Nikah SMA
˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ̮ ❝᷀ົ⁎⁺˳✧˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ
Taksa Liam. Ketua OSIS tampan, berkarisma. Namun dingin dan cuek, tak tersentuh.
Iva Kayra. Supel, cerewet, cenderung pemalas, dan bukan gadis populer.
Mereka harus menikah di usia muda demi memperluas wilayah kekuasaan kedua orang tuanya, di dalam dunia bisnis.
Bagaimana kisah pernikahan mereka? Dengan sifat yang bertolak belakang, akankah keduanya bahagia dengan pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguntit
Budayakan like, komen, serta vote setelah selesai baca!!!
Aku tungguuuuu!!!!!!!!!!
Mulai hari ini Aku up tengah malam ah biar nggak ada yang baca, soalnya nggak ada yang vote juga kan? 😭
Iva keluar dari mobil yang mengantarnya sekolah dengan gerakan cepat. Jangan ditanya lagi kenapa? Pasti gadis itu kesiangan. Tapi, beruntung karena belum pertanda masuk belum berbunyi, sehingga Iva bisa berjalan santai menuju kelasnya.
Di lorong menuju kelas, ia tidak sengaja melihat pemuda yang selalu menolongnya sekaligus musuhnya. Pemuda itu sedang berjalan menuju kelasnya mungkin, karena Iva hanya melihat punggungnya.
Iva memperlambat jalannya, ia berpikir apakah ia harus menghampiri Taksa sekedar untuk mengucapkan terima kasih atau justru ia tidak perlu melakukan itu, karena ia pasti akan malu jika sudah berhadapan dengan Taksa nanti.
Akhirnya Iva memutuskan untuk mengejar Taksa, biar bagaimanapun Iva tidak mau menjadi orang yang tidak tahu terima kasih, ia akan mengesampingkan egonya dulu untuk saat ini.
Langkahnya semakin cepat, ketika Taksa sudah berbelok menuju ruang OSIS dan sampai lelaki itu masuk ke dalam ruangan tersebut Iva masih belum berani menyapanya. Tidak berapa lama Taksa keluar sambil membawa sebuah buku dan Iva kembali mengikutinya diam-diam.
Sampai di lorong antara perpustakaan dan UKS, Taksa yang merasa ada yang mengikutinya berhenti. Melihat Taksa berhenti, Iva pun ikut menghentikannya langkahnya. Matanya berkedip beberapa kali, ia melihat ke belakangnya tidak ada orang. Mendadak tangannya dingin. Apa yang harus ia lakukan kalau pemuda itu mengetahui keberadaanya.
"Mau sampai kapan jadi penguntit?" tanya Taksa tanpa membalikkan badannya.
Mata Iva membulat, bibirnya maju beberapa centi ke depan. Ia mendengkus saat Taksa menyebutnya sebagai penguntit. Hei dia tidak seburuk itu.
Setelah berhasil mengatur napasnya, Iva memberanikan diri maju. Kini mereka telah berdiri berhadapan, Taksa yang menatapnya datar seperti biasa dan ia nyengir tidak jelas.
"Aku ... aku mau ngucapin makasih atas pertolongan kamu. Maaf jika aku sering merepotkan," ucap Iva dengan ragu. Ia menelan ludahnya susah payah, karena tidak mendapat respon apapun dari pemuda itu. Apa dia tuli?
"Makasih, ya." Iva mengulurkan tangannya seraya tersenyum semanis mungkin pada Taksa.
Lelaki itu bergeming, tak menyambut uluran tangannya. Ia hanya menatap bergantian antara wajah dan tangan gadis di depannya itu.
Beberapa detik tak kunjung mendapatkan balasan, Iva menarik lagi tangannya. Dalam hatinya ia sudah mengumpat kasar, menyumpah serapah si es balok yang kelewat dingin itu. Jika tidak mau menerima uluran tangannya, setidaknya lelaki itu merespon perkataannya.
"Baguslah kalau kamu sadar. Setidaknya tidak akan membuat orang lain susah dengan kekonyolanmu."
Mata Iva kembali berkedip mendengar ucapan sarkas dari Taksa. Pemuda itu langsung pergi meninggalkan dirinya, tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
"Hah, konyol? Emang dia pikir aku mau seperti kemarin? Dasar es kutub tidak punya hati. Siapa suruh dia nolongin aku, kan, aku nggak minta sama sekali," gerutu Iva kesal, bibirnya bawahnya mencuat ke depan.
Namun, Iva mengusap dadanya lega. Terserahlah si es kutub itu mau berkata apa, yang penting dirinya sudah berterima kasih.
Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas, tidak perduli lagi pada respon Taksa yang seperti itu. Sudah biasa baginya mendapat penolakan atau cibiran dari si ketua OSIS nyebelin itu, masih beruntung ia tidak mendapat hukuman kali ini.
Kelas mereka yang memang bersebelahan, membuat Iva lebih dulu melewati kelas IPS 1 tempat di mana Taksa dan teman-temannya belajar. Sekilas ia melihat pemuda yang duduk di kursi paling depan sedang menatapnya tanpa ekspresi, tetapi Iva tidak memperdulikannya. Ia mengangkat kedua bahunya acuh, sambil bersiul pelan dan pura-pura melihat ke sana kemari agar tidak ketahuan jika tadi ia mencuri pandang pada pemuda itu.