Permainan hidup mengoyak semua orang yang datang ke desa Sambayang untuk tinggal disana.
Darah, Tumbal, Keserakahan bahkan intrik manusia menghalalkan segala cara demi kesenangan sementara.
Waktu bukanlah teman melainkan lawan, hidup di desa Sambayang tidak seperti yang terlihat oleh mata.
Dasa mengetahui bahwa untuk bisa bertahan lebih lama di desa Sambayang haruslah berkompromi dengan cepat demi mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Iapun menyerahkan nyawanya demi semua warga desa dan keluarganya keluar dari desa. Namun, aura mistis desa Sambayang tidak puas maka tangan-tangan tak terlihat mulai menarik pulang satu persatu warga desa termasuk keluarganya.
Apa yang akan dilakukan oleh Dasa, saat tahu ia tahu? Bagaimana caranya melawan ganasnya aura mistis desa Sambayang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wish0430, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Kaki marlot terasa kebas mendengar cahaya akan melahirkan melalui ponselnya saat di toko, baru semalam ia marah besar dibutakan oleh ketidakberdayaan dirinya menghadapi nafsu serta kebodohannya sendiri. Cepat-cepat ia mengendarai mobil menuju rumah sakit untuk melihat kondisi cahaya dan anak yang akan dilahirkan.
Lalu lalang orang di rumah sakit tak dihiraukan marlot begitu mendapatkan informasi keberadaan cahaya yang ternyata sudah ada di ruang khusus melahirkan.
Dibukanya pintu itu setelah mengunakan pakaian khusus dan diijinkan masuk oleh suster.
"Marlot..sakit"
"Bertahanlah, aku sudah disini"
"Ya...aku..minta maaf"
"Hei.."
"Aku mencintaimu"
Marlot memiringkan kepalanya melihat seorang suster memintanya untuk keluar dari ruangan itu karena cahaya terpaksa harus dioperasi Cesar tapi ia tetap kekeh untuk disamping cahaya yang terus berteriak kesakitan tiada henti.
Perjuangan cahaya melahirkan anaknya membuat marlot membisu memperhatikan terlebih saat tangis bayi kencang keluar dari badan cahaya. Semua orang bernafas lega mendengarnya. Jari tangan marlot gemetar mengendong putrinya yang diberikan oleh suster ke tangannya.
"Selamat datang Cahaya Marlot, semoga kamu menjadi anak kebanggaan ayah bunda"
Tangis bayi mereda setelah marlot mencium pipinya, tangan kecilnya menggenggam erat jarinya. Suster mengambil kembali bayinya untuk diletakkan di box bayi. Marlot keluar dari ruangan itu menuju kursi tunggu. Air matanya meleleh mengucapkan syukur kepada Yang Pemberi Hidup. Ia bingung dengan semuanya tapi menatap mata kecil polos putrinya membuat ia sadar tak seharusnya ia egois, hidupnya sudah tak lagi sama.
Ranjang Cahaya didorong oleh suster untuk di masukkan ke dalam kamarnya yang sudah di bayar sebagian oleh marlot disaat tadi datang, sempat dibayarnya. Marlot mengikuti dari belakang.
Cahaya masih tertidur pulas efek dari obat bius. Marlot mendekati pelan bermaksud untuk duduk di kursi depan ranjangnya, digenggamnya tangan Cahaya. Perlahan-lahan mata Cahaya membuka lalu menatap wajah Marlot yang kelelahan.
"Marlot"panggilnya pelan sambil menarik tangannya dari genggaman tangan Marlot tapi tidak dilepaskan oleh Marlot.
"terimakasih sudah mau melahirkan anak kita"
"Cowok atau cewek"
"Cewek.. namanya Cahaya Marlot"
"Cantik?"
"Sangat cantik dan menggemaskan"
Senyum mengembang di wajah Cahaya mendengar kalimat Marlot yang sangat senang dengan bayi mungil mereka.
"Aku akan melupakan semua kenangan yang pernah ada dalam hidupku, kita mulai lagi dari awal ya, bunda"
"Bunda?"
"Kamu mau dipanggil apa, bunda atau ibu atau mama atau..."
"Bunda saja"
"Bunda, mau kan kalau kita mulai lagi dari awal demi anak kita Aya"
"Aya?"
"Ya, anak kita dipanggil Aya"
Cahaya tak mampu lagi membendung air matanya mendengar semua kalimat Marlot yang menyejukkan hatinya yang terdalam. Ucapan syukur tiada henti hentinya keluar dari hatinya kepada Yang Pemberi Hidup.
"Aku berjanji ayah akan membahagiakan bunda dan aya sekuat tenaga"
Diusapnya pelan wajah cahaya yang penuh air mata menggunakan tisu yang ada dimeja dekat ranjang rumah sakit. Cahaya hanya bisa mengangguk lemah. Dikecupnya kening Cahaya sebagai tanda sayang dan awal yang baru untuk kehidupan mereka bertiga di dunia yang baru milik mereka.
Tak ada lagi kata-kata yang mampu diucapkan oleh mereka ketika suster membawakan Cahaya Marlot kepada mereka selain sinar kebahagiaan yang terlihat jelas di wajah.
Makhluk itu atau juragan Suteja berdiri tak kasat mata melihat semua itu dengan wajah puas, keinginannya terkabulkan untuk membuat keduanya bersatu dengan sedikit dorongan anak itu lahir.
"Jaga baik-baik kesempatan yang kuberikan cahaya"bisiknya pelan ditelinga sebelum hilang begitu saja. Cahaya sontak tertegun mendengarnya dan tersenyum bahagia.
"Terimakasih... terimakasih..."katanya berulang-ulang kali, Marlot tersenyum mengira kalimat itu untuknya padahal bukan itu maksud dari Cahaya.
Di desa Sambayang sedang ada panen raya padi, terlihat kesibukan petani mengurus sawahnya demikian juga para buruh tani milik juragan Suteja.
Dasa mengusap perutnya yang masih belum terlihat membesar tapi nafasnya sudah terengah-engah merasakan beban yang ada diperutnya.
"Mengapa kamu disini?"
Juragan Suteja menyipitkan mata tidak suka melihat dasa berdiri di sawahnya, tepatnya di saung bambu yang ada di samping sawah. Hamparan padi yang menguning ditambah hembusan angin yang berhembus pelan serta hiruk pikuk orang-orang membawa hasil panen membuat siapapun tertarik untuk melihatnya.
Kecantikan dasa terpancar memukau memperlihatkan keanggunan seorang istri juragan desa. Juragan Suteja merasa cemburu tak rela kecantikan dasa diperlihatkan kepada orang banyak.
"Aku bosan dirumah"
Juragan Suteja menekukkan wajahnya dengan kesal, dasa geli melihatnya. Kepribadian yang tidak pernah dilihatnya selama dua bulan terakhir menjadi istrinya. dasa tidak menyangka pernikahannya sangatlah bahagia dengan perhatian khusus untuknya serta kejutan-kejutan manis yang diberikan oleh juragan Suteja, membuat dirinya merasa dicintai.
Juragan Suteja menarik nafasnya lalu tangan dasa untuk mendekatkan diri kepadanya.
"Aku tahu tapi disini berangin, kasihan anak kita didalam perut"
"Kamu hanya memikirkan anak ini? lalu aku?"
Bidan Surti pernah memberi tahu kepada juragan Suteja untuk ekstra hati-hati menjaga dasa dan bayinya dikarenakan kondisi tubuh dasa yang sangat lemah. Dipeluknya erat-erat sambil tersenyum geli kearah dasa yang menengadah menatapnya dengan pandangan polos dan tidak mengerti.
"Aku terlalu mencintaimu jadi aku tidak ingin kalian berdua sakit"
Setelah mengatakan itu, juragan Suteja mencium pelipis dasa sekilas. orang-orang desa sesekali mencuri perhatian kearah mereka, terkadang mereka iri dengan kemesraan yang ditampilkan di hadapan mereka. Dasa merasakan perasaan yang nyaman setiap dipeluk oleh juragan Suteja demikian juga bayinya yang suka rewel kalau tidak ada juragan Suteja.
Hidup itu misteri, suasana tenang tanpa ada drama yang menghias didalamnya membuat juragan Suteja waspada setiap saat. Manipulasi yang dilaksanakan oleh dirinya dan beberapa orang bawahannya secara gaib , sewaktu waktu bisa hancur dan ia belum siap menyongsong kehancuran dirinya.
Wanita yang ada di pelukannya sekarang ini sudah banyak merubah dirinya menjadi nyaris sempurna sebagai manusia.
Ada proses yang tidak boleh dilanggar dalam desa Sambayang yaitu pemberian tumbal nyawa untuk tanah. kalau dulu ia akan dengan senang hati menerima kenyataan hidupnya tapi sekarang ia tidak rela melakukan semuanya.
Gunung yang mengapit desa Sambayang sudah mulai bergejolak, tanah mulai retak-retak di beberapa tempat, angin yang berhembus tidaklah baik untuk kesehatan dasa yang mengancam jiwa bayinya.
Juragan Suteja perlahan-lahan mengajak dasa untuk mengikuti langkahnya menuju ke rumah mereka, beberapa kali mereka terpaksa berhenti untuk membalas salam ataupun sapaan.
Jarak antara mereka berdiri dengan rumah tinggal 5 langkah tapi dasa asyik bercengkrama dengan tetangga sebelah yang menyapanya, rasa tak sabar menunggu dirasakannya, cepat-cepat ia mengendong dasa hingga semuanya kaget melihat kelakuannya.
"maaf Bu, saya culik istri saya dulu kedalam"
"eh ya..eh.."
"sayang, jangan gitu"
Wajah dasa bersemu malu karena tanpa menunggu jawaban, juragan Suteja mengendongnya masuk kedalam rumah lalu ke kamarnya. Diletakkannya dasa di ranjangnya dan ia memeluknya erat.
"Sayang!!"
"Aku tidak ingin berbagi kecantikan istriku"
"ah gombal"
"Tidurlah, kasihan anak kita"
Dasa tersenyum menyadari kalau suaminya sudah mulai posesif berlebihan saat diluar rumah. Juragan Suteja berusaha membuat dasa tertidur pulas dengan mantra yang ditiupkan ke dalam telinganya. Gemuruh suara gunung bergejolak di telinga juragan Suteja meminta ia bersiap-siap memenuhi perjanjian gaibnya.
jangan lupa like nanti ku feedback
biar lebih nyambung lagi
...
jadi gak banyak tipo ..biar gak susah juga pemahaman ceritanya
mampir ya kak di tulisanku Putih Abu-Abu 2010 kasih like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
mampir ya kak di tulisan ku Putih Abu-Abu 2010 like dan vote
Jangan lupa baca juga cerita aku judulnya 'BUTTERFLY EFFECT'