please! Berikan dia, biar saya menggendongnya,” kata Revano.
Bukannya memberikan Devanka. Valencia malah berlari meninggalkan Revano dengan menggendong putrinya. Airmata nya semakin deras mengalir di pipinya.
“Huwaaa... Dy!” teriak Devanka. Gadis kecil itu terus menangis di dalam gendongan Valencia, tangannya ia ulurkan pada Revano.
“Pria itu bukan Daddy-mu. Daddy sudah pergi,” kata Valencia. Ia segera keluar dari Mall itu dan menuju mobilnya. Meninggalkan Tina yang masih berada di Mall itu.
“Mi, Ka au Dy!” teriak Devanka.
Valencia melajukan mobilnya ke rumah kedua orangtuanya. Ia tidak mendengarkan tangisan serta teriakan putrinya itu.
Setengah jam kemudian, mobil Valencia berhenti di depan kediaman orangtuanya.
Ia turun dari mobilnya sembari menggendong paksa Devanka. Ia memasuki rumah itu dengan Devanka yang terus menangis.
“Valencia! Apa yang kamu lakukan pada Devanka?” tegur Zivanya yang kebetulan sedang duduk di ruang tengah. Wanita setengah paruh baya itu terkejut saat melihat kedatangan anak dan cucunya dengan keadaan yang sama-sama menangis.
“Ma, Ka au Dy!” teriak Devanka.
“Sini sama Oma,” kata Zivanya. Wanita itu mengambil alih Devanka dari gendongan Valencia.
.
.
.
Di Mall itu, Revano di buat bingung. “Ada apa dengan wanita itu? Kenapa saat melihat wajahku, airmuka nya berubah begitu cepat?”
“Apa wajahku begitu jelek?” heran Pria itu.
Kejadian saat Revano bertemu Devanka.
Revano yang sedang berjalan menyusuri mall itu, tiba-tiba di kejutkan oleh seorang anak kecil yang datang memeluk kakinya.
Anak kecil itu terlihat datang dari arah samping toko mainan. “Dy!” panggil anak itu.
“Hey! Baby, Mama mu kemana? Kenapa kamu di biarkan sendirian?” tanya Revano. Pria itu melepaskan pegangan Devanka dari kakinya, lalu mengakat tubuh gembul anak itu.
“Dy, ah lang?” tanya Devanka.
“Kamu bicara apa?” Revano di buat bingung oleh celotehan anak itu.
“Dy, mi di tu!” tunjuk Devanka pada arah dirinya berjalan sebelumnya.
Bukannya membawa anak itu ke arah yang di tunjuk, Revano malah membawa Devanka ke wahana permainan.
“Tuan muda, anda membawa anak siapa?” tanya salah satu pengawal Revano.
“Diam! Kalian tidak ku izinkan berbicara!” bentak Revano.
Akhirnya, para pengawal itu bungkam dan mengikuti kemana arah Revano membawa Devanka.
Revano yang jarang tertawa, seketika berubah saat ia bersama Devanka. Pria blasteran jawa-belanda itu tertawa terbahak-bahak saat menemani Devanka bermain perosotan.
“Tuan Muda Revano seperti anak kecil,” bisik salah satu pengawal kepada pengawal lain.
“Menurutku, dia cocok seperti itu. Dia seperti sedang mengasuh anaknya.” Balas teman pengawal itu.
Setelah puas bermain, Revano mengatarkan Devanka kembali ke tempat semula ia bertemu Devanka sebelumnya.
Saat sampai di tempat itu, kebetulan sekali. Devanka yang berada di dalam dekapan Revano menujuk ke arah wanita yang duduk dengan menekuk lututnya di kursi yang ada di ujung toko.
Hal yang tak terduga terjadi, ibu dari anak yang di bawanya memarahi gadis kecil itu dan membawanya pergi.
“Siapa perempuan itu? Kenapa wajahnya gak asing, ya?” Revano terus bertanya-tanya. “Suatu saat, aku pasti ketemu dia lagi. Dan di saat itu, aku bakal buat dia ngomong sama aku.”
Karena merasa bingung dan pusing, akhirnya Revano memutuskan untuk pulang ke mansion Grandma-nya.
.
.
.
Setelah putrinya berpindah tangan pada Oma-nya. Valencia segera menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar yang ia tempati semasa tinggal di rumah kedua orangtuanya itu.
Valencia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, ia menutup kepalanya menggunakan bantal. “Mas Devan, aku rindu.. Kenapa sosok kamu ada sama orang itu, siapa dia, mas?” Valencia menangis terisak. Lebih dari dua tahun ia memendam kerinduan pada mendiang suaminya. Tapi, tiba-tiba saja sosok yang persis seperti suaminya itu muncul dengan penampilan yang berbeda.
atau ternyata beda penulis?
Sukses bwt kk