Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Tamu Tak Diundang
Entah kenapa, ruangan yang tadi terasa seperti dinding tiba-tiba terasa seperti pintu menuju badai.
Dua hari setelah itu, badai yang datang ke Keira ternyata bukan Yuwono, bukan laporan bisnis, dan bukan pria-pria berjas di Hendrawan Tower.
Badai itu memakai dress putih, kacamata hitam, dan sepatu hak tinggi yang mengetuk jalan batu Taman Utama seperti palu kecil.
Natasha Salim datang lagi.
Kali ini, ia tidak berhenti di depan Sayap Giok. Ia langsung masuk ke taman utama compound, membawa dua asisten dan wajah yang lebih tenang daripada kunjungan sebelumnya. Ketenangan itu membuat Keira lebih waspada.
Keira sedang duduk di kursi taman bersama Ningsih, memakan potongan mangga yang diam-diam dibawakan Pak Ji dari dapur. Begitu Natasha muncul, Ningsih langsung berdiri.
"Mbak Keira..."
"Tenang," bisik Keira. "Kalau dia bawa bom, sepatunya pasti susah lari."
Ningsih hampir tersedak.
Natasha berhenti di depan mereka. Matanya menyapu mangga di piring, pakaian sederhana Keira, lalu wajahnya.
"Kelihatannya kamu cepat sekali nyaman."
Keira menaruh garpu kecil. "Kalau ada kursi dan makanan, saya memang mudah beradaptasi."
Senyum Natasha menipis.
"Aku datang membawa pesan dari Ko Kevin."
Nama itu membuat tangan Keira berhenti.
Natasha melihatnya dan tampak puas.
"Ko Kevin bilang, kalau kamu mau kembali ke rumah Salim, dia tidak akan menyalahkanmu. Dia tahu kamu mungkin ketakutan di sini. Dia juga tahu Hendrawan bukan tempat yang cocok untukmu."
Angin taman bergerak pelan. Di dekat pagar tanaman, dua pelayan yang sedang menyiram bunga melambat. Seorang staf rumah tangga berhenti di dekat pintu samping. Semua pura-pura tidak mendengar dengan cara yang sangat jelas.
Keira menatap Natasha.
Pulang ke rumah Salim.
Di sana ada kamar kecil yang aman, gaji jelas, makanan tiga kali sehari, dan Ko Kevin yang tidak pernah memanggilnya beban. Keira tahu Kevin baik. Terlalu baik. Dalam hidupnya yang penuh tangan kasar, kebaikan Kevin pernah terasa seperti payung saat hujan.
Namun ia juga ingat gerbang Menteng compound. Ingat Kevin berdiri di samping mobil dengan tangan mengepal. Ingat kata maaf yang tidak bisa mengubah apa pun.
Kalau kembali sekarang, ia akan aman.
Tapi aman bukan berarti bebas.
"Ko Kevin yang menyuruh Ci Natasha menjemput saya?" tanya Keira.
Natasha mengangkat dagu. "Dia khawatir."
"Itu bukan jawaban."
Wajah Natasha mengeras. "Jangan sok pintar. Kamu pikir tinggal di Sayap Giok membuatmu jadi siapa? Kamu tetap gadis yang dipungut dari rumah kakakku. Kalau Ko Kevin masih mau menerimamu, seharusnya kamu bersyukur."
Ningsih mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
Keira menekan rasa panas di dada.
Sebelum ia sempat menjawab, suasana taman berubah.
Perubahan itu tidak datang dari suara. Tidak ada teriakan, tidak ada langkah terburu-buru. Hanya para pelayan yang tiba-tiba menunduk lebih dalam. Dua pengawal di dekat jalur utama berdiri lebih tegak. Ningsih menahan napas.
Keira menoleh.
Darren berjalan dari arah bangunan utama.
Kemeja hitam, wajah dingin, langkah tenang. Pak Ji berada setengah langkah di belakangnya. Rio Kurniawan mengikuti dari sisi lain, tatapannya langsung memindai Natasha, dua asistennya, lalu para pelayan yang berkumpul terlalu dekat.
Natasha membeku sesaat, lalu cepat memasang senyum.
"Ko Darren."
Darren tidak menjawab sapaan itu.
Ia berhenti di antara Keira dan Natasha, tetapi tidak menatap Keira lebih dulu. Matanya langsung tertuju pada Natasha.
"Untuk apa kamu datang?"
Suara itu tidak keras. Justru karena tidak keras, taman terasa makin sunyi.
Natasha menegakkan bahu. "Aku hanya menyampaikan pesan Ko Kevin. Dia ingin Keira kembali. Aku rasa itu lebih baik untuk semua pihak."
"Semua pihak?"
"Keira bukan bagian dari keluarga ini." Natasha mencoba tersenyum. "Dia pasti tidak nyaman. Ko Kevin hanya ingin membantu."
Darren menatapnya beberapa detik.
Keira tahu tatapan itu. Ia pernah melihatnya di Ruang Kerja saat Darren berkata tolak, tidak ada perpanjangan. Tatapan yang tidak sedang marah, tetapi sedang memutuskan sesuatu.
"Keira adalah tamu saya," kata Darren.
Kalimat itu jatuh seperti batu ke air tenang.
Para pelayan di sekitar taman menunduk serentak. Ningsih menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bahkan asisten Natasha saling melirik.
Darren melanjutkan, "Siapa pun yang datang untuk menjemputnya, tanyakan dulu kepada saya."
Wajah Natasha memucat sedikit.
"Ko Darren, Ko Kevin hanya..."
"Sampaikan kepada Kevin," potong Darren. "Niat baiknya saya terima. Tapi urusan Keira, saya yang memutuskan."
Keira berdiri di belakang Darren, terlalu terkejut untuk bergerak.
Tamu saya.
Bukan anak panti itu. Bukan gadis dari rumah Salim. Bukan barang yang bisa dikembalikan karena salah alamat.
Tamu saya.
Dua kata itu mungkin terdengar sementara. Tamu pada akhirnya memang bisa pergi. Tapi di taman ini, di depan semua orang yang pernah menatapnya seperti noda, dua kata itu lebih kuat daripada pintu terkunci.
Natasha menatap Keira dari balik bahu Darren. Ada marah di sana, tetapi juga sesuatu yang lebih baru: takut.
"Baik," katanya kaku. "Aku akan sampaikan."
Ia berbalik. Sepatu hak tingginya tidak lagi terdengar seperti palu. Lebih seperti langkah seseorang yang ingin cepat keluar tetapi tidak mau terlihat berlari.
Mobil Natasha meninggalkan compound beberapa menit kemudian.
Keira masih berdiri di tempat yang sama.
Ia ingin mengatakan terima kasih. Ingin bertanya kenapa. Ingin memastikan apakah Darren benar-benar tahu apa arti kalimatnya bagi orang seperti dia.
Namun Darren sudah menoleh kepada Rio.
"Pastikan tidak ada tamu masuk tanpa laporan."
"Siap, Pak Darren."
Lalu Darren berbalik pergi.
Hanya begitu lagi.
Ningsih baru berani bernapas setelah punggung Darren menjauh.
"Mbak..." Suaranya bergetar oleh kegembiraan. "Pak Darren tadi... tadi dia bilang..."
"Aku dengar," kata Keira pelan.
"Semua orang juga dengar."
Ya.
Semua orang dengar.
Sepanjang jalan kembali ke Sayap Giok, pelayan yang mereka lewati menunduk lebih cepat. Tidak ada bisik anak panti. Tidak ada tatapan terang-terangan. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke compound, Keira merasa udara di sekelilingnya memberi ruang.
Malamnya, ia berbaring di ranjang besar Sayap Giok, tetapi tidak bisa tidur.
Kata-kata Darren terus berputar.
Keira adalah tamu saya.
Lalu, entah dari mana, potongan gambar lain muncul di kepalanya. Bukan taman. Bukan ruang makan. Sebuah kantor besar yang gelap. Layar berita menampilkan angka merah bergerak turun. Saham Hendrawan jatuh. Seorang pria duduk sendirian di balik meja, rambutnya berantakan, matanya kosong. Tidak ada Pak Ji di dekat pintu. Tidak ada suara telepon yang dijawab. Tidak ada orang yang berani mendekat.
Pria itu mirip Darren.
Tapi lebih hancur.
Keira duduk mendadak, napasnya pendek.
Di masa depan yang ia lihat sekilas itu, apakah Darren menyerah karena tidak ada seorang pun yang menariknya kembali?
Pagi berikutnya, sebelum Keira menemukan jawaban, Pak Ji datang ke Sayap Giok dengan wajah lebih serius dari biasanya.
"Nona Keira," katanya dari ambang pintu. "Kevin Salim sudah tiba di gerbang compound."