Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengalaman Pertama di Yokohama
Pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan
...*****...
Sinar mentari pagi kini telah hadir kembali menyinari dunia ini. Kehangatannya mampu meredam kedinginan yang berkepanjangan.
Pagi selalu menjadi awal yang baru untuk memulai sebuah kisah hidup seseorang. Dengan sebuah impian dan harapan untuk semua orang yang memiliki ambisi dalam hidupnya.
Hal ini juga yang akan dihadapi oleh gadis muda yang penuh dengan harapan dan impian. Tapi sayang, ia malah melewatkan kicauan burung yang indah di pagi hari.
Sementara itu, Ryu dan keluarganya sudah bersiap untuk sarapan bersama di meja makan. Namun, Riri belum juga muncul batang hidungnya.
Dini mengusulkan pada Ryu untuk memanggil Riri, supaya bisa sarapan bersama.
"Ryu, sebaiknya kamu panggilkan, Riri. Agar bisa sarapan bersama kita, bilang padanya semua sudah menunggunya."
"Ya, Bu. Akan ku panggil dia."
Sementara itu, Aito terlihat kesal dibuatnya. Lalu Dini menyuruhnya untuk sarapan saja duluan.
"Kamu makan saja lebih dulu, jangan sampai kamu terlambat ke rumah sakit."
Dini mengambilkan nasi untuk Aito.
"Sudah cukup, jangan terlalu banyak." kata Aito pada Dini, Dini pun berhenti dan memberikan nasi itu pada Aito.
Saat menuju kamar Riri, Ryu terus berbicara dalam hatinya.
"Kenapa sudah sesiang ini, dia belum juga bangun? Apa dia terlalu lelah hingga kesiangan seperti ini? Ah, sudahlah tidak penting juga memikirkannya!"
Setibanya ia di depan pintu kamar Riri, Ryu mengetuk pintu kamar. Lalu memanggil Riri.
"Riri ... Riri ...! Apa kamu sudah bangun? Semua sudah menunggumu untuk sarapan bersama. Riri ... apa kamu dengar aku? Jika, ya jawablah." Namun, tak ada jawaban dari Riri. Ryu memutuskan untuk pergi saja.
"Sepertinya dia belum bangun, kalau gitu aku pergi saja."
Tak lama setelah itu, Riri terbangun dan matanya mencari-cari dimana keberadaan jam. Setelah ia menemukannya, mendapati jam yang menunjukkan pukul 07:15 pagi.
"Jam berapa itu, apa sekarang sudah jam 07:15? Itu berarti ini sudah siang dong. Apa ... ya, ampun aku kesiangan! Gawat, gawat, gawat!Kenapa bisa begini. Aduh, gimana, nih?! Sebaiknya, aku beres-beres ini dulu. Setelah itu baru aku keluar."
Ketika ia tengah asyik merapikan tempat tidur, terdengar ada suara yang memanggilnya. Ternyata orang itu adalah Dini.
"Riri ...! Apa kamu sudah bangun?"
"Ya, Tante aku sudah bangun, aku sedang merapikan tempat tidur,"
"Tante, sudah siapkan sarapan. Jika, kamu sudah selesai keluarlah untuk sarapan,"
"Ya, Tante,"
"Ya, sudah Tante duluan, ya."
"Ya, Tante."
Dini pergi meninggalkan Riri yang belum selesai dengan pekerjaannya. Saat, ia melihat Ryu, ia segera menghampirinya dan mereka saling berbincang-bincang.
"Ryu, sedang apa kamu disini? Dimana ayahmu?"
"Oh, Ibu. Tidak ada aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Kalau ayah, dia sudah pergi ke rumah sakit. Ada apa, Bu?"
"Tidak, ibu hanya mencemaskan mu saja. Ibu takut hubunganmu dengan ayahmu menjadi memburuk. Ibu, tidak menyalahkan mu tentang, Riri. Tapi, ibu juga mengerti bagaimana perasaan ayahmu. Ibu berharap semoga semuanya akan baik-baik saja."
"Ibu, ibu tenang dan jangan khawatir. Hubungan kami akan baik-baik saja, Bu."
Dari kejauhan ternyata, Riri sedang memperhatikan mereka. Serta bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apa yang sedang mereka bahas? Apakah tentangku? Ah, nggak-nggak. Bisa ajakan bahas yang lain. Ya, itu benar aku nggak boleh berpikir yang bukan-bukan."
Tanpa sengaja, Ryu menoleh kebelakang dan tak disangka, ia melihat Riri yang sedang berdiri di kejauhan. Ia memutuskan untuk menghampirinya.
"Emmm, Bu. Aku permisi sebentar, ya!"
"Ya, Ibu juga ingin pergi belanja. Kamu temani Riri di rumah, ya! Atau ... kalian ingin pergi jalan-jalan? Silakan saja, tapi ingat kamu harus pulang tepat waktu!"
"Ya, Bu."
"Ibu pergi dulu, Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Perlahan tapi pasti, langkah Ryu semakin mendekati Riri. Hingga pada akhirnya ia sampai di hadapan Riri.
"Hai, apa yang sedang kamu lakukan disini? Oh, aku tahu. Kamu menguping, ya?"
"Enak, aja. Siapa juga yang nguping, aku tadi mau ke dapur tapi salah jalan,"
"Santai aja! Aku tadi cuma bercanda. Tapi, kenapa kamu malah marah-marah? Oh, ya ibuku sudah siapkan sarapan untukmu. Ayo, ikut aku ke dapur!"
Kini mereka sudah berada di dapur, Ryu menghidangkan makanan untuk Riri dan menyuruhnya untuk segera memakannya.
"Silahkan dimakan, semoga kamu suka."
"Ya, terima kasih." Riri mulai memakannya dan ia sangat menikmatinya. Ryu yang melihat Riri begitu lahap, dia akhirnya bertanya.
"Apa kamu suka?"
"Emmm, ini enak sekali dan aku sangat suka. Aku belum pernah makan, makanan seenak ini. Tapi, tetap saja masakan ibuku nomor satu di hatiku." ucapnya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Ryu hanya tersenyum melihat sikap Riri yang seperti itu. Setelah selesai menikmati sarapannya, Ryu berencana mengajak Riri berkeliling Yokohama. Lalu ia bertanya pada Riri, apakah dia mau atau tidak.
"Riri, karena kamu sudah selesai sarapan, bagaimana kalau kita hari ini berkeliling, Yokohama. Apa kamu mau?"
Mendengar ucapan Ryu, sejenak Riri terdiam. Ia tak menyangka bahwa Ryu akan mengajaknya pergi jalan-jalan. Karena terlalu lama menjawab, Ryu kembali bertanya.
"Hai ...! Gimana, kamu mau atau tidak?" Riri segera sadar dari lamunannya dan menjawab tawaran Ryu padanya.
"Oh, jalan-jalan, ya? Aku mau, tapi apa tidak apa-apa?
"Memangnya kenapa, kamu tidak suka jalan denganku?"
"Bukan, kamu kan tahu sendiri ayahmu itu tidak suka padaku. Jika, aku menghabiskan waktu bersamamu, dia nanti akan lebih tak suka padaku. Benarkan?"
"Emmm, aku rasa itu hanyalah dugaan mu saja. Kalau gitu, cepatlah bersiap-siap. Aku akan menunggumu.
"Oke, aku siap-siap dulu, nggak akan lama, kok." Riri segera berlari menuju kamarnya dan Ryu hanya tersenyum melihat tingkah laku Riri yang sedikit aneh itu.
Setelah cukup lama menanti akhirnya, Riri telah selesai berdandan dan tak disangka hasilnya cukup bagus untuk seseorang yang tidak bisa berdandan.
Hal itu membuat Ryu terperangah dan terpesona olehnya. Style berpakaian, Riri sebenarnya biasa saja. Ia hanya memakai kaos, celana jeans, dan jaket. Ia juga memakai topi dan juga rambut yang tergerai.
"Aku sudah siap, kamu kenapa menatapku seperti itu? Apa aku terlihat, aneh?"
"Ah, tidak!" Dalam hatinya Ryu sangat mengagumi Riri.
"Bagaimana mungkin kamu aneh? Justru, kamu sangat cantik, Riri. Ah, Astagfirullah. Apa yang aku pikirkan."
Meskipun begitu, Ryu tidak berkomentar apa-apa pada Riri tentang penampilannya itu.
" Apa kita bisa pergi sekarang?" Tanya Ryu.
"Oh, tentu."
Namun, dalam hati Riri berkata, "Jika, aku tidak aneh, mengapa ia menatapku, begitu? Ah, sudahlah untuk apa di pikirkan."
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya