Aku Rania, bukan Dila saudari kembarku. Berkali-kali aku harus menjadi dia karena keadaan. Tapi aku bukan dia, sekeras apapun aku mencoba menjadi dia, aku hanya akan berakhir menjadi diriku sendiri.
Aku Dila, bukan Rania saudari kembarku. Aku adalah aku, aku tidak mau menjadi dia. Aku bahkan tak mau membayangkan jadi dirinya. Sebanyak apapun kalian meminta aku untuk bisa sedikit seperti dia, maaf aku tak bisa. Aku bukan dia, aku adalah diriku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RatihShinbe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Hari minggu.
Rania bersiap merapikan pakaian yang sangat jelas semua adalah gaya Dila, dia memasukkan beberapa ke koper kecil untuk tinggal di Australia. Dina sedang menghubungi orang yang bekerja di Australia untuk mengirimkan mobil untuk menjemput mereka nanti. Bondan masih bersiap di kamarnya.
Dina masuk ke kamar Rania.
"Ini, paspor mu. Nanti usahakan untuk disembunyikan di tempat yang aman. Jangan sampai orang lain tahu tentang Rania!" ucap Dina.
Rania mengambilnya dan menyimpannya. Dia mengangguk lalu ikut bersama Dina ke bandara. Bondan menyusul dengan mobil lain.
Di pesawat Rania memandang langit dan awan yang sedang dia lewati. Untuk pertama kalinya dia naik pesawat, tak ada kesan yang manis. Hatinya terus menolak untuk pergi tapi pikiran dan raganya ikut kemana pun Dina memintanya.
Bondan yang duduk di sebrangnya menatap Rania tanpa berkerdip. Dina yang sedang memeriksa pekerjaan, sesekali melihatnya dan merasa bahwa Bondan mulai menyukai Rania.
Ada perasaan cemburu di hati Dina, namun melihat sifat Rania membuat Dina tak begitu khawatir dengan hal itu.
###
Australia, kediaman Atmajaya.
Seorang pelayan mengantarkan buah untuk di santap Beni yang sedang duduk memeluk lututnya di depan jendela kaca.
Mata sayu, penampilannya kacau, sedang menatap kosong ke arah pemandangan diluar rumah. Tubuhnya bergerak-gerak seolah sedang duduk di kursi goyang. Raut wajahnya jelas gusar dan sangat sedih.
Seorang pria dengan seragam pelayan rapi, masuk ke kamarnya dengan membawa nampan makan siang. Beni hanya melirik dan kembali termenung. Pria itu menyiapkan piring makanan dan minum yang harus dimakannya.
Dengan gugup dan perlahan, pelayan itu mendekat pada Beni. Seolah akan menghadapi sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Dia bersikap sangat hati-hati, namun Beni bicara dengan nada lemah dan menyuruhnya pergi.
"Aku akan makan sendiri, pergilah!"
"Baik Pak!" jawab pelayan itu.
Pelayan itu berhenti dan menghela nafas, seolah sudah lolos dari tantangan terberat. Dia pergi dengan riang.
###
Bondan, Dina dan Rania sampai di rumah Atmajaya. Turun dari mobil, Rania menatap seluruh bangunan kediaman mereka. Bondan dan Dina menatapnya.
"Kenapa? Terlalu besar ya?" tanya Dina
Rania tersenyum dan mulai dengan tingkahnya sabagai Dila.
"Iya, besar!" jawabnya riang.
Bondan melihat ada yang lain yang dia sembunyikan dari senyuman dan jawaban singkatnya.
Rania mengambil tasnya dan berjalan perlahan di belakang Dina. Benar saja, apa yang dipikirkan Rania bukanlah tentang ukuran atau seberapa megah kediaman Atmajaya, namun apa yang akan dia hadapi ketika melangkah masuk ke sana.
Rania dan Dina menunggu di ruang tamu, saat Bondan mencari ibunya ke bagian dalam rumah. Rania terlihat gugup dan tak nyaman duduk di sofa. Dina memperhatikannya, lalu perlahan mendekat dan memegang tangannya.
"Hanya sampai Beni mau melepaskan mu dengan rela. Kau sudah bisa keluar dari masalah ini. Aku tau ini gak mudah, tapi aku yakin kamu bisa!" ucap Dina.
Rania hanya memandang wajah Dina yang sangat manis saat mengkhawatirkan orang di sekitarnya. Lalu Dina tersenyum dan membuka laptopnya.
###
Bondan mencari ibunya di kamar, hendak memberitahukan kedatangan Dila. Namun ibunya sedang di ruang makan bicara dengan pelayan yang mengurus Beni. Mereka terlihat sedang serius bicara.
"Kenapa kau cepat keluar?" tanya Anita.
"Tuan Beni mau makan sendiri Bu!" jawab Hedi.
Anita membelalakkan matanya dan terlihat marah.
"Kamu ini....gimana bisa dia makan sendiri. Kamu setiap hari paksa dia bahkan gak sesuap pun masuk ke mulutnya!" cecar Anita pada Hedi.
Bondan yang baru datang pun hanya mendapat telapak tangan yang dihadapkan pada wajahnya, tanda bahwa Anita, ibunya, sedang tidak mau disela. Bondan mengerti dan terdiam.
Hedi menunduk dan menyesali keputusannya keluar sebelum Beni makan.
"Udah sana beresin!" perintah Anita.
Hedi hendak pergi ke dapur dan membersihkan meja makan. Namun dia terdiam saat menyadari sesuatu. Matanya membelalak menatap majikannya. Anita mengangkat alisnya seolah bertanya.
"Pisau buah!" ucap Hedi.
Dia tak sengaja meninggalkan pisau buah di kamar Beni, satu hal yang fatal dilakukannya. Anita mengerutkan dahinya lalu memalingkan wajah menuju kamar Beni. Bondan merasa tak aneh lagi, Beni akan melakukan hal bodoh lagi.
Anita, Bondan dan Hedi berlari menuju kamar Beni dan menggedor pintu dengan keras.
"BENK! IBENK!" teriak Anita.
Bondan berusaha membuka pintu, sementara Hedi mencari kunci serep kamar Beni.
Dina dan Rania yang masuk karena terlalu bosan menunggu. Mereka saling berpandang saat melihat Bondan dan ibunya sedang berusaha membuka pintu kamar dan Hedi yang hilir mudik mencari seseuatu.
Dina ikut panik dan membantu mencari kunci serep. Sementara Rania hanya termangu menatap mereka.
'situasi apaan ini? kenapa dia ngunci pintu sendiri?' tanya hati Rania.
Saat panik, Bondan melihat Rania yang berdiri menatap mereka. Dia mendapat ide untuk membuat Beni membuka pintu kamarnya. Bondan menarik Rania ke depan pintu.
"Panggil dia!" ucap Bondan.
Rania tergagap, dia ikut panik dan sulit mengucapkan apapun. Namun sesuatu yang tak diduga terjadi, Anita menarik bahu Rania dan menatapnya dengan marah. Anita menampar Rania dengan begitu keras.
"PLAAKKKK!" suara tamparan terdengar bergema di ruangan luas itu.
Semua orang terdiam. Rania pun terdiam terkejut sambil menatap Anita yang terlihat sangat marah.
"Mom!" tagur Bondan.
Anita tak memperdulikan anaknya yang berusaha melerai.
"BERANI KAMU DATANG KEMARI?" teriak Anita.
"Mom! Apa-apaan sih? Kenapa nampar Dila?" tanya Bondan.
Nafas Anita tersengal, dadanya terasa sesak karena amarahnya.
"ANAK INI....ANAK INI YANG NYURUH BENI BUAT BUNUH DIRI!" Anita semakin histeris.
Dia tak mampu menahan amarah dan menangis meratapi nasib anaknya. Bondan dan Dina terkejut dengan perkataan ibunya. Mereka saling bertukar pandang, tak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya.
Ditengah gerung tangisan Anita, pintu kamar Beni terbuka. Semua menatap ke arah Beni yang keluar dari kamar dengan pergelangan tangannya yang berlumuran darah.
Rania melihat darah mengucur dari tangan Beni. Rasa sakit di pipi akibat tamparan ibu Beni sudah menghilang. Rania sekarang sedang merasakan sakit ditangannya, seolah tangannya yang telah disayat dan berlumuran darah.
Beni menatap Dila yang sangat dia rindukan. Tangan kanannya membelai rambut dan pipi Dila. Tangisnya keluar ungkapan rasa rindu yang terbayarkan saat melihat Dila ada dihadapannya.
Beni tersenyum dan menyebut nama Dila dengan lirih, lalu memeluknya. Rania yang masih ketakutan melihat darah, tak sedikitpun bergerak dalam pelukan Beni. Namun saat Beni terjatuh karena lemas, Rania memeluk dan menahannya agar tubuhnya tak jatuh ke lantai.
Rania berusaha duduk perlahan dan menidurkan Beni dipangkuannya. Beni terus menatapnya dan masih tersenyum bahagia. Anita menangis melihat anaknya kembali menyayat pergelangan tangannya.
Semua orang panik. Dina langsung lari menyiapkan mobil. Bondan mengikat pergelangan tangan Beni dengan kain panjang. Hedi membantu mengangkat Beni bersama Bondan dan membawanya ke mobil. Mereka pergi ke rumah sakit.
Beni ditangani dan masuk ruang operasi. Ini kali ketiga dia menyayat pergelangan tangannya. Semua orang menunggu, Anita menangis tak henti. Bondan menahan tubuh ibunya yang lemah itu.
Rania dan Dina berdiri agak jauh menghindari ibu Beni kembali marah. Dina menatap Rania yang terlihat pucat.
"Kamu ga kenapa kenapa kan?" tanya Dina.
Rania menggelengkan kepalanya.
"Muka kamu pucat banget" ucap Dina sambil mengusap wajah Rania.
Dina melihat pakaian Rania penuh darah. Tangan Rania pun bergetar.
"Ayo kita ke hotel untuk mandi trus makan. Kamu pasti syok!" ajak Dina.
Sebelum mereka pergi, Anita melihat mereka dan langsung menghampiri. Kembali Anita menampar Rania yang dimatanya adalah Dila.
Bondan tak bisa menahannya, namun dia kembali menegur ibunya.
"Mom! Sudah! Kasihan Dila"
Bondan menahan tubuh ibunya.
"Tidak! Mami ga akan pernah memaafkannya. Kamu lihat Beni, ini ketiga kalinya dia mencoba bunuh diri. Nadinya sampai harus dioperasi. Ini karena dia sudah asal bicara menyuruhnya bunuh diri"
Anita tak henti menunjuk wajah Rania dengan amarah. Rania hanya terdiam dan menahan sedu sedan tangisnya. Hanya air mata yang mengalir dan wajah pucat nya yang terlihat.
Bondan menarik ibunya perlahan dan duduk di kursi tunggu. Sementara Dina mengajak Rania untuk berganti pakaian.
Bondan berusaha membuat ibunya mengerti dan menjelaskan kedatangan Dila di sana.
"Mom, apa momy gak lihat? Dila ketakutan tadi, sekujur tubuhnya penuh darah Ibenk"
Anita masih menangis, namun dia melihat Dila yang menjauh dan masuk lift bersama Dina.
"Dila datang, aku yang ajak" ucap Bondan.
Anita menatap Bondan kesal.
"Aku mau Dila kembali sama Beni. Biar Beni sembuh dan Momy berhenti khawatir sama Beni" jelas Bondan.
Anita tak menjawab, dia terlihat sangat lemah memikirkan Beni yang berada di meja operasi. Bondan berhenti bicara dan memeluknya.
###
Melbourne Hotel.
Rania masuk ke kamar setelah bersama Dina chek in di lobi. Dina melihat kegugupan Rania belum berhenti.
"Mandilah! Kita harus kembali setelah makan" ucap Dina.
Rania tak menjawab, dia hanya mengambil handuk dari kopernya lalu masuk ke kamar mandi. Tanpa membuka pakaiannya dia menyalakan shower dan mandi. Tangisnya bersatu dengan air yang mengalir dari kepalanya.
Rania merasa sangat takut, dia sering ditampar oleh ibunya sering melihat darah dari kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Tapi kejadian hari ini membuatnya sangat takut dan merasa tak adil.
"Aku bukan dia! Aku bukan Dila! Tapi aku mendapatkan hukuman karena menjadi dia!" lirih suara Rania.
Larut dalam kesedihan, Rania mengingat hal-hal yang sangat dia rindukan dari mendiang ayahnya. Begitu terlihat dalam bayangannya tentang sang ayah yang selalu memeluknya saat dia ketakutan.
Setelah beberapa lama, Dina mengetuk pintu kamar mandi. Dia terheran karena Rania begitu lama.
"Rania...tidak..maksudku DILA!"seru Dina.
Tak ada jawaban, Dina mengetuk lagi lebih keras. Pintu kamar mandi terbuka, Rania keluar dengan pakaian baru dan rambut basahnya.
"Keringkan rambutnya, cepat! aku tunggu di lobi!" ucap Dila.
Rania bersiap dan bergegas ke lobi. Saat di lift seorang pria asal Melbourne menyapanya.
"Hi? My name Daniel? You stay here?" tanyanya mengakrabkan diri.
"Ya!" jawab Rania singkat.
"What's your name?" tanya Daniel.
"Rania!" jawab Rania.
"Nice to meet you!" ucap Daniel.
Rania melihat liftnya sudah sampai di lobi. Dia bergegas keluar menemui Dina. Daniel merasa diabaikan. Dia pergi ke arah restoran.
Dina mengajak Rania untuk makan terlebih dahulu, namun Rania menolak.
"Ngga...! Makan di rumah sakit aja" ucap Rania.
Dina menatapnya sejenak.
"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Dina penasaran.
Rania membalas tatapannya dengan mengangkat kedua alisnya.
"Maksud aku, kalo kamu takut bilang takut, kalau kamu ga suka bilang suka. Jangan terlalu memaksakan diri" ucap Dina.
Rania mengalihkan arah pandangannya ke tempat lain.
"Apa bisa kayak gitu?" Rania balik bertanya.
Dina merasa apa yang dia bicarakan tak salah, namun Rania melanjutkan bicaranya.
"Sekarang aku adalah Dila, Rania tak berhak meluapkan semua perasaannya. Entah itu takut, sakit atau hal lain. Benarkan?" jelas Rania.
Rania berjalan menuju keluar hotel. Dina menghela karena kesal atas sikap yang Rania keluarkan saat dia berusaha mengerti posisinya. Dina pun menyusul Rania.
Tiba di rumah sakit.
Operasi sudah selesai, Bondan memberitahu semuanya melalui ponsel Dina. Dina dan Rania langsung menuju ruangan VVIP, tempat pemulihan Beni.
Terlihat Dokter sedang bicara dengan Anita dan Bondan.
"Kali ini dia masih bisa tertolong, aku sudah katakan untuk mengawasinya. Tolonglah!" ucap Dokter.
'Dokter itu bicara dalam Bahasa, mungkin dokter pribadi keluarga' pikir Rania.
Anita hanya menelan ludahnya, Bondan hendak menjawab namun Anita menghalangi dengan memegang lengannya.
"Datangkan Dila, dia terus menyebut namanya saat operasi. Siapa tahu bisa membantu!" lanjut Dokter.
Anita membelalakkan matanya seolah tak ingin mendengar namanya lagi.
"Ya, kami akan datangkan dia. Mulai sekarang, Dila yang akan merawat Beni" ucap Bondan tegas.
Anita menatap Bondan.
"Tapi...!"
"Ngga Mom, sekarang semua aku yang atur. Momy istirahat pulihkan kesehatan Momy sendiri. Soal Beni, biar aku yang urus"
Bondan melepas tangan Anita.
"Ya, seharusnya sejak dulu Beni kamu yang tangani. Kadang Om ngga habis pikir, apa bagusnya Dila. Jadi penasaran gimana anaknya!" ucap Dokter Brian.
"Ok om, makasih!" ucap Bondan.
'oh...itu omnya. masih keluarga' ucap hati Rania.
Dokter Brian pergi melewati Dina dan Rania. Dia tersenyum pada Dina.
"Hai Din?" sapa dokter.
"Hai om!" jawab Dina.
Matanya menatap Rania dengan penasaran, kemudian tersenyum membalas senyuman Rania yang manis.
Rania dan Dina mendekat. Bondan menyambut Dina dengan membuka kedua tangannya untuk pelukan. Dina memeluk Bondan.
"Gimana Ibenk?" tanya Dina.
"Ya...jika terjadi lagi. Dia mati!" ucap Bondan.
Anita melotot pada Bondan.
"Abaaanng!" ucap Anita.
"Cckk...iya..iya" ucap Bondan menyesal.
Rania masih diam menunggu mereka saling menjawab. Sementara Anita sedang menatapnya dan berpikir. Rania tak berani menatap mata Anita.
"Kamu!" tegur Anita.
Rania terkejut.
"Ya!" jawab Rania.
"Ini semua gara-gara kamu ya! Kamu..."
Belum selesai Anita bicara, Bondan sudah menyelanya.
"Harus bertanggung jawab" ucap Bondan tegas.
Semua mata memandang Bondan.
"Sekarang masuk, bicara dengannya. Katakan kamu menyesal meninggalkannya. Aku mau antar Momy cek kesehatan di bawah!" ucap Bondan.
Bondan langsung pergi, dia juga menarik Dina bersamanya. Anita yang tak mau, dipaksa dan dipeluk Bondan.
Rania hanya bisa diam dan menatap mereka berlalu masuk ke dalam lift dan hilang dari pandangannya. Kini hanya tinggal dia sendiri berdiri termangu di depan pintu kamar VVIP.
Saranghaeyo 🥰🥰
tapi ya terserah yang buat cerita
gk ada yg jelas malah bikin rusuh tambah malah makin banyak
terimakasih sudah mampir ya🥰🤭🤗
😭