NovelToon NovelToon
DOSEN DUDA DINGIN

DOSEN DUDA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Dosen
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: BJP

Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.

Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Tiga hari berlalu, kini semuanya sudah kembali baik-baik saja. Sosok Oliver pun sudah tidak terlihat dihadapannya selama tiga hari ke belakang.

Hari ini Zafana mempunyai jadwal libur kuliah dan ia masih berada didalam kamarnya sejak 2 jam lalu ia terbangun.

Tok tok tok

"Na, anter mama belanja bulanan yuk"ucap Clara dari balik pintu kamar Zafana.

Zafana menghela lalu segera menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Mama tahu kamu udah bangun Na! Mama lihat whatsapp kamu online dari tadi!”ucap Zafana.

Zafana membuat wajah sebal lalu kembali membuka selimutnya, “ah mama gak mau, Zafa mau tidur lagi"jawab Zafana.

"Kamu tuh, katanya abis wisuda mau kerja, gimana mau cari kerja kalau bangun pagi malah kesiangan, gak ada gesitnya juga jadi anak. Kamu tuh anak perempuan Zafa, harus gesit! Apalagi nanti kamu jadi istri. Kamu tuh harus ngurus rumah, bangun pagi, siapin ini itu buat keluarga. Masa kamu nanti bangun kayak gini sih"ucap Clara sedikit berteriak membuat Zafana menyerah lalu melangkah membukakan pintu untuk Clara.

Zafana berdecak. "Mama apaan sih pembahasannya gak jelas, kemana-mana. Lagian Zafa belum mau nikah"jawabnya.

"Astaga Na, jangan ngomong gitu kamu! Yang namanya perempuan kalau udah dekat sama cowok tuh pasti cepet nikahnya! Apalagi kata Roos kamu lagi deket sama duda yang kemarin nganter kamu...aduh gak kebayang deh anak mama nikah sama duda"ucap Clara heboh.

"Apaan sih ma ah, gak usah bawa-bawa yang gak ada didepan mata"lagi-lagi Zafana membantah.

"Ya kan kenyataan kamu deket sama dia, eh umur dia berapa?"tanya Clara yang mulai memanasi Zafana dengan rasa penasarannya.

"Mama ribet ih"cibir Zafana lalu berjalan masuk kembali kedalam kamarnya.

“Yaudah Zafa ikut mama, biar diem"ucap Zafana dibalik pintu yang membuat Claratersenyum kemenangan.

Setelah satu jam menunggu, akhirnya Zafana keluar dari kamarnya dengan senyuman ceria dibuat-buat. Fira mendelik lalu menutup majalah yang sedang ia lihat-lihat.

"Udah Zafa, dandan nya?"tanya Clara

Zafa malah nyengir, “Hehe udah ma, udah cantik kan anak mama?"jawab Zafana.

"Gak! Kamu kebiasaan banget, udah ah cepet berangkat takut keburu siang”ucap Clara sembari bangkit

Mendengar itu Zafana mengekori mamanya dari belakang dengan wajah yang ditekuk. Mereka berdua hanya berjalan kaki menuju supermarket karena cukup dekat dengan rumah mereka. Saat keduanya sampai Clara segera mengambil troli dorong dan membawanya bersamanya, sedangkan Zafana hanya membawa keranjang biru yang ia jinjing.

"Awas, jangan sampai salah ambil"ucap Clara saat keduanya sedang memilah beberapa bumbu-bumbu masakan.

Zafana hanya mengangguk kemudian berjalan kearah yang lain. Beberapa menit setelahnya satu persatu bumbu kemasan masuk kedalam keranjang itu. Ia kembali pada Clara yang masih memilih makanan-makanan ringan untuk camilan dirumah.

“Ma, ciki nya yang banyak dong”ucap Zafana.

Clara hanya berdehem lalu mengambil beberapa makanan ringan lainnya.

Zafana kembali mengekori dibelakangnya, fokusnya teralih pada sebuah pemandangan dua anak kecil sedang menangis didepan seorang wanita yang kelihatannya lagi marah-marah didepan kedua anak itu.

"Kok itu kayak---- iya bener, itu Aileen sama Enzi"gumam Zafana.

“Ma, Zafa ke tempat es krim dulu ya”ucap Zafana lalu segera pergi dari sana.

“Maaf, mereka kenapa ya?"tanya Zafana.

Enzi dan Aileen mendongak lalu segera memeluk kaki Zafana dengan sangat erat. Zafana yang cemas pun hanya mengusap puncak kepala keduanya kemudian kembali menatap wanita dengan pakaian diatas lutut yang juga balas menatapnya.

"Kakak mama"tangisan keduanya pecah saat melihat Zafana.

Zafana mengabaikan wanita itu dan segera berjongkok untuk memeluk mereka, berusaha menenangkan. Oliver mengerutkan keningnya saat melihat Zafana yang memeluk kedua anaknya dengan Sintya yang malah menatap mereka dengan mata jengah dari kejauhan.

"Mbak, sebenernya ada apa? Kenapa mereka nangis?"tanya Zafana.

"Bukan urusan kamu! Balikin mereka sama saya"jawab Sintya dengan lantang.

Mendengar itu Clara menoleh dan segera menghampiri mereka.

"Na, kenapa ini?"Clara tiba-tiba datang, “mereka siapa?"

"Mereka anak-anaknya pak Oliver"jawab Zafana.

“Oalah, ini ada apa, Na?”tanya Clara.

Enzi dan Aileen pindah ke pelukan Clara.

Clara segera bangkit menatap sengit kearah Sintya.

"Mbak, saya tanya sekali lagi mbak apain mereka sampai nangis begitu?"tanya Zafana.

Sintya berdecak. "Kamu siapa sih? Ikut campur aja sama urusan orang"

"Siapa pun saya itu gak penting, yang penting sekarang jawab pertanyaan saya!”tegas Zafana.

Plakk

“Gak usah lancang sama saya!”ucap Sintya

"Cukup Sintya! Kita bahas ini diluar"ucap Oliver yang langsung menarik lengan Sintya dan Zafana sedikit kasar keluar dari supermarket itu.

"Kalian ini apa-apaan? Kayak anak kecil tau gak!"tanya Oliver sambil membentak membuat keberanian Zafana turun.

"Dia yang mulai! Aku lagi beli es krim sama anak-anak"jawab Sintya

"Zafa, kamu lagi ngapain disini?"tanya Alvano beralih dengan nada bicara yang lembut.

"T-tadi saya lagi belanja bulanan sama mama. Gak sengaja lihat Enzi sama Aileen lagi dimarahin sama dia, jadi saya samperin"jelas Zafana

"Kamu apain anak saya?"tanya Oliver kembali tegas pada Sintya

"Aku gak ngapa-ngapain mas, percaya sama aku deh. Dia yang bikin anak-anak nangis!"jawab Sintya

Clara menghampiri ketiganya dengan Enzi dalam gendongannya. Oliver mengambil alih Enzi ke gendongannya, Enzi masih menangis sambil memperlihatkan pergelangan tangan kanan nya yang terlihat merah.

"Tangan kamu kenapa, sayang?"tanya Oliver panik.

Enzi hanya membenamkan kepalanya dileher Oliver.. Zafana yang sudah sangat geram setelah melihat itupun langsung berjongkok didepan Aileen.

"Sayang, bilang sama kakak mama. Kenapa bisa tangan Enzi merah begitu?"tanya Zafana.

Aileen menggelengkan kepalanya, “takut, ma"gumam Aileen

"Gak perlu takut sayang, ayo bilang kenapa"bujuk Zafana

Aileen menatap wajah Zafana. "Tadi....pas Enzi lagi ngambil es tante jahat malah nutup pintu lemari esnya, jadi tangan Enzi kejepit"

Oliver yang mendengar itu langsung menatap tajam kearah Sintya, “lo bener-bener kelewatan ya Sin"Oliver menunjuk wajah Sintya penuh kekesalan.

"Gak! Itu semua bohong! Anak kamu bohong, mas"bantah Sintya.

"Gue lebih percaya anak gue dari pada lo, Sintya!"sela Oliver cepat

Tangan Oliver terangkat dan hampir saja menampar wajah Sintya. Tapi Zafana segera menahannya. Bagaimana pun berprilaku kasar pada wanita itu sangat tidak dibenarkan.

"Tahan emosi bapak”ucap Zafana dan tangannya langsung ditepis begitu saja oleh Oliver.

"Pergi lo dari sini"usir Oliver pada Sintya.

Sintya yang memang sudah sangat merasa jengah pun segera pergi. Menimbulkan rasa canggung diantara mereka. Clara yang menyadari itu segera berjongkok dan mengusap puncak kepala Aileen.

“Anak pintar”ucap Clara sambil menangkup kedua pipi Aileen.

"Bawa ke rumah tante aja, biar diobatin disana.

Lagipula deket kok"ucap Clara kembali bangkit lalu menatap Oliver.

"Terimakasih tante, tapi gak perlu, nanti saya bawa ke rumah sakit aja"tolak Oliver pelan.

"Ke rumah sakit harus bayar, kalau ke rumah tante gak harus bayar dan Zafa juga bisa kok ngobatin yang luka gitu"ucap Clara sambil menyenggol sikut Zafana.

"Mama apaan sih"bisik Zafana.

Oliver menatap keduanya secara bergantian, “apa gak ngerepotin, tante?"

"Enggak kok, tapi tante mau bayar belanjaan dulu ya"ucap Clara kemudian kembali mendorong troli nya masuk kedalam supermarket.

Zafa hanya menatap mamanya lalu menunduk saat merasa ujung bajunya ditarik oleh Aileen, “kenapa, sayang?"

"Aku boleh ikut gak?"tanya Aileen sambil mendongak menatap Zafana dan Clara bergantian.

Melihat itu Clara tersenyum, "Mau ikut?"tanya Clara sambil berjongkok disamping Aileen.

Aileen mengangguk malu-malu.

"Yaudah, sini duduk ditroli"ucap Clara sambil mengangkat tubuh Aileen.

“Mama kedalam dulu ya" lanjutnya pada Zafana dan Oliver.

Keduanya mengangguk membiarkan Clara dan Aileen masuk kembali kedalam supermarket.

Oliver mengambil tempat duduk ditempat yang sudah disediakan. Enzi udah berhenti nangis sejak Sintya pergi. Tapi tangannya semakin lama semakin kelihatan jelas bengkak dengan warna merah kebiruan.

"Enzi, sakit gak tangannya, sayang?"tanya Zafana sambil mengusap punggung Enzi dalam pangkuan Oliver.

"Sakit, ma"rengek Enzi sontak membuat semburat kemerahan di pipi Zafana.

"Bisa digerakin gak?"tanya Zafana sebisa mungkin menetralkan rasa salah tingkahnya.

Enzi menoleh lalu menatap tangannya, “argh..sakit"Enzi kembali menangis dipelukan Oliver.

"Coba pak, diurut pelan-pelan tangannya"ucap Zafana pada Oliver.

"Saya gak bisa Zafa, takut malah makin sakit"jawab Oliver.

"Yaudah Enzi sabar dulu ya sayang, nanti dirumah kakak obatin tangannya"ucap Zafa dan Enzi hanya mengangguk.

"Zafa"panggil Oliver

"Ya pak?"

"Mama kamu gak papa kalau saya sama anak-anak mampir ke rumah kamu?"tanya Oliver.

"Gak papa kok pak, lagi pula kan mama yang ngajakin"jawab Zafana membuat Oliver mengangguk.

Pandangan mereka teralih saat mendengar suara Aileen keluar dari pintu super market. Ditangannya sudah ada es krim strawberry dan ditangan satu lagi es krim coklat.

"Nih, tadi Enzi mau ini"ucap Aileen memberikan es krim rasa coklat kepada Enzi.

Enzi menerimanya dengan tangan kiri masih dengan wajah yang sendu.

"Mau dimakan sekarang, sayang?"tanya Oliver

Enzi menggelengkan kepalanya, "nanti aja"jawabnya.

"Yaudah tante, pulangnya naik mobil bareng saya sama anak-anak aja"ucap Oliver.

"Eh gak usah, kamu sama anak-anak aja yang naik mobil. Tante biar jalan kaki, deket kok"tolak Clara.

"Cape tante, udah naik mobil aja, kan biar sekalian"ucap Oliver sambil mengambil alih belanjaan Clara yang lumayan banyak itu.

"Sini Enzi sama saya aja"ucap Zafana mengambil alih Enzi ke gendongannya.

Enzi kembali membenamkan wajahnya dileher Zafana. Tangan kanan nya ia biarkan lurus dan tangan kiri nya mengalung ke leher Zafana. Saat sudah berada didalam mobil Zafana dengan perlahan mengusap-usap pergelangan tangan Enzi yang perlahan terlihat sedikit terlelap.

"Nanti kalau udah gak sakit tangannya jangan banyak gerak ya, Enzi"ucap Zafana.

Enzi hanya mengangguk dengan kedua mata yang terpejam. Oliver yang melihat itu hanya bisa tersenyum simpul, begitupun dengan Clara yang duduk di jok belakang.

1
JULIAN
Mohan bantuanya karna saya masi pemula klu ada kesalahan dlm penulisnya tolong dibantu untuk saya perbaiki🙏🙏
Reni Anjarwani
lanjut2
Reni Anjarwani
bagus ceritanya up doubel thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!