Vanila didesak keluarganya untuk segera menikah. Arshaka Bimantara tiba-tiba saja menggantikan Seno, pacarnya yang tiba-tiba kabur saat Vanila meminta melamarnya. Ketampanan dan sikap manis Shaka membuat Vanila tak berpikir lama untuk mengiyakan ajakannya, dari pada harus menunggu Seno yang tak ada kabar.
"Vanila, apa begitu susahnya membuka hatimu sedikit saja untukku?" ~Shaka
"Jangankan membuka hati, membuka baju pun aku rela, Mas!" ~Vanila
Siapa laki-laki yang bernama Shaka itu sebenarnya?
Bab 1-63 (End)
***
Empat tahun menjaga jodoh orang, membuat Junior Reynand Winata atau biasa disapa Jr merasa dirinya terpuruk saat mengetahui kekasih yang ia pacari selama ini hamil dengan teman dekatnya sendiri. Seolah ditusuk dari belakang, Jr menyesal selama ini telah menjaga kehormatan gadis yang ia pacari itu.
Mencoba mencari pelampiasan, tapi yang ada hidupnya semakin jungkir balik saat bertemu Bia, gadis yang dijual oleh kakaknya sendiri untuk menemani Jr malam itu sebagai penebus utang padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okta Diana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau Disentuh Bagian Yang Mana
" ... baiklah besok aku akan ke sana!"
Terdengar samar-samar saat aku mulai membuka kelopak mata. Terlihat si punggung atletis itu sedang menempelkan hpnya di telinga, pengen rasanya memeluknya dari belakang. Ah, bisikan dari mana lagi ini?
Setelah mengetahui pergerakanku, Mas Shaka langsung menutup teleponnya.
"Kamu sudah bangun, Vanila?"
Aku menggeliatkan tubuh menatap laki-laki yang semalam tak menyentuhku itu. Jadi para penonton, kalian jangan suudzon dulu! Mas Shaka kayaknya bener-bener gak mau menodaiku sebelum waktunya tiba. Aku bangga padanya, gimana gak semakin cinta coba?
"Kamu gak tidur semalam, Mas?" tanyaku sembari menurunkan kaki di lantai. Semalam aku ngelihat dia mainan hp di sofa. Setelah itu aku tertidur.
"Ya tidur lah. Cepat mandi! Aku sudah membelikan baju untukmu!"
"Benarkah?" Aku merasa lega mendengarnya.
Dia berdehem. "Semoga kamu suka!" ucapnya menunjuk baju yang dibelikannya.
Aku melihat dia juga membelikanku pakaian dalam. Semua ukuran juga sama dengan yang biasa aku pakai sehari-hari. Kok dia bisa tau?
Jangan-jangan semalam dia ....
"Ayo mandi!" tegasnya.
"Mas Shaka kok tau ukuran bra yang biasa aku pakai?" tanyaku dengan memberanikan diri tanpa mengindahkan seruannya.
"A-ku ...." Dia tergagap.
"Apa Mas Shaka mengukurnya semalam saat aku tidur?"
"Hah? Ya enggak lah." Wajahnya semakin memerah. "Aku hanya mengira-ngira saja! Sudah, cepat mandi! Nanti Papamu mencari."
Waduh, bicara soal Papa, bisa-bisa sampai rumah aku dicincang habis nih.
"Mas ... kita gak usah pulang, ya?" usulku mungkin konyol, tapi aku takut jika Papa dan Mama marah.
"Jangan takut! Aku akan tanggung jawab jika orangtuamu marah, kalau kita gak pulang yang ada mereka akan marah," ucapnya dengan tegas. Aku menyunggingkan bibir menyukainya. "Cepat masuk kamar mandi!"
"Ini 'kan masih pagi, kenapa harus buru-buru!" gerutuku tak suka.
Mas Shaka berdecak dan memijat dahinya sepertinya dia kesal dengan tingkahku. "Kalau kita berduaan di sini lebih lama, aku takut gak mampu menahannya, Vanila!"
"Nahan apa? Kenapa harus ditahan?" tanyaku menggoda.
Mas Shaka berjalan pelan mendekatiku. Tiba-tiba saja ia menarik pinggangku untuk mendekat ke tubuhnya. Jarak kami begitu dekat. "Jangan membangunkan singa yang sedang tertidur, Vanila!"
Aku mencebikkan bibir dan mengangguk lemas. Bukannya aku gak bisa jawab, tapi aku belum sikat gigi. Kebayang dong kalau Mas Shaka menghirup dan ilfeel duluan sebelum kita menikah.
Kami keluar dari hotel, Mas Shaka begitu tampan dengan kaus berwarna putih dan celana jeans yang ia pesan tadi. Kami di dalam mobil dan bersiap pulang. Dia terus memandangiku, aku kok jadi kikuk gini, ya?
"Kamu cantik pakai baju itu, Vanila!"
Aku menghirup dalam oksigen mendengarnya. Sumpah, nih oksigen kenapa makin sedikit aja perasaan. Dipuji kayak gini mau meninggoy aja rasanya. "Gombal ah, kamu!" Aku menyembunyikan wajahku. Pasti pipiku ini udah kayak kepiting rebus.
"Bukannya wanita suka digombali?" tanyanya seolah menantang. Wah bener-bener nih cowok, aku harus jawab apa?
"Em ... aku gak suka digombali!" tegasku tapi bohong.
"Baiklah aku gak akan mengucapkan kata gombal. Tapi, percayalah kenyataannya kamu cantik, Vanila."
"Kalau aku cantik, kenapa kamu semalam gak mau nyentuh aku?"
Aku cuma mau denger alasan dia pemirsa, yang mikir aku murahan, aku lempar sepatu juga nih lama-lama.
"Oh, jadi kamu pengen aku sentuh? Kenapa gak bilang?" Mas Shaka mendekatkan wajahnya padaku. Ini dada kenapa jadi kembang kempis gini ya? Dia menarik sabuk pengamanku dan membantu menguncinya.
"Itu Mas, a-aku cuma ...."
"Mau disentuh bagian yang mana, hem?"