Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.
Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.
Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 8 (Melepas Rindu Sahabat)
“Iya hamil. Dia mengaku kalau dirinya dihamili oleh bosnya,” jawab gue.
“Nah! itu Dareen, yang kemarin Gue bilang kek ada yang aneh dari Dia. Mungkin ini alasannya,” jawab bang Andi.
“Udahlah, Bang. Ayok masuk. Malah ngobrol di sini, entar si Bos marah lagi.” Ajak gue.
Bang Andi menjadi kepo. Dia nanya-nanya tentang Nila. Cuma gue enggak mau membahas lebih jauh takut malah jadi fitnah.
Cukup Bang Andi tahu selama ini Nila deketin gue karena ia mau mencari orang yang bisa nikahin dia.
“Terus, gimana dengan kehamilan Nila?” tanya bang Andi lagi.
“Sepertinya, Gue enggak ada porsi untuk ikut campur lebih jauh lagi, Bang. Biarlah Nila yang menyelesaikan dengan caranya.”
“Lu enggak benci sama Nila?”
“Kenapa harus benci?”
“Secara, Dia hampir saja bikin Lu jadi korbannya. Atas kehamilan yang Ia perbuat dengan bosnya. Tapi, Lu yang mesti tanggung jawab.” Jelas bang Andi.
“Heleh, Bang! Kan, itu semua enggak terjadi," jawab gue.
“Kalau sampai terjadi?”
“Gue enggak mau memikirkan hal yang enggak jelas, Bang. Mending Gue baca buku dari pada mikirin hal yang udah lalu.” Gue ngeloyor meninggalkan bang Andi.
Gue sengaja ngerjain tugas kampus di sela waktu luang ketika gawe. Gue bersyukur punya orang tua yang masih lengkap, punya abang yang sayang dan dikelilingi teman-teman yang baik.
***
Tak terasa, udah enam bulan gue gawe sebagai montir. Kabar Ferdy pun, gue enggak tahu. Semenjak gue masuk kelas karyawan kita sulit untuk bertemu. Hingga suatu hari, gue memutuskan malem-malem pulang kampus mendatangi rumahnya.
“Bujang?” Ferdy memeluk sambil menepuk pundak gue.
“Hehe ... Bro! gimana kabarnya?” tanya gue sambil balas memeluk dan menepuk pundak sahabat terbaik gue di kampus.
“Allhamdulillah Bro, baik! Lu gimana? Lancar kerjanya?”
“Lancar jaya, Bro!” Kami tertawa melepas rindu persahabatan.
“Lu makin putih aja Bro! Gue jadi ngiri.” Ledek Ferdy.
“Anjayyy! kek nya, setelah Kita enggak bareng kuliah, Lu mainnya sama si Keyra mulu, ya?” tanya Gue.
“Ih, kok Lu tahu, Oppa?” Ferdy tertawa.
“Khas Keyra banget!”
Kami tertawa bersama.
“Oh iya Jang, si Key suka nanyain Lu, tau.”
“Mau ngapain?”
“Entah.”
“Ye! Lu mulai kebawa enggak jelas.” Gue terkekeh.
“Oh iya, mau minum apa, Bro?” tanya Ferdy.
“Enggak usah. Kita cabut yok?” Ajak gue.
“Aww ... so sweet, Oppa mau ngajak Gue jalan.” Ferdy terkekeh.
“Ayolah bucin!” Ajakku sambil tertawa.
“Bentar, Gue bawa motor,” ucap Ferdy.
“Kagak usah! Lu bareng Gue aja.”
“Entar Gue pulang naek apa, Jang?” tanya Ferdy.
“Naek angkot!" Gue balik becandain.
“Ih ... Oppa, tega!”
“Gue anterin Lu. Gue enggak tegaan orangnya.”
“Oke! Oppa.” Tandas Ferdy yang sedari tadi menggoda. Mungkin karena persahabatan kami dekat jadi ia merasa kehilangan. Sekalinya ketemu kek orang gila.
Tapi jujur, sebenarnya gue juga merasa kehilangan setelah gue pindah ambil kelas karyawan. Akhirnya malam ini kita nongkrong bareng, cerita-cerita, pokoknya menghabiskan malam karena besok kampus sama bengkel juga libur.
“Astagfirullah hall azim, Gue lupa!” ucap gue.
“Apaan?” tanya Ferdy.
“Bentar, Gue telpon dulu Nyokap, ya. Ngabarin kalau Gue mau nginep di rumah Lu. Gue masih mau ngobrol banyak sama Lu.”
“Oke!” jawab Ferdy.
Gue ambil hand phone dari celana jeans, gue sentuh layar hp dan mulai mencari nama mama yang ada di buku telpon.
‘Hallo’ Mama jawab telpon.
‘Hallo, Mam.’
‘Iya, ada apa Nak?’ tanya Mama.
‘Dareen malam ini tidur di rumah teman ya Ma?’ Gue kasih kabar.
‘Di mana?’
‘Di rumah Ferdy Ma.’
‘Tumben, Nak.’
‘Ada tugas Kampus, Ma.’
‘Ya udah, hati-hati ya, Nak. Nanti Mama kasih tahu Papa mu.’
‘Makasih, Ma.’ Telpon terputus.
.
Gue menghabiskan waktu semalaman dengan sahabat terbaik gue, Ferdy.
“Gimana kabar Mama, Papa sama Abang Lu, Jang?”
“Allhamdulillah semuanya baik. Oh iya, Gue sampai lupa. Bang Aril sudah tunangan, Cuy!”
“Sama Kak Amanda?” tanya Ferdy.
“Iyalah sama siapa lagi? Pan pacarnya Bang Aril itu Kak Manda.”
“Gue, kadang ngiri Jang, sama Lu,” ucap Ferdy.
“Kenapa?”
“Hidup Lu dikelilingi orang yang sayang sama Lu, Jang. Lah ... Gue?” ucap Ferdy sambil merunduk.
Gue menepuk pundaknya pelan, “Sabar ya, Bro!”
Ferdy memang terlahir di keluarga broken home. Orang tuanya bercerai sewaktu Ferdy masih sekolah dasar. Ferdy menceritakan keadaannya ketika kami bertemu di kampus. Tidak langsung ia bercerita, mungkin baginya, hal ini terlalu menyakitkan hatinya.
Ferdy selalu bercerita ketika ia sekolah dasar, dirinya merasa iri dengan teman-teman yang dijemput oleh orang tuanya. Entah itu Papa, atau Mama mereka. Sedangkan Ferdy, tidak ada yang menjemput. Mamanya terlalu sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Sedang Papanya? Papanya pergi entah kemana.
Hal itu yang membuat Ferdy terlihat malu. Malu dengan keluarganya yang berantakan. Tapi, di hatinya ada rasa bangga terhadap mama yang senantiasa menyayanginya dan memenuhi kebutuhannya sampai saat ini.
“Bro! tapi Gue bangga sama Lu,” ucap gue.
“Bangga kenapa?” jawabnya masih tertunduk.
“Lu kuat! Enggak semua orang bisa sekuat Lu apa bila dihadapkan dengan keadaan seperti ini.
“Ya, mau gimana lagi Jang? mungkin sudah menjadi takdir bagi Gue,” ucapnya menahan air mata.
“2 pesan dari Gue, Bro!”
“Apaan?” Ferdy masih tertunduk.
“Bahagiain nyokap Lu dan jangan benci bokap Lu.”
Ferdy mengangkat pandangannya. Matanya kini tajam menatap gue. Rasa bingung yang mendominasi tentang jawaban gue.
“Gue terlanjur membenci bokap, Jang! karena Dia, Gue kehilangan kasih sayang. Karena Dia, keluarga Gue berantakan. Karena Dia juga, Nyokap Gue menderita, karena Mama harus membagi perhatian terhadap Anak-Anaknya dan juga mesti kerja. Gue terlalu benci Jang terhadap Bokap Gue! Benci banget malah.” Ferdy berucap dengan penuh kemarahan.
“Apakah dengan Lu benci sama Bokap, bisa membuat keadaan menjadi membaik? Jawab gue dengan tatapan lurus.
“Maksud, Lu?”
“Dengan Lu membencinya. Itu membuat hidup Lu menjadi pendendam. Bagi seorang pendendam, biasanya terdapat amarah, itu yang membuat hidup Lu enggak tenang. Coba Lu lihat nyokap Lu yang tangguh. Adakah Beliau menebar kebencian pada Anak-Anaknya? Menjelek-jelekan kesalahan Bokap Lu di mata Kalian sebagai Anaknya?”
Ferdy menggelengkan kepala.
“Maksud, Lu?” tanya Ferdy.
“Mama mu itu seorang yang pemaaf, Bro! Itu sebabnya, hingga saat ini Beliau masih bisa menjalani hidupnya dengan baik. Coba Lu lihat, banyak Ibu yang membunuh Anak kandungnya yang masih kecil karena mereka depresi. Mamamu punya hati yang iklas Ferdy, walau rasa sakit yang tak terlihat telah menggores di hatinya mungkin hingga saat ini. Itu yang patut Lu contoh dari Nyokap Lu yang kuat. Karena rasa benci itu tidak akan membuat Kita tenang selama hidup.”
Kembali Ferdy tertunduk. Terlihat butiran air bening yang terjatuh dari matanya.
“Tugasmu saat ini, yaitu membuat Nyokap Lu bahagia dengan cara Lu sebagai anak yang berbakti.” Gue menepuk halus pundak Ferdy yang tertunduk itu.
“Thank’s, ya, bro! Karena Lu, hati Gue terbuka. Karena ucapan Lu juga, Gue akan mencoba untuk menjalani hidup dengan iklas. Walau Gue tahu iklas itu berat. Tapi, minimal Gue berusaha tidak membenci Bokap sendiri,” jawab Ferdy.
Gue tersenyum sambil menepuk pelan pundak sahabatku ini.
“Ya udah jangan sedih lagi ya, Bro! Oh iya, Lu masih pacaran sama Vera?”
“Masih, Lu kapan punya pacar? Ternyata kegantengan itu enggak menjamin laku, ya?” Ferdy kembali terkekeh.
“Yaelah Bro, gitu amat ngeledeknya.” Gue pura-pura cemberut.
“Hahaha ... Gue becanda, Bro!” Ferdy tertawa lepas.
Syukurlah, Ferdy bisa tertawa lepas lagi. Gelar sarjana pun akan tersemat satu tahun lagi. Persahabatan yang kini terbina kurang lebih tiga tahun membawa hal positif bagi gue.
Gue belajar bersyukur dari komunitas penggalang dana waktu di kampus. Gue belajar bagaimana cara menyikapi masalah dari cerita Ferdy tentang keluarga broken homenya.
***
“Dareen. Pernikahan Bang Aril tinggal menghitung hari. Papa enggak mau lihat Kamu telat pulang di hari H pernikahan Abangmu nanti.” Kata si Papa.
“Iya Pa.”
.
“Dek, sini!” Si abang manggil dalam kamar.
Gue menghampiri.
“Naon, (apa) Bang?”
“Kamu jujur sama Abang, ya?” ucap Bang Aril.
“Jujur apaan?”
“Diam-diam, Kamu gawe kan jadi montir di bengkel showroom?” kata bang Aril.
Langsung gue bekap mulut si abang.
“Sssttttt! ... Dari mana Abang tahu?” tanya gue pelan.
“Ada temen Abang yang cerita.”
“Siapa?” tanya gue.
“Enggak perlu tahu!” kata si abang. “Jawab jujur Dek!” timpal Bang Aril.
jd penasaran aq thoor
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪