Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah
Hari berlalu begitu cepat, hari ini adalah hari dimana aku akan menjadi seorang istri. Penuh keraguan dalam hati ini apalagi mendapati sikap dingin dan kasarnya seorang Davin Aryasatya, akan kah pernikahan yang sesaat lagi akan dilangsungkan tidak menimbulkan penyesalan setelahnya? Sepertinya aku harus lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi dan menerima seluruh sikap dan sifatnya, karena setelah menikah aku harus bisa menerima segala kekurangan dan kelebihannya. "Tidak boleh menjadi wanita lemah, kau adalah wanita yang cerdas dan juga tangguh." batin ku menyemangati.
Aku telah mengenakan gaun pengantinku, sederhana namun ketika aku yang mengenakannya gaun itu terlihat lebih istimewa. Berapa pun harga pakaian tidak terlalu masalah asal kan nyaman dan cocok ketika di kenakan.
Hatiku berdebar keras, bukan karena akan menikahi pria tampan. Tapi aku memikirkan apa yang akan terjadi setelah pernikahan ini. Sedang ku pertaruhkan masa depan ku di dalam pernikahan ini.
"Sudah siap Nak?" tanya Bunda membuyarkan lamunanku.
"Sudah Bun."
"Anak Bunda cantik. Jadilah istri yang baik Nak, surga mu berada dalam ridho suami mu. Harus jadi wanita yang kuat, karena semua hal tidak melulu seperti yang di harapkan, terkadang Allah akan menguji kalian. Maka dari itu harus saling mengingatkan dan menguatkan."
"Akan aku ingat semua nasihat Bunda."
"Mari kita keluar pengantin pria sudah menunggu. Senyum dong sayang, semoga anak Bunda selalu bahagia."
"Aamiin.." Ku raih tangan Bunda dan menggenggam nya, segera kami keluar ruangan untuk menemui pengantin pria.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Aliqa Mardika binti Galuh Mardika dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat di bayar tunai." ucap Davin dengan lantang.
"Bagaimana, para saksi SAH?" Tanya Penghulu kepada seluruh tamu undangan.
"SAH.." ucap serempak para tamu undangan.
Dipasangkan nya cincin di jari manis ku, ku cium punggung tangannya dan dia membalas mencium keningku. "Alhamdulillah" gumam ku, meski pernikahan dalam perjodohan mengucapkan rasa syukur itu perlu kan.
Setelah selesai menandatangani surat-surat pernikahan, aku dan Davin beranjak menuju tempat resepsi dengan bergandengan tangan. Dia memegang tanganku dengan sangat erat, sehingga aku merasa kesakitan. Ku tahan ekspresi ku agar tidak terlalu berlebihan merasakan sakit ini, ingin rasanya segera melepaskan genggamannya. Baru saja menjadi istrinya, lagi dia telah menyakiti ku.
Aku menyambut tamu dengan senyum terus terukir di wajah, sedangkan Davin dia memasang wajah datarnya. Tak lama ada sesosok wanita yang kini aku ketahui dia adalah pacarnya Davin, seketika wajah Davin berubah berseri-seri ketika melihat wanita itu datang. Sungguh seperti bunglon, sikapnya berubah-ubah bergantung keadaan. Wanita itu memandang ku tak suka dan melewatiku begitu saja, dia menyalami Davin begitu lama mata mereka saling menatap dalam, mungkin mereka sedang melakukan telepati atau transfer ilmu hitam. Tak begitu ku hiraukan aktifitas mereka.
"Al.. sebel ih kok gak bilang-bilang gue." suara cempreng itu membuatku terperanjat kaget.
"Sorry" ucapku. "Lo sendiri? Kak Bima gak dateng?" tanyaku kemudian memeluk nya.
"Sorry kak bima gak bisa dateng soalnya dia udah balik ke Jakarta. Gak nyangka secepat ini lo menikah, kapan pacarannya coba tau-tau udah naik pelaminan aja, lo punya hutang penjelasan sama gue."
"Ya sahabatku nanti bakalan gue jelaskan semuanya, tidak akan ada yang aku tutup-tutupi, tapi tidak disini."
"Gue tagih janjinya. Lo cantik banget sih, selamat menempuh hidup baru dan selalu berbahagia ya Al," ucap Orin. "Suami lo ganteng juga." bisik nya tepat di telingaku.
"Apaan sih ah, jangan di sini ngobrolnya, tuh orang-orang udah pada antri mau salaman sama gue."
"Iya..iya... gue turun," ucap Orin berlalu.
Para tamu semakin banyak berdatangan, ku salami satu persatu tamu undangan dan tak lupa untuk memasang senyum semanis mungkin. Sungguh melelahkan ingin ku segera merebahkan tubuh ini di atas ranjang yang empuk.
***
Setelah acara resepsi selesai, aku dan Davin memasuki rumah orang tua ku. Malam ini kami telah sah menjadi sepasang suami istri, seperti nya aku akan mengubah panggilan ku untuk nya menjadi "Mas".
Tubuh ku merasa lelah, aku berencana untuk mandi kemudian beristirahat. Ternyata seseorang yang kini menjadi suami ku telah mengikuti ku menuju kamar. Mulai hari ini aku harus memperlakukan diriku layaknya seorang istri, meski tak di harapkan. Aku tidak ingin menjadi istri yang durhaka.
"Mas mau mandi?"
"Mas? menjijikan," tanya nya keheranan.
"Mulai hari ini kamu adalah suamiku, suka tidak suka aku akan memanggil mu Mas."
"Terserah, kamu mandi duluan saja. Tidak ada yang ingin mandi bersama mu."
"Aku tidak mengatakan, bahwa aku mengajak mu mandi bersama," jelas ku kemudian masuk menuju kamar mandi.
Segarnya dengan rambut masih basah aku keluar dari kamar mandi, aku mengenakan baju tidur tipis berwarna dusty pink berbahan dasar satin dengan renda di bagian dada dan celana pendek di atas lutut berwarna senada.
"Jangan menggodaku, aku tidak akan menidurimu."
"Aku tidak menggoda siapa pun," tutur ku berlalu menaiki kasur, menarik selimut sebatas dada dan memejamkan mata.
"Besok pagi kita akan pindah kerumah yang telah di siapkan oleh Papa." ucapnya dan berlalu menuju kamar mandi.
Masih ku dengar suaranya, tak ada yang perlu ku jawab karena mau tidak mau, cepat atau lambat aku tetep harus meninggal kan rumah ini dan hidup bersamanya mengarungi bahtera rumah tangga.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, ku buka sedikit mataku untuk melihat ke arah sana. Pria itu keluar dengan rambut masih basah, bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer, begitu sangat mempesona.
Pria itu membaringkan dirinya di atas sofa, memainkan ponselnya, sesekali dia tersenyum ketika melihat ke arah layar ponselnya. Hal yang tak pernah dia lakukan ketika saat bersama ku. Mungkin jika aku telah mencintaimu akan sangat menyakitkan mendapati pria yang berstatus sebagi suami tersenyum karena wanita lain. Teruslah bersikap dingin seperti ini agar tidak mudah untuk ku mencintaimu, belum saat nya aku mencintaimu karena hanya akan membuat kesakitan ku sendiri. Cepat atau lambat akan ku buat kau melupakan wanita itu, aku akan berusaha menghadirkan rasa cinta di hatimu karena kau adalah suami ku, kau milik ku. Wanita mana yang menginginkan suaminya mencintai wanita lain.
Pria yang sejak tadi ku pandangi kini telah tertidur dengan lelapnya di atas sofa. Ku beranjak dari ranjang ku lalu menghampirinya untuk memakaikan selimut untuknya, ku tatap lekat wajahnya yang sedang terlelap. Ternyata begini rasanya Mas menjadi istrimu, ketika orang-orang di malam pertama akan sibuk merajut kasih. Sedangkan kita tidur satu ranjang pun tidak.