Hidup Luna hancur setelah di jebak dan di hamili oleh kekasihnya - Gandhi. Terlebih saat Mira, Ibu dari Gandhi menolak untuk bertanggung jawab atas kehamilan Luna. Suatu ketika Mira mengetahui Luna adalah anak tunggal dari Adiyatama Erlangga - Pemilik Perusahaan Erlangga Jaya. Ia menyesal telah menolak Luna dan berusaha mendekati Luna supaya Gandhi menjadi penerus Erlangga Jaya jika menikahi Luna.
Luna hancur saat ia diperalat sebagai boneka pemuas nafsu oleh Gandhi. Kemudian Luna mengetahui niat jahat Mira, ia segera melakukan sesuatu agar perusahaan Ayah tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti Mira dan Gandhi. Luna mengorbankan Aditya - Sahabat kecil Luna yang sejak dulu menyukainya. Luna melakukan hubungan intim dengan Aditya. Luna menikah dengan Aditya namun Gandhi mengakui bayi yang dikandung Luna adalah anaknya.
Siapakah ayah yang sebenarnya dari bayi yang dikandung Luna?
Apa rencana Gandhi dan Mira untuk mendapatkan Luna?
Bagaimana dengan pernikahan Luna dan Aditya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sity Qhomariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
“Kita Putus!”
“Kenapa putus?!”
“Aku benci sama kamu!” maki Luna.
“Apa salahku?!”
“Kamu mengingkari janjimu berulang-ulang!” Luna meninggalkan Gandhi. Gandhi tak sanggup lagi mengejarnya. Hatinya terasa sakit karena Luna meninggalkannya begitu saja. Ia masih sangat mencintai Luna. Ia juga membenci dirinya yang tak bisa menepati janji kepada Luna. Gandhi dan Luna memiliki komitmen untuk tidak akan melakukan hal diluar batas kewajaran. Namun Gandhi selalu melanggar komitmen itu. Luna kecewa. Gandhi selalu meminta maaf jika melakukan kesalahan tetapi selalu mengulangnya dikemudian hari.
Tak bisa dipungkiri, Luna masih mencintai Gandhi. Ia merindukan Gandhi. Sudah tiga hari mereka tidak saling berkomunikasi. Bahkan saat kuliah pun mereka tidak saling menyapa dan duduk berjauhan. Bukan hanya Luna, Gandhi pun merasa sakit.
“Lun,” Gandhi menarik tangan Luna yang hendak keluar kelas. Luna sedikit terkejut.
“Kita masih bisa balik, kan?” tanyanya tanpa basa basi. Membuat Luna tersentak. Luna mengatur nafasnya supaya lebih tenang.
“Kamu masih mencintaiku, kan?”
“Lun?” Luna masih terdiam. Gandhi gelisah.
“Hhh.... Oke baiklah.” Gandhi putus asa. Ia bersiap untuk meninggalkan Luna. Namun Luna menarik tangannya.
“Masih.” Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Luna, Gandhi spontan memeluk Luna. Luna memberontak berusaha melepaskan pelukan itu.
“Gandhi! Ini dikampus!” teriaknya. Gandhi melepaskan pelukan itu sambil tertawa.
“Maaf, aku terlalu senang.” Ia tersenyum kemudian merangkul pundak Luna dan mengajaknya pergi.
“Jadi kamu mau ninggalin aku?” Gandhi mengerutkan wajahnya.
“Cuma satu bulan kok. Lagian kan udah lama aku gak pulang ke Bandung,” jelas Luna.
“Satu bulan itu bukan waktu yang sebentar, Lun.”
“Masa aku gak boleh menemui Ayah dan Ibu,” rengek Luna.
“Bukan gak boleh, tapi aku gak tahan bila harus lama-lama jauh dari kamu.” Luna tertawa menanggapi pengakuan Gandhi.
“Aku ikut ya?” bujuk Gandhi.
“Mana bisa! Ayah dan Ibu gak akan suka lihat kamu.” Sergah Luna. Gandhi tampak begitu kecewa.
“Ya sudah. Tapi kamu harus tetap jaga hati!”
“Iyaa.” Luna tersenyum sambil menyentuh wajah Gandhi yang terlihat kesal.
Libur kuliah berlangsung selama satu bulan. Tahun kemarin Luna tidak sempat pulang ke Bandung karena Luna sibuk mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk. Ayah dan Ibu memaklumi. Tahun ini Luna berencana untuk pulang. Ia juga sangat merindukan orang tua dan rumah tempat ia di besarkan. Luna begitu semangat untuk menyambut kota kelahirannya.
“Luna, titip salam buat Ayah dan Ibu mu,” pesan Om Farid kepada Luna yang tengah sibuk merapikan koper. Tante Silvi muncul.
“Ini bingkisan buat Ibumu ya?” Tante Silvi menyelipkan bingkisan kedalam tas ransel kecil milik Luna.
“Iya, Tante, Om.”
“Udah siap semua? Masih ada yang tertinggal?” tanya Om Farid.
“Udah semua, Om.” Luna berdiri tegak, siap untuk berangkat. Om dan Tante mengantar Luna sampai depan pintu. Pak Udin sudah siap dengan mobilnya. Ia yang akan mengantar Luna sampai ke Bandung. Pak Udin adalah supir pribadi Tante Silvi yang ditugaskan Om Farid untuk mengantar Luna.
Setelah berpamitan kepada Om dan Tante, Luna memasuki mobil. Pak Udin sudah memasukan koper Luna kedalam bagasi.
“Luna berangkat Om, Tante!!” Luna melambai di jendela mobil. Pak Udin menghidupkan mesin mobil. Mobil itu perlahan berjalan meninggalkan rumah Om Farid. Luna memeriksa ponselnya di tas. Ia mengirim pesan singkat untuk Gandhi. Setelah itu ia mengambil headset, menyetel lagu kesukaan, menyandarkan kepala di kursi mobil dan menikmati perjalanannya.
Beberapa jam kemudian, mobil sudah berada merapat ke halaman rumah. Luna tertidur karena terlalu asik mendengarkan lagu. Pak Udin memarkirkan mobilnya di halaman.
“Neng Luna bangun, Neng! Kita udah sampai.” Luna mengerjap-ngerjap, matanya melihat kesekeliling. Suasana rumah yang sangat tidak asing baginya. Pak Udin keluar dari mobil dan segera membuka bagasi untuk mengeluarkan koper milik Luna. Terlihat Ayah dan Ibu yang keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan Luna.
“Terimakasih ya, Pak Udin.” Ucap Ibu kepada Pak Udin yang sedang menggotong koper Luna.
“Sama-sama, Bu.” Jawab Pak Udin sesopan mungkin. Luna keluar dari mobil dan langsung memeluk Ibu dan bersalaman kepada Ayah.
“Istirahat dulu di dalam.” kata Ayah. Luna dan Ibu bergandengan mesra sambil memasuki rumah.
Sepasang mata sejak tadi tidak berhenti memperhatikan Luna. Raut wajah heran tergambar jelas. Kemudian ia terperanjat manakala ada yang menepuk bahunya.
“Astaga! Bisa mati jantungan mendadak kalo kayak gini!” teriaknya sambil tak berhenti memaki. Yang dimaki malah tertawa lebar melihat ekspresi adiknya itu.
“Ngeliatin apaan sih?” tanyanya penuh selidik. Matanya ikut melayang mengikuti arah pandang adiknya.
“Itu bukannya Luna?” gumamnya. Mendengar nama Luna, Aditya sedikit tersentak.
“Luna??” tanyanya membuat sang kakak menjadi terkejut.
“Kamu lupa sama Luna?” ia balik bertanya. Aditya terdiam berusaha mengingat-ingat sesuatu. Nama Luna tidak asing ditelinganya. Namun ia tidak merasa mengenal perempuan yang baru saja turun dari mobil dan memasuki rumah di depan rumah mereka.
“Luna, teman kita waktu kecil. Yang nangis gara-gara kamu tabrak pakai sepeda. Terus aku yang dimarahin Mama padahal kamu yang salah. Ingat??” jelas Alfandra - Kakak kandung Aditya.
“Ah aku lupa, kak.” Aditya memegangi kepalanya.
“Lagi ngobrolin apa sih keliatannya asik banget?” tiba-tiba Mama muncul dari dalam rumah.
“Mama masih ingat Luna?” tanya Alfandra. Mama terperangah.
“Luna anak tunggalnya Adiyatama Erlangga?” Mama spontan menatap ke rumah di depan mereka. Alfandra mengangguk.
“Kamu liat dia?”
“Bukan aku, Ma. Tapi Adit.”
“Iya, Dit??” tanya Mama meyakinkan.
“Adit kurang yakin, Ma. Lagian Adit lupa sama yang namanya Luna.”
“Kalo bener itu Luna, Mama udah gak sabar pengen liat. Udah seperti apa dia sekarang ya, dulu kecil bareng sama kalian, hihihi.” Mama berkhayal sambil tertawa kemudian kembali masuk ke dalam rumah. Aditya hanya garuk-garuk kepala. Ia masih berusaha mengingat Luna.
“Luna?” sapa seseorang didepan Luna. Luna terkejut ada yang memanggil namanya. Ia segera menoleh kedepan.
“Siapa ya?” tanya Luna. Yang ditanya malah tersenyum.
“Kamu bener Luna?”
“Iya.”
“Luna kamu lupa sama aku?” tanya Alfandra. Ia menyeberang jalan kecil yang menghalangi mereka dan mendekati Luna. Luna masih berusaha mengingat-ingat.
“Kita bertiga naik sepeda terus kamu di tabrak sama Adit dari belakang, kamu jatuh terus nangis. Lalu aku di marahi Mamaku padahal kamu jatuh gara-gara Adit.” Alfandra berusaha mengingatkan kenangan masa lalu mereka.
“Hah?? Kamu? Iya iya aku ingat dulu pernah jatuh dari sepeda pas main. Tapi aku lupa-lupa ingat gitu. Maaf ya kalo aku terkesan sombong tapi aku beneran gak ingat.” Kata Luna. Alfandra tersenyum.
“Gak apa-apa, Lun.” Luna balas tersenyum dengan perasaan yang masih bingung.
egois pula
baguslah adit gag ngemis²
langsung di ceraiin
udah gag suci
gag tau malu pula
8 like favorite😍 untuk mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk