❤Tahap Revisi❤
Andita Andriani adalah seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya demi perempuan lain. Empat tahun menjalin hubungan jarak jauh, Andita tidak menyangka akan menerima sebuah pengkhianatan.
Dirinya bertekad untuk membalas semua penghinaan dan pengkhinatan yang sudah diterimanya dari sang kekasih.
Disatu sisi, seorang CEO muda yang tampan dan sukses, juga sedang mengalami patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Zidan Pratama Wijaya, harus merelakan cinta pertamanya pada sang sahabat. Dan karena hal itu pula yang membuat Zidan berubah menjadi pribadi yang dingin dan sulit didekati.
Lalu bagaimanakah kisah perjalanan mereka?
Ikuti ceritanya yaa...
Jangan lupa berikan Like, Komen, Vote, dan Hadiah kalian untuk Author, supaya Author semangat nulisnya..
Terimakasih ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RatuElla11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Tahu
Hari ini Andita akan menghabiskan waktunya dirumah. Ia tidak pergi kekantor. Tadi pagi Andita sudah menghubungi kepala divisi dan meminta izin bahwa dirinya sedang tidak enak badan.
Tentu saja kepala divisi tidak langsung mengizinkannya. Sebelumnya Andita dimarahi terlebih dahulu karena mengingat dia masih karyawan baru.
Namun pada akhirnya setelah Andita memohon, kepala divisi itu pun mengizinkannya. Hanya untuk hari ini saja.
Sebenarnya tubuh Andita tidak terlalu sakit. Hanya saja, Andita masih sedikit trauma dengan kejadian semalam. Dan Andita merasa bahwa dirinya butuh istirahat sejenak. Bayangan Dirga yang menghinanya pun selalu berseliweran diotaknya.
Apalagi ketiga preman yang malam itu nyaris memperkosanya. Semua kejadian menyakitkan itu terjadi secara beruntun. Tentu saja itu membuat Andita syock. Tanpa disadari Andita meneteskan air matanya.
"Kakak kau sedang apa?" Tanya Nazwa yang keluar dari dalam rumah. Ia menghampiri Andita yang sedang duduk diteras. Gadis itu juga membawa dua cangkir teh hangat dikedua tangannya.
Mendengar suara Nazwa, Andita langsung menghapus airmatanya.
"Tidak ada. Kakak hanya sedang melihat tanaman-tanaman kita. Mereka sangat cantik, mereka tumbuh dengan subur." Dusta Andita.
"Ya tentu saja mereka tumbuh subur, siapa dulu yang merawatnya, Nazwa.Hehe.." Jawab Nazwa sambil terkekeh.
"Ya, Kakak akui kau memang pintar merawat tanaman" Puji Andita . "Oh iya, bagaimana kuliahmu Naz? Lancar?"
"Sampai saat ini lancar Kak. Kakak tenang saja aku berjanji tidak akan membuat Kakak kecewa ataupun merepotkan Kakak dengan kuliahku."
"Jangan berkata seperti itu. Kakak tidak pernah merasa direpotkan. Jika kau butuh sesuatu katakanlah. Kakak pasti akan mengusahakannya untukmu."
Nazwa tersenyum. Ia begitu tersentuh mendengar ucapan kakaknya. Mereka berdua menjeda obrolan dengan menyeruput teh.
"Kak, minggu ini Ibu harus kontrol ke rumah sakit, Ibu juga sudah harus melakukan cuci darah. Apa Kakak masih punya uang?" Tanya Nazwa hati-hati.
Sejenak Andita terdiam kemudian ia tersenyum.
"Ya. Sepertinya Kakak masih punya tabungan. Kakak akan memakainya untuk pengobatan Ibu." Jawab Andita.
"Kak, aku minta maaf ya karena belum bisa membantu Kakak. Tapi aku berjanji setelah lulus kuliah aku akan langsung mencari pekerjaan dan akan membahagiakan kalian." Ucap Nazwa sungguh-sungguh.
Andita meraih tangan adiknya. Lalu ia menatap adiknya lamat-lamat.
"Kau tidak usah teelalu memikirkan soal Ibu dan Kakak. Tugasmu sekarang adalah fokus belajar. Jangan pernah mengecewakan Ibu dan Kakak. Karena hanya kau yang kami punya." Jelas Andita.
Nazwa menganggukan kepalanya. Tiba-tiba obrolan mereka terhenti ketika ponsel Andita berbunyi. Andita merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
"Siapa Kak?" Tanya Nazwa.
Andita mengedikan bahunya.
"Entahlah, nomor asing. Biar Kakak angkat dulu ya."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menemani Ibu dulu dikamar." Sahut Nazwa.
Setelah Nazwa masuk, Andita pun menekan lencana hijau pada layar ponselnya, dan sambungan telepon pun terhubung.
"Hallo, siapa ini?"
"Hallo, Ta, ini aku Ferdy. Aku mendapat nomormu dari kepala divisi. Katanya kau sakit? Kau sakit apa, Ta? Sudah minum obat?" Cecar Ferdy disebrang sana, suaranya terdengar panik.
"Oh, Kau. Aku pikir siapa, hehe. Aku hanya kurang enak badan saja, Fer. Besok juga sudah masuk kantor."
"Apa aku boleh menjengukmu?"
"Aku baik-baik saja kok Fer. Kau tidak usah khawatir."
"Please Ta. Izinkan aku menjengukmu ya." Pinta Ferdy dengan nada memohon setengah memaksa.
"Hemm, baiklah. Datanglah kerumah."
Diseberang sana wajah Ferdy langsung berbinar mendengar ucapan Andita. Ia mengepalkan tangannya keudara.
"Terimakasih Ta. Sore ini aku akan datang menjengukmu."
*******
Diruangannya Zidan terlihat tidak fokus pada pekerjaannya. Wajah Andita yang menangis ketakutan dan tawaran perjodohan yang dilontarkan Ayahnya saling bertubrukan dikepalanya.
Beberapa kali ia mendesah, menendang udara dihadapannya. Entah kenapa wajah gadis itu beberapa hari ini selalu melintas dalam otaknya.
Tiba-tiba terbesit dipikiran Zidan untuk memantau gadis itu lewat cctv yang terpasang dilantai ruangan karyawannya. Zidan pun langsung menyalakan monitor yang sudah terhubung langsung dengan ruangan tempat Andita bekerja.
Zidan mulai menggeser mouse untuk mencari keberadaan Andita lewat cctv. Namun sayang usahanya nihil. Sosok Andita sama sekali tidak nampak pada layar monitor.
"Sial, dimana dia!"
Zidan mengambil gagang telepon disampingnya, lalu menyuruh kepala divisi yang menaungi para karyawan bagian penjualan untuk datang keruangannya. Setelah selesai berbicara lewat telepon Zidan menyandarkan tubuhnya dikursi kebesarannya sembari mengurut-urut pelipisnya.
Disaat Zidan sedang merasa kesal, terdengar suara pintu ruangannya diketuk.
"Masuk!"
Zidan pikir itu adalah kepala divisi yang dimintanya datang tapi ternyata ia salah yang masuk keruangannya adalah Ken.
Sontak Zidan terkejut. Ia langsung refleks mencondongkan tubuhnya kedekat meja, lalu segera mematikan layar monitor dihadapannya. Air mukanya berubah panik namun sebisa mungkin ia menetralkannya dan bersikap tenang.
"Ada apa?" Tanya Zidan.
"Tuan, anda tidak apa-apa? Wajah anda terlihat pucat." Ujar Ken ketika melihat wajah Zidan yang memucat.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Cepat katakan ada apa?!"
Ken langsung berjalan kearah Zidan dan memberikan beberapa dokumen penting kehadapannya untuk Zidan ditandatangani.
Setelah selesai dengan tugasnya Ken pun pamit undur diri. Namun saat ia akan keluar dari ruangan Zidan, Ken berpapasan dengan kepala divisi penjualan yang akan masuk kedalam. Ken mengernyit bingung.
"Ada perlu apa kau kemari? Apa ada hal yang penting?" Tanya Ken. Tatapannya mengintimidasi staff tersebut.
Pasalnya apapun yang berhubungan dengan presdir, pasti presdir akan menghubunginya terlebih dahulu dan tidak boleh ada sembarang orang yang masuk kedalam ruangannya tanpa izin.
"Tu-tuan Zidan yang memanggil saya kemari Tuan." Ucap kepala divisi itu takut-takut. Ken langsung menoleh kearah Zidan yang sedang duduk sambil menatap kearah mereka berdua.
"Kenapa kau menghalanginya Ken? Aku yang memintanya datang kemari." Jelas Zidan.
Setelah mendengar ucapan Zidan, Ken pun akhirnya mempersilahkan staff tersebut untuk masuk kedalam, sementara ia melanjutkan langkahnya keluar ruangan.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa hari ini ada anggotamu yang tidak masuk kerja?" Tanya Zidan ketika kepala divisi itu berada dihadapannya.
Kepala divisi terdiam. Didalam hatinya ia bertanya-tanya apa dirinya sudah membuat kesalahan dengan memberi izin pada anggotanya. Ia hanya bisa menundukan kepalanya. Jemarinya yang bertautan saling meremas satu sama lain.
"I-iya ada Tuan."
"Berapa karyawan?"
"Dua Tuan."
"Siapa saja?"
"Nela dan Andita."
"Apa mereka berdua karyawan baru?"
"Ti-tidak Tuan. Nela karyawan lama diperusahaan ini. Hari ini dia izin tidak masuk bekerja karena anaknya sedang sakit."
"Kalau begitu gadis yang bernama Andita adalah karyawan baru?"
"Be-benar Tuan. Hari ini dia meminta izin juga karena sedang tidak sehat."
Zidan menyunggingkan sudut bibirnya ketika ia tahu nama gadis yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.
"Hemm, baiklah. Kau boleh keluar!"
Kepala divisi itu masih terheran-heran. Apa hanya untuk hal sepele ini ia sampai harus dipanggil keruangan presdir.
Namun ia menarik nafas lega ketika Zidan memintanya keluar. Tanpa menunggu perintah dua kali kepala divisi itu segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Zidan.
*******
Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Rasanya Zidan sudah tidak sabar ingin segera meninggalkan kantor begitu tahu Andita sedang tidak sehat. Entah mengapa, Zidan begitu antusias ingin bertemu dengan gadis itu.
"Ken, apa sore ini kita ada jadwal dengan klien?"
"Ya, ada Tuan. Kita akan mengadakan meeting terakhir dengan perusahaan milik Tuan Aditya."
Zidan nampak berpikir bagaimana caranya ia bisa segera pergi dari kantor tanpa membuat Ken curiga.
Sebagai seorang atasan, Zidan tidak ingin dirinya terlihat tidak profesional dengan meninggalkan perusahaan di jam kerja hanya demi menemui seorang gadis yang notabene adalah seorang karyawan biasa.
"Ehm Ken, sepertinya meeting dengan Tuan Aditya kau saja yang tangani. Aku merasa tubuhku sedang kurang sehat. Aku ingin segera pulang untuk istirahat." Dusta Zidan.
"Tapi Tuan meeting ini tidak akan berjalan lancar jika anda tidak ada."
"Aku percayakan semuanya padamu Ken." Ucap Zidan. Ia langsung memakai jasnya dan meraih tas kerjanya.
"Oh iya berikan kunci mobil padaku. Aku akan menyetir sendiri."
"Tuan, jika anda sedang tidak sehat saya akan mengantar anda pulang. Saya takut terjadi apa-apa pada anda."
"Tidak Ken. Aku akan pulang sendiri. Lagipula kau harus meeting dengan Tuan Aditya. Cepat berikan kuncinya padaku!" Titah Zidan.
Dengan berat hati, Ken pun akhirnya memberikan kunci mobil pada Zidan.
.
Bersambung...
ternyata marahnya berkelanjutan karena lagi San*e ya Dita?🤔🫣
Bilang atau rayu suamimu dong..
kan lucu jadinya.. mirip ayam betina suka nyerang tanpa sebab kalau lagi birahi 😁🤣🤣🫣
pada kemana?
jajan bakso ya?😁🫣
sebelum nikah saja Dita sudah dikawal bodyguard bayangan untuk mengetahui pergerakannya.
kok sudah nikah, malah nggak ada pengamanan sama sekali walaupun dari jauh
kamu harus bisa buktikan omongan keluarga Dirga bahwa fokus kamu cuma uang bukan janji itu adalah benar
wajar dong dia mencari keuntungan ganda..
ibu sehat, sisa uang ada.. malah dapat suntikan dana dari camer yg nggak setuju.
kaya dan bebas dari tanggung jawab.
janji dan hutang Budi urusan belakangan ya Dita🤣🤣🤣
menang 2x kamu..
kalau terpojok tinggal keluarkan jurus andalan..
status sosial, tidak ada restu dan tidak ada cinta..
buktikan kalau kamu muna sejati
jadikan status sosial sebagai alasan 👍
toh uang juga sudah diterima..
jangan pikirin perasaan orang lain, pikirkan perasaanmu saja dan juga kepentinganmu..
ibumu sudah sehat, saatnya ngelunjak
baru kali ini baca novel yang mana sekeluarga hobinya menjegal kaki orang 😁
mereka keluarga pebisnis apa keluarga pemain sepak bola antar kampung?🤣🤣🤣