Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 First Kiss
Laluna akhirnya merebahkan dirinya di kasur yang sangat empuk. Setelah seharian ia harus menguras energi sata bertemu duo pengkhianat itu, ia segera mengambil ponselnya yang terletak tak jauh dari arahnya.
Namun baru saja ia asyik menonton video pendek, terlihat nomor tidak dikenal tengah menelepon ya. Laluna segera mengangkat, dari balik telepon terdengar suara seorang pria yang entah kenapa terasa familiar bagi dirinya.
"Nona Laluna, tuan... tuan Nathan tengah mabuk. Bisa bantu saya mengajak tuan Nathan untuk pulang, dia tengah meracau memanggil manggil nama nona," ujar, pria yang terdengar panik.
Laluna yang mendengar itu hanya menghela nafasnya, mau tidak mau ia harus membantu pria itu. Lagi pula ia masih berutang budi atas kebaikan keluarganya dan kebaikan dari Nathan.
" Cepat kirimkan lokasinya, aku akan segera kesana," ujarnya.
Laluna segera meraih cardigan yang terletak di atas kursi dekat lemari. Ia mengenakannya dengan cepat sebelum mengambil tas kecil miliknya. Masker segera menutupi sebagian wajahnya, bukan karena ia takut dikenali, tetapi ia hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian jika ada orang yang melihatnya bersama Nathan malam ini.
Setelah memastikan pintu rumah terkunci, Laluna segera berjalan menuju mobilnya. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus dipenuhi oleh ucapan pria tadi.
"Tuan Nathan tengah mabuk... dia memanggil-manggil nama nona."
Entah kenapa kalimat itu membuat hatinya sedikit bergetar. Ia tidak pernah menyangka pria yang selalu terlihat tenang dan sulit ditebak itu bisa kehilangan kendali karena alkohol. Namun, Laluna segera menggelengkan kepalanya.
"Kenapa aku harus memikirkannya? Lagi pula dia pria dewasa yang pasti bisa mengendalikan dirinya sendiri," gumamnya pelan.
Bagaimanapun, Nathan hanya seseorang yang akan menjadi suaminya karena sebuah perjanjian. Tidak lebih dari itu.
Beberapa menit kemudian, mobil Laluna berhenti di depan sebuah bar eksklusif yang berada di pusat kota. Tempat itu terlihat cukup ramai, tetapi suasananya tetap mewah dan tertata. Ia segera turun dari mobil setelah menerima pesan lokasi dari pria yang menghubunginya tadi.
Begitu memasuki ruangan, seorang pria dengan setelan hitam segera menghampirinya.
"Nona Laluna?"
Laluna mengangguk. "Nathan ada di mana?Kenapa dia bisa mabuk seperti itu? "
Pria itu terlihat sedikit lega melihat kedatangannya. "Ikut saya, nona. Lebih baik nona tanya sendiri kepada tuan Nathan."
Laluna mengikuti langkah pria tersebut menuju ruang VIP. Begitu pintu terbuka, matanya langsung menangkap sosok Nathan yang duduk sendirian di sofa besar. Pria itu terlihat berbeda dari biasanya. Kemeja hitam yang selalu rapi kini sedikit kusut, dasinya sudah dilepas, dan beberapa botol minuman berada di atas meja.
"Nathan..." panggil Laluna pelan.
Pria itu yang awalnya menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang biasanya tajam kini terlihat sayu karena pengaruh alkohol. Namun ketika melihat Laluna berdiri di hadapannya, sebuah senyum kecil muncul di wajahnya.
"Luna..." Suara rendah itu membuat Laluna terdiam sesaat.
Nathan bangkit dari duduknya, tetapi tubuhnya sedikit kehilangan keseimbangan. Dengan cepat Laluna menahan lengannya agar pria itu tidak jatuh.
"Kamu minum sebanyak apa sampai seperti ini?" tanyanya kesal.
Nathan hanya menatap wajahnya yang tertutup masker. Pipinya sudah benar benar merah, pria itu segera meraih wajah Laluna dan melepaskan masker hitam itu.
"Kenapa kamu selalu menutupi wajah cantikmu ini?" ujarnya, sambil menoel noel hidung mancung Laluna.
Laluna segera meraih tangan Nathan dan menggenggamnya, ia menaruh tangan besar itu ke pundaknya dan membantunya untuk keluar dari bar itu.
"Nathan, ayo kita pulang. Kamu sudah sangat mabuk," ujarnya.
Namun, Nathan menggeleng. Ia menatap ke arah Laluna yang sudah tertutupi masker.
"Saya tidak mabuk, saya harus minum lagi. Saya tidak mau pulang," ujarnya.
Laluna menatap pria di sampingnya dengan tatapan tidak percaya. Biasanya Nathan selalu terlihat tenang, bahkan dalam keadaan sulit sekalipun. Namun malam ini, pria yang dikenal dingin itu justru bertingkah seperti anak kecil yang keras kepala.
"Nathan, berhenti bersikap seperti ini," ujar Laluna sambil menghela napas.
Nathan hanya menggeleng pelan. Tangannya masih berada dalam genggaman Laluna, seolah takut wanita itu akan meninggalkannya.
"Saya tidak mau pulang, Saya suka disini, " gumamnya lagi.
"Lalu kamu mau apa? Duduk di sini sampai pagi?" tanya Laluna.
Nathan terdiam. Matanya menatap wajah Laluna cukup lama, seakan sedang mencari sesuatu dari tatapan wanita itu.
"Saya hanya ingin melupakan sesuatu, saya lelah Luna, saya lelah. Saya tidak berguna," jawabnya lirih.
Laluna sedikit terkejut. Nada suara Nathan kali ini berbeda. Tidak ada kesombongan, tidak ada sikap dingin yang biasanya ia tunjukkan.
"Apa yang ingin kamu lupakan?Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu tadi? " tanyanya tanpa sadar.
Nathan tersenyum kecil, tetapi senyum itu terlihat pahit. Ia sudah lelah, ia bahkan gagal menangkap orang yang membunuh kakaknya, melihat itu ia benar benar lelah. Sudah bertahun tahun ia mencari keadilan untuk kakaknya namun, semuanya sia sia.
"Orang-orang yang pergi ketika aku masih berharap mereka akan tetap tinggal. Aku tidak mau ditinggal lagi Luna, tidak mau."
Perkataan itu membuat Laluna terdiam. Ia tidak menyangka pria seperti Nathan ternyata menyimpan luka yang begitu dalam. Selama ini ia hanya melihat Nathan sebagai seorang pria kaya yang memiliki segalanya. Rumah mewah, perusahaan besar, dan kekuasaan. Ia tidak pernah berpikir bahwa pria itu juga bisa merasa lelah.
"Nathan..." panggil Laluna pelan.
Namun Nathan tiba-tiba kembali tersenyum, seolah mencoba menyembunyikan kesedihan yang baru saja terlihat.
"Tapi sekarang aku punya kamu, kan?Kamu akan selalu bersamaku kan? "
Laluna membeku sesaat. "Apa maksudmu?"
Nathan mendekat sedikit, membuat Laluna segera menahan tubuhnya agar tidak kehilangan keseimbangan. Nathan melepaskan genggaman tangan Laluna. Ia segera menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.
"Laluna, kamu tidak akan meninggalkan ku kan? Kamu akan selalu jadi istriku?"
Laluna yang merasa jarak mereka terlalu dekat, buru buru memalingkan wajahnya. Pipinya sudah memerah dari balik masker itu, namun belum sempat ia melepaskan diri. Nathan sudah lebih dulu melepaskan masker itu, dengan cepat Nathan segera mencium bibir Laluna.
Laluna membeku. Untuk beberapa detik, pikirannya seakan berhenti bekerja. Ia tidak menyangka Nathan yang biasanya selalu menjaga jarak justru melakukan hal seperti itu dalam keadaan dirinya tidak sepenuhnya sadar.
Tangannya segera mendorong dada pria itu dengan lembut, membuat Nathan perlahan menjauh.
"Nathan..." bisiknya terkejut.
Pria itu masih menatapnya dengan mata sayu. Tatapan yang biasanya penuh ketegasan kini berubah menjadi rapuh, seolah pria di hadapannya bukanlah Nathan Adikara yang dikenal banyak orang.
"Luna..." panggilnya pelan.
Laluna segera menutup bibirnya dengan tangannya, mencoba menenangkan detak jantung yang tiba-tiba tidak beraturan.
"Kamu mabuk," ujarnya pelan, berusaha terdengar tegas meskipun wajahnya masih memerah. "Kamu bahkan tidak tahu apa yang kamu lakukan."