NovelToon NovelToon
Cintai Aku Suamiku

Cintai Aku Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: shanum

"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."

Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.

Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Periksa!

Daffa tidak melanjutkan perbincangan, dia merasa disudutkan. Berpamitan pergi ke kamar, meninggalkan map yang terlupakan karena sudah tak lagi berada dalam cengkeraman. Bagas menatap putranya, tak berniat mencegah. Begitu pula dengan Alya, yang baru keluar dari dapur usai meletakkan gelas, usai dipakai membantu mamanya minum obat.

"Mas kenapa, Pa?" tanya Alya penasaran.

"Engga apa-apa, Sayang. Kamu buruan tidur, ini udah malem." Bagas mengurai senyuman.

"Alya mau anter minum ke kamar mba dulu, mama yang minta." Menunjukkan gelas di tangan.

Bagas mengangguk, membiarkan Alya membawakan minum seperti apa diminta oleh ibunya di kamar tadi. Vitamin pun dibawakan olehnya, agar tak sampai Vania jatuh sakit, karena teh herbal dibuatkan pun tidak sempat dinikmati olehnya tadi.

Alya mengetuk pintu kamar, meminta izin untuk masuk. Jawaban tidak didengar olehnya, memberanikan diri untuk menekan hendel, karena kakaknya pun tak ada. "Mba?!" terkejut Alya, segera ia masuk dan meletakkan minum di atas meja, berlari mendekat ke arah ranjang.

"Mba Nia!" serunya, memegang tubuh Vania yang menggigil. "Ya, Tuhan. Badannya panas banget!" kata Alya lagi, memeriksa dengan tangannya.

Alya memanggil sang papa, dia berdiri di ambang pintu. Bram lekas menghampiri, usai suara panik dari putrinya terdengar mengisi setiap sudut rumah. "Kenapa, Al?!" tanya Bagas.

"Badan mba Nia panas banget, Pa!" tutur Alya, segera Bagas masuk ke dalam kamar.

Pria itu membungkuk di samping ranjang, memegang kening serta tangan Vania yang memang sangat panas. "Kamu telfon dokter Radit, suruh ke sini sekarang!" ucap Bagas.

"Iya, Pa!" berlari Alya keluar.

Vania menggigil kedinginan, meringkuk walau suhu tubuh tak berbeda dari bara api. Kehujanan dan terkena pendingin udara dari kendaraan, sejujurnya Vania sudah merasakan jika tubuhnya tak enak. Ditambah, pakaian dalam basah yang masih menempel pada kulitnya, juga ruangan kamar yang telah disetel oleh Daffa dengan suhu 16 derajat, itu menambah parah kondisi perempuan yang terus menyerukan kata ibu.

BI Marni minta izin masuk kamar, membawakan wadah juga handuk kecil untuk kompres. Alya melihat asisten rumah tangga itu baru mengunci pintu, meminta tolong agar membawakan air ke kamar, dan ia menghubungi dokter pribadi keluarga. Bagas mengompres menantunya, sesaat setelah bi Marni meletakkan wadah abu tua di atas meja kecil samping ranjang.

Di luar, Alya sudah berhasil menghubungi dokter, lalu pergi ke lantai atas mengetuk pintu kamar kakaknya. Daffa sedang termenung memikirkan setiap kalimat papanya, tersentak dan mempersilahkan adiknya masuk. "Apa, Dek?" tanya Daffa.

"Mba Nia sakit, Mas! Badannya panas tinggi," kata Alya.

Daffa sedang berbaring meletakkan tangan kiri di atas perut, juga tangan kanan di kening, langsung terperanjat duduk. "Apa?!"

"Mas turun dulu, lihat mba!" ucap Alya.

Daffa memakai sandal dan tersandung-sandung karena sambil berlari, sampai akhirnya ia melepaskan tanpa memakainya. Cepat langkah menyusuri rumah dan menuruni anak tangga, menuju kamar tamu di mana dia meninggalkan Vania tadi. Alya menutup pintu kamar kakaknya, dia juga ikut turun untuk membantu sebisanya.

"Nia!" tegur Daffa begitu tiba di pintu terbuka, lalu masuk ke dalam menghampiri pria yang menoleh padanya. Daffa mencari tahu suhu tubuh Vania melalui tangan, terbuka lebar kedua mata ketika merasakan jika itu sangatlah panas. "Biar Daffa aja, Pa!" serunya, meraih handuk kecil dari tangan Bagas yang ingin mencelupkan ke air hangat.

Bagas memberikan langsung, berdiri dari tepi ranjang, membiarkan putranya yang melakukan. "Papa tunggu dokter di depan, kamu jaga Nia di sini!"

"Iya, Pa."

Daffa menggunakan kain basah itu menyeka leher Vania, mencelupkan lagi dalam air dan memindahkan pada wajah. Cemas tak bisa disembunyikan dari lelaki yang sesekali menggunakan telapak tangan untuk memeriksa suhu tubuh pada sisi leher sang istri. "Kenapa bisa gini sih, Nia?" kemam Daffa.

"Ibu …," panggilan itu terus dibuat olehnya yang masih menggigil.

Membuka laci, di sana ada kotak obat kecil. Daffa mengambil termometer, namun sulit menggunakan karena posisi meringkuk Nia yang susah diubah. Daffa telah berusaha membaringkan tubuh Nia terlentang, tapi Vania kembali lagi. Selimut menutupi tubuh dibuka sedikit oleh Daffa, agar udara panas tak terperangkap, dan demam bisa sedikit menurun. Tapi, Vania justru semakin menggigil hebat, Daffa kebingungan harus melakukan apa sekarang.

Tangan ditarik oleh Vania, mendekapnya di depan dada. Mungkin, ia mengira jika itu adalah selimut, sehingga meringkuk dan memeluk seperti tadi. Daffa membungkuk di atas tubuh samping istrinya, tak berani ia menarik tangan. Wajah tertutup sebagian rambut diamati oleh Daffa, tangan lembut menyingkirkan rambut hitam pekat itu dari wajah. Mengecup lembut sisi wajah terasa panas itu, Daffa tak menyadari jika sang adik mengamati dari depan kamar, urung langkah masuk.

Sampai suara lain terdengar, menoleh Daffa ke arah pintu dan seketika menegapkan sedikit tubuh. "Dokter udah dateng?" tanyanya langsung.

"Udah, Mas." Alya terlihat tak enak, begitu pula dengan dua pria yang ada bersamanya.

"Masuk aja," kata Daffa melepaskan perlahan tangan agar dokter bisa memeriksa.

Dokter masih terlihat sangat muda itu meminta maaf lebih dulu sebelum masuk, kemudian meletakkan tas ia bawa di atas ranjang sama dan mengeluarkan stetoskop. Berada satu kompleks sama, tak membutuhkan waktu lama bagi dokter keturunan China Jawa itu untuk bisa sampai.

Sekali lagi kata maaf diucapkan, sebelum memulai untuk memeriksa. Daffa lekat mengamati tangan dokter, ketika alat dipegang menempel pada dada istrinya. "Udah di situ aja, jangan turun-turun!" cegah Daffa menahan tangan dokter, ketika ingin memeriksa lebih ke bawah.

Dokter tersenyum, ia berpindah untuk memeriksa perut Vania. Tapi, sekali lagi harus mendapat pencegahan tegas

"Jangan! periksa tangan aja, cukup kayaknya!" ucap Daffa.

"Kamu mendingan keluar deh, Fa. Biarin dokter periksa Vania!" kata Bagas.

"Enggak mau!" tolak Daffa menggelengkan kepala cepat.

"Enggak bakal macem-macem kok," goda dokter.

"Ya pokoknya gak mau! Udah, periksa tangan sama suhu tubuhnya aja, terus kasih obat selesai!" mengerucut bibir Daffa seperti anak kecil, begitu pula dengan nada penolakan diberikan.

"Ya gimana dokter bisa ngasih obat yang pas kalau gak periksa semuanya, Fa?" sela Bagas.

"Ya, kan udah lama jadi dokter, pasti tau caranya lah, Pa." Daffa menjawab. "Enak aja main sentuh-sentuh! Orang ada suaminya!" menambahkan gumaman lirih. Dokter mengukir senyum, kepala menggeleng pelan, begitu pula dengan Bagas dan Alya.

"Gak bakalan diambil juga kok," kata dokter.

"Ya, pokoknya gak boleh! Langsung aja kasih obat gitu!" tetap Daffa menolak, memancing senyum dokter yang telah akrab dengannya juga keluarga.

"Jadi kayak anak kecil gitu," kemam Bagas seraya menggeleng. "Gitu bilangnya gak cinta, terus apaan itu?" timpalnya, terdengar oleh Alya.

"Hehehe, Papa. Kayaknya emang butuh dikasih shock terapi dulu mas Daffa," bisik Alya.

...Follow IG "Ilona_Shanum" untuk informasi novel lainnya. Terima kasih banyak....

1
Lenika Ariska Milala
ktNy end... tpi kok gk ada lanjutany,,
Isti Rahayu
kenapa sih bilang cinta aj susah .emang cintanya cuma buat Nessa yg udah jdi tanah bawa tu cintamu Dafa Sampek ke liang lahat kenapa Dafa gak ikut masuk kubur aj kalo cinta mati .untung ketemu istri yg berhati emas seperti Vania bisa terima apa adanya😱
Anneke28 Annetje
ceritanya sdh tamat ya kak ke ingin vania berubah apa tdk ada ke lanjutannya ceritanya bagus lo
Rudi Yanto
bacakan
Nun Umshar
sellu is the best
Wati_esha
Terima kasih informasinya.
Omi Rohimah Omi
Luar biasa
Grace Kristianti
lanjut Kak ceritanya bagus, Maaf bintangnya baru dikasih
Rosikh Nurhayati
semangat thor,,
Rosikh Nurhayati
ngakak banget
Rosikh Nurhayati
sukaa tp gengsian
Rosikh Nurhayati
sediiiih
Rosikh Nurhayati
haduhhhh amit2
Ani
banjirrrrr air mata q
Ilham Risa: Hai kak, mampir yuk ke novel aku "Tentara Itu Ayah Dari Putraku" makasih kak🙏
total 1 replies
Tri Soen
Woalaaaah Dafa bilang nya gak cinta sama Vania tapi kok bisa2 nya cemburu gitu 😂
Tri Soen
Apa sich mau nya Daffa ...mau nya marah2 trs je Nia ...ntar darting lho 🤭
Yeti Budiawati
bagus ceritanya, di tunggu kelanjutannya 👍👍👍😘😘😘😘😘
Yati Maryati
keren banget
Yati Maryati
Daffa udah mulai bucin
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe
Poni Puspasari
Lanjutttt Thorrrrrr..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!