NovelToon NovelToon
Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:860.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dwi Rohyati

"Aku menikah lagi, dan kuharap kamu bisa menerinya sebagai istri kedua ku dengan rela. Dia orang baik." kalimat yang diucapkan dengan santai oleh Mas Andre suamiku namun bagaikan petir di telingaku

Duniaku terasa berhenti berputar saat itu. Selama ini aku merasa rumah tangga ku akan baik-baik saja. Aku menilai Mas Andre adalah pria setia. Tapi sungguh, mataku baru terbuka. Jika yang namanya pria susah untuk setia.

Itu adalah perasaan Hayati Nur Zafira saat Andre suaminya mengatakan bahwa ia telah menikah lagi dan bermaksud menjalani kehidupan poligami. Hayati tidak bisa menerima itu, namun sebagai wanita yang tahu ajaran agama, ia tidak pantas memutuskan untuk minta cerai begitu saja. Ia berusaha menyelesaikan badai rumah tangganya ini sesuai yang ajaran agamanya. Dalam pencarian nya, ia menemukan banyak hikmah dan juga bertemu dengan seseorang yang baru.

Akankah Hayati tetap mempertahankan rumah tangganya atau mencoba membangun yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Om Hero

"Ryan, ayah sedang..."

"Eh Ryan pernah lihat atraksi lumba lumba?" Alan memotong ucapanku.

"Pernah Om. Dulu,sama bunda dan temanku." jawab polos Ryan.

"Mau lihat lagi?" tanha Alan.

"Mau..mau..om." jawab Ryan dengan wajah ceria. Ia sudah melupakan pertanyaannya tentang wanita yang bersama dengan Mas Andre.

"Bagaimana kalau hari Minggu ini kita melihatnya?" ajak Alan.

"Horee...iya Om!" Ryan bersorak senang.

"Tapi ajak bunda." bisik Alan. Aku langsung menoleh.

"Bunda ya...kita lihat lumba-lumba ya!" Ryan mulai merengek. Alan tersenyum melihat Ryan merayuku.

"Bunda nggak bisa. Bunda ada kerjaan hari Minggu ini."

"Ryan, bilang ke bunda, kerjaannya ditunda sama bosnya." kata Alan.

Aku menatapnya sekilas.

"Iya bunda. Hari Minggu kan mestinya libur. Ayolah bunda, Ryan sudah lama tidak jalan-jalan. Ryan bosan di rumah terus. Bunda mau Ryan stres."

Mendengar kalimat Ryan, Alan tergelak. Aku tertawa kecil karena merasa lucu dengan kata-kata Ryan.

"Iya..iya..apa kata besok Minggu."jawabku menenangkan Ryan.

"Horee.." seru Ryan.

"Tos dulu!" Alan menjulurkan tinjunya ke arah Ryan dan mereka melakukan tos. Sepanjang perjalanan ku dengar Alan bersenandung kecil.

Aku merindu ku yakin kau tahu

Tanpa batas waktu ku terpaku

Dalam hati aku tersenyum. "Korban sinetron." batinku.

"Maaf Ra, aku nggak bisa menjaga Ryan. Aku ada keperluan mendadak." kata kakak iparku yang biasa aku titipi Ryan selama aku kerja.

"Yaa mbak. Terus bagaimana?" aku bingung.

"Bawa saja ke kantor!" titah Alan. "Ruan mau kan ikut bunda ke kantor?" tanya Alan. Ryan mengangguk.

"Lan..dia bisa mengganggu aku bekerja." kataku.

"Nggak akan. Biar dia bersamaku nanti. Ayo..bentar lagi kita telat lo." Alan menggandeng Ryan meninggalkan rumah kakak.

"Kak aku pergi dulu. Assalamualaikum." pamitku.

Bergegas aku menyusul Alan dan Ryan yang sudah kembali ke mobil.

"Ryan janji nggak boleh mengganggu kerjaan bunda dan om Alan ya!" pintaku pada Ryan.

"Iya. Ryan janji." jawab Ryan polos.

Tak berapa lama kami sampai di gedung tempat kami bekerja. Alan langsung menggandeng Ryan masuk ke gedung begitu mereka turun dari mobil. Aku mengekor saja di belakang mereka.

"Pagi Ra..eh ada Ryan. Oh..maaf pak!" sapa Dewi yang langsung salah tingkah saat melihat Alan.

"Iya nggak papa." jawab Alan dengan tenangnya. "Ayo Ryan, kita masuk!"

Alan membawa Ryan ke ruangannya.

Aku masuk ke ruanganku diikuti Dewi.

Ku taruh tasku ke atas meja. Aku mulai menyalakan laptopku.

"Ra...kau baik baik saja kan!" tanya Dewi tiba-tiba.

Aku menoleh dan memandang heran ke arah Dewi ,"Aku baik. Kenapa mendadak kau bertanya begitu?" jawabku.

Dewi mengambil kursi dan duduk di sebelahku. "Ra...aku ingin menyampaikan sesuatu. Tapi ku mohon kamu jangan kaget dan sedih." kata Dewi. Aku menghentikan kegiatanku yang sedang mencoba membuka arsip di laptopku. Aku menghela napas.

Apakah Dewi mengetahui tentang Mas Andre

"Katakan saja, Dew!" printahku.

"Aku melihat Mas Andre bersama wanita lain." akhirnya keluar juga kalimat itu. Aku tersenyum kecut.

"Kenapa kamu biasa saja menerima berita ini?" tanya Dewi.

"Lalu aku harus bagaimana kalau kenyataannya seperti itu." jawabku sambil kembali dengan aktivitasku.

"Jadi kau sudah tahu?" seru Dewi kaget.

Aku mengangguk. "Sudah dua bulan yang lalu." jawabku pendek.

"Dan kau diam saja?" tanya Dewi lagi.

Aku hanya tersenyum. "Lalu aku harus bagaimana?"

"Ra...tinggalkan Andre!" kata Dewi. Ia tidak lagi memanggil Mas pada Mas Andre. Mungkin ia merasa sakit hati dengan kelakuan Mas Andre.

Aku kembali tersenyum tipis. Sudah dua orang yang memintaku meninggalkan Mas Andre.

"Ra..ku lihat Bos Alan begitu perhatian padamu. Kenapa kamu tidak mencoba menjalin hubungan dengannya?" tanya Dewi

Ku toleh Dewi dan ku cubit lengan gemolnya. Dewi mengaduh.

"Saranmu menyesatkan!" jawabku.

"Kenapa menyesatkan. Andre sudah menkhianatimu. Kamu balas donk. Lagipula, Bos Alan menang banyak dibanding Andre. Bujang, tampan, mapan. Benar-benar nyaris sempurna." puji Dewi.

"Kenapa nggak kamu saja yang menjalanin hubungan dengannya?" ku kembalikan pertanyaan Dewi.

"Ck...kau pikir aku tidak mau. Sayangnya Bos hanya tertarik padamu." jawab Dewi sambil.memanyunkan bibirnya.

ting

Ada pesan masuk ke ponselku.

"Pasti dari Bos, panjang umur dia. Sudah...sana. Aku mendukungmu. Pria tidak setia macam Andre jangan dipiara. Tinggalin saja." kata Dewi sambil.meninggalkan ruanganku.

Ku baca pesan yang memang dari Alan. Ia memintaku ke ruangannya.

"Apa Ryan rewel." gumamku. Aku segera menuju ke ruangan Alan.

"Assalamualaikum!" salamku sambil membuka pintu ruangan Alan.

"Waalaikumsalam." jawab Alan.

Aku kaget melihat pemandangan di dalam ruangan Alan. Ku kira Alan sedang bekerja, tapi ia malah sedang duduk sambil mangku Ryan di kursi kerjanya. Ia mengajari Ryan permainan di laptopnya.

"Ryan turun! Jangan ganggu kerjaan om Alan. Lagian kamu dah besar pasti Om Alan merasa berat kamu minta pangku begitu." tegurku pada Ryan sambil mendekat kemeja Alan.

"Ryan tidak berat dan juga tidak menganggu. Tapi kalau kamu yang afa di sini, meski sedikit berat aku akan menikmatinya." jawab Alan sambil menunjuk ke pangkuannya.

"Alan!" tegurku sambil.memberi isyarat dengan mata kalau ada Ryan.

Ku lirik Ryan, aku takut anak itu terpengaruh dengan ucapan asal Alan.

"Oo...jadi kalau nggak ada dia nggak papa?" goda Alan dengan senyum jahilnya.

"Sudah..sudah!" Aku menghentikan candaan Alan. Ya..apapun yang keluar dari mulut Alan aku anggap sebagai candaan dia semata. "Ada apa kamu memanggilku?" tanyaku. Ku lihat tidak ada masalah dengan Ryan, jadi Alan memanggilku bukan karena Ryan.

"Ryan duduk dan main sendiri ya! Om ada perlu sama bunda." kata Alan. Ia berdiri dan mengangkat tubuh Ryan lalu mendudukan kembali anak itu di kursinya.

Alan mengajakku berbincang di sofa.

"Bacalah!" perintah Alan sambil memberikan sebuah surat yang ada di meja. Aku mengambil surat itu dan mulai membacanya.

"Diklat?!" tanyaku kaget.

"Ya! Dan kau tahukan ini diklat apa?" tanya Alan lagi. Aku mengangguk. Diklat untuk mereka yang akan naik jabatan.

"Selama!" Alan mengulurkan tangannya. Aku tersenyum dan mengangguk.

"Yaaahhh! Ku kira saking senangnya kau akan menjabat tanganku tanpa berpikir dua kali." kata Alan kecewa. Aku tertawa lirih.

"Tapi bagaimana bisa?" gumamku.

"Kenapa tidak bisa. Sudah waktunya bagimu untuk mendapatkan penghargaan atas kerja kerasmu selama ini. Pangkatmu juga baru naik kan? Jadi wajar kalau kamu dapat promosi jabatan. Dan tahun depan banyak yang akan pensiun." alan menjelaskan.

"Tapi kamu tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini kan?" tanyaku menyelidik.

"Maksudmu, promosi kamu ini karena aku yang mengaturnya? Tidak percaya diri banget jadi orang." ejek Alan.

"Bukan begitu. Aku hanya tidak mau dianggap mengandalkan koneksi. Secara kamu adalah teman baikku." jawabku jujur.

Alan menghela napas, " Itulah. Aku hanya teman baikmu. Tak lebih. Jadi aku juga tidak akan berbuat melebihi kapasitasku sebagai teman baik." kata Alan sarkasme. Ia tersenyum pahit.

"Maaf!" gumamku tanpa sadar.

"Ok, aku memaafkanmu hanya jika hari Minggu nanti kau mau ikut aku ke taman safari. Aku sudah janji pada Ryan. Jangan buat namaku buruk di hadapan anak itu. Baginya aku hero." pinta Alan setengah memaksa.

"Hero?!"

"Ya! Dia sendiri yang bilang." kata Alan bangga.

Aku terkikik geli.

"Kamu nggak percaya?" Alan tampak tidak suka. "Hai Ryan, ini siapa?" tanya Alan pada Ryan sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Om hero Alan." jawab Ryan pendek lalu ia kembali asyik dengan gamenya

Alan tersenyum bangga. Ia menaikkan alisnya beberapa kali sambil.melihatku.

Ya Allah. Apakah Mas Andre mulai tergeser di hati Ryan karena ia sudah mulai sering mengabaikan anak itu. batinku.

1
Andini Hana Fakhirah
yang kuat ya Fira
Andini Hana Fakhirah
kasihan banget Elsa
Andini Hana Fakhirah
tetap jaga harga diru Fira...
Andini Hana Fakhirah
Luar biasa
Andini Hana Fakhirah
waduj bingung nih..
Andini Hana Fakhirah
suka ceritanya.
Andini Hana Fakhirah
kasihan fira, masa disuruh poligami lagi?
Holipah
lanjutan nya mna kak
Elis Nurida
sangat bagus
Lina RA
apapun alasan@, alan tetep pebinor
sita
sebenar nya bagus ini cerita nya .tapi mungkin belum banyak yg baca.
Jumi Atin
kirain pisang molen🤣🤣
Eka Widya
paling suka sm karakter anita.dia tidak pernah menyalahkan fira atas sikap alan padanya.dia bisa menerima kenyataan cinta tidak berpihak padanya untuk saat ini.smg d akhir cerita anita menemukan cinta sesungguhnya.semangat kak😘😘😘
Zuli Lestary
alur kehidupan terkadang begitu misteri.. T'kan pernah tau kemana langkah hidup kan membawa...
untuk sebagian org takdir begitu kejam tuk sebagian lagi takdir begitu indah.
mahligai dgn 1 perahu tnpa karam..
semoga kita dalam ketetapan alur_NYA&Ridho_NYA🤲
Suherni 123
biar Ardi di urus ayah kandung nya aja
Tati Suwarsih Prabowi
elsa mau nerebut kembali salman
Tati Suwarsih Prabowi
wooow iko uwais...
Tati Suwarsih Prabowi
benar2 y s andre ini g berkaca...la sendirinya yg bikin ulah
Tati Suwarsih Prabowi
katanya ilmunya agamanya tapi akhlaknya pd miring y
Tati Suwarsih Prabowi
mulutnya andre racun...katanya soleh tapi perilakunya rusak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!