Nama gue Zahra pindahan dari Jakarta ke Bandung, semenjak perusahaan Bokap gue bangkrut akhirnya gue dan keluarga putuskan sekolah di Bandung dan menemukan cinta sejati gue di Bandung. yang susah banget meluluhkan hati pria ini sampai gue bisa mendapatkan hatinya. cinta gue penuh rintangan yang harus kita berdua hadapi.. mau tau lanjut ceritanya mampir dulu yuk ke cerita yuli cinta cowok dingin.
happy reading ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli sumarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Akhirnya gue ikut renang, meskipun tidak merasakan seperti anak-anak lain. Demi penilaian sekolah gue. Bel pulang berbunyi gue pun keluar kelas.
"Ra, bareng yuk!" Bima mengajak gue pulang bareng.
"Benaran?" gue meledek Bima.
"Gak mau, ya udah gue pulang sendiri aja!" Bima melangkah sambil tersenyum.
"Bima, mau!" gue menarik tangan Bima.
"Ya udah, ayo!" Bima sudah bisa tersenyum manis.
"Zahra, lo balik sama gue! Tio menghalangi jalan gue bersama Bima.
"Apaan lo, emang lo siapa gue! pacar aja bukan, udah berani narik-narik gue." Gue mendorong Tio.
"Ayo Bim! gak jelas nih orang! gue langsung menarik Bima.
"Banyak juga yah yang naksir lo, muka gue sampai korban berapa kali nih!" Sambil menunjuk ke wajahnya.
"Yah maaf, oh iya, gue belum bisa ganti slayer lo, nanti yah!" gue tersenyum.
"Gak usah di ganti sama slayer! nanti gue minta ganti yang lain aja!" sambil menatap gue tajam.
"Lo mau minta ganti apa? bilang aja!" gue penasaran.
"Nanti aja! ntar juga lo tahu sendiri." Bima tidak berhenti menatap gue.
****
Gue pun sampai di rumah, dan gue bersiap-siap untuk berangkat renang. Gue pun sudah menjelaskan ke nyokap dan bokap gue, kalau gue ikut renang hanya hadir aja, tidak ikut nyebur. Gue janjian dengan Bima bertemu di prapatan lampu merah.
"Hai Ra, udah lama nunggu?" Bima tersenyum.
"Lama banget." Raut wajah cemberut.
"Maaf deh! nih coklat buat lo." Bima memberi coklat ke gue.
"Ya ampun Bima, gue bercanda, terima kasih yah! gue tersenyum sambil memegang coklat.
Gue dan Bima akhirnya sampai di waterboom pelangi, sudah banyak anak-anak lain juga kumpul. sayangnya gue gak bisa ikut nyebur hanya bisa melihat-lihat Anak lain renang.
kurang ajar, rupanya dia lagi dekat sama Bima. Awas lo gue kerjain! mati-mati deh lo sekalian.
"Lo hati-hati yah! gue tinggal." Bima menepak bahu gue.
"Oke!" gue tersenyum.
Hati gue sedih tidak bisa seperti anak lainya, andaikan gue gak kena asma, gue pasti bisa merasakan seperti mereka.
Apa gue Main-Main saja yah, nyeburin kaki aja.
Saat gue berhati-hati menghampiri kolam, Sandra mendorong gue sampai gue tercebur dan tenggelam ke kolam. Lalu Bima melihat gue meminta tolong dan segera menolong gue. Gue pun tertolong dan di angkat ke atas sambil ngap-ngapan menahan sakit di dada.
"Kamu ada obat asma gak?" tanya Pak Rudi dan gue hanya bisa manggut karena tidak bisa nafas.
"Pak, biar saya cari di tasnya Zahra!" Bima berlari dengan semangatnya dan hati yang khawatir.
Sabar yah Zahra, lo harus kuat. Ah, ini dia.
"Ini Pak!" Bima langsung menyodorkan obatnya ke Pak Rudi.
"Terima kasih Bim!" Pak Rudi langsung menghirupkan obat itu ke hidung Zahra.
"Kamu tidak apa-apa Zahra? kenapa kamu bisa tercebur?" Pak Rudi bertanya ke Zahra.
****
Saat itu gue tidak bisa bicara yang sesungguhnya, suatu saat gue akan bilang bahwa Sandra yang sudah mendorong gue. Gue pun pulang di antar Bima, gue senang dia sudah berubah.
Nyokap kaget melihat gue basah kuyup dan pucat, gue menceritakannya semua ke nyokap. Gue melarang nyokap untuk menceritakan ke bokap. Karena bokap bisa memindahkan gue ke sekolah lain.
Saat Bima hendak pamit pulang, Tio datang mereka tidak tegur sapa, hanya saling memandangi saja. Saat itu pun gue langsung masuk kamar dan enggan bertemu Tio.
"Maafkan Zahra ya Tio, mungkin dia lelah karena penyakitnya kambuh." Nyokap gue meminta maaf ke Tio.
"Oh, gak apa-apa Tan! kalau boleh Tahu Zahra sakit apa tan?" Tio penasaran dengan cerita nyokap gue.
"Zahra punya sakit asma, jadi gak boleh capek atau seperti renang." Jawab nyokap gue ke Tio.
"Oh, gitu." Sambil manggut-manggut.
Ngapain sih tuh orang ganggu hidup gue terus, 11, 12 sama Anjar.
Notif wa Bima: Cepat sembuh yah!
Notif Zahra: Makasih yah.
Hati gue senang banget bisa chatan sama Bima. Meskipun dia gak ada perasaan apa-apa sama gue jadi sahabat juga gak apa-apa. Waktu cepat berlalu, gue pun masuk sekolah lagi.
Ada pengumuman bahwa besok akan mengadakan tour mendadak. Karena sekolah gue menang lomba kecerdasan dan kebersihan jadi pemerintah memberikan tour gratis untuk semua siswa. Dan mendadak hari ini tidak ada pelajaran. Semua siswa di harapkan untuk bersiap-siap. Besok pagi akan berangkat.
"Bim, lo ikut tour ke lereng anteng?" tanya gue ke Bima.
"Ikut, kalau lo ikut he-he." Bima menatap gue tajam.
"Kenapa lo kok natap gue gitu, gue aneh yah?" gue langsung senyum malu.
"Hai Ra, lo ikut tour kan?" tanya Anjar.
"Liat nanti." Jawab gue singkat.
"Tunggu Ra, gue antar pulang yah!" Anjar senyum.
"Enggak makasih, gue bareng Bima." Gue langsung menarik Bima.
"Ra, lo mau naik apa sama kodok ini, naik angkot? atau gerobak? ha-ha." Anjar meledek Bima.
Bima merasa kesal di ejek dan di hina. Gue menarik tangan Bima agar tidak bertengkar. Gue pun mengabaikan Anjar.
"Antar gue ke supermarket yuk! gue mau beli makanan buat besok tour." Gue menghentikan langkah. Bima mengantarkan dan menemani gue. tapi dia gak ikut belanja.
"Bim, lo gak beli?" gue menengok Bima sambil mengambil makanan.
"Enggak Ra, gue gak punya duit." Bima hanya bisa tersenyum.
"Ikh... gak apa-apa, pakai duit gue dulu aja!" gue menawarkan Bima.
"Eh, enggak-enggak! gue gak mau belajar ngutang." Bima menolak.
"Ya udah, anggap aja ini sebagai terima kasih gue ke lo! lo udah baik sama gue." Gue memaksa Bima buat mengambil makanan.
"Zahra, gue nolongin lo ikhlas, jadi tolong jangan paksa gue!" Bima menolaknya sambil mengelus rambut gue.
"Kalau gitu, gue beli banyak aja yah! kalau lo mau, tinggal bilang sama gue, gimana?" gue menatap ke Bima.
"Iya gampang." Bima tersenyum.
Akhirnya, gue sampai rumah. Di rumah ada Mobil hitam mirip mobil Tio. Saking malas gue ketemu dia, gue gak jadi pulang. Nunggu Tio pulang dulu. Gue chat Bima gak di baca. Gue putuskan sendiri ke danau. Saat gue di danau, gue bertemu cowok rese lagi, yang waktu itu complain celana pendek gue.
"Wow! ketemu lagi kita Neng! minta 1 yah haus!"
"HEH,,, KURANG AJAR LO MAKANAN-MINUMAN ORANG DI AMBIL!" PERGI GAK LO! PERGI! MAU GUE LEMPAR PASIR! GAK SOPAN LO!"
"Eh, Neng ulah kitu atuh! saya kan gak salah!" cowok itu memelas.
"Gak salah gimana? jelas-jelas lo datang terus ambil minuman gue, apa itu namanya kalau gak sopan!" gue mendorong cowok itu.
"Denger Neng, kalau gak sopan mah saya langsung ambil, ini kan saya izin." Cowok itu membela diri.
"Tapi gue kan belum bilang iya." Spontan gue ingin menonjok cowok itu.
"Saya teh, minta maaf! nanti saya ganti kalau gak ikhlas!" sambil membuang minumannya.
"Gak usah! udah di minum ya udah ikhlasin." Suara gue melemah.
"Terima kasih atuh ya Neng! boleh kenalan! nama saya Dimas." Sambil menjabat tangan.
"Zahra." Gue gak membalas jabatan Dimas.
"Oh Zahra, Bagus namanya he-he, tangan saya kotor yah!" sambil membersihkan tangannya.
*BERSAMBUNG*
tetap semangat ya neng💪💪