6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 - SATU SUDAH MASUK
BAB 8 - SATU SUDAH MASUK
Posko KKN terasa lebih dingin dari biasanya malam itu.
Rini dan Bayu baru saja sampai dengan napas terengah-engah. Wajah mereka pucat, baju mereka kotor karena jatuh di dekat sumur. Di dalam posko, dua teman mereka yang lain, Dito dan Sinta, sudah menunggu dengan wajah cemas.
"Kalian dari mana aja sih?! Kita cariin dari tadi! Maya belum balik juga!" Sinta langsung menyerbu dengan pertanyaan.
Mendengar nama Maya, Rini langsung menangis lagi. Tangisnya pecah. Semua ketakutan yang ia tahan di dekat sumur tumpah ruah.
Bayu mencoba menjelaskan dengan suara gemetar. "Tadi... tadi Rini lihat sesuatu di sumur belakang balai desa..."
"Sumur? Bukannya Pak Lurah udah bilang jangan ke sana malam-malam?" Dito mengerutkan kening. Dito adalah tipe yang paling logis di antara mereka. Anak teknik yang tidak percaya hal mistis.
"Kami dengar suara Maya dari dalam sumur!" Rini berkata di sela isak tangisnya. "Dia minta tolong! Dia bilang dingin!"
Sinta dan Dito saling pandang. Mereka tidak percaya, tapi melihat kondisi Rini dan Bayu yang benar-benar ketakutan, mereka jadi ikut merinding.
"Udahlah, kalian kecapean. Mungkin kalian salah dengar. Angin lewat sumur emang suka bunyi kayak orang nangis," Dito mencoba menenangkan dengan logika.
"TIDAK! Aku tidak salah dengar!" Rini membentak. "Dan ada yang bilang... satu sudah masuk, tinggal empat lagi!"
Saat Rini mengucapkan kalimat itu, lampu minyak di posko yang tadinya menyala terang, tiba-tiba berkedip-kedip. Angin kencang tiba-tiba masuk dari celah jendela kayu, padahal semua jendela sudah mereka tutup rapat.
Sinta menjerit kecil. "Bayu, apa maksudnya satu sudah masuk?"
Bayu menelan ludah. Ia menceritakan mimpinya semalam kepada semua orang. Tentang perempuan tua yang menghitung di balai desa. Tentang KKN ini adalah tumbal terakhir.
Setelah Bayu selesai bercerita, hening. Hanya terdengar suara angin di luar yang semakin kencang, seperti ada yang mengitari posko mereka.
"Kita... kita berlima di sini," Sinta menghitung dengan jari gemetar. "Maya hilang. Jadi... satu sudah masuk itu Maya? Dan kita berempat yang tinggal?"
Tidak ada yang menjawab. Tapi semua orang merasakan hal yang sama. Hawa dingin yang menusuk tulang.
Dito yang tadinya paling tidak percaya, kini mulai terlihat pucat. Ia berjalan ke arah tasnya dan mengambil senter besar. "Udah, jangan ngomong aneh-aneh. Aku mau cek sumur itu sendiri. Pasti nggak ada apa-apa. Paling Maya kesasar di hutan."
"Jangan Dito! Jangan ke sana!" Rini menarik tangan Dito.
Tapi Dito melepaskan pegangan Rini. "Aku anak teknik, Rin. Aku nggak percaya setan. Kalau emang ada apa-apa, aku buktikan sekarang."
Dito keluar dari posko dengan senter besarnya, berjalan menuju kegelapan ke arah sumur belakang balai desa. Bayu ingin mencegah, tapi kakinya terasa berat.
Mereka bertiga menunggu di posko. Satu menit. Dua menit. Lima menit.
Cahaya senter Dito masih terlihat dari kejauhan, bergoyang-goyang.
Lalu, tiba-tiba...
Cahaya itu padam.
"DITO!" Bayu berteriak.
Tidak ada jawaban.
Dari arah sumur, terdengar suara tawa melengking yang sama yang didengar Rini tadi. Kali ini lebih keras, lebih dekat. Dan diiringi suara teriakan Dito yang terputus.
"SATU SUDAH MASUK! TINGGAL TIGA LAGI!"
Lampu minyak di posko padam total. Gelap.
Dan dari luar jendela posko, mereka bertiga melihat dengan jelas. Ada empat sosok bayangan berdiri di halaman. Wajah mereka pucat, mata putih, tersenyum lebar ke arah posko.
Maya... dan Dito... ada di antara mereka.
Malam itu, jumlah mereka yang hidup di posko, berkurang menjadi tiga.
Bayu langsung mengunci pintu posko dari dalam. Tangannya gemetar hebat sampai kunci besi itu jatuh dua kali ke lantai. Suara jatuhnya kunci menggema di posko yang sunyi.
Sinta sudah tidak bisa menahan tangis lagi. Ia terduduk di pojokan dekat dapur, memeluk lututnya erat-erat, tubuhnya bergetar.
"Bayu... Bayu kita mau mati di sini ya? Aku mau pulang... aku mau pulang..." isak Sinta lirih.
Rini masih berdiri mematung di depan jendela. Matanya tidak berkedip, menatap empat sosok pucat di halaman yang gelap itu. Sosok-sosok itu tidak bergerak sama sekali. Mereka hanya berdiri berjejer, tersenyum lebar dengan mata putih kosong menatap ke dalam posko.
Yang paling depan adalah Maya. Rambutnya basah, baju KKN-nya kotor penuh lumpur hitam. Di sebelahnya, Dito. Wajah Dito pucat, lehernya terlihat ada bekas cakaran hitam yang dalam.
Lalu, sosok yang paling depan, Maya, perlahan-lahan mengangkat tangannya yang pucat. Jari telunjuknya yang kukunya panjang dan hitam menunjuk tepat ke arah Rini.
Dan dengan suara yang bukan lagi suara Maya, tapi suara berat dari banyak orang yang tumpang tindih, ia berkata.
_"Rini... giliran kamu selanjutnya... sumur sudah menunggu lama..."
Sinta menjerit histeris mendengar itu. Ia langsung menutup telinganya.
Bayu menarik Rini menjauh dari jendela. "Jangan dilihat, Rin! Jangan dilihat!"
Tapi Rini tidak bisa bergerak. Kakinya seolah terpaku di lantai. Ia merasa ada hawa dingin yang merayap naik dari kakinya ke seluruh tubuhnya.
"Nggak bisa, Bayu..." Rini berbisik pelan, air matanya mengalir. "Pak Lurah bilang... tidak ada yang bisa keluar dari Desa Mati setelah jam 12 malam... jalannya akan muter balik lagi ke sumur itu... kita dikurung..."
Bayu melihat jam dinding kayu yang tergantung di ruang tengah. Jarum jam menunjukkan pukul 23:55. Lima menit lagi jam 12 malam. Lima menit lagi waktu keramat desa itu.
Di luar, angin tiba-tiba berhenti total. Hening. Empat sosok di halaman itu perlahan-lahan mulai berjalan mendekat ke arah posko. Langkah mereka tidak menimbulkan suara.
TOK... TOK... TOK...
Terdengar ketukan pelan di pintu depan posko.
Ketukan itu pelan, tapi membuat jantung mereka bertiga hampir copot.
TOK... TOK... TOK...
Ketukan itu semakin keras.
"Buka... kami kedinginan di luar... buka pintunya..." Suara Maya terdengar dari balik pintu, disertai tawa melengking yang menyeramkan.
Bayu memegang gagang sapu kayu sebagai senjata, berdiri di depan pintu dengan napas terengah-engah.
"Jangan ada yang buka! Apapun yang terjadi jangan buka!"
Jam dinding berdetak. 23:59...
Gedoran itu semakin brutal. Pintu kayu posko yang sudah tua itu bergetar hebat, hampir lepas dari engselnya. Debu-debu berjatuhan dari atas kusen.
BRRRAKK!
Salah satu papan pintu retak!
Sinta menjerit sekeras-kerasnya sampai suaranya habis. Bayu memegangi pintu dengan seluruh tenaganya, keringat dingin mengucur deras.
Rini tiba-tiba merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakinya dari bawah lantai kayu. Ia menunduk. Air hitam. Air hitam pekat yang sama seperti di sumur, merembes masuk dari kolong posko, membasahi kakinya.
Air itu dingin menusuk tulang, dan dari dalam air itu, muncul tangan-tangan kecil pucat yang berusaha menarik kaki Rini ke bawah!
"AAAH! BAYU! KAKI AKU DITARIK!" Rini menjerit dan terjatuh.
Jam dinding berdentang keras.
DONG... DONG... DONG...
Tepat jam 12 malam.
Lampu minyak padam. Gelap total. Dan pintu posko terbuka dengan sendirinya.
_TOK! TOK! TOK!* Ketukan berubah menjadi gedoran keras!
GIMANA KAK? SEREM BANGET KAN? 😱 Dito ketarik juga!
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐