Adiyanto Prasetyo, psikiater muda berprestasi. Ia dijuluki 'Dokter Cinta' karena metode pengobatannya yang unik, yaitu menggunakan 'CINTA' sebagai medianya. Ia ahli dalam melakukan pendekatan emosional dengan pasiennya, dan hampir semua pasiennya dapat sembuh dengan metode yang ia terapkan tersebut.
Meskipun ia ahli dalam 'percintaannya' dengan para pasien, namun ternyata Ia masih terjerat dengan kisah masa lalunya yang menyisakan kenangan buruk untuknya, bahkan karena hal itu akhirnya ia tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lainnya.
Suatu ketika ia dipertemukan kembali dengan wanita 'masa lalu'-nya dalam sebuah pekerjaan. Ia merasa sangat bahagia dan berharap untuk bisa bersamanya menata masa depan, namun wanita itu memberikan persyaratan untuknya, jika ia mampu menyembuhkan seorang pasien 'spesial' maka mereka bisa bersama di masa depan.
Mampukah 'Dokter Cinta' menyembuhkannya dan hidup bahagia bersama pujaan hatinya? Ataukah ada takdir lain yang akan terjadi di hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan
"Aku benci orang tersenyum padaku."
Untuk pertama kalinya Lia mau berkomunikasi dengan dokter yang menanganinya, biasanya ia hanya berteriak atau menangis. Satu kalimat yang diucapkan Lia barusan sangat berarti untuk dokter Adi. Sejenak mereka hanya saling menatap dalam keheningan, tapi kemudian dokter Adi beranjak dari tempatnya dan mencoba untuk mendekati Lia. Ia duduk tepat di samping Lia dan kini jarak mereka kurang dari 10 cm. Lia bisa mencium wangi parfum yang dipakai oleh dokter Adi. Untuk pertama kalinya ia bisa duduk berdampingan dengan dokternya.
Perlahan dokter Adi menggerakkan tangan kanannya dan hendak menyentuh Lia, tapi
"Jangan pernah berani menyentuhku!" ancam Lia. Suaranya terdengar bergetar. Dokter Adi membatalkan niatnya untuk menyentuh Lia.
"Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Aku doktermu!" tanya dokter Adi. Lia kembali membenamkan kepalanya di antara kedua kakinya, ia kembali tidak merespon pertanyaan dokter Adi.
Dokter Adi menghela nafas panjang.
"Ayo kita mulai pengobatanmu." ajak dokter Adi. Lia tidak bergeming, ia tidak merespon ucapan dokter Adi lagi.
"Aku akan membantumu untuk sembuh!" seru dokter Adi. Lia mengangkat kepalanya lagi dan kembali memandang ke arah dokter Adi dengan tatapan tajam.
"Membantu?!" ucap Lia pelan. Lia menyeringai, wajahnya kembali terlihat sangat menyeramkan.
"Aku tidak memintamu untuk membuatku sembuh." Sebenarnya suara Lia sangatlah lembut seperti suara perempuan-perempuan pada umumnya namun malam ini, karena cara bicaranya itu suaranya jadi terdengar sangat menyeramkan, bahkan membuat jantung dokter Adi berdebar-debar.
"Aku tidak sedang berusaha untuk sembuh! Bahkan aku tidak berniat untuk sembuh sedikitpun!" lanjutnya. Dokter Adi tersentak mendengar ucapan Lia barusan.
"Kenapa?" tanya dokter Adi lembut. Lia memalingkan pandangannya dari wajah dokter Adi dan menatap lurus dengan pandangan kosong.
"Kembalilah ke tempat asal dokter, aku tidak akan sembuh... aku tidak mau sembuh! Aku akan seperti ini sampai aku mati." ucap Lia dengan suara berbisik. Dokter Adi tersentak mendengar ucapan Lia, entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia menatap wajah Lia dengan seksama.
"Aku pasti akan membuatmu sembuh." bisik dokter Adi.
"Sudah kubilang aku tidak mau sembuh! AKU TIDAK MAU SEMBUH!!!" seru Lia marah. Ia mendorong tubuh dokter Adi dan kemudian beranjak dari tempatnya semula menuju tempat tidurnya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
...
Dokter Adi kembali ke ruangannya untuk mencatat semua perilaku Lia malam ini pada catatan pemeriksaan Lia. Ia merasa sangat bangga pada dirinya sendiri karena ia menjadi dokter pertama yang berhasil berkomunikasi dengan Lia.
"Besok harus ada yang baru lagi!" gumam dokter Adi.
Sejenak dokter Adi terdiam, tanganya perlahan bergerak dan berhenti di dadanya, ia menyentuh dadanya pelan.
"Kenapa aku berdebar-debar?" batinnya. Ia merasa ada yang janggal dengan debaran jantungnya.
...
"Selamat pagi." seru suster Rina menyapa rekan-rekan kerjanya yang ada di ruang perawat.
"Pagi..!" sahut beberapa perawat.
Suster Rina meletakkan tasnya di dalam loker dan bersiap untuk melakukan tugasnya hari ini. Ia memeriksa beberapa dokumen catatan pemeriksaan pasien. Ketika suster Rina sedang larut dengan pekerjaannya, tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya, sontak membuatnya terkejut.
"Yaaaaa!!!" jerit suster Rina sambil membalikan badannya.
"Hei!" seru dokter Adi yang ternyata adalah oknum yang membuat suster Rina terkejut.
"Do.. dokter!" ucap suster Rina gugup. Dokter Adi malah tertawa keras.
"Ada apa, dok?" tanya suster Rina ketus.
"Aku cuma mau memberi tahumu, aku akan mengambil shift malam mulai besok sampai batas yang belum bisa kutentukan." terang dokter Adi.
"Bacalah catatan pemeriksaan Lia, aku mencatat semua yang kulakukan di situ!" Suster Rina mengangguk.
"Baik, dok!" sahutnya. Dokter Adi mendekatkan bibirnya pada telinga suster Rina.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya, sayang!" bisiknya lembut. Suster Rina tersentak, untung saja para perawat yang tadi berada di ruang perawat sudah pergi meninggalkan ruangan itu.
Dokter Adi menepuk pundak suster Rina dengan lembut dan beranjak dari ruangan itu. Suster Rina terdiam dan terpaku sambil terus menatap tubuh dokter Adi menghilang dari pandangannya. Perlahan tangannya bergerak dan berhenti tepat di dadanya, ia meremas kemeja seragamnya pelan.
"Kenapa aku berdebar-debar?" ucapnya dalam hati.
...
Lia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya perlahan, ia memperhatikan setiap sudut ruang kamarnya. Kosong! Lia menegakan tubuhnya, sejenak ia hanya duduk diam di ranjangnya, matanya memandang lurus pada jendela besar yang ada di kamarnya itu, tampak sinar matahari mulai menerobos ke dalam dari balik tirai.
Perlahan Lia menurunkan kedua kakinya dari ranjang, ia beranjak dari ranjang itu menuju tempat favoritnya, pojok kamar. Ia kembali duduk di sana. Perlahan tangannya bergerak dan berhenti tepat di dadanya, tangannya menyentuh dadanya pelan. Sejenak ia hanya mematung seperti itu, pandangannya kembali kosong, seperti ada yang sedang ia lamunkan, namun akhirnya ia tersadar dan mulai mendekap kedua kakinya dengan erat serta membenamkan kepalanya di antara kedua kakinya, seperti biasa.
...
Segera setelah membaca catatan pemeriksaan Lia yang telah ditulis oleh dokter Adi, suster Rina bergegas menuju kamar pasien nomor 208. Ia membuka kunci kamar itu dengan cepat dan masuk ke dalamnya. Didapatinya Lia berada pada posisi biasanya, tidak ada yang berubah dari diri pasiennya itu.
Suster Rina mendekati Lia perlahan dan duduk di sebelahnya.
"Lia." sapa suster Rina pelan. Hening! Tak ada respon sama sekali dari pasien spesialnya itu. Suster Rina menghela nafas, walaupun ia merasa sangat bahagia dengan apa yang di bacanya pada catatan pemeriksaan Lia yang ditulis oleh dokter Adi tapi ia merasa sedikit kecewa karna kenyataan yang terjadi di hadapannya berbeda, Lia masih tampak seperti biasanya, tapi entah mengapa ia yakin kalau dokter Adi tidak berbohong dengan catatan pemeriksaan itu.
"Mungkin aku harus lebih bersabar untuk melihat hasilnya." gumamnya pelan.
Suster Rina memperhatikan Lia dengan seksama, perlahan tangannya mengusap punggung Lia dengan lembut.
"Dia orang yang baik, Lia. Katakan saja apa yang kamu rasakan padanya, ungkapkan semuanya sejujurnya, aku yakin dia akan membantumu." ucap suster Rina dengan suara berbisik. Lia masih saja tidak merespon sedikitpun.
"Ayo kita membersihkan tubuhmu!" ajak suster Rina. Suster Rina membantu Lia untuk beranjak dari tempatnya. Mereka memulai hari ini seperti biasanya lagi.
...
Dokter Adi merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya setelah ia selesai membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Ia tampak sangat mengantuk karena ia tidak dapat tertidur sama sekali semalam, pikirannya terus dipenuhi oleh apa yang terjadi kemarin.
Dokter Adi membuka laci pada meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Ia mengambil selembar foto dari dalam laci, foto itu adalah foto Lia sebelum ia mengalami pelecehan. Dokter Adi terus memandangi foto tersebut hingga akhirnya tanpa disadari ia mulai terlelap.
...
Salah satunya adalah:
Karakter dan sifat seseorang bisa dibentuk karena orang lain.
benci dokter Adi 😡