Novel Korean ala Author ❤️❤️
Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim
Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.
Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!
Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Denyut Asing di Balik Jubah Hitam
Siluet tubuhku dan Lee Do-Yun perlahan-lahan menghilang di balik tikungan jalan setapak pegunungan, tertelan oleh rimbunnya pepohonan pinus dan kabut tipis yang mulai menipis tersapu teriknya matahari pagi. Suara tawa renyah yang sempat membahana di udara kini berangsur-angsur lenyap, meninggalkan keheningan yang kembali merajai lereng bukit di luar perbatasan Sekte Pedang Langit Biru.
Di tempatnya berdiri, Choi Min-Hyuk masih mematung seorang diri.
Senior terhormat itu menundukkan pandangannya, menatap sekuntum bunga liar berwarna ungu cerah yang terselip rapi di sela-sela lipatan jubah hitam bergaris emas di dekat bahunya. Kelopak bunga kecil itu berayun lembut ditiup angin pagi, tampak begitu kontras dengan kesan kaku, dingin, dan penuh wibawa yang selama ini melekat erat pada diri sang pendekar senior.
Min-Hyuk mengangkat tangan kanannya secara perlahan. Jari-jarinya yang kokoh menyentuh kelopak bunga liar tersebut, merasakannya sejenak sebelum tangannya terkepal pelan di dekat dadanya sendiri.
Dug... dug... dug...
Ketukan di dalam rongga dadanya terasa begitu asing. Iramanya tidak beraturan, jauh lebih cepat dari biasanya—bukan karena kelelahan sehabis bertempur melawan Aliran Sesat Darah Hitam, dan bukan pula karena kemarahan akibat insiden di Aula Utama.
Min-Hyuk mengerutkan keningnya dalam-dalam. Alis tebalnya bertaut, menciptakan garis-garis kerutan di keningnya yang menunjukkan kebingungan luar biasa. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan aliran Naegong di dalam tubuhnya, namun sensasi bergemuruh di dadanya sama sekali tidak mau mereda.
"Apa-an ini..." gumam Min-Hyuk lirih, suaranya terdengar berat dan sarat akan ketidakpercayaan.
Seumur hidupnya yang diabdikan sepenuhnya untuk disiplin ilmu pedang, hukum sekte, dan perlindungan dataran tengah, wanita tidak pernah menjadi distraksi di dalam hidupnya. Bagi seorang Choi Min-Hyuk, urusan asmara adalah bentuk kelemahan yang hanya akan mengalihkan fokus seorang pendekar dari jalan pedangnya. Ia selalu menganggap Han So-Bin tidak lebih dari sekadar murid rendahan yang merepotkan—gadis manja yang terobsesi pada Kang Hyu-Jin hingga sering kali memicu kekacauan.
Namun, kejadian hari ini meruntuhkan seluruh prinsip kaku yang telah ia pegang selama bertahun-tahun.
Gadis itu tidak lagi menangis memohon perhatian. Gadis itu tidak lagi menunduk ketakutan di hadapan para tetua. Hari ini, Han So-Bin berdiri dengan kepala tegak, menantang dewan tetua, membangkitkan kekuatan Lima Elemen Sempurna, dan... dengan tanpa dosa menempelkan bunga liar ke bahunya sambil memujinya "tampan".
Sebuah senyuman tipis—senyuman tulus yang hampir tidak pernah disaksikan oleh siapa pun di sekte—tiba-tiba terukir tanpa sadar di sudut bibir Min-Hyuk. Namun, sedetik kemudian, senyuman itu langsung lenyap, digantikan oleh ekspresi ngeri saat ia menyadari ke arah mana pikirannya mulai melayang.
Min-Hyuk menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba membuang jauh-jauh bayangan wajah usil dan senyuman miring milik Diah dari dalam kepalanya.
"Sadar, Min-Hyuk! Sadar!" gerutunya pada diri sendiri, mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. "Dia adalah tunangan dari sahabat karibmu sendiri, Lee Do-Yun. Dan dia baru saja keluar dari sekte untuk menghindari badai politik Gangho. Kau tidak boleh ikut campur dalam kekacauan itu."
Meskipun akal sehatnya berteriak keras untuk segera kembali ke dalam aula dan melupakan semua kejadian hari ini, tubuhnya seolah enggan menuruti perintah otaknya. Matanya kembali menatap sekuntum bunga ungu di bahunya. Ada tarikan tak kasat mata yang membuat dadanya terasa sesak dengan cara yang aneh.
Detik berikutnya, gumaman pelan meluncur begitu saja dari bibirnya, lolos tanpa bisa ia tahan di tengah keheningan lereng bukit:
"Kenapa jantungku berdebar? Sialan... gadis itu benar-benar membuatku ingin mengejarnya."
Angin pegunungan berhembus kencang sesaat, membawa pergi suara gumaman itu ke udara bebas. Min-Hyuk terdiam kaku, matanya membelalak lebar menyadari kalimat apa baru saja keluar dari mulutnya sendiri. Ia merutuki dirinya dalam hati, merasa bahwa hari ini kewarasannya sebagai senior senioritas Sekte Pedang Langit Biru benar-benar sedang diuji oleh seorang gadis ajaib bernama Han So-Bin.
Min-Hyuk menghela napas panjang, napas yang terasa begitu berat dan panjang. Ia memutuskan untuk tidak mencabut bunga liar itu dari jubahnya—sebuah pengecualian konyol yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya.
Dengan langkah kaku namun hati yang diliputi oleh badai kebingungan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, Choi Min-Hyuk membalikkan tubuhnya, melangkah kembali menuruni jalur setapak menuju gerbang sekte, meninggalkan lereng bukit tempat awal mula rasa penasaran itu mulai tumbuh berakar di dalam dadanya.
Sementara itu, jauh di depan, langkah kakiku terus berlanjut menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun. Aku sama sekali tidak tahu bahwa di belakang sana, sang senior kaku yang terkenal dingin dan berwibawa sedang mengalami krisis eksistensi yang cukup parah gara-gara sekuntum bunga ungu kecil.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh, rasanya segar banget bisa jalan-jalan bebas tanpa harus kepikiran soal latihan Naegong atau aturan sekte yang mengekang. Dunia luar ini ternyata asyik juga, meskipun fasilitasnya masih tradisional banget.”
Lee Do-Yun yang berjalan di sebelahku melirik sekilas ke arahku, lalu membuka kipas lipatnya dengan gaya santai.
"So-Bin, apa kamu tidak merasa kalau apa yang kamu lakukan ke Kak Min-Hyuk tadi itu kelewatan berani?" tanya Do-Yun sambil tersenyum geli. "Belum pernah ada orang yang berani menyelipkan bunga liar di jubah resmi senior kita sejak dia menjabat sebagai ketua pengawas kedisiplinan."
Aku mendengus ringan, menaikkan sebelah alisku.
"Biarin saja," balas ku santai. "Sesekali dia butuh hiburan supaya hidupnya nggak tegang terus. Lagipula, dia kan sudah berbaik hati ngasih kita kantong koin dan lencana sakti. Anggap saja itu bentuk apresiasi seni dari juniornya yang paling kreatif."
Do-Yun tertawa renyah mendengar jawabanku. Ia menggelengkan kepalanya pelan, merasa takjub dengan cara pandangku yang sama sekali berbeda dari para wanita bangsawan sekte pada umumnya. Di dunia Murim yang penuh dengan aturan ketat, hierarki kaku, dan ancaman pedang di setiap sudutnya, keberadaanku memang bagaikan angin segar yang meruntuhkan segala bentuk formalitas membosankan.
Kami terus melangkah menyusuri lembah, bersiap memasuki wilayah perbatasan provinsi berikutnya di mana berbagai intrik baru dari dunia persilatan sudah menanti di depan mata.