SYNOPSIS:
HANNA GRACE, Atau Yang lebih akrab di sapa Anna, adalah gadis Yang hidupnya di penuhi oleh KE-MA-LA-NGAN.
Saking Tragis nya, bahkan KEMATIAN pun enggan untuk menghampiri-nya.
Maka pertanyaan nya; mampukah Anna meluluhkan Sang Pembuat takdir dan menemukan seberkas cahaya untuk menerangi hidupnya Yang begitu gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Christ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANNA-08
...🍁🍁🍁...
Seperti yang di harapkan kedua orang tuanya, Anna melakukan persiapan untuk menghadapi ujiannya dengan begitu baik. Setiap hari yang dilakukan Anna hanyalah menghabiskan waktu bersama dengan buku-buku, dan juga menguji kemampuan dirinya dengan mengerjakan beberapa tes latihan yang telah di siapkan secara khusus.
Pada waktu luangnya, Anna akan minta diantarkan ke toko buku untuk mengisi perpustakaan kecil di kamarnya. Dan Maria, jangan di tanya, ia sangat senang melakukan apapun untuk membuat putrinya bahagia.
"Mom, boleh aku ke sana? ada beberapa buku yang ku butuhkan?" kata Anna, meminta ijin pada mommy nya. "Pergilah sayang, mom akan menunggu mu disini." sahut Maria, kemudian tersenyum.
Ia hanya mengamati putrinya dari kejauhan, sungguh gadis muda yang di penuhi semangat.
Beberapa waktu setelahnya..
Anna kembali dengan beberapa buku yang memenuhi tangannya, "Mom?" Anna tersenyum puas saat mendapatkan semua buku yang ada didalam listnya. "Kemarikan sayang, biarkan mom bawa sebagian." Maria tertawa kecil melihat antusias di wajah putrinya.
Jika saja dulu ia bisa menemani putrinya Carmella seperti yang di lakukannya untuk Anna? tapi putrinya terlalu mandiri untuk meminta bantuan dalam hal-hal seperti ini.
Setelah membeli semua buku yang Anna perlukan mereka pun pergi mengunjungi toko-toko pakaian dan juga toko-toko lainnya.
Maria ingin membelikan putrinya barang-barang miliknya sendiri.
"Mom, kau sungguh-sungguh ingin kesini?'' Tanya Anna saat Maria membawanya masuk ke toko make up, "Tentu sayang. Kita harus membelikan beberapa make up yang nantinya akan menunjang penampilan mu," sahut Maria senang, "Meskipun mom sangat yakin, kau bahkan masih terlihat begitu cantik tanpa sentuhan make up di wajahmu." tambahnya, memuji.
Anna hanya tersenyum sambil menggeleng. Ia tak yakin apakah itu pujian atau bujukan, yang pasti Maria berhasil menarik Anna untuk masuk dan menjelajah ke dalam toko.
"Mom, setelah ini kita harus segera pulang, oke? aku harus belajar." rengek Anna yang merasa lelah karena membawa begitu banyak tas belanjaan.
"Baiklah sayang. Tapi sebelum itu, kita harus merubah penampilanmu, setuju?" pinta Maria, dan Anna hanya bisa pasrah seraya menghela nafas, "Terserah mom saja, asalkan kita cepat pulang."
Berbelanja, selesai. Makan siang, selesai. Pergi ke salon, juga sudah selesai. Akhirnya, Anna bisa menghempaskan tubuh lelahnya ke atas kasur empuk miliknya.
"Mom benar-benar membuat ku lelah." gumam Anna, seraya memejamkan mata, membiarkan darahnya mengalir dengan normal. "Tapi aku senang melihat mom bahagia."
Sementara Anna sibuk dengan persiapan nya, Sam juga melakukan hal yang sama. Meskipun terkadang, setiap ia lari pagi Sam selalu memperhatikan sekitar untuk mencari gadis ceroboh yang mungkin saja akan membuat dirinya benar-benar jatuh menimpa aspal.
Beruntung atau sial, Sam memang tidak pernah bertemu Anna lagi setelah hari itu.
Dan hari-hari pun berlalu begitu cepat, Anna telah mengikuti ujian untuk mendapatkan lisensinya, dan yang harus di lakukan nya saat ini hanyalah menunggu hasilnya, semoga saja ia lulus.
...🍁🍁🍁...
Maria membawakan segelas susu dan juga kudapan di dalam baki yang akan diantarkan ke kamar Anna.
"Putri kita masih belajar sayang?" sapa Fred saat berpapasan dengan istrinya, "Begitulah," Maria tersenyum, "Putri kita sangat tekun. Kau ingin melihatnya?"
Fred pun mengangguk dan mengikuti di belakang Maria.
Pintu kamar Anna tidak terkunci, jadi keduanya mendorong pintu perlahan untuk mengintip putrinya, Fred dan Maria tidak ingin membuyarkan konsentrasi Anna. Karena itulah mereka memilih untuk berdiri di depan pintu.
"Kau lihat kan? setiap hari itulah yang di lakukan nya." bisik Maria pada Fred suaminya, seraya tersenyum bangga. Maria sangat senang melihat antusias yang di tunjukan Anna. Putri mereka sangat berusaha untuk melakukan keinginan nya.
Fred juga merasa senang melihat semangat yang di tunjukan putrinya. Anna begitu fokus untuk mengejar ketertinggalan. "Kau harus memastikan putri kita mendapatkan asupan gizi yang tepat sayang, berikan juga untuk nya vitamin." Fred balas berbisik, dan Maria mengangguk setuju.
"Aku tau sayang, sekarang aku akan masuk mengantarkan ini." Maria tersenyum simpul dan mendorong pintu agar terbuka lebih besar. Maria berjalan pelan agar tidak bersuara, sementara Anna masih fokus dengan buku-buku nya.
Maria meletakan baki yang di bawanya di sebelah Anna, lalu mencium pucuk kepalanya singkat, "Mom?" seru Anna membuat Maria tersenyum, "Belajar lah sayang, jangan lupa minum susu nya." kata Maria, lalu pergi, "Thanks mom."
...🍁🍁🍁🍁...
Anna bangun lebih pagi dari biasanya. Ini adalah awal musim semi, dan udara menjadi lebih sejuk dan juga terasa nyaman.
Anna mengambil pakaian olah raganya, dan mengenakan sepatu lari. Sudah dua minggu ia tidak melatih fisiknya.
Saat keluar dari kamar, Anna berjalan perlahan karena tak ingin menimbulkan kebisingan. Sebelum pergi ia juga menyiapkan air minum di dalam tumbler, "Ah, aku lupa obatku." Anna kembali naik ke atas dan mengambil obatnya serta menyelipkan nya di bawah lidah.
"Jantungku, baik-baik lah dirimu. Hari ini kita akan latihan bersama. Kau adalah jantung yang kuat dan aku percaya padamu."
Saat keluar dari rumah, Anna bisa mencium bau basah dari embun pagi, dan juga bau tumbuh-tumbuhan segar serta bau dari bunga-bunga yang baru bermekaran. "Sungguh pagi yang indah untuk memulai hari."
Anna melangkahkan kakinya melewati aspal dan menaiki trotoar untuk berjalan di atasnya. Hari ini ia akan berlari setidaknya lima ratus meter, semoga saja jantung nya mau bekerja sama.
Tidak seperti sebelumnya, hari ini Anna bertemu dengan cukup banyak orang yang berjalan ke arah yang sama dengan dirinya.
"Selamat pagi." Sapa beberapa orang yang berpapasan dengan Anna, "Selamat pagi juga." balas Anna ramah. Hari ini terasa lebih baik. Udara yang dihirup pun terasa jauh lebih segar.
Selain itu ada banyak senyuman serta tawa yang bisa Anna saksikan di pagi yang cerah kali ini, mungkinkah karena ini awal dari musim semi?
Karena pikirannya yang sedang pergi entah kemana, kali ini Anna lagi-lagi harus tersandung, tapi bukan karena batu atau aspal, melainkan kakinya sendiri. Benar-benar ceroboh.
"Aakkhh.." serunya sambil menutup mata. Tapi persis seperti sebelumnya, meskipun terjatuh Anna tidak merasa sakit di tubuhnya, dan tangannya juga tidak ditarik oleh siapapun.
"Seperti yang ku pikirkan, hanya kau satu-satunya gadis yang selalu terjatuh setiap kali kita bertemu." Sam menyunggingkan senyum, merasa konyol di setiap pertemuan mereka.
Anna membuka mata dan mengerjap-ngerjap pelan, saat mendengar seorang pria bicara padanya, dan mata mereka pun bertemu.
Lagi-lagi pria yang samalah yang menyelamatkan Anna dari pertemuannya dengan tanah. Ya ampun! Jantung Anna kembali berdegup dengan cepat, sampai-sampai suaranya memenuhi pendengaran di pagi hari yang masih cukup sunyi. Sam tersenyum dan Anna menatap mata itu dengan begitu intens.
Anna jatuh tepat di atas Sam, atau tepatnya, Sam menggantikan tanah yang akan Anna jumpai. Bagaimana bisa begitu? benar-benar konyol.
Buru-buru Anna mengembalikan kewarasannya dengan berusaha bangun dari atas Sam, namun gerakannya tidak seperti yang ia kehendaki, akhirnya ia kembali terhempas ke atas dada bidang di bawahnya.
Wajah mereka hampir saja bertemu, dan bahkan sangat-sangat dekat.
"Wow, maafkan aku," Anna meringis dengan rasa malu yang mulai menjalari wajah menimbulkan rona merah yang begitu menggemaskan. Jangan sampai orang berpikir bahwa ia hendak melakukan hal yang buruk pada pria yang terbaring di bawahnya.
"Kalian baik-baik saja?" seorang pejalan kaki lainnya menegur mereka, membuat Anna terburu-buru melepaskan tangannya, "Ya kami baik-baik saja. Terimakasih sudah bertanya."
Akhirnya, Sam lah yang memegangi Anna dan mengangkatnya agar mereka bisa bangun dari atas tanah. Sam tertawa kecil sambil menepuk-nepuk tangannya yang ditempeli butiran pasir.
"Aku sungguh minta maaf," kata Anna, merasa menyesal dan konyol sekaligus atas kecerobohan nya. Andai saja orang itu bukan Sam, mungkin Anna akan segera gantung diri karena malu.
"Tidak apa-apa," sahut Sam. "seperti nya aku harus membiasakan diri dengan pertemuan kita yang seperti ini." katanya kembali tertawa.
Anna benar-benar malu. Tapi mau bagaimana lagi, kesialan dan keberuntungan memang selalu datang bersamaan setiap kali ia bertemu dengan Sam.
"Kau baik-baik saja? apa kau terluka?" Tanya Anna, yang baru saja memutar otaknya. "Tidak apa-apa, hal seperti ini tidak akan melukai ku."
"Jadi seperti apa yang akan melukai mu?" Wajah Sam berubah ngeri saat pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Anna.
Menyadari kebodohannya, Anna buru-buru bangun seraya menatap bersalah pada Sam, "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud,- aku hanya," Sam menghardik tangannya di depan Anna, kemudian tersenyum samar, "Tidak apa-apa, lupakan saja." Sahut Sam, dan Anna pun sepakat untuk melewatkan percakapan yang sepertinya tidak Sam sukai.
Tolonglah untuk bisa mengendalikan mulutmu, Anna!
"Sepertinya aku jarang melihatmu belakang ini," Sam memulai percakapan, dan keduanya pun kembali melanjutkan berjalan santai di pinggiran trotoar.
"Aku memang tidak berolah raga," jawab Anna dengan sebenarnya, "Benar-benar menjadi Vampir rupanya." komentar Sam seketika membuat Anna melongo, itu sungguh candaan yang aneh. Apa Anna memang terlihat seperti makhluk penghisap darah yang pucat? tunggu, apa Vampir nyata?
"Aku sibuk mempersiapkan sesuatu." Anna menjelaskan, dan Sam mengedik, "Syukurlah, setidaknya kau tidak melakukan pekerjaan berbahaya, dengan mengintai seseorang di malam hari dan menghisap darahnya." komentar Sam kemudian tertawa, ia merasa lucu atas perkataan nya sendiri.
Sejak kapan ia mulai banyak bicara seperti ini?
"Untungnya tidak. Karena jika aku benar-benar mengintai seseorang untuk menghisap darahnya, maka orang yang akan aku targetkan adalah dirimu." Anna menatap Sam dengan berani, kemudian tertawa.
"Aku akan membuka jendela kamar ku dengan senang hati, jika tahu Vampir seperti dirimu yang mengintai ku." Anna menggeleng, "Itu benar-benar pemikiran yang aneh, jika Vampir benar-benar ada, maka aku yakin kau akan memagari rumah mu dengan bermacam penangkal agar nyawa mu tidak terancam." sela Anna.
Tanpa terasa, Anna dan Sam sudah mengitari taman sebanyak dua kali. Benar-benar diluar perkiraan Anna, ini rekor pertamanya.
"Ingin sarapan bersama?" ajak Sam, saat mereka sudah berhenti untuk istirahat sejenak di bangku taman. Anna menengadah melihat Sam yang menjulang di hadapannya, "Sarapan?" Sam mengangguk,
"Ya, sarapan, itupun jika kau hanya memakan roti dan sebagainya. Karena di restoran di dekat sini, tidak menyediakan darah segar."balas Sam membuat Anna tertawa mendengar pilihan kata-katanya, "Apa-apaan itu," sanggahnya, "Baiklah, ayo." setuju Anna.
Tapi tiba-tiba saja kakinya berhenti, "Ada apa?" Tanya Sam, yang juga ikut berhenti. "Aku tidak membawa uang." sahut Anna dengan wajah polos.
Sam tidak bisa menyembunyikan tawanya, gadis itu benar-benar membuatnya tertarik.
"Untuk Vampir seperti mu, aku akan mengeluarkan uang ku." Sam berjalan kembali kepada Anna dan berdiri di belakangnya, Sam mendorong tubuh Anna agar kembali berjalan.
"Akan ku ganti saat kita bertemu lagi," kata Anna yang masih merasa sungkan.
"Apa kau akan jatuh lagi?" sepertinya Sam akan suka menggoda Anna seperti ini, Anna membalas Sam sambil tersenyum, "Kau mengharapkan agar aku jatuh?"
"Jadi kau tidak akan jatuh? itu bagus." balas Sam cepat lalu tertawa. "Tidak. Aku berniat sebaliknya."
"Jika begitu aku harus selalu bersiap setiap pagi. Katakan padaku jika besok kau ingin jatuh lagi."
"Ah, baiklah. Akan ku berikan semacam tanda. Atau mungkin aku akan memberikan sebuah isyarat agar kau tahu bahwa aku akan bertindak ceroboh."
"Ide yang bagus."
.......
.......
.......
.......
.......
Cerita Anna & Sam ini menurut aku termasuk cerita novel yg banyak pelajaran hidupnya...dimana Anna harus berjuang melawan kegelapan demi melanjutkan masa depannya.
Mulai berani untuk kembali belajar mencintai untuk kembali meraih kebahagiaan hidupnya yg sempat hilang akibar rasa sakit yg tidak tertahankan karena cinta.
Sebenarnya melupakan sesuatu yg menyakitkan itu bukanlah hal yg mudah untuk dilakukan...dimana hidup masih berjalan dan pikiran masih bekerja...bayang2 & ingatan pahit itu pasti akan terus mengikuti.
Tetapi kehidupan yg masih harus tetap berjalan membuat kita harus mencoba untuk mendewasakan diri lagi...dimana rasa pahit itu harus kita ingat untuk kita jadikan pelajaran untuk kehidupan kita selanjutnya.
Thanks Christ...ceritamu luar biasa...semoga menghasilkan karya yg lebih bagus lagi...🥰🥰🥰🥰🥰👍👍👍👍👍
Semoga Anna & Sam selalu berbahagia dengan keluarga kecil mereka...dan semoga selalu romantis sampai mereka menua & sampai Tuhan berkata waktunya untuk pulang...Amin...🥰🥰🥰🥰🥰
Lah...Sam memangnya Anna pergi ninggalin kamu...? Kan Anna gak pergi kemana - mana...cuma jalan2 sebentar aja kok...ahh Sam mah lebay ihh.
Gini nih kalau cowok sudah bucin...cuma menghilang sebentar dari tatapan mata aja dibilang menghilang...tapi sikap Sam ini malah terlihat menggemaskan sih memang...😂😂😂😂😂
Tapi kalau melihat sifat Sam selama ini sih...gak seharusnya Sam berfikiran jelek tentang Anna...semoga saja ya..? Akh...aku jadi agak ngeri juga sih mikirin konflik selanjutnya...😊😊😊😊😊
Lagian juga kepercayaan antar pasangan juga harus ada...sehingga tidak selalu timbul kesalah pahaman yg panjang...semoga Anna & Sam selalu seperti itu...😊😊😊😊😊
Lagian Sam oon amat sih...ngapain juga berkas yg sudah tidak penting masih disimpan...demen banget sih buat perkara.
Semoga aja hubungan mereka tidak sekacau dapur yg dikacaukan sama Anna....😂😂😂😂😂
next aku mau lihat judul lain nya donk kak...
sehat selalu baby twins .