NovelToon NovelToon
ELDISKA

ELDISKA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romansa-Percintaan bebas / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Tamat
Popularitas:259.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Shann29

"Sekarang topinya dulu, besok hatinya." Ucap El pada Diska.

AWAS SENYUM SENYUM SENDIRI DAN JADI BAPER!!

Cerita cinta ditahun 90'an.
Yg kangen cerita 90an silahkan merapat dan mengenang bersama masa-masa cinta monyet dan cinta pertama.

Diska Adalah Seorang Remaja Yang Ceria, senang membaca buku dan hobi membeli banyak buku dan Pandai membuat puisi Sementara Eldirga atau yang biasa dipanggil El Seorang Pria Cool dan Galak yang mempunyai hobi bermain gitar dan menciptakan lagu.
Diam Diam Mereka Saling Jatuh Cinta Namun Saling Gengsi.

Bagaimana Kelanjutannya? Simak Terus Kelanjutannya Ya.
Mohon Kritik dan Saran Yang Membangun Untuk Penulis Agar Lebih Berkreatif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Rasa dan Rahasia

Keesokan harinya, pagi di sekolah terasa lebih hangat dari biasanya. Cahaya matahari menembus jendela-jendela besar di lorong, memantul di ubin putih yang baru saja dipel, menciptakan kilau-kilau kecil yang menari seiring langkah murid-murid yang berlalu-lalang. Suara riuh para siswa bercampur dengan tawa, langkah kaki yang tergesa, dan seruan guru yang memanggil murid-murid untuk masuk kelas, menciptakan ritme pagi yang hidup.

El berjalan dengan langkah tenang melewati koridor. Gaya cool-nya yang khas membuat beberapa siswa menoleh, berbicara berbisik di antara mereka. Jaket hitam yang dikenakannya tampak pas di tubuhnya, tas disampirkan di satu bahu, dan topi biru muda yang begitu dikenali bertengger santai di kepalanya—topi yang membawa kenangan tersendiri bagi Diska.

Diska, yang sudah datang lebih dulu, menatap ke arah pintu dengan jantung berdegup lebih cepat dari biasanya. Matanya langsung menangkap sosok itu—El, memakai topi miliknya. Ada getaran aneh di dada Diska, campuran antara senang, cemas, dan sedikit kecewa. Ia tak menyangka El benar-benar akan memakai topi itu. Namun, ketika El berjalan menuju bangkunya tanpa sedikit pun melirik ke arahnya, perasaan hangat itu berubah menjadi kecewa kecil yang Diska sembunyikan di balik senyum tipis.

Rizki, yang duduk tak jauh dari El, menepuk bahunya sambil tersenyum lebar. “Dah sembuh nih?” tanyanya.

“Iyalah,” jawab El singkat, nada suaranya tetap dingin seperti biasa.

Airin, yang duduk di samping Diska, mencondongkan tubuhnya. “El udah masuk, Dis,” bisiknya.

“Iya, Rin,” jawab Diska pelan, suaranya nyaris tanpa semangat. Airin menatapnya penuh keheranan; ada sesuatu yang berbeda dari sahabatnya pagi itu—mata Diska sayu, bibirnya rapat, dan senyum tipisnya terasa hambar.

Jam istirahat tiba. Suasana kantin penuh dengan aroma gorengan, teh manis, dan keriuhan siswa yang bercengkerama. Suara gelas, piring, dan tawanya bercampur menjadi irama hangat yang membuat kantin terasa hidup.

Bima, dengan antusias khasnya, menepuk pundak El. “Jadi nanti pulang sekolah langsung latihan?”

“Iya, jadi,” jawab El singkat, tanpa menoleh.

Ryan menimpali dengan nada santai tapi penasaran, “Latihan, nanti lo sama Diska ikut kan, Rin?”

Airin mengangguk. “Gue sih ikut, tapi Diska belum bilang apa-apa. Kayaknya dia lagi nggak semangat.”

Rizki menatap El, menyeringai. “Ada yang nggak semangat nih kalau Diska gak ikut.”

El hanya memutar bola matanya, tapi dalam diam, pikirannya sedikit terganggu oleh kalimat itu. Ia tak ingin terlihat terlalu peduli, tapi kenyataannya rasa khawatir itu mulai mencuat tanpa bisa ia kendalikan.

Airin menatap topi biru muda di kepala El. “Topi baru, El? Kayak pernah liat deh.”

Pertanyaan polos itu membuat El spontan menoleh ke arah Diska. Gadis itu menunduk, kepalanya bersandar di lengannya sendiri, tampak pucat.

“Diska kenapa?” tanya Ryan, khawatir.

“Kurang enak badan dari tadi,” jawab Airin, mencoba menutupi rasa cemas.

“Muka lo pucet, Dis,” tambah Ryan, menatap wajah gadis itu lebih dekat.

Diska mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil, seakan ingin meyakinkan teman-temannya. “Gak apa-apa kok.”

Airin menghela napas, tapi tetap merasa khawatir. “Ya udah, yuk ke kantin.”

“Lo aja, Rin. Gue di kelas aja,” ucap Diska cepat.

“Lo belum makan dari pagi. Minimal minum teh manis kek,” bujuk Airin lagi, menyentuh lengan Diska lembut.

Diska menghela napas panjang, menyerah. “Ya udah deh, yuk.”

Di kantin, mereka berenam duduk di pojok yang agak sepi. Suasana ramai tak terlalu mengganggu, tapi tetap terasa hidup dengan suara gelas dan piring beradu.

Diska terlihat diam, matanya sayu, tangan bertumpu di meja. Hatinya campur aduk—antara kesal pada dirinya sendiri karena merasa lemah, khawatir pada El, dan bingung dengan perasaan yang mulai tumbuh perlahan.

“Lo gak apa-apa, Dis?” tanya Airin lagi, nada lembut tapi penuh perhatian.

“Gak apa-apa,” jawabnya sambil tersenyum lemah, berusaha terlihat kuat.

El, yang duduk di depannya, diam saja, tapi pandangannya tak pernah lepas dari wajah pucat gadis itu. Ada perasaan aneh dalam dadanya—campuran antara khawatir dan bingung yang tak bisa ia jelaskan. Ia ingin mendekat, tapi tak ingin memaksakan diri, takut Diska merasa terganggu.

“Lo mau makan apa?” tanya Airin lagi, mencoba mengalihkan perhatian Diska.

Diska menggeleng. “Gak pengen makan.”

“Lo belum makan dari pagi, Dis,” tegur Airin lembut.

“Lo pesen dulu aja. Gue nanti nyusul,” ucap Diska sambil menundukkan kepala di atas meja, menahan rasa lelah dan pusing yang menyerang tiba-tiba.

Tiba-tiba, seorang adik kelas menghampiri meja mereka dengan langkah ragu. “Kak El…” panggilnya pelan.

El menoleh malas. “Ada apa?”

“Aku mau kasih cokelat buat Kak El,” ucap gadis itu sambil tersenyum malu-malu.

El memandangnya datar. “Gue gak suka cokelat. Alergi,” katanya dengan nada tinggi, seperti ingin menutup interaksi.

Suasana seketika canggung. Gadis itu menunduk kecewa, lalu pergi.

El kembali menatap ke arah Diska yang sama sekali tak bergerak, masih menunduk. Sesekali ia ingin menegur atau membuat lelucon ringan, tapi ia tahu Diska tak dalam kondisi mood yang baik.

Tak lama, Diska berdiri. “Kepala gue pusing. Gue balik ke kelas dulu,” katanya lirih.

“Gak jadi makan, Dis?” tanya Airin cemas.

Diska menggeleng. “Gak bisa, Rin. Maaf ya.”

El hanya bisa menatap punggungnya sampai gadis itu menghilang di antara kerumunan. Dada El terasa sesak, campur aduk antara khawatir, bingung, dan sedikit tersinggung.

“Diska kayaknya cemburu,” celetuk Bima tiba-tiba, mencoba membuat suasana lebih ringan.

Airin mengernyit. “Cemburu? Sama siapa?”

“Sama El,” jawab Bima sambil menatap sahabatnya itu, menahan tawa.

Airin ikut penasaran. “El, lo suka gak sih sama Diska?”

El berdiri tanpa menjawab. Ia berjalan ke kasir, membeli sepotong roti dan susu kotak cokelat. Langkahnya cepat, tapi matanya tetap tertuju pada arah kelas. Ia ingin memastikan Diska baik-baik saja.

“Lo mau kemana?” tanya Ryan, bingung.

“Kelas,” jawab El datar, tapi nada suaranya ada sedikit cemas.

Di kelas, Diska menunduk di mejanya. Tubuhnya terasa lemah, kepala pusing, dan hatinya campur aduk. Ia mencoba menenangkan napasnya yang cepat.

Suara langkah kaki El terdengar mendekat. Ketukan lembut di meja membuatnya menoleh perlahan.

Tok. Tok.

“Apa sih?” tanyanya dengan nada lemah.

El meletakkan roti dan susu di depannya. “Katanya lo belum makan dari pagi. Makan ini.”

Diska menatap roti itu, hati kecilnya hangat, tapi kata-kata yang ingin ia ucapkan tersangkut di tenggorokan.

“Lo beliin buat gue?”

“Lo mau terima gak?” balas El, suara meninggi tanpa sadar karena cemas.

Diska menghela napas. “Gak usah, makasih.”

“Lo bisa gak jangan marah-marah dulu sama gue?” lanjutnya, suaranya lembut tapi tegas, mencoba menenangkan Diska yang terlihat rapuh.

Diska memejamkan mata sebentar. “Gue lagi gak sanggup debat. Tolong diem aja, ya?”

El menatapnya lama, dalam diam, hanya ingin Diska mau menerima roti itu dan sedikit lebih baik. “Gue cuma mau lo makan,” katanya akhirnya.

“Tapi… gue gak tau perasaan lo kayak gimana. Kadang lo baik, kadang lo galak. Gue gak mau GR. Anggep aja gak kenal juga gak apa-apa. Gue cuma capek berharap sesuatu yang gak pasti,” ucap Diska pelan, matanya menunduk. Suaranya nyaris terdengar rapuh, namun penuh ketegasan yang mengejutkan El. Kata-kata itu seakan menampar dadanya, membuatnya tersentak sekaligus merasa bersalah karena tak bisa memahami perasaan gadis itu sepenuhnya.

El menatap Diska lama. Ada keinginan besar untuk menjelaskan semuanya, tapi sebelum ia sempat bersuara, suara langkah berat terdengar dari pintu kelas.

“Disss!”

Mario.

Diska mengangkat kepala, berusaha berdiri meski tubuhnya terasa goyah. “Ada apa, Rio?” tanyanya pelan tapi tegas.

“Gue mau ngomong,” ucap Mario mendekat, matanya menatap Diska penuh tekad.

“Rio, please, jangan ganggu gue terus,” ucap Diska kesal, menahan rasa pusingnya.

“Gue cuma mau minta satu kesempatan,” katanya lagi, suaranya memohon.

“Gue gak bisa, Rio. Gue gak ada perasaan apa-apa sama lo,” jawab Diska, mencoba menahan air matanya yang hampir muncul.

Suasana menjadi tegang. Ryan, Airin, Bima, dan Rizki masuk ke kelas, menyadari ada ketegangan yang berbeda dari biasanya.

Mario menatap Diska dengan keras kepala. “Kasih gue alasan kenapa.”

“Eh Rio, lo maksa amat sih,” sela Airin, mencoba mendinginkan suasana. “Udah jelas dia gak suka.”

Mario tetap menatap Diska, mata berbinar menuntut jawaban.

Tiba-tiba, suara berat El terdengar, memotong:

“Karena Diska udah punya cowok.”

Semua kepala serentak menoleh. Diska menatap El tak percaya, dadanya terasa tercekat.

“Siapa cowoknya?” tanya Mario, nada menantang, setengah marah, setengah penasaran.

El berdiri tegak, menatap lurus ke Mario dengan mata yang tak bisa dibohongi:

“Gue.”

Hening seketika. Bahkan detak jam dinding terdengar jelas, menambah ketegangan yang terasa menggantung di udara.

Diska terpaku. Jantungnya berdegup tak karuan, wajahnya panas. Ia ingin menyangkal, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk bicara.

Tiba-tiba, titik merah muncul di bawah hidungnya.

“Diska! Hidung lo berdarah!” pekik Airin panik.

Segera, semua orang bergerak panik. Diska langsung duduk lagi, tubuhnya lemas, kepala terasa berat. El dengan cepat membuka tasnya, mencari tisu.

“Lo demam juga,” ucap El cemas sambil menyeka darahnya lembut.

“Biar gue sendiri, El,” ucap Diska, menepis tangan El dengan lembut, tapi tidak tegas.

El menatapnya dalam diam. Ada rasa bersalah, khawatir, dan… sesuatu yang tak mampu ia jelaskan.

Ryan menatap Mario yang masih terpaku di dekat pintu. “Lo ngapain masih di sini?” tanyanya.

Mario mendengus, lalu pergi tanpa kata, menyisakan kelas yang mulai tenang kembali.

“Bawa Diska ke UKS,” perintah Bima cepat, mencoba mengambil alih situasi.

Airin membantu Diska berdiri perlahan. El hendak ikut, tapi Diska menolak halus. “Gue bisa, El,” ucapnya.

Di UKS, suasana lebih tenang. Lampu putih lembut menerangi ruangan, suara langkah kaki petugas UKS terdengar samar di lorong. Diska berbaring di ranjang putih, wajahnya pucat, tubuhnya lemah.

Airin duduk di kursi sebelah, menggenggam tangan sahabatnya. “Lo gak apa-apa, Dis?”

“Cuma pusing aja,” jawab Diska pelan, suaranya nyaris serak.

Petugas UKS datang memeriksa tensinya. “Tensimu rendah, Diska. Kamu sebaiknya pulang. Bisa telepon keluargamu?”

Diska mengangguk, menelpon ayahnya. Suara di seberang terdengar cepat dan hangat. “Iya, Nak. Ayah segera ke sana.”

Setelah menutup ponsel, Airin bertanya pelan, raut wajahnya serius, “Dis, lo sama El beneran udah jadian?”

Diska menatap langit-langit ruangan, mencoba menenangkan pikirannya. “Rin, kepala gue pusing banget. Jangan bahas dulu ya.”

Tak lama kemudian, ayah Diska datang. Airin membantu Diska berjalan perlahan keluar UKS, menunduk sopan sebelum kembali ke kelas sendiri.

Bima menatap El yang berdiri di pintu UKS. “Diska mana?”

“Dijemput bokapnya,” jawab Airin singkat.

Bima menunjuk ke bawah meja. “Tasnya ketinggalan.”

“Nanti gue yang bawa,” kata El dengan suara tenang, tapi matanya berbinar. Ia meraih tas biru muda itu—warna kesukaan Diska—dan menatapnya lama. Ada sesuatu yang disimpannya dalam genggaman itu, rasa yang tidak ingin ia lepaskan begitu saja.

Malam harinya, El duduk di tepi ranjangnya. Tas Diska masih ada di sampingnya, topi biru muda terlihat menempel di permukaan tas. Ia mencoba menelpon nomor Diska, tapi tak aktif.

Mungkin ponselnya mati. Mungkin ia sudah tertidur.

Ryan masuk ke kamar sambil membawa bantal. “Gue nginep sini ya,” katanya santai.

El menatap Ryan sekilas, kemudian kembali diam, matanya fokus pada topi biru muda yang tergantung di kursi. Ia meraih topi itu, menggenggamnya pelan.

“Jadi gimana ceritanya?” tanya Ryan penasaran.

El menunduk, menatap topi itu. “Besok kita ke rumah Diska,” jawabnya pendek, tapi nada suaranya penuh tekad.

Ryan duduk di kasur, menatap sahabatnya yang tampak murung. “El, lo serius suka sama Diska?”

El menarik napas panjang. “Gue yang suka sama dia, tapi gue gak tau Diska ke gue gimana.”

“Diska suka sama lo,” kata Ryan yakin. “Cuma dia gak suka lo marah-marah mulu. Dia khawatir banget waktu lo sakit, sampe ngompresin lo.”

El terdiam, suara Ryan bergema di pikirannya. Hatinya terasa hangat sekaligus tersiksa.

“Tapi… gue takut ditolak, Ry. Gue gak pede. Keluarga gue aja berantakan,” ucap El pelan.

Ryan menatapnya iba. “Kadang cinta gak peduli latar belakang, El. Diska bukan tipe yang liat dari situ.”

El menunduk, menatap topi biru muda di tangannya, seolah bisa merasakan keberadaan Diska di dekatnya meski jauh. Dalam diam, ia tahu—rasa itu sudah tumbuh terlalu dalam untuk bisa disembunyikan lagi.

Hatinya berdebar, campur aduk antara takut dan bahagia. Besok… semuanya harus berani ia lakukan.

1
Yus Warkop
terimakasih author ceritanya bagus lanjut baca cerita erlan , rehat sbulan nunggu ,puasa dulu
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
alhamdulillah 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
EL junior bakalan cepet nongol dech
Yus Warkop
waaw 4 kali
Yus Warkop
ooh jodoh ryan udah nongol naya kayanya
Yus Warkop
jodohin sama mira thor ryan biar seru
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
udah mau nikah elu gwe nya ganti yah dengan yg lebih romantis
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰😂😂🥰😂
Yus Warkop
betapa menenangkan perkataan ibu 🥰🥰🥰
Yus Warkop
aah si El
Yus Warkop
rasain tuh el
Yus Warkop
masih ginta monyet yah seusia gitu
Yus Warkop
sweet sweet
Yus Warkop
aku bacanya sambil mesem" aja ngingetin diri sendiri
Yus Warkop
ya kasih perhatian Dhisa samaEL yah kasian dan maklummin kslo dikit" galak nanti juga gak deh
Yus Warkop
thn 90 aku belum ngenal hp , yg ada tlpn rumah sama tlpn koin tapi itu fi kampung gak tahu kali di ibukota yah haha
Yus Warkop
seneng juga baca kisah smp haha thn 90 han aku udah tamat sma deh 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!