Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR BURUK
PYAAARRR...
Gelas dalam genggaman Raniya terjatuh, pecah berserakan di lantai. Dia terkejut, dadanya begitu sakit dan sesak dalam sekejap. Telepon genggam yang membuatnya seperti itu pun ikut menyusul gelas, terlepas begitu saja dari genggamannya.
"Ada apa, Sayang?" Aziz khairullah, Ayahnya Raniya datang berhamburan menemuinya. Dia segera memundurkan tubuh Raniya yang mematung, berdiri di sekeliling serpihan kaca. Wajah tua ayahnya tampak cemas melihat tingkah putrinya itu.
"Ayah... Ayah... Hiks... Hiks..." Tangis Raniya pecah, menyadarkan dia dari keterkejutannya.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu seperti ini? Jangan menangis di hari bahagiamu ini, Sayang. Kamu bahkan masih memakai gaun pengantinmu." Aziz berucap banyak tanpa tahu apa-apa demi menenangkan putri semata wayangnya.
"Ayah... Nathan... Nathan, Yaaah... Huu uuu uuu." Dia masih menangis, meraung-raung dalam dekapan Ayahnya itu.
"Kenapa dengan Nathan, Sayang? Ada apa? Apa sebenarnya yang telah terjadi?" Aziz kembali bertanya, dia mulai menangkap kesedihan di dalam diri putrinya.
"Nathan... Nathan... Nathan kecelakaan, Yah... Dan, dia meninggal... Hiks... Hiks... Hiks... Ini bohong..." Aziz tercengang. Dia segera mendekap Raniya dengan begitu erat. Dalam pikirannya, begitu berat ujian yang menimpa Raniya nya. "Ini pasti bohong... Papa Tiger pasti bercanda. Papa Tiger hanya mau mengerjai ku kan, Yah? Iya... Ini... Ini pasti ulah Nathan sendiri. Dia pasti mau mengerjai ku." Raniya mulai tertawa, meski air matanya mengalir tanpa bisa ia hentikan. "Haah... Sejak kapan dia pandai membual seperti ini? Membuat Raniya khawatir saja dia, Yah. Awas... Nanti pasti akan Raniya balas." Ujar Raniya mengarang pikiran sendiri. Dia tidak percaya. Bukan, bukan tidak percaya mungkin. Tapi dia takut untuk percaya.
"Kami bahkan baru saja menikah... Heks... huh uuu... uuu..." Raungnya menguyu, mengiba-iba.
"Tenang, Nak... Tenang, Sayang... Istighfar... Astaghfirullah hal 'aziim... Astaghfirullah hal 'aziim..." Ucap Aziz menuntun Raniya. Tangannya tidak lepas mendekap putrinya itu, bahkan semakin kuat.
Aziz seorang ayah yang baik, penyabar dan penyayang. Dia sangat terpukul atas kabar meninggalnya Nathan dari Raniya, pemuda yang baru saja menikahi putrinya, dan baru saja pula menjadi menantu terhebatnya.
Mungkin dia yang teramat bersedih saat itu. Sedih karena meninggalnya Nathan, dan sedih karena melihat keterpurukkan putrinya.
*****
Raniya tak henti-hentinya menangis. Beberapa kali, dia sampai tidak sadarkan diri ketika melihat jasad suami yang baru saja menikahinya terbujur kaku di tengah-tengah ruangan.
Setiap kali Raniya tersadar dari pingsannya, dia hanya akan menanyakan dimana Nathan. Raniya mencari-cari dan menemukan jasad Nathan lagi, kemudian ia pun kembali pingsan setelah melihat tubuh suaminya terbujur kaku di pembaringan.
"Jahat kamu Nathan... Kamu benar-benar jahat... Kamu jahat... Kamu jahat..." Teriak Raniya sembari menggoncang-goncang tubuh Nathan yang dingin.
"Huuu... uuuuu... uuuuhhuu... Bangunlah Nathan... Banguun... Ku mohooon... Bukankah kamu ingin membahagiakan aku seperti Ayah membahagiakanku? Bukankah kamu akan melindungi ku seperti ayah melindungi ku?" Ucap Raniya memohon dengan lunak.
Nathan tidak bangun, hanya Raniya yang kembali terkulai karena permohonannya sendiri terhadap suaminya itu
Semua orang yang hadir melayat ke sana, ikut terisak melihat keadaan Raniya. Mereka sangat prihatin. Baru saja mereka pulang sebagai undangan pesta pernikahan dari rumah itu, namun mereka kembali datang ke rumah itu sebagai pelayat sang mempelai prianya.
Penyelenggaraan jenazah Nathan tahap demi tahap berakhir, sedang kondisi Raniya masih sama. Terpukul dan menyedihkan.
"Sudahlah, Sayang... Jika kamu seperti ini, kami sebagai orang tua Nathan juga akan larut dalam kesedihan. Kamu tahu kan? Nathan putra bungsu kami?" Ucap ibu Nathan, istri dokter Tiger berupaya menenangkan Raniya.
Raniya diam tak menyahuti. Hatinya bersikukuh untuk meresapi duka sedalam-dalamnya. Dia seperti orang linglung yang terus menangis, menanyai Nathan nya.
.
.
.
.
.
Hy teman2 setia Radetsa. Maaf ya, Radetsa hanya bisa up sedikit2. Soalnya Radetsa ada kesibukan di real life yg tidak bisa Radetsa kesampingkan.
Makasih atas perhatian teman2 semua.
Tetap setia dengan kelanjutan BUKAN SIS ya...
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍