Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.
Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.
Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Nyonya Keluarga Santoso
Jam dinding di seluruh penjuru gedung akhirnya menunjuk angka lima sore, tanda berakhirnya jam kerja bergema pelan, diiringi hiruk-pikuk karyawan yang mulai membereskan barang-barang mereka, bersiap meninggalkan kantor setelah seharian bekerja keras. Bagi sebagian orang, ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu, waktu untuk pulang dan beristirahat. Namun bagi Nadia, detik-detik ini justru membawa rasa cemas yang tak beralasan, seolah ada bahaya besar yang sedang menanti di ujung jalan.
Dengan gerakan pelan dan hati-hati, Nadia menutup laporan keuangan terakhir di komputernya. Tangannya bergetar sedikit saat memasukkan berkas-berkas ke dalam map cokelat, lalu menyusunnya rapi di atas meja. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang belakangan ini seolah selalu berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia memandang sekeliling ruangan, sebagian besar rekan kerjanya sudah beranjak pulang, meninggalkan ruangan yang kini mulai terasa sepi dan sunyi.
Nadia merapikan sedikit penampilannya di cermin kecil yang selalu ia simpan di sudut meja. Ia memastikan kembali riasan wajahnya masih sempurna, tidak ada noda air mata yang merusak lapisan alas bedak yang tebal itu, tidak ada jejak kesedihan yang terlihat. Ia harus tetap menjadi sosok wanita yang kuat, tenang, dan tak tergoyahkan—setidaknya di depan orang lain. Terutama saat ini, di saat-saat kritis seperti ini.
Baru saja ia hendak mengangkat tas kerjanya dan melangkah keluar dari bilik kerjanya, sebuah bayangan tinggi besar tiba-tiba datang mendekati meja kerjanya. Suasana di sekitar seketika berubah menjadi lebih dingin dan menekan. Nadia mengenali aura ini dengan sangat baik, aura yang selama ini selalu membawa ketidaknyamanan dan ancaman baginya.
Ia mendongak perlahan, dan benar saja, Mario berdiri di sana. Pria itu berdiri tegak dengan sikap kaku yang khas, wajahnya datar tanpa ekspresi apa pun, namun sorot matanya yang tajam dan menyelidik seolah sedang menelanjangi setiap inci perasaan yang tersembunyi di balik wajah Nadia. Mario menatapnya dari atas ke bawah, menilai, menghakimi, persis seperti yang ia lakukan kemarin di ruang rawat.
Jantung Nadia seakan berhenti berdetak sepersekian detik. Naluri pertahanan dirinya langsung naik ke permukaan, tangannya secara refleks bergerak turun, menekan lembut ke bagian bawah perutnya yang masih rata, seolah ingin melindungi nyawa kecil di sana dari bahaya yang dibawa oleh pria di hadapannya ini.
"Pak Mario...," ucap Nadia pelan, suaranya keluar lebih tenang dari yang ia duga, meski di dalam dadanya badai sedang mengamuk hebat. "Ada yang bisa saya bantu? Jika ini soal laporan keuangan bulan lalu, berkasnya sudah saya serahkan ke ruang arsip tadi siang."
Mario tidak langsung menjawab. Ia hanya diam menatap Nadia beberapa saat yang terasa sangat lama dan menyiksa, sebelum akhirnya bibirnya yang tipis bergerak membuka suara yang rendah, berat, dan penuh tekanan.
"Bukan soal pekerjaan, Nadia," jawab Mario singkat dan tegas. Ia bergerak maju selangkah, semakin mendekat hingga jarak mereka terasa terlalu sempit bagi kenyamanan Nadia. "Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Dan kamu harus ikut saya sekarang juga."
Dahi Nadia berkerut bingung sekaligus waspada. "Ingin bertemu? Siapa, Pak? Jika itu rekan bisnis atau klien, saya rasa itu bukan bagian dari tugas saya. Posisi saya hanya staf administrasi keuangan. Atau... apa Aga ingin bertemu dengan saya?"
"Jangan banyak bertanya, dan jangan besar kepala," potong Mario dengan ketus, nada bicaranya meninggi sedikit, memperlihatkan ketidaksabarannya. "Pak Aga sudah tidak peduli lagi denganmu. Yang ingin bertemu denganmu adalah Nyonya Ardila Santoso... Ibu kandung Pak Aga... beliau sedang menunggumu di ruang tamu VVIP lantai atas."
Duar!
Dunia serasa runtuh kembali di bawah kaki Nadia. Kata-kata itu menghantam dadanya jauh lebih sakit daripada tamparan fisik. Nyonya Ardila. Wanita yang sangat dihormati oleh Aga, wanita pemegang kendali besar di keluarga Santoso, wanita yang sejak awal sangat menentang keberadaannya di sisi Aga.
Pikirannya langsung berpacu ke mana-mana. Kenapa Nyonya Ardila ingin bertemu dengannya? Apakah... apakah ibu dari Aga itu sudah mengetahui sesuatu? Apakah kabar tentang kehamilannya sudah bocor? Atau mungkin Mario sendiri yang sudah melapor dan menyusun rencana ini untuk menyingkirkannya selamanya?
Wajah Nadia yang tertutup riasan itu memucat di balik lapisan alas bedak. Ia menelan ludah dengan susah payah, rasa mual yang sudah ia tahan sedari tadi kembali menyerang hebat, bercampur dengan rasa takut yang mencekik lehernya.
"Nyonya... Nyonya Ardila?" ulang Nadia dengan suara bergetar, matanya tak lepas dari tatapan dingin Mario. "Untuk apa beliau ingin bertemu dengan saya, Pak? Saya... saya tidak punya urusan apa-apa dengan beliau. Apakah ada kesalahan yang saya perbuat?"
Mario mendengus pelan, terdengar tidak sabar sekaligus penuh sindiran. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Nadia dengan pandangan yang penuh peringatan tajam.
"Kamu sendiri seharusnya sudah tahu alasannya, bukan?" bisik Mario, suaranya rendah namun menusuk hingga ke tulang sumsum. "Kamu bukan anak kecil lagi, Nadia. Kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti posisi dan tempatmu. Selama ini saya sudah bicara panjang lebar sama kamu, saya sudah beri peringatan yang cukup jelas. Tapi sepertinya kata-kata saya selama ini belum cukup masuk ke otakmu, sampai-sampai Nyonya sendiri yang harus turun tangan mendatangimu."
Mario berhenti sejenak, matanya menyapu wajah Nadia dengan pandangan menghina.
"Kamu pikir kamu itu siapa? Datang hari ini dengan wajah berseri, dandan. Kamu pikir dengan menutupi wajah kampunganmu dengan cat wajah itu, kamu bisa menyingkirkan fakta kalau kamu itu cuma gadis desa."
Hati Nadia seperti ditancap ribuan jarum, perih dan menyakitkan. Itu hanya untaian kalimat, tapi rasanya begitu membekas.
"Kami semua tahu siapa kamu dan apa yang kamu inginkan, Nadia," lanjut Mario lagi dengan nada dingin yang mematikan. "Dan sekarang, Nyonya ingin bicara. Beliau ingin memastikan satu hal penting, agar kamu benar-benar sadar dan berhenti menjadi gangguan dalam hidup masa depan Pak Aga. Jadi, bereskan barangmu. Ikut saya. Jangan sampai membuat Nyonya Ardila menunggu lebih lama lagi, atau kamu akan melihat sisi kejam dari keluarga Santoso yang belum pernah kamu lihat sebelumnya."
Nadia gemetar hebat. Kakinya terasa lemas seolah tak bertulang, namun ia memaksakan dirinya untuk tetap berdiri tegak. Ia menatap mata Mario lekat-lekat, mencari sedikit saja belas kasihan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kebencian dan keinginan kuat untuk menyingkirkannya.
Ia teringat kembali janjinya kemarin malam, janjinya pada dirinya sendiri dan pada nyawa kecil di dalam perutnya, bahwa ia akan kuat, bahwa ia akan bertahan. Ia teringat pesan dokter bahwa janinnya masih sangat muda dan sangat rentan terhadap tekanan batin dan stres berat. Jika ia sakit, jika ia terluka, anaknya juga yang akan menanggung akibatnya.
Aku harus pergi. Aku harus menemui beliau. Kalau aku menolak, tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku. Dan aku tidak boleh terlihat lemah. Aku harus berani menghadapi ini, batin Nadia berusaha menguatkan sisa keberaniannya yang hampir habis.
Dengan tangan gemetar, Nadia mengaitkan tasnya di bahu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengisinya dengan udara sebanyak-banyaknya untuk menahan rasa sesak di dadanya, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengangkat dagunya sedikit, menatap Mario dengan sorot mata yang berusaha ia buat setenang mungkin, meski matanya terasa panas dan perih menahan tangis.
"Baik, Pak," jawab Nadia pelan namun tegas, mengepalkan tangannya di sisi roknya hingga buku-buku jarinya memutih. "Saya akan ikut Bapak. Saya tidak punya apa-apa yang perlu saya takutkan, dan saya memang tidak berniat mengganggu kehidupan siapa pun."
Mario tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak menyenangkan, penuh dengan ketidakpercayaan.
"Kita lihat saja nanti apa yang akan kamu katakan di depan Nyonya," ucap Mario sinis. "Ingat baik-baik kata-kataku, Nadia. Di depan Nyonya Santoso, jangan bermimpi sedikit pun untuk berbicara hal-hal yang tidak pantas atau berusaha mencari perhatian. Cukup dengarkan apa yang beliau katakan, jawab seperlunya saja, dan lakukan apa yang beliau minta. Kalau kamu pintar, kamu akan selamat dan bisa pergi dari sini dengan baik-baik. Kalau kamu nekat... konsekuensinya akan jauh lebih buruk dari sekadar kehilangan pekerjaan."
Mario berbalik badan, mulai berjalan mendahului menuju pintu keluar ruangan, namun suaranya kembali terdengar jelas saat ia melangkah.
"Bersiaplah, Nadia... ini baru permulaan dari kenyataan pahit yang harus kamu telan. Setelah bertemu Nyonya Ardila, harapan kosong apa pun yang masih tersisa di kepalamu, akan dipatahkan sampai hancur lebur."
Nadia terpaku sejenak di tempatnya, menatap punggung lebar Mario yang menjauh. Ia mengusap perutnya lagi, diam-diam, gerakan yang sangat kecil dan tersembunyi agar tidak terlihat.
'Bantu mama untuk bisa kuat melewati semua ini ya, Nak,' bisik hatinya penuh kepedihan.
Dengan langkah berat namun pasti, Nadia mengikuti Mario keluar dari ruangan keuangan itu, menuju lift yang akan membawanya naik ke tempat tertinggi di gedung itu—tempat di mana nasibnya dan masa depan anak yang dikandungnya, mungkin akan ditentukan sepenuhnya hari ini.
Nadia tahu, di balik pintu ruang tamu mewah itu, wanita yang melahirkan Aga sedang menunggu, dan pertemuan itu tidak akan berakhir manis. Nadia bersiap untuk dipatahkan, bersiap untuk dihancurkan harga dirinya, dan bersiap untuk mendengar kata-kata yang mungkin akan merobek sisa-sisa hatinya yang masih utuh.
demi hrga dirimu...