NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13.

Nasihat Lembut di Malam Hari

Matahari sudah lama tenggelam di balik cakrawala, menyisakan langit yang gelap bertabur bintang di atas rumah Rara. Lampu ruang tamu yang remang-remang menciptakan suasana tenang, jauh berbeda dari hiruk-pikuk dan ketegangan yang Rara rasakan seharian di sekolah. Setelah selesai makan malam dan membereskan perlengkapan sekolah, Rara duduk termenung di sofa ruang tengah, memeluk bantal kecil erat-erat di pangkuannya. Pikirannya tak lepas dari kejadian di kelas dan ruang kelompok tadi—kata-kata tajam yang ia ucapkan pada Laras, tatapan tidak suka yang dibalas Laras, dan perasaan tidak nyaman yang menyelimuti hatinya sepanjang hari.

Mama yang baru saja selesai membereskan dapur, berjalan pelan mendekati putri semata wayangnya itu. Ia melihat wajah Rara yang tampak murung, alisnya sedikit berkerut seolah memikul beban berat yang tak sanggup diucapkan. Mama duduk di sebelah Rara, lalu mengusap pelan punggung putrinya dengan kasih sayang yang tulus.

"Kok duduk melamun di sini sendirian, Nak? Ada yang bikin kamu sedih atau bingung ya?" tanya Mama lembut, suaranya tenang dan menenangkan seperti biasa.

Rara mendongak perlahan, menatap wajah Mama yang penuh perhatian. Rasanya ingin sekali ia menutup rapat semua perasaannya, takut Mama kecewa atau menganggapnya bermasalah. Namun beban di dadanya terasa terlalu berat untuk dipendam sendiri. Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.

"Iya, Ma... sebenernya Rara pengen cerita aja," jawabnya pelan, matanya kembali menunduk menatap bantal di pangkuannya. "Cuma takut Mama marah aja."

Mama tersenyum lembut, lalu memegang tangan Rara dengan erat. "Mama nggak akan marah kok, Nak. Mama di sini bukan cuma buat mengawasi atau melarang, tapi juga buat mendengarkan ceritamu. Ceritakan saja apa yang ada di hatimu, jangan dipendam sendiri nanti nggak enak rasanya."

Rara menarik napas panjang lagi, mencoba menyusun kata-katanya dengan hati-hati. "Gini Ma... rasanya ada satu teman perempuan di kelas Rara yang sepertinya nggak suka sama Rara. Dari awal kita ketemu, sikapnya dingin, kadang suka menyindir, dan kalau ngobrol sama Rara selalu pakai nada yang nggak enak didengar. Tadi siang di kantin kita sempat berantem juga, Ma... rasanya sedih dan bingung kenapa dia kayak gitu sama aku."

Mama mengernyitkan dahi sedikit, lalu bertanya dengan nada tenang: "Lho, memangnya Rara pernah berbuat salah, menyakiti hati, atau berbuat nakal sama dia sebelumnya?"

Mendengar pertanyaan itu, Rara langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan kuat. "Enggak kok, Ma! Rara nggak pernah berbuat nakal sama dia, nggak pernah bermaksud jahat, dan nggak pernah cari masalah duluan. Cuma... cuma ada hal lain yang mungkin bikin dia salah paham sama Rara," ucapnya pelan, pipinya perlahan mulai merona merah.

Mama menyadari ada sesuatu yang belum diucapkan Rara. Ia menepuk pelan punggung tangan putrinya. "Ada hal lain apa, Nak? Katakan saja, nggak usah malu sama Mama."

Rara menelan ludah gugup, matanya menatap lantai sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri menatap wajah Mama. "Sebenarnya... sebenarnya Rara naksir sekaligus kagum sama seorang laki-laki di kelas kita, Ma. Dia temannya sekelompok juga sama kita berdua. Rara pikir mungkin teman perempuan itu juga suka sama dia, jadi dia nggak suka kalau Rara dekat-dekat atau ngobrol sama cowok itu. Rara cuma merasa kagum aja, Ma... wajar kan namanya juga masa puber, kan?"

Suara Rara semakin mengecil di kalimat terakhirnya, bersiap jika Mama akan memarahinya atau menasihatinya dengan keras. Namun tak ada kemarahan yang muncul. Justru Mama tersenyum lebih lebar, lalu mengangguk pelan sepenuhnya mengerti.

"Tentu saja wajar, Nak. Sama sekali nggak salah kok kalau kamu merasa kagum atau menyukai seseorang di usia remaja seperti ini. Itu bagian dari proses tumbuh kembang manusia, tanda kalau kamu sudah mulai dewasa dan punya hati yang peka terhadap perasaan orang lain. Mama sama sekali nggak marah mendengar hal ini," ucap Mama tulus, membuat beban di dada Rara perlahan terangkat.

Wajah Rara tampak lega sekaligus terkejut. "Beneran nggak marah, Ma?"

"Beneran," tegas Mama sambil tersenyum. "Tapi sayangku, ada hal lain yang perlu kamu pikirkan juga ya. Kalau temanmu itu memang merasa tidak nyaman atau kesal karena hal itu, mungkin dia juga bingung atau cemburu, tapi dia juga belum tentu berani mengatakannya secara jujur. Menurut Mama, sebaiknya kamu mencoba minta maaf sama dia. Siapa tahu dengan begitu dia tidak lagi dongkol atau menyimpan perasaan buruk sama kamu."

Mendengar saran itu, Rara langsung menggeleng kuat dengan wajah menolak. "Enggak mau deh, Ma! Dia yang duluan menuduh, dia yang duluan bersikap kasar, dia yang duluan mendekat dan cari keributan sama Rara. Kenapa Rara yang harus minta maaf? Itu kan bukan salah Rara!" tolaknya dengan nada sedikit tinggi, rasa kesal kembali muncul di hatinya.

Mama tidak langsung membalas, melainkan menunggu Rara tenang kembali. Setelah Rara diam, Mama kembali berbicara dengan nada lembut namun penuh makna. "Dengar dulu penjelasan Mama ya, Nak. Memang mungkin secara kejadian dia yang memulai duluan, tapi kalau kamu juga membalas dengan ketus, menyindir, dan menantang balik, berarti kalian berdua sama-sama salah dan sama-sama menyakiti hati satu sama lain. Kalau hal ini terus dibiarkan dan kalian terus saling mendiamkan atau saling menentang, nanti kamu sendiri yang akan kesulitan. Ingat kan? Kalian bukan cuma teman sekelas, tapi juga satu kelompok tugas. Kalau suasana tetap panas dan tidak akur, tugas kalian jadi terganggu, nilaimu bisa turun, dan kamu sendiri yang akan merasa tidak nyaman setiap hari ke sekolah."

Rara terdiam, mendengarkan setiap kata yang diucapkan Mama. Ia mulai menyadari kebenaran di balik ucapan itu, namun rasa gengsi masih menahannya.

Mama mengangkat tangan kanannya, lalu mengusap pelan puncak kepala Rara dengan penuh kasih sayang. "Dan satu hal lagi, Nak jangan terlalu egois ya. Kamu masih remaja, masih banyak hal yang harus kamu pelajari tentang dunia dan perasaan orang lain. Belajar mengalah, memaafkan, dan berusaha menjaga hubungan baik itu bukan berarti kamu kalah atau salah. Justru itu tanda kalau kamu anak yang bijak dan dewasa. Di sekolah nanti kamu akan bertemu banyak orang dengan sifat berbeda-beda, jadi harus pandai memperbanyak teman, bukan malah menambah musuh. Percuma kamu pintar kalau hatimu selalu gelisah karena bermusuhan sama orang lain, kan?"

Kata-kata Mama meresap perlahan ke dalam hati Rara. Rasa gengsi yang tadi begitu kuat kini perlahan luntur, berganti dengan kesadaran. Ia teringat tatapan kecewa Bu Ratna tadi siang, kebingungan Dimas, dan senyum prihatin Aisyah. Ia juga teringat betapa beratnya hari ini hanya karena satu pertengkaran kecil.

"Rara mengerti maksud Mama..." ucapnya pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Rara cuma... takut nanti dia malah menganggap Rara lemah atau makin semena-mena sama Rara kalau Rara minta maaf duluan."

"Itu nanti urusan dia, Nak. Yang penting kamu sudah berusaha berbuat baik dan menurunkan ego kamu. Kalau dia tetap tidak mau memaafkan, setidaknya hatimu tenang karena sudah berusaha sebaik mungkin. Kebaikan itu selalu lebih kuat daripada kemarahan," jawab Mama sambil memeluk bahu Rara erat.

Rara memeluk balik tubuh Mama, menyandarkan kepalanya di bahu yang hangat dan menenangkan itu. "Terima kasih ya, Ma... terima kasih sudah mau mendengarkan dan menasihati Rara dengan lembut. Rara janji akan mencoba melunakkan hati Rara dan berusaha menyapa dia dengan baik besok."

"Baguslah begitu, Nak. Mama bangga punya anak yang mau belajar memperbaiki diri," ucap Mama sambil mencium kening Rara.

Malam itu hati Rara terasa jauh lebih ringan. Ia menyadari bahwa perasaan suka itu hal yang indah, tapi menjaga hati dan hubungan dengan sesama jauh lebih penting. Besok ia mungkin masih merasa canggung, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membiarkan perasaan itu merusak sikapnya.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!