NovelToon NovelToon
Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: DMAM

Drett drettt!!

Tiba-tiba ponsel Dimas berdering. Pria itu menggerutu kesal karena permainan game-nya tiba-tiba terhenti.

"Ck! Bikin kalah aja!" Dimas mengangkat teleponnya dengan nada kasar. "Apaan sih, Bro? Apa? iPhone 15 Pro Max gue kena tumpahan kopi? Yah, kok bisa sih?!"

Dimas mematikan sambungan telepon dengan wajah yang cemberut. Ia menoleh ke arah Tante Rosma, dan menggoyang-goyangkan lengan baju ibunya bak anak kecil yang merajuk.

"Mami! iPhone Dimas yang dipegang si Rian katanya rusak kena kopi! Pokoknya Dimas gak mau tau, Mami! Aku mau iPhone terbaru hari ini juga! Yang warna Titanium! Sekarang, Mi!" jerit Dimas melengking, sama sekali tidak malu pada Aisyah dan ibunya yang menyaksikan.

Tante Rosma langsung panik melihat anaknya merajuk. "Aduh, sayang... iya, iya! Jangan marah-marah dong, Nanti tensi Mami naik. Ya udah, habis dari sini kita langsung ke iBox ya? Mami beliin dua sekalian buat cadangan."

"Beneran ya, Mi? Sekarang ya?" tanya Dimas, dengan wajah yang berubah cerah tanpa sisa cemberut.

"Iya sayang. Yuk, kita jalan sekarang aja. Biar kamu gak bad mood." Tante Rosma berdiri, sambil membetulkan letak tas mewahnya.

Ia lalu menatap Aisyah dan Bu Rahmi dengan senyum formalitas. "Bu Rahmi, Aisyah, kami pamit dulu ya. Dimas kalau lagi bad mood begini harus cepat dituruti, kasihan kepalanya suka pusing kalau keinginannya tertunda."

"Tapi Tante, pembicaraan mengenai konsep acara besok—"

"Kan Mami sudah bilang tadi, Aisyah," potong Dimas dengan nada sewot. "Kamu gak perlu pikirin, ada mami aku yang akan urus! Kamu tinggal duduk manis, dandan yang cantik, beres kan? Mami, yuk! Nanti tokonya tutup!"

Dimas langsung berbalik membelakangi mereka dan berjalan keluar menuju mobil tanpa mengucapkan permisi pada Bu Rahmi. Tante Rosma menyusul dari belakang sambil sibuk mengelus punggung anak laki-lakinya itu.

Mobil putih itu melaju kencang, meninggalkan debu tipis yang berterbangan di depan rumah kayu tersebut.

Setelah kepergian mereka, Aisyah berdiri terpaku di ambang pintu. Tatapannya kosong menatap jalanan gang yang kembali sepi. Di dalam rumah, ia mendengar suara gesekan piring. Saat berbalik, Aisyah melihat ibunya sedang membereskan pisang goreng yang sama sekali tak tersentuh.

Ibu Rahmi menunduk, dan Aisyah bisa melihat setitik air mata menetes ke atas nampan kayu yang di pegang ibunya itu.

"Ibu..." Aisyah berlari mendekat dan memeluk tubuh renta ibunya dari samping. "Ibu jangan menangis... Aisyah mohon..."

Ibu Rahmi mengusap air matanya dengan ujung kulot kainnya dan mencoba tersenyum meski bibirnya gemetar. "Ibu tidak apa-apa, Nak. Ibu cuma... Ibu cuma kepikiran kamu."

"Aisyah gak apa-apa, Bu."

"Bagaimana mungkin kamu gak apa-apa, Syah?" Bu Rahmi menatap mata anak tunggalnya itu lekat-lekat. "Dimas itu... dia belum dewasa, Nak. Dia bahkan tidak bisa menghargai usaha orang tua kamu. Bagaimana nanti kalau kamu sudah jadi istrinya? Kalau ada masalah di antara kalian, apa dia akan terus berteriak 'Mami, Mami, Mami'?"

Air mata yang ditahan Aisyah akhirnya luruh juga. Kata-kata ibunya menghantam ulu hatinya dengan sangat telak.

"Tadi Aisyah dengar sendiri kan? Mas Dimas bilang apa? 'Mami, aku mau iPhone terbaru hari ini juga.' 'Mami, uang jajan aku habis.' Usia hampir tiga puluh tahun, tapi jiwanya masih anak-anak. Dia tidak tau rasanya cari uang sepeser pun. Semua dipenuhi ibunya," lanjut Bu Rahmi dengan suara yang bergetar.

"Aisyah kira... kalau udah menikah nanti, Mas Dimas bakal berubah, Bu. Aisyah pikir Aisyah bisa bimbing dia perlahan-lahan..." bisik Aisyah.

Bu Rahmi menggeleng dengan pelan. "Ubah tabiat lelaki yang dibesarkan dengan cara dimanja setengah mati itu tidak mudah, Nak. Kamu bukan cuma menikah dengan Dimas, tapi kamu menikah dengan ketergantungannya pada ibunya. Apakah kamu siap menanggung beban itu seumur hidupmu?"

Pertanyaan itu menggantung tebal di udara malam yang mulai turun. Aisyah tidak bisa menjawabnya. Ia hanya bisa memeluk ibunya lebih erat, sementara di kepala dan hatinya, badai keraguan mulai bertiup amat kencang.

_____

__________

Malam yang ditentukan pun tiba. Rumah Aisyah yang sederhana telah dibersihkan hingga tak ada sebutir debu pun tersisa. Meski Tante Rosma melarang keras Bu Rahmi memasak, Bu Rahmi tetap membuat hidangan penutup berupa kue talam dan es cendol buatan sendiri sebagai wujud penghormatan tuan rumah.

Pukul tujuh malam tepat, sebuah rombongan tiga mobil mewah berhenti di gang sempit. Tetangga sekitar berkerumun, berbisik-bisik kagum melihat deretan mobil mahal yang mendatangi rumah guru honorer tersebut.

Tante Rosma turun paling depan, disusul oleh beberapa kerabat dekatnya. Dan di tengah-tengah mereka, Dimas berjalan dengan santai.

Pria itu tampak gagah mengenakan kemeja batik tulis bernuansa gelap. Namun, ketampanan fisiknya mendadak sirna saat Aisyah melihat matanya yang terus melirik ke bawah, sibuk memeriksa iPhone 15 Pro Max warna Titanium yang baru dibelinya kemarin.

"Selamat datang, Bu Rosma, Nak Dimas, dan keluarga," sapa Bu Rahmi dengan santun di depan pintu.

Mereka semua masuk dan duduk lesehan di atas karpet tebal yang sengaja disewa Aisyah untuk malam ini.

Petugas katering yang disewa Tante Rosma bergerak gesit membawa masuk kotak-kotak makanan mahal dari restoran bintang lima, menaruhnya di sudut ruangan, dan menyisihkan kue talam buatan Bu Rahmi ke pojok yang tersembunyi.

Acara pembuka berjalan formal. Perwakilan keluarga Dimas menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka untuk melamar Aisyah secara resmi. Namun, ketika sesi penyampaian tanggal pernikahan dan mahar dimulai, keretakan karakter itu kembali terlihat jelas.

"Mengenai tanggal pernikahan," ujar Paman dari pihak Dimas, "Kami dari keluarga besar menyarankan bulan depan, tanggal lima belas."

Mendengar penuturan yang cukup mengejutkan itu, Bu Rahmi mengangkat tangannya perlahan. "Maaf, Pak. Kalau bulan depan tanggal lima belas, sepertinya terlalu mendesak untuk kami. Tabungan Aisyah dan persiapan kami belum cukup. Bagaimana kalau tiga bulan lagi?"

Sebelum paman Dimas menjawab, Tante Rosma sudah menyambar duluan. "Aduh Bu Rahmi! Masalah biaya gak usah dipusingkan! Semuanya sudah beres, ada mami yang kerjakan! Saya yang bayar gedung, saya yang bayar katering, saya yang tanggung WO nya! Bu Rahmi tinggal bawa badan aja sama Aisyah!"

Suasana ruangan mendadak canggung. Kata-kata Tante Rosma terkesan dermawan, namun nada bicaranya amat merendahkan kehormatan keluarga tuan rumah.

Aisyah yang duduk menunduk di samping ibunya meremas jemarinya kuat-kuat. Ia lalu memberanikan diri menatap Dimas.

"Mas Dimas," panggil Aisyah. "Ini acara pernikahan kita berdua. Menurut Mas Dimas sendiri bagaimana? Apakah Mas Dimas setuju kalau pernikahan diundur tiga bulan agar kami dari pihak perempuan juga punya kesempatan untuk ikut bersiap dan berkontribusi?"

Semua mata di ruangan itu tertuju pada Dimas. Pria itu tampak terkejut mendapat pertanyaan mendadak dari Aisyah hingga Ia tergagap sejenak dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Ehh... itu... gimana ya, Syah?" Dimas menoleh patah-patah ke arah ibunya. "Mami... gimana, Mi? Dimas nurut Mami aja deh. Mami yang lebih tau mana tanggal yang hoki kan?"

Aisyah memejamkan matanya sejenak. Lagi-lagi Mami.

"Dimas!" tegur Paman Dimas pelan. "Kamu ini calon suami. Ditanya calon istri kok malah lempar ke Mami?"

"Ya kan emang Mami yang membiayai semuanya, Paman!" balas Dimas tanpa rasa bersalah sama sekali. "Hampir setiap usaha mengandalkan mami. Menyelesaikan masalah diserahkan pada Mami. Lagian Dimas mana tau urusan tanggal-tanggal begini. Dimas kan sibuk!"

"Sibuk apa kamu, Dimas?!" cetus Paman Dimas gusar. "Setiap hari cuma main game, nongkrong, minta uang!"

"Loh! Kok Paman malah pojokin Dimas sih?!" Tante Rosma langsung pasang badan, sambil melebarkan kedua tangannya untuk melindungi Dimas. "Dimas itu anak saya! Jangan ada yang berani bentak-bentak dia! Kalau Dimas mau serahin semuanya ke Saya, ya terserah dia dong! Wong Saya ibunya!"

Pertengkaran kecil terjadi di antara keluarga besar Dimas. Di tengah kegaduhan itu, Dimas bukannya meredakan suasana, ia malah menarik-narik lengan baju Tante Rosma.

"Mami, udah ah! Dimas pusing denger orang berantem!" seru Dimas dengan nada manja yang mengerikan. "Mami, uang jajan aku habis nih gara-gara kemarin beliin teman-teman makan di kafe. Transferin Dimas lima juta dong sekarang, Dimas mau keluar nongkrong aja malas di sini panas!"

Duar!

Kalimat itu bagai petir di siang bolong bagi Aisyah dan Bu Rahmi. Di tengah prosesi lamaran yang sakral, di depan calon mertua dan kerabat, seorang pria dewasa berteriak meminta uang jajan kepada ibunya karena merasa bosan dan pusing.

Namun, bukannya menegur atau menasehati, tante Rosma malah tanpa ragu merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel, dan melakukan transfer saat itu juga. "Sudah, sayang. Mami udah transfer sepuluh juta. Kamu kalau mau pergi nongkrong jalan aja dulu pakai mobil Paman, ya. Nanti Mami yang beresin urusan di sini."

"Okei, Mami! Makasih Mami!" Dimas langsung berdiri, menyambar kunci mobil, dan melangkah keluar begitu saja tanpa pamit kepada Bu Rahmi maupun Aisyah.

Suasana ruangan seketika hening mengerikan. Kerabat dari pihak Dimas menunduk malu atas kelakuan anak tunggal keluarga tersebut. Sementara tante Rosma tersenyum tanpa dosa, seolah-olah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang sangat wajar.

"Ya Allah ..."

Bersambung...

1
Tuti Nurhayati
up LG KK dtunggu
Aurora: udah update Kaka... yuk lanjut baca lagi 🤗. Kalau suka, jangan lupa kasih like nya ya...🥰
total 1 replies
Tuti Nurhayati
up LG y dtunggu
Aurora: siap kakak... makasih udah mau mampir 🤗🥰
total 1 replies
fans
Menarik, lanjutkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!