NovelToon NovelToon
Yang Terakhir

Yang Terakhir

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:195.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ida Suryo

Konflik batin diutamakan!

Arga yang pernah dihianati berubah menjadi dingin pada wanita. Tapi sikapnya berubah berbalik 180° ketika bertemu Hania. Seorang wanita yang pernah hadir dalam mimpinya tiba-tiba muncul di hadapan Arga, membuatnya penasaran dan mengejarnya.

Sementara wanita yang juga pernah mengalami penghianatan sebelumnya itu masih menutup pintu hatinya untuk pria lain. Meski menerima kehadiran Arga di sekitarnya, Hania belum bisa membuka hatinya untuk pria itu.

Akankah Arga mampu meyakinkan Hania akan ketulusannya? Akankah mereka akhirnya saling menerima dan bersatu?

Ikuti terus ceritanya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ida Suryo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Meresahkan

"Kamu godain aku? Bibirmu begitu bisa bikin aku khilaf lo." goda Galih lalu terkekeh lagi.

Hania melemparkan tisu yang sejak tadi diremasnya ke arah Galih. Wajahnya merona. Dia ingat Galih pernah menciumnya penuh hasrat. Sambil membawa piring kotor Hania meninggalkan Galih yang masih terkekeh.

Malam beranjak makin larut. Tepat jam 9, Galih undur diri. Hania menatap kepergian Galih hingga hilang di tikungan.

"Aku pasti kesepian nanti." gumam Hania.

"Ah, baru sadar ternyata aku terlalu bergantung padamu." lanjutnya bermonolog dalam hati.

Ditengadahkannya kepalanya menatap langit kelam bertabur bintang. Dia mendesah.

Merasakan hawa dingin yang semakin menusuk membuat Hania mengeratkan sedekapan tangannya. Dirinya masih enggan beranjak dari sana. Mata kelincinya menyapu sekeliling komplek rumahnya.

Sepi. Hanya suara daun-daun yang saling bergesekan, ******* angin yang bertiup agak kencang malam itu, deru mesin kendaraan yang sesekali melintas, jangkrik, kumbang, burung? Haduh, kenapa jadi memikirkan hal beginian?

Cukup lama Hania larut dalam pikirannya yang melayang-layang. Tiba-tiba bayangan wajah pria tampan yang pernah ditemuinya di pesta pernikahan sahabatnya beberapa waktu yang lalu, dan juga dua kali bertabrakan dengannya melintas seenaknya dalam pikirannya. Tatapan matanya yang tajam yang selalu menatapnya dengan lekat seolah memindainya membuatnya tidak nyaman sekaligus berdebar. Senyum semanis madunya yang selalu menular padanya dan membuatnya menghangat.

"Ah, perasaan apa ini?" batin Hania seraya memegang dadanya.

Kembali Hania menatap langit kelam yang bertabur bintang. Menghela napasnya. Dan melepaskannya perlahan dengan mata terpejam. Mencoba memenuhi rongga paru-parunya yang terasa sesak.

Meskipun Hania masih ingin berada di sana karena dirinya merasa tenang dengan suasana yang sepi seperti itu, namun kantuk yang semakin menguasainya, dan juga rasa lelah setelah beraktifitas berat seharian, mendorong Hania beranjak juga masuk ke dalam rumahnya.

Sementara itu, Arga yang baru sampai di rumahnya mendadak merasa kesepian. Lampu lampu masih menyala terang. Dia berdiri di tengah ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, menyapu setiap sudut rumahnya yang bergaya minimalis berlantai 2 itu. Meski minimalis tapi bangunan rumah Arga cukup besar.

Rumah sebesar itu hanya dihuni olehnya, Bi Sumi, Bi Lastri, dan Mang Diman, sopir yang sekaligus merangkap tukang kebun. Yang pasti 3 penghuni selain dirinya tidak mungkin berkegiatan di dalam rumahnya. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu senggang di dalam kamar masing-masing dan halaman belakang, dan hanya menginjak rumah bagian depan ketika membersihkannya.

Dulu, dia membeli rumah ini untuk melupakan segala kenangan buruk yang terjadi. Mengharapkan kenangan baik tercipta di rumah barunya. Iya. Perlahan mulai bangkit setelah sekian lama merusak diri. Dirinya mampu menciptakan kehidupannya yang tenang dengan kesendiriannya. Dan Hania? Hah. Wanita cantik bermata kelinci itu malah dengan seenaknya mengganggu ketenangan Arga.

Entahlah. Sejak Arga bertemu dengan Hania, wanita cantik bermata kelinci itu seolah mengusik ketenangan dalam hidupnya. Dirinya yang sudah nyaman dengan hidup sendirinya, mendadak kembali merasakan kesepian.

"Ah, Hania." desahnya.

"Mas Arga sudah pulang?" sambut Bi Sumi membuyarkan lamunan Arga.

Arga menoleh ke arah Bi Sumi yang sedang berjalan mendekatinya. Tadinya Bi Sumi berniat menyimpan makan malam yang disiapkannya untuk majikannya yang masih terhidang di meja makan.

"Mas Arga sudah makan? Bibi siapkan sekarang ya?" tawar Bi Sumi.

"Ngga usah Bi, aku sudah makan tadi. Bibi istirahat saja sudah malam." tolak Arga yang diangguki Bi Sumi.

Sambil mengacak rambutnya, Arga melangkah menaiki tangga ke lantai 2 menuju kamarnya meninggalkan Bi Sumi yang masih sibuk menyimpan makanan ke dalam kulkas. Rasanya sangat lelah. Ditambah rasa penasaran yang hampir tuntas namun kembali harus tertunda. Itu seperti rasa ingin bersin tapi tidak kunjung bersin juga. Aarrrgh!

Mengingat beberapa pertemuan dengan Hania yang tanpa diduga itu, Arga mendesah. Dirinya sudah melewatkan 2 kesempatan untuk mengenal wanita itu. Kalau sudah begini, harus bagaimana? Kenapa seolah waktu tidak mengizinkannya mengenal wanita cantik bermata kelinci yang meresahkannya itu?

Arga merendam tubuhnya yang letih dalam air hangat. Membuatnya rileks. Raganya seolah terasa bugar. Tapi hatinya masih resah? Benar-benar wanita cantik bermata kelinci itu sudah mengalihkan perhatiannya. Siapa sebenarnya dia? Kenapa aku seperti mengenalnya? Dia memejamkan matanya mencoba menggali ingatannya kembali. Bayangan wajah Hania semakin terbayang jelas di pelupuk matanya yang terpejam. Membuatnya frustrasi.

Tak kunjung mendapat ketenangan, Arga segera mengakhiri kegiatan berendamnya, menyudahi mandi malamnya dan segera beranjak meninggalkan kamar mandinya.

Setelah berganti piyama, Arga merebahkan tubuhnya yang lelah, memutuskan untuk segera tidur saja. Melupakan pekerjaan yang dibawanya pulang. Dia yakin tidak akan fokus mengerjakannya yang akan menambah lelah saja nantinya.

Tapi harapannya tidak berbanding lurus dengan keinginannya. Nyatanya hingga jam digital yang duduk manis diatas nakas sudah menunjukkan angka 2 tepat, Arga masih terjaga. Matanya malah terang benderang bagai lampu sorot 100 watt. Entah kemana larinya si kantuk yang tadi menggelayut manja.

"Ah, Hania, apa reaksimu kalo tau aku sampe ngga bisa tidur karena mikirin kamu yang bahkan belum kukenal?", gumam Arga sambil terkekeh.

"Apa kamu akan mengingatku kalo kita ketemu lagi? Kuharap 2 kali kita bertabrakan, akan meninggalkan kesan bagimu", gumamnya lagi.

Iya. Arga ingat bagaimana reaksi Hania saat kali kedua mereka bertabrakan. Sikap wanita cantik itu tenang-tenang saja. Hanya kadang bola matanya yang membulat menunjukkan keterkejutannya. Atau keningnya yang berkerut karena mungkin mencoba memikirkan atau mengingat sesuatu. Dan kadang tersenyum. Arga tidak dapat menebak pikiran wanita cantik itu.

Kantuk yang sepertinya semakin menjauh, membuat Arga bangkit lagi dari ranjang empuk nan nyamannya. Dulu, ranjang itu tidak pernah mengecewakan Arga. Begitu nempel langsung molor. Begitulah istilah Arga. Tapi beberapa malam belakangan ini, ranjang itu tidak menunjukkan tajinya.

Arga membuka pintu kaca besar yang terhubung dengan balkon kamarnya. Berdiri di sana sejenak sambil mengedarkan pandangannya, lalu melangkah menuju pagar balkon. Ditatapnya langit kelam bertabur bintang.

"Aku harus kemana nyariin kamu? Bahkan kita ngga pernah berkenalan dengan benar", monolognya.

"Bahkan aku tau namamu juga karena kebetulan", dia terkekeh.

"Awas aja, begitu kita ketemu aku pastikan kamu harus bertanggung jawab. Kamu udah ngusik ketenanganku, membuatku ngga nyaman dan kembali merasa kesepian dalam kesendirianku", keluhnya.

"Aku pastikan, kita berkenalan dengan benar nanti." pikirnya lagi.

Arga mengacak-acak rambutnya dengan satu tangan dan satu tangannya lagi di pinggang. Mengalihkan tatapannya ke bawah.

Sepi. Hanya suara daun-daun yang saling bergesekan, ******* angin yang bertiup agak kencang malam itu, deru mesin kendaraan yang sesekali melintas, jangkrik, kumbang, burung? Haduh, kenapa jadi memikirkan hal beginian?

Cukup lama Arga berdiri di balkon kamarnya dengan segala pikirannya yang melayang-layang memikirkan Hania. Dia kembali mendesah lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa sebegitu penasarannya dirinya pada Hania, sosok wanita cantik bermata kelinci itu? Kenapa dirinya merasa pernah akrab dengan wanita itu? Kenapa dirinya sangat ingin mengejarnya dan mengenalnya? Huft! Arga sungguh tidak memahami perasaannya.

Hawa dingin mulai merayapinya. Kembali ditengadahkan kepalanya menatap langit kelam yang bertabur bintang.

"Semoga kita ketemu lagi Hania." gumamnya penuh harap.

Pikiran yang berlalu lalang dibenaknya lambat laun membuat matanya sayu. Kantuk mulai menghampirinya lagi. Arga kembali masuk ke kamarnya. Merebahkan kembali tubuh dan tentu saja pikirannya yang lelah.

"Selamat malam Hania." gumamnya.

Arga tertidur dengan berbagai rencana untuk Hania.

*******

Happy reading...

Jangan lupa like dan vote ya,

komen dan krisannya juga 😊😊

1
Mukmini Salasiyanti
Assalamu'alaikum
salken mbak...
ida suryo: wa'alaikumsalam... salam kenal juga mbak 🤗
total 1 replies
Hafiza Nafida
oke
Sterry Gerungan
lanjut....
Ilfa Yarni
akhirnya smua bahagia cerita apalagi setelah ini thor
Ilfa Yarni
ank2 arga sama Hania pinter2 ya viona siapa ya Thor kyknya blom ada kisahnya deh
ida suryo: Ada sekelumit tentang cinta pertama Iden ya sayang di bab 89. aduh otor jadi buka-buka lagi bab sebelumnya krn sekelumit kisah iden itu ditaro dimana 🤭
total 1 replies
Ilfa Yarni
lah ko iden marah sama Arga mrh sama saudara Belle itu dong iden
Ilfa Yarni
Hania mau lahiran ya
Ilfa Yarni
bagus arga jgn bantu wanita seperti itu jaga juga perasaan hania sekaligus adiknya iden jgn macam2 pertemananmu bisa hancur jika salah ambil langkah
Ilfa Yarni
ngapain tuh mantan dtg pasti minta balikan enk aja arga udah bahagia tau Lo gangguin LG dasar perempuan ga tau diri ga punya malu
Ilfa Yarni
cie... Hania hamil kembar ya selamat dong.... arga
ida suryo: moga sehat selalu ya Hania nya... lancar hamidunnya 🤗
total 1 replies
Ilfa Yarni
ayo Lo galih ketangkap basah ternyat Lo player jg ya kirain lirs2 aja ternyata tidak hadeeh
Ilfa Yarni
aduh hati2 dong tar ketahuan lg
Ilfa Yarni
cie cie Hania hamil pd seneng dah tuh semua
Ilfa Yarni
hahahah galih2 ketangkap basah kan Lo sama arah lg
Ilfa Yarni
udah jadiin Thor biar galih ada pndampingnya
Ilfa Yarni
udah jadian aja mrk Thor kasian galih kelamaan jomblo
Ilfa Yarni
hamil makaudnya m nya ilang hihi
Ilfa Yarni
wah !hania hil ank Arga nih skr
Ilfa Yarni
,udah galih sama syana aja tp sayang mukanya dooplas
Ilfa Yarni
akhirnya satu persatu masalah mulai terungkap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!