Jona: Jika ada seribu lagi kesempatan untuk jatuh cinta, aku akan tetap memilih Jordy. Aku tidak jatuh cinta pada seorang yang salah, meski mungkin pada waktu yang salah. Andai aku sepuluh tahun lebih tua.
Livi: Dari begitu banyak wanita cerdas, cantik dan dewasa mengapa Ayah memilih Jona? Sahabatku, yang tak mungkin menggantikan Ibu?
Jordy:
Pada kekurangan dan kelemahannya aku benar-benar jatuh hati. Ah, Jona!
Terdiri dari bab 1-42 (End).
Bab selanjutnya extended season.
Cerita ini mengandung konten dewasa pastikan cukup umur sebelum membacanya. 21+
Terima kasih untuk semua bentuk dukungan Sobat Gorgeous. Salam supportive penuh berkah. 😘😘
27 Juni, I'm done! Sebagai creator cerita saya menyatakan selesai. Selanjutnya, cerita ini saya serahkan kepada Dear Readers Tersayang anak2 tiriku. Jadi, jika kalian punya usul, ide, atau koreksi meliputi typo atau miss-information, jangan sungkan untuk kasih saran masukan. Karena mulai sekarang, cerita ini milik: KITA BERSAMA!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arwen CTB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jealousy
Jordy merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Jona. Kelemahan dan kerapuhan gadis itu bagaikan daya tarik yang amat kuat sehingga mereka bisa saling mencinta. Satu pihak adalah dia yang merasa kurang beruntung, di pihak lain ada kekosongan di hati Jordy yang belum pernah terisi sepenuhnya sepanjang hidup di bumi sepanjang lebih dari 40 tahun lamanya. Jona, bukan seperti mainan baru, hadiah istimewa atau apapun. Gadis itu melampaui semua yang dapat diimpikan Jordy.
Ketika kembali ke rumah, dia menjumpai putrinya yang juga sudah pulang. Sayangnya, Livi tidak terlihat begitu baik, cewek itu terlihat lelah. Ada semacam kemarahan yang terkandung dalam dirinya dilihat dari cara menyapa sang Ayah. Tidak ramah dan tanpa senyum, semacam hanya untuk menuntaskan kewajiban menghormati orang tua. Setelah Jordy berganti pakaian, dia pun segera melancarkan serangan.
"Jadi, tadi dia ke sini?" tanya Livi dengan nada yang menuduh karena dia telah melihat status WhatApp Jona yang mengunggah foto tangan yang bertaut.
"Iya." Ayahnya pun tak dapat menyembunyikan rasa bahagia juga tak mungkin pula dia berbohong pada Livi. Pasti putrinya telah mengetahui, entah dari Mbak Marni atau bahkan dari Jona sendiri.
"Ayah, bukankah Livi sudah bilang kalau Livi nggak suka. Bisakah ... bisakah Ayah berhenti bertemu Jona?"
"Tentu, Ayah tahu itu, Livi. Tapi, Sayang, meninggalkan Jona tidak akan semudah itu."
"Kenapa, Yah? Apa kedudukan Jona lebih penting dibanding Livi? Dibanding Ibu?"
"Livi...."
"Apa Ayah sudah melupakan Ibu?"
Jordy tak berniat menjawab pertanyaan Livi, baginya melihat buah hati bersedih sudah cukup pula membuat dirinya terluka. Saat ini Jordy dilanda kebimbangan antara mempertahankan atau melepaskan Jona. Hatinya tertantang untuk berusaha menjadi Ayah yang baik seperti sering digambarkan di meme yang beredar di Instagram. Apakah dia sanggup berkorban untuk orang yang disayang? Tetapi, pada saat yang bersamaan, dia juga ingin menjadi seorang kekasih yang baik sekaligus seorang ayah.
Tak bisakah keduanya berjalan beriringan?
Jika dia memutuskan untuk membuang Jona, betapa tidak adil dirinya pada gadis itu. Wanita muda itu sama sekali tidak bersalah jikalau di hatinya tumbuh perasaan cinta dan sayang yang juga terlanjur disambut oleh Jordy. Apakah kekasih mudanya itu akan mampu bertahan dan baik-baik saja. Padahal baru pagi ini dia sendiri telah menyaksikan betapa rapuhnya Jona. Betapa dia sangat membutuhkan Jordy lebih dari apapun di dunia ini.
Lalu dia sendiri? Hatinya, tidakkah akan begitu besar lubang menganga yang akan hadir jika tega menyingkirkan Jona dari hidupnya? Mencintai Jona, bagi Jordy bukan sekadar karena rasa suka, atau nafsu belaka. Kalau untuk sekadar kencan tanpa hati, dia memiliki banyak kesempatan dengan wanita-wanita dewasa dan seksi di lingkungan kerja. Tetapi, Jona, lain sama sekali. Barangkali karena sifat lemahnya itulah sehingga Jordy merasa perlu untuk menjadi seseorang penolong dalam hidup Jona.
"Livi...," ucap Jordy pada akhirnya setelah merasa bisa menenangkan diri, "sebenarnya dalam hidup ini tidak semua hal yang kita dapat adalah yang kita sukai."
Livi tetap menangis. Mengetahui bahwa ayahnya sudah begitu besar memberikan rasa sayang pada Jona bahkan tak lagi menjadikan dirinya yang utama.
"Ayah tentu tidak akan melupakan ibumu, yang sangat baik. Yang kehadirannya selalu bisa Ayah lihat di matamu. Ayah sangat mencintainya. Namun kita hidup di masa sekarang, Livi dan di masa mendatang. Kita bergerak ke depan."
"Jadi Jona lebih penting?" cecar Livi di sela tangisnya.
"Bukan masalah siapa yang lebih penting lagi sekarang. Bagimu apakah Ayah tidak penting?"
"Tentu Ayah penting."
"Apakah perasaan Ayah juga penting?"
"Ayah!" Livi merasa marah dengan sang ayah yang mencoba menggiring jawabanya untuk setuju mengenai hubungan dengan Jona.
"Kurasa tak terlalu sulit bagimu, Livi. Jona adalah sahabatmu, kalian dekat."
"Tentu saja sulit. Begini saja, Yah, aku tidak akan kembali ke sekolah jika Ayah masih melanjutkan hubungan dengan Jona," ancam Livi, kali ini dia tidak main-main.
"Apa yang lebih berbahaya bagi hidup kita Livi? Seorang anak putus sekolah, atau seorang Ayah yang kehilangan semangat hidup? Oh ya, ngomong-ngomong, jangan main-main dengan masa depanmu. Jangan rusak itu, Sayang. Karena penyesalan lebih menakutkan dibanding rasa benci."
Jordy berdiri dan merasa dia sangat kejam pada Livi. Dia teramat keras menghadapi gadis itu. Padahal seperti apa yang pernah Jona katakan, dia adalah satu-satunya yang Livi punya. Mengapa melepaskan Jona menjadi begitu berat hingga rasanya dia takkan sanggup? Seperti juga janjinya pada Emera untuk menjaga Livi segenap jiwa dan raga.
Livi memilih diam, meskipun dia tidak menyerah. Namun apa yang barusan didengarnya cukup jelas bahwa jalannya tidak akan mudah. Dia kembali ke tempat tidur, menghitung waktu, menunggu malam datang untuk kemudian pergi ke ruang mimpi Livi.
Sementara itu, Jordy menghabiskan waktu di ruang kerjanya yang tiba-tiba terasa penuh dengan rasa bersalah. Seolah udara di ruangan itu mengandung partikel-partikel tajam yang menyakitkan bukan hanya tubuh tapi juga hati Jordy. Dia sedang mempertimbangkan untuk minta maaf pada putrinya ketika tiba-tiba jendela notifikasi di handphone menunjukkan pesan dari Jona.
'Hai, sedang merindukanku?'
Segera dia mengetik balasan.
'Nope.'
'Baiklah, kalau begitu aku tidur dulu.'
'Typing...'
'Sialan! Aku kangen tau! 😤'
Jordy terkekeh-kekeh melihat chat dari Jona, merasa beruntung sekali bisa dirindukan dan dibutuhkan. Seketika perasaannya membaik. Jordy bahkan tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya ketika menatap layar, membaca pesan Jona.
'Begitu juga denganku, Tuan Putri. Rasanya dada ini mau meledak menampung cinta yang amat besar.'
Seketika di tempat lain, Jona yang akan berangkat ke kamar mandi untuk gosok gigi pun merasakan pipinya menghangat. Wajah Jordy begitu jelas hadir dalam benaknya lengkap dengan suara dan caranya marah. Jona suka itu, semua tentang Jordy adalah kesukaannya saat ini.
'Meleleh.'
'Tetaplah utuh bersamaku.'
Kurang ajar sekali penulis atau siapa saja yang merangkai kisah romantis ini. Mengapa tidak dijadikannya saja Livi setuju dengan pilihan ayahnya. Sehingga tak ada lagi yang terluka?
*
Jordy menutup aplikasi broker di komputer kompaknya dan beralih memandang keluar jendela di mana terdapat pemandangan kota sibuk dengan gedung-gedung setinggi ego sebagian penghuninya. Ketika melirik ke arah mug, isinya telah habis yang tersisa hanyalah dasar mug yang kotor akan bekas kopi.
Dia meraih mug bergambar lambang klub sepakbola asal Inggris, Liverpool. Begitu indah lambang itu apalagi warnanya yang cerah dan kontras perpaduan antara merah dan hijau. Berjalan menuju pantry untuk menyeduh kopi ke-tiga. Di sana ada Iwan yang sedang menikmati siomay yang baru diantarkan oleh tukang ojek.
"Makan, Bro," sapa Iwan.
"Ah, makasih. Selamat makan, Tuan."
"****! Hahaha. Minum mulu ntar kembung lo."
"Biarin aja asalkan gue nggak jadi ikan kembung."
"Sa' ae, karet rames! Eh ngomong-ngomong, lo tau Silvy kan?"
"Silvy siapa?"
"Ituloh, anak baru yang kemaren dateng bareng gue."
"Oh, kenapa emang?"
"Kayaknya dia suka sama lo. Soalnya pas gue anter pulang, dia nanyain lo terus. Ya gue bilang aja lo-nya duda. Hahaha!"
"Sialan lo!"
"Serius, doi cantik, kan?"
"Nggak tau, gue udah punya cewek."
"Wah serius? Siapa? Kok nggak lo kenalin ke gue?"
"Bahaya, Wan, lo kan buaya."
"Hahaha!"
Ketika selesai menyeduh kopi, Jordy kembali ke tempat kerjanya dan merasa bahagia memandangi foto seorang gadis belia, Jona. Begitu pula ketika sedang bersiap-siap pulang, tiba-tiba Iwan sudah ada di belakangnya.
"Cieee, yang lagi kasmaran!" godanya pada Jordy.
"Apaan sih lo, Wan?"
"Jadi itu?"
"Apaan?"
"Yang di wallpaper handphone lo."
"Haha, iya, Bro. Cantik kan?"
"Woy! Cantik banget, Bro! Pantes lo gak mau ngenalin ke gue."
"Tapi gue bingung."
"Kenapa? Cerita aja."
"Livi nggak setuju sama hubungan kami," keluh Jordy pada akhirnya.
"Mungkin Livi cemburu aja, Bro. Dia takut kehilangan ayahnya. Kalau lo bisa yakinin si Livi bahwa lo nggak akan mengabaikan dia, gue yakin dia juga bakal setuju."
"Iya, ya? Thank's ya, Bro."
"Yuk cabut. Lo mau ikut gue nggak?"
"Kemana?"
"Hang out-lah, senang-senang."
"Nggak deh, kasian Livi sendirian di rumah."
"Oke."
'Selamat tidur, Sayang.' Tak lupa Jordy mengirim pesan pada Jona ketika meluncur pulang. ---
Jordy sudah dewasa. mandiri. tidak bergantung secara materi dg org tuanya. biarkan ia bahagia sesuai keinginannya😄
klw bisa cinta yg tak menentu atau takdir cinta