NovelToon NovelToon
BUNGA TANPA MAHKOTA

BUNGA TANPA MAHKOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Pengganti
Popularitas:59.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

Di malam kelulusan sekolahnya, Yaressa mendapat perlakuan buruk dari Arsaka -kekasihnya- yang mabuk. Kesuciannya direnggut paksa, menjadikannya seorang korban pemerk*sa'an.

Namun Arsaka tak bersedia bertanggung jawab dengan menikahi Yaressa, ia justru pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.

Dan Bara, kakak Arsaka, terpaksa menikahi Yaressa, kekasih sekaligus korban pemerkosaan adiknya, menggantikan Arsaka yang telah pergi, sedangkan Bara sendiri memiliki Kanaya, wanita yang ia cintai jauh di kota lain sana.

Kisah yang rumit, tentang perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, akan melengkapi cerita cinta mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke desa Lek Nasir

POV Yaressa.

Udara malam ini sangat dingin, lebih dingin hingga menusuk tulang terdalam. Angin berhembus kencang, disertai rintikan hujan menambah kesedihan. Aku hanya bisa menangis seorang diri dalam diam di atas ranjang kamar tidurku yang sederhana.

Orang-orang di rumahku yang mengaji sudah mulai membubarkan diri-pulang. Lek Nasir, adik Mamah yang datang dari desa, mengurus semuanya.

Pemakaman jenazah, pengajian, hingga hari ke dua, dan aku masih mengurung diri di dalam kamar. Menikmati rasa sedihku yang tak dapat kugambarkan hanya dengan kata-kata, kehilangan kedua orang tua secara tiba-tiba, di hari yang seharusnya menjadi hari bahagia, namun mengetahui kecurangan papah, laki-laki yang menjadi cinta pertama putrinya itu juga menjadi patah hati pertamaku yang sempurna, hari ulang tahunku menjadi hari bersejarah paling berduka.

Suara pintu kamar di buka. Terdengar derap langkah kaki mendekat.

"Eca," itu suara Lek Nasir. Ia masuk, duduk di kursi belajar menghadap ranjang.

Aku bangun, duduk di tepian ranjang dengan keadaan yang kacau, mata bengkak dan wajah sembab. Kehilangan kedua orang tua di hari ulang tahunku adalah sebuah pukulan terbesar dalam hidupku yang tak akan pernah terlupakan, apalagi itu dikarenakan Papah yang berselingkuh. Tuhan,,,, kuatkah aku?

"Iya, Lek!" jawabku lemah.

"Lek Nasir harus kembali ke desa, Lek Nasir punya lima ekor sapi yang harus Lek Nasir urus dan kasih makan, dua hari ini sudah dibantu kerabat Lek Nasir buat ngarit,"

"Maksud Lek Nasir?" tanyaku kurang mengerti dengan apa yang dimaksud Lek Nasir.

"Di bawah ada pengacara dan seorang perempuan yang datang, mereka bilang perempuan itu akan menjadi wali kamu yang telah ditunjuk oleh Almarhum Papahmu sebelum meninggal, untuk mengurusmu," setetes air mata Lek Nasir jatuh membasahi pipi.

Yah, perempuan itu, aku mengingatnya, dia salah satu nama yang masuk dalam list manusia paling kubenci di muka bumi.

Lek Nasir mengusap air matanya, pria kurus berkulit gelap ini pasti sangat sedih mendengar desas-desus para tetangga yang membicarakan tentang perselingkuhan Papah, yang berarti kakak perempuannya telah diselingkuhi oleh kakak iparnya.

"Lek Nasir mau pamit, besok pagi Lek Nasir akan pulang," ucap Lek Nasir lirih, napasnya terdengar berat, bisa aku rasakan jika Lek Nasir juga sama seperti diriku, sedih, terluka, dan kehilangan.

"Lek," aku memanggil Lek Nasir yang sedari tadi menunduk agar mendongak menatapku, aku menggenggam tangannya.

"Maukah Lek Nasir menjadi waliku? Bersediakah Lek Nasir merawatku? Aku tidak mau hidup dengan perempuan yang sudah menghancurkan keluargaku, meski perempuan itu adalah orang yang ditunjuk papah sebagai waliku, aku tidak mau bersamanya, aku membencinya." tangis kami pecah, sangat sakit saat aku kembali teringat pengkhianatan papah. Kasihan Mamah.

"Eca,,,," Lek Nasir memeluk tubuhku, kami menangis bersama, Lek Nasir juga pasti sangat sedih karena Kakaknya hidup menderita, hidup dalam kepalsuan yang disebut bahagia, pengkhianatan yang Papah lakukan tak termaafkan, dan sakit karena kehilangan Papah dan Mamah tak mudah disembuhkan.

Aku menyayangi papah, tapi aku juga membencinya.

Mah,,,, Pah,,,, bagaimana sekarang? Bagaimana aku akan menjalani hidupku tanpa kalian?

***

Tidak mudah bagi Lek Nasir untuk bisa membawaku pergi bersamanya, karena perempuan itu ngotot untuk merawatku, menjadi wali dari diriku, gila, apa aku segila itu sehingga aku bersedia diasuh oleh perempuan yang sudah menjadi penyebab meninggalnya orang tuaku? Perempuan yang menjadi penyebab hancurnya keluargaku? Yang benar saja!.

Untunglah aku sudah berusia 18 tahun dan sudah bisa mengambil keputusanku sendiri menurut hukum. Dan aku memilih tinggal bersama Lek Nasir, rumah ini? Harta peninggalan Papah dan Mamah. Aku akan menyewakannya jika ada orang yang membutuhkannya.

Sedang harta Papah yang lain, seperti dompet yang berisi kartu-kartu, aku tidak tahu, dan aku tak mau memikirkan itu. Bisa terlepas dari perempuan itu saja aku sudah bersyukur.

***

Aku mengemasi barang-barangku dibantu Lek Nasir, baju-baju, seragam, alat sekolah, laptop, sepatu, dan, foto kami bertiga, kumasukkan semua itu ke dalam koper yang akan menemaniku keluar dari rumah ini, rumah yang sudah menjadi tempat tinggalku sejak aku lahir. Meninggalkan semua kenangan indah sebelum hari ulang tahunku yang ke 18.

Aku berpindah ke kamar Mama, mengambil perhiasan miliknya yang tersimpan di laci, mungkin ini akan kami butuhkan nanti, meski tak seberapa, setidaknya aku ada pegangan.

Kami berjalan keluar.

"Lek,"

"Iya, Ca?"

Langkah kami terhenti saat di depan rumah.

"B-ba bagaimana dengan sekolahku?" tanyaku ragu, aku takut jika harus putus sekolah, sedang biaya sekolah tidaklah murah, dan aku tahu kondisi ekonomi Lek Nasir.

"Kamu sudah minta surat pindah kan, Ca? Dari sekolah yang lama?"

"Sudah, Lek."

"Kalau begitu Lek Nasir akan daftarkan kamu di sekolah yang ada di desa Lek Nasir, sebagai siswi pindahan,"

Aku senang mendengar jawaban yang Lek Nasir berikan. Aku masih tetap bisa sekolah, apa lagi selama ini aku selalu juara kelas, tentu aku juga mempunyai impian agar bisa lanjut kuliah. Semoga nanti ada jalannya.

***

"Kamu sudah siap, Eca?" tanya Lek Nasir saat ia mengunci pintu utama rumahku, rumah sederhana yang sebentar lagi akan menjadi rumah kosong tak berpenghuni. Rumah yang penuh kenangan indah masa lalu kami.

"Sebentar, Lek." Aku berjalan ke halaman sebelah, mengambil salah satu pot bunga dari sekian banyak tanaman terawat di sana, sebuah pot kecil yang berisi bunga sukulen echeveria yang ditanam mamah, bunga kesukaannya.

"Bisakah aku membawa ini bersamaku, Lek?" setetes air mata kembali luruh membasahi pipi. Lek Nasir mengangguk sambil menahan tangisnya, mata sayu yang sudah berkaca-kaca.

"Tentu, tentu." jawabnya mengangguk dengan suara parau.

Kami naik bus kota menuju kota sebelah, tempat desa Lek Nasir berada, yang membutuhkan waktu jarak tempuh selama 3 jam dengan dua kali transit bus yang berbeda.

Kulirik Lek Nasir yang tertidur mendongak di sandaran jok dengan mulut yang menganga, lelah, pasti dia lelah, mengurus segalanya seorang diri hingga 7 harian Mamah Papah.

Kulepas jaket yang menempel pada tubuhku, lalu kuselimuti tubuhnya. Aku menyayangi Lek Nasir seperti orang tuaku sendiri sekarang, padahal, dulu aku sempat jijik dan tidak suka saat Mamah sama Papah mengajakku main ke rumahnya, karena rumahnya yang kecil, pengap dan terkesan berantakan, belum lagi bau kotoran sapi dari kandang di halaman belakang, sungguh membuatku tidak nyaman.

Namun kini, entah mengapa aku tak lagi memikirkan hal itu, aku hanya sedih, menikmati setiap takdir yang Tuhan gariskan untukku, dan aku masih bersyukur ada Lek Nasir yang bersedia menerimaku, yang menyayangiku. Namun, bagaimana dengan Mak Eva? Istri Lek Nasir? Semoga dia juga bisa menerimaku sama seperti Lek Nasir menerimaku.

Aku melihat keluar dari jendela bus, mengamati pemandangan gelap saat melewati hutan, menerawang jauh pada kenangan masa silam. Saat Papah dan Mamah masih ada, saat hidupku begitu bahagia. Hingga kantuk membuatku turut lelap dalam tidur.

***

"Ca,,,, ca,,,, bangun ca. Kita sudah sampai," Lek Nasir mnggoyang bahuku, aku mengerjap, sedikit terkejut karena belum sadar penuh jika saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju desa Lek Nasir.

"Sudah sampai Lek?" tanyaku saat kesadaranku terkumpul penuh.

"Iya, ini pakai dulu jaket kamu, kok kamu lepas malah kamu selimutkan ke tubuh Lek Nasir, udaranya dingin, kamu yang lebih membutuhkan ini,"

Aku memakai jaketku yang diberikan Lek Nasir, jaket yang tadinya kulepas untuk menyelimuti tubuhnya.

"Ayo turun, Bagas sama Firman sudah menunggu," ucap Lek Nasir.

Aku ingat dua nama itu, bahkan saat kecil dulu aku pernah bermain layangan bersama mereka saat berkunjung ke rumah Lek Nasir di hari libur lebaran.

Bagas dan Firman adalah keponakan Lek Nasir dari istrinya, anak-anak saudara Mak Eva. Kalau tidak salah, mereka juga seusia denganku.

"Apa kabar, Ca?" sapa Bagas saat kami sudah bertemu, mereka menunggu di tepi jalan terminal.

"Baik," jawabku sambil tersenyum, palsu.

"Ini Ca, pakai helm dulu," itu suara Firman yang mengulurkan helm padaku, aku menerimanya, kemudian naik ke atas motor matic miliknya, kami kembali melakukan perjalanan memasuki desa Lek Nasir, membelah jalanan malam desa yang sejuk dingin, hembusan angin pedesaan memang sangat berbeda, damai dan tenang, dengan suara-suara khas binatang malam, entah itu jangkrik yang bersahutan dengan katak, maupun burung-burung malam, entah mengapa aku merasa lebih baik sekarang, ini adalah healing terbaik untukku saat ini.

'Mah,,,, Pah,,,, anakmu akan didewasakan oleh keadaan.'

Kuusap cepat air mata yang kembali menetes. Menengok ke belakang melihat pepohonan yang seolah menjauh dariku, seolah mengucapkan,

'Selamat tinggal, Yaressa lama!'

***

1
Nona Aan Chayank
sedih banget jadi Yaressa. 😥
Semoga author cepat nulis lagi dn buat Bara menyesali sikap dn kata2nya pada Yaressa
Teguh Sayangnya
lanjut
Atik Nurdiana
ayo dong kak up lagi,,jgn lama"
Sue ciutt..
Bila sambungan ceritanya...
Frida Fairull Azmii
semoga author nya dalam keadaan sehat dan karena Lg sibuk yaa...
jgn karena apa"..khawatir jg karena gda kabar Lg dri novel nya
Erlin Novianti Ahmad
3bln..nggk up.. up... digantung trs.. smoga authornya sehat selalu jd bsa berkarya lagi... aamiin...
andima
apa thor nya sakit yaa
atau gmna, gaa ada kejelasan novel ini
padahal udah ditunggu tiap hari kelanjutan nya
klo thor nya sakit, semoga lekas sehat yaa thor, qta semua menunggu karya mu
semangat 💪💪💪
andima: iyaa
kan kesel yaaa , udah terlanjur gini
setengah jalan
paling ngga kasih lha pnjelasan ke qta2
total 2 replies
Ridha Anugrah
Ayo dong Thor up lagi ceritanya😭😭😭😭😭😭
Erlin Novianti Ahmad
up.. up. up.. sdh 2bln nih..
Erlin Novianti Ahmad
up.. up. up.. sdh 2bln night..
Ridha Anugrah
ayo dong lanjut lagi Thor lagi seru-serunya nihh
Mohammad Badrul
baik
Mohammad Badrul
lanjutan
Mohammad Badrul
lanjutan donk
Emelia Franciska Silalahi
aduhhhh.....digantung
Nona Aan Chayank
kenapa gk dilanjutkan up ya??
padahal ceritanya sangat bagus,,,
konflik nya lain daripada yang lain,,,
Emelia Franciska Silalahi
yachh...digantung..
Emelia Franciska Silalahi
lama menunggu tak kunjung up..
Emelia Franciska Silalahi
udah ga up lg yach thor
Emelia Franciska Silalahi
belom up ya thor...ceritanya bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!