Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Pernyataan Rasa
"Lho, justru bagus kalau Baskara ajak kamu masuk kompleks. Biar berasa jadi istri prajurit betulan, Ra," ucap Rahma saat Aira meminta pendapat sang mama.
Maksud hati ingin mendapat dukungan agar tidak jadi tinggal berdua dengan Baskara, tapi ternyata zonk.
"Tapi, nanti Aira ninggalin mama sendirian," ucap Aira dengan mata berkaca-kaca.
Rahma tersenyum. Ia segera memeluk putrinya dan mulai menepuk punggung Aira beberapa kali.
"Seumur hidup nggak pernah jauh-jauh dari mama selain waktu kkn dan intersip. Sekarang sudah jadi istri orang. Gimana pun, kamu ini istri tentara, Aira. Nggak boleh kolokan. Harus siap sedia mendampingi suami dimanapun, termasuk kalau dia pindah tugas."
Aira mulai menangis sesenggukan. Dia tidak membayangkan jika akan meninggalkan Rahma dan tinggal berdua saja dengan Baskara.
"Kamu jangan malu-maluin mama. Sekarang, ads tanggung jawab lain selain jadi anak mama dan papa. Kamu juga sudah jadi istri orang, sudah jadi menantu orang. Baik-baik sama mertua. Suaminya diurusin. Udah nggak boleh ini manja-manja lagi."
Aira mengangguk beberapa kali. Ia masih setia memeluk tubuh sang mama sebelum nantinya membereskan pakaiannya.
"Kamu yakin cuma bawa satu koper aja, Ai?" tanya Baskara saat sore hari ia menjemput Aira kembali ke rumahnya.
"Sementara. Lagian kalau ada yang kurang bisa dibawa besok lagi," jawab Aira.
Baskara mengangguk. Ia mengangkat koper besar milik Aira ke dalam bagasi mobilnya sebelum berpamitan dengan Rahma.
"Izin, Tante, Baskara bawa Aira merapat ke asrama."
"Ih! Kok masih panggil tante, sebutnya mama, dong biar sama kayak Aira," jawab Rahma seraya memeluk Baskara.
"Titip Aira ya, Baskara. Dia belum pernah tinggal jauh dari mama jadi kalau kadang-kadang manja, harap dimaklumi," bisik Rahma.
Baskara tersenyum seraya mengangguk. "Aman, Ma," jawab Baskara.
Aira kembali merengek dan menangis saat ia memeluk Rahma.
"Aira pamit, Ma."
"Baik-baik di sana. Nggak boleh sembrono kalau bersikap dan bicara. Kamu harus jaga etika, jaga nama baik suamimu. Oke?"
Aira mengangguk.
Mereka pun akhirnya berpamitan dan mulai melaju dengan mobil Baskara menuju ke asrama tempat tinggal Baskara. Dalam perjalanan, Aira masih mengusap air matanya beberapa kali. Hal itu sempat mencuri perhatian Baskara, tapi Baskara merasa maklum. Bagaimana pun juga, Aira adalah putri semata wayang dari Hendra dan Rahma. Mungkin memang seumur hidupnya, Aira belum pernah pergi jauh meninggalkan orang tuanya.
"Ini rumahnya. Maaf kalau kecil dan nggak sesuai ekspektasi. Soalnya rumah di asrama sama semua," ucap Baskara saat turun dari mobil. Ia mengambil koper milik Aira di bagasi sebelum mempersilakan Aira masuk.
"Silakan masuk."
Aira menatap rumah dinas Baskara yang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk ukuran rumah yanh dihuni oleh laki-laki. Aira terkejut melihat foto pernikahannya terpajang rapi di dinding ruang tamu. Aira menatap foto itu. Salah satu foto candid saat Aira akan melemparkan bunga pada teman-temannya dan rekan Baskara. Aira salfok dengan tatapan Baskara padanya dalam foto itu. Sorot mata Baskara tampak begitu terpesona saat melihat Aira.
"Ini kamar kamu, Ai."
Aira terkesiap. Ia pun menatap Baskara dan berjalan menuju kamar yang ditujukan padanya. Sebuah kamar dengan nuansa putih dan ranjang besar, lengkap dengan almari dan meja rias yang catnya masih tercium aromanya.
"Di sini ada ruang keluarga nyambung sama dapur dan ruang makan. Sebelah sana kamar mandi. Kalau mau cuci dan jemur baju ada di luar," ucap Baskara seraya menunjukkan isi rumahnya.
"Kamu tidur dimana?" tanya Aira usai berkeliling.
Baskara tersenyum. "Dari sekian banyak ruangan, cuma itu yang kamu tanyakan?"
"Ya, kan, katanya mau jaga privasi masing-masing. Jangan sampai kamu nggak pegang janji aja," jawab Aira seraya duduk di kursi makan.
Baskara tersenyum. Ia membuka satu kamar lagi dengan ukuran lebih kecil.
"Aku bisa tidur di sini."
Aira melongo. Ia mengerutkan dahi manakala merasa jika kamar yang ditunjukkan Baskara lebih mirip seperti gudang karena banyak barang dan pakaian-pakaian tergantung di sana.
"Nggak ada tempat tidurnya, Bas."
"Gampang-lah. Aku bisa tidur di sofa situ. Kemarin soalnya, aku beberes rumahnya sama Bunda. Kalau aku tata satu kamar lagi, bisa-bisa nanti Bunda curiga," jawab Baskara seraya duduk di hadapan Aira.
Aira membulatkan bibirnya seraya mengangguk.
"Oh, iya, aku belum sempat main ke rumah kamu nih buat ketemu Om Gunawan dan Tante Sita. Jadi nggak enak aku."
"Santai aja. Ayah juga lagi sibuk keliling sama Bunda. Baru balik minggu depan. Oh, ya, Ai nanti sore kita ke rumah komandanku ya."
Aira melongo. "Hah? Nanti sore banget, ni?"
Baskara mengangguk. "Ya, kan, kamu sudah di sini. Kalau nggak sekalian menghadap nggak enak."
Aira membuang napas kasar, lalu mengangguk. Ia bahkan belum mempersiapkan mental untuk memperkenalkan diri sebagai istri Baskara.
"Oh, iya. Ini ...."
Baskara mengeluarkan satu kartu merah putih. Aira mengernyit. Alisnya terangkat satu seraya menatap bingung.
"Apa itu?"
"Atmku. Kamu bawa aja. Aku sengaja nabung tiap bulan dan nyisihin gaji buat dikasih ke istriku."
"Eh, nggak usah. Aku ada atm sendiri, Bas. Itu kamu aja yang bawa. Masa aku?"
"Aira, dengerin aku baik-baik. Walaupun kita nikah karena dijodohkan dan belum bisa menerima satu sama lain, tetap saja sekarang aku sudah jadi suami kamu. Aku punya tanggung jawab baru dan ini salah satu tanggungjawabku. Memberimu nafkah. Bawa aja!" ucap Baskara dengan penuh penekanan.
Aira mengangguk paham. Serem juga kalau Baskara mulai kesal. Ia mengambil atm itu dan menyimpannya di dalam dompet.
"Kalau kamu butuh apa-apa, kamu ambil aja dari situ. Aku tahu kamu punya penghasilan sendiri, tapi penghasilanmu lebih baik kamu simpan saja. Selama aku bisa penuhi, aku bakal berusaha mencukupi semuanya.
"Oh, ya, karena setelah ini kamu akan tinggal di sini, aku bakal kasih tahu kamu ada apa aja di dekat sini. Barang kali kamu butuh belanja untuk masak, di depan asrama ada toko sayuran. Kalau mau ke pasar nanti coba aku tanya sama anggota lain, soalnya aku juga belum pernah ke pasar. Terus kalau butuh beli lauk yang udah matang ada warung Mahasiswa di depan sana. Sebelahnya ada tukang jual bakso, nasi padang, sebelahnya lagi ada apotek kalau kamu butuh beli obat-obatan. Di depannya ada Afamart sama tukang jual buah. Sampingnya ada laundry. Aku biasanya nggak nyuci sendiri soalnya, kecuali seragam sama daleman. Itu aja, sih. Kalau yang lain-lain, kamu bisa tanya sama ibu-ibu kompleks. Aku nggak terlalu paham soalnya."
Aira mengangguk mengerti.
"Kamu bisa naik motor nggak?"
Aira mengerjap beberapa kali, lalu menggeleng.
"Kalau gitu, besok biar mobil kamu di ambil aja sama Pak Agus. Sementara, kalau mau kerja bisa aku anterin. Sekarang, mendingan kamu siap-siap, deh. Kita ke rumah Kolonel Haryo."
***
"Wah, wah, wah ... ada penganten baru. Papi, ada tamu, nih. Penganten barunya sudah datang," ucap Wina, istri dari Kolonel Haryo saat melihat Baskara berboncengan dengan Aira untuk berkunjung ke rumah komandannya.
Wina menyambut dengan senyum semringah. Hal itu sedikit mencairkan suasana, karena sejak tadi jujur saja, Aira merasa gugup.
Aira berjalan menghampiri Wina dan memberi salam dengan sopan dan disambut dengan pelukan hangat serta cium pipi oleh Wina.
"Selamat sore, Ibu. Izin memperkenalkan diri saya Aira," ucap Aira sopan. Hal kecil itu membuat senyum tipis di bibir Baskara mengembang.
"Aduh, manis banget istrimu, Om. Cantik lagi. Mari masuk," ucap Wina mempersilakan.
"Wah, akhirnya bawa istri juga kamu, Bas," goda Kolonel Haryo saat menyambut kedatangan Baskara dan Aira.
"Dek Aira ini sekarang dinas di rumah sakit mana? Sudah dokter, kan, ya?" tanya Wina.
"Izin, Ibu, saya sudah mempunyai izin praktek dan sekarang dinas di IGD Rumah Sakit Pelita. Sudah dua tahun kurang lebih di sana," jawab Aira sopan.
"Wah, Bas, nggak nyangka saya, kamu bisa dapat istri dokter. Dek Aira, itu kelakarnya Baskara waktu ditanya kapan nikah. Selalu jawabnya, tunggu belum ketemu dokter. Cita-cita dapat istri dokter terkabul sudah. Berapa lama kamu pacaran berarti, Bas?" tanya Kolonel Haryo.
"Izin, Ndan, sebenarnya naksirnya sudah sejak dia koas, tapi baru berani ngajak nikahnya sekarang," jawab Baskara dengan wajah bersemu merah.
Aira menoleh menatap Baskara sedikit heran.
Pintar sekali ngelesnya, batin Aira.
"Yah, Dek Aira sekarang sudah resmi jadi istri prajurit. Gimana pun juga, ya, beginilah kehidupan prajurit. Mungkin sudah pernah ditinggal Baskara tugas waktu pacaran dulu. Selebihnya, pasti akan ada tugas-tugas lain yang menanti. Belum lagi kalau suatu saat Baskara dipindahtugaskan ke tempat lain, sebagai istri Dek Aira harus setia mendampingi kemanapun suami pergi. Saya nggak perlu tanya kesiapannya lagi, kan, kalau sekarang? Berarti malam ini kamu nggak bisa diganggu, ni, Bas. Padahal mau ada nonton bareng bola di kantor. Batal, Bas?" goda Kolonel Haryo.
"Ih! Mas Haryo jangan digodain terus ini adeknya. Nggak lihat tu, mukanya Baskara sudah merah."
Semua orang tertawa.
"Ya, intinya, Dek Aira, kita sebagai istri prajurit harus senantiasa mendukung dan menjadi support sistem utama bagi suami ...."
Wina berhenti bicara saat melihat mobil putrinya datang.
"Eh, Jelita udah pulang. Ayo, salim dulu ada Om Ibas sama istrinya."
Jelita menatap sinis, seraya bersalaman dengan Baskara dan Aira sebelum berjalan masuk ke kamarnya.
"Ck! Anak itu. Sejak kamu nikah, dia uring-uringan terus. Maklum ya, Dek Aira, Baskara memang dulu dekat dengan Jelita," ucap Wina kemudian.
Aira hanya tersenyum sementara wajah Baskara sudah mulai memerah. Tak lama, mereka pun akhirnya berpamitan dan berpindah tempat ke rumah wakil komandan batalyon dan komandan timnya, Kapten Aga.
Malam pun tiba, Baskara mengajak Aira makan bakso di depan kompleks asrama. Sejauh ini, Aira merasa diterima di lingkungan Baskara. Satu hal yang membuat Aira sedikit merasa lega. Baskara pun tampak puas dengan sikap sopan yang ditunjukkan Aira. Ia tidak menyangka jika Aira sudah sefasih itu saat berbicara dengan istri-istri komandannya.
"Kamu pinter banget ternyata. Aku nggak ngira, deh," ucap Baskara seraya menyantap baksonya.
Aira tersenyum. "Siapa dulu. Aira. Handal kalau soal begitu. Lagian, aku udah sering lihat mama dulu kalau ngobrol sama ibu-ibu atasannya Papa. Gampang-lah kalau itu," ucap Aira sombong. "Oh,ya, Bas ... memangnya kamu dulu sempat pacaran sama anak Danyon, ya?"
Uhuk!
Baskara merasa pening saat ia tersedak kuah sambal akibat pertanyaan Aira.
"Dari sekian banyak hal yang bisa ditanyakan, kenapa tanyanya itu?" tanya Baskara sedikit kesal.
"Ya, aku tanya aja. Penasaran soalnya. Jelita juga cantik, lho, Bas. Kalau kalian udah pacaran, kenapa nggak nikah sekalian. Atau kalian putus gara-gara aku? Soalnya, Jelita tadi lihat aku sinis banget gitu," lanjut Aira.
"Nggak ada yang pacaran, Ai."
"Ih! Bohong. Kamu jujur soal masa lalu kamu nggak apa-apa banget, lho, Bas. Nggak usah gengsi. Jujur aja."
Baskara membuang napas kasar. "Perempuan kalau dijawab jujur suka nggak percaya. Giliran cowok jawabnya ngasal malah percaya."
"Kalau kamu yang bilang, sih, nggak percaya, Bas."
Alis kanan Baskara mulai terangkat satu. "Bagian mana yang nggak percaya?"
"Soal Jelita sama ... naksir aku waktu koas. Bisa banget bohongnya."
Aira tertawa geli mengingat ucapan Baskara tadi, tapi berbanding terbalik dengan Baskara yang menatapnya serius.
"Aku nggak bohong soal itu," jawab Baskara tenang.
Aira berhenti tertawa seketika.
"Hah? Yang mana?"
"Dua-duanya. Pertama, dulu memang Jelita dekat karena aku nggak bisa nolak waktu dia minta ditemani kemana-mana. Mau nolak, mikir juga karena dia anak komandan. Nggak tahu darimana asalnya, terus muncul gosip aku pacaran sama Jelita padahal kenyataannya enggak. Kedua, soal naksir kamu waktu koas."
"Itu bisa-bisanya kamu aja, kan, jawab ke komandan?"
Baskara diam. Ia memilih menghabiskan bakso di dalam mangkoknya sebelum akhirnya menatap Aira lekat-lekat.
"Itu ... jujur, Aira. Aku memang udah naksir kamu waktu koas."
Hah?
_____________________