Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Hari-hari berlalu dengan Sarah beraktivitas seperti biasa. Pagi-pagi ia akan datang ke sekolah untuk mengajar dan mengurusi kewajibannya sebagai wali kelas. Sarah memastikan jika Ali benar-benar kembali ke sekolah dan belajar seperti biasa. Sisa harinya yang panjang dan monoton akan ia habiskan di dalam kamar kos berukuran tiga kali empat meter miliknya. Kamar kos yang sengaja ia pilih agak jauh dari keramaian tempat ia bersembunyi dari hiruk-pikuk dunia luar.
Sore itu, udara terasa sedikit gerah. Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk menyapu, mengepel, dan merapikan tumpukan buku-buku tugas murid di atas meja belajar kecilnya, Sarah memutuskan untuk bersantai. Ia duduk di lantai beralaskan karpet bulu tipis sembari menanyakan kipas angin yang berputar lambat di sudut ruangan.
Baru saja ia hendak meneguk segelas air putih dingin, ponsel di atas kasur bergetar pendek. Sarah meraih benda pipih itu. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul dari grup WhatsApp para guru di sekolahnya. Pesan itu dikirim langsung oleh wakil kepala sekolah bagian kesiswaan.
‘Selamat sore Bapak dan Ibu guru sekalian. Mengingatkan kembali bahwa besok pagi pukul 07.30 WIB, sekolah kita akan kedatangan tamu dari pihak kepolisian. Akan ada kegiatan sosialisasi tertib lalu lintas dan bahaya narkoba dari Polres. Diharapkan seluruh guru, terutama para wali kelas, dapat hadir lebih awal untuk membantu mengatur siswa di lapangan. Terima kasih.’
Sarah menarik napas panjang dan berat saat selesai membaca deretan kalimat di layar ponselnya. Ia melempar benda itu kembali ke atas kasur dengan lemas. Kepalanya mendadak terasa pening. Pengumuman singkat itu bagaikan sebuah alarm bahaya yang berbunyi nyaring di dalam kepalanya.
Ingatannya mendadak berputar kembali pada kejadian beberapa hari lalu di tenda razia, menyoroti sesosok pria tinggi tegap berseragam cokelat yang tiba-tiba muncul dan mengacaukan ketenangannya. Pria yang selama beberapa tahun terakhir ini sudah mati-matian ia hapus dari daftar memorinya. Pria itu kini telah kembali ke kehidupannya dengan cara yang paling tidak terduga.
Sarah melipat kedua lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana sembari bergumam gusar.
“Kenapa dia bisa sampai di daerah terpencil ini, sih? Apa ada orang dari Pekanbaru yang kasih tahu tempat tugasku, atau ini memang cuma kebetulan yang nggak sengaja?” pikirnya yang dipenuhi dengan rasa penasaran sekaligus cemas.
Sarah mengangkat wajahnya, lalu telapak tangan kanannya bergerak perlahan memegang dadanya sendiri. Jantungnya kembali bergetar hebat. Ada sensasi berdesir yang aneh sekaligus menyakitkan di dalam sana setiap kali ia mengingat pria itu.
Ardhana. Pria yang usianya terpaut tiga tahun di bawahnya. Dahulu, pria itu adalah sosok brilian yang sempat membuatnya merasa melambung tinggi ke angkasa dengan segala perhatian dan tingkah anehnya. Namun, pria itu pula yang meninggalkan luka dalam dan trauma hebat setelah keakraban mereka kandas dengan cara yang paling tidak menyenangkan.
“Apa kurang jauh ya kaburnya aku?” gumam Sarah dengan suara bergetar egois.
Ia sengaja melamar pekerjaan ke daerah yang cukup jauh dari hiruk-pikuk kota asalnya saat lulus kuliah dulu. Semua ia lakukan untuk memulai lembaran baru di tempat dimana tidak ada satu pun orang yang mengenalnya atas masa lalunya.
“Ternyata dia beneran jadi polisi.”
Masih segar diingatannya kala siang itu ia menanyakan kelanjutan dari dua pemuda kelas dua SMA yang bersahabat itu.
“Aku mau jadi dokter, Kak. Disuruh sama keluarga. Kalau si Ardha mau jadi polisi,” kata pemuda yang bernama Kiki.
Sarah menghela napas kasar, mengacak rambutnya dengan rasa kesal.
“Dari semua tempat, kenapa harus penempatan disini.”
Sarah akhirnya menyerah pada rasa penat yang mendera tubuh dan pikirannya. Ia bergeser naik ke atas kasur lalu merebahkan tubuhnya secara terlentang pada ranjang tipis tersebut. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang putih bersih. Namun entah mengapa, langit-langit yang polos itu kini terasa bagaikan sebuah layar bioskop besar yang sedang memutar film dokumenter tentang kejadian masa lalu mereka.
Sarah memejamkan matanya, namun bayangan itu justru semakin jelas terproyeksi di dalam benaknya. Sebuah senyuman tipis tanpa sadar terukir di sudut bibir Sarah saat masa-masa manis dan lucu lewat dalam bayangannya. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, kurva di bibirnya mendadak hilang, digantikan oleh tarikan napas yang tertahan. Dada Sarah mendadak terasa sangat sesak dan perih saat memori film di otaknya berganti menayangkan hari kelam itu.
Sarah membuka matanya lebar-lebar, memutus paksa kilasan memori yang mulai menguras emosinya. Ia berguling ke kanan dan ke kiri, mencoba mengusir bayangan Ardhana yang seolah bergentayangan di atas kasurnya.
“Aaaargh… pergi, pergi, pergi! Jangan dipikirin lagi, Sarah!” jeritnya frustrasi sembari menutup seluruh wajahnya menggunakan bantal guling.
Ia harus profesional besok pagi. Bagaimanapun juga, ia adalah seorang guru dan wali kelas yang harus menjaga wibawanya di depan ratusan murid dan rekan sesama guru. Sarah hanya bisa berdoa di dalam hati, berharap agar diantara rombongan polisi dari Polres yang datang besok tidak ada Ardhana di dalamnya.
Namun, Sarah tahu. Sejauh apapun dirinya menolak dan menjauh, jika takdir harus mempertemukan mereka, maka mereka pasti akan bertemu.
“Tapi semoga takdirku tidak bertemu lagi dengannya.”
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, dengan like dan komennya 😍
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor