NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Panglima TNI.

Terjebak Cinta Panglima TNI.

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Cintapertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Sisi Lain Axel.

Aruna menunggu Axel di ruang tamu yang luas dan megah itu. Kakinya yang telanjang melangkah pelan di atas lantai marmer yang dingin, matanya mengamati setiap sudut ruangan namun hatinya terasa hampa. Semakin lama ia menunggu, rasa bosan itu semakin menguasai dirinya.

"Hah... kenapa hidupku semembosankan ini..." gumamnya pelan, suaranya terdengar sendu di tengah kesunyian.

Ia berjalan mendekati pagar pembatas taman yang dihiasi rimbunnya tanaman mawar. Jari-jemarinya yang lentik menyentuh lembut permukaan daun yang hijau segar, lalu perlahan beralih ke batang tanaman itu. Dengan sengaja, ia menyentuhkan ujung jarinya ke duri-duri tajam yang menonjol, merasakan sensasi tajam namun tidak sampai melukai kulitnya. Seolah ia mencari sedikit sensasi untuk membunuh kebosanan yang melanda.

Namun, fokusnya tiba-tiba buyar. Suara teriakan keras dan penuh amarah terdengar jelas dari lantai atas, memecah keheningan sore itu. Rasa penasaran mengalahkan rasa bosannya. Aruna segera berjalan cepat menaiki tangga, mengikuti sumber suara tersebut.

Sesampainya di lorong lantai dua, matanya membelalak melihat pemandangan di depannya. Axel terlihat sangat marah, wajahnya memerah menahan emosi. Di hadapannya, seorang pelayan wanita terlihat gemetar ketakutan, air mata sudah membasahi pipinya. Dan yang lebih mengejutkan, dengan kasar Axel mendorong bahu pelayan itu hingga wanita itu tersungkur jatuh ke lantai.

"Axel!!" seru Aruna kaget. Ia buru-buru berlari mendekati pria itu, mencoba menenangkan situasi. "Axel... kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba marah kayak gini? Ada apa sebenarnya?" tanya Aruna cemas.

Axel menoleh padanya, tatapannya masih tajam dan penuh amarah.

"Dia menghilangkan kalung yang harusnya aku kasih ke kamu," ucapnya ketus, tanpa basa-basi sedikitpun. Jarinya menunjuk salah satu pelayan yang sekarang sudah bersujud di hadapannya.

"Kalung?" tanya Aruna bingung.

"Ya. Hadiah yang aku siapkan khusus untuk kamu." jawab Axel lagi, suaranya meninggi.

Aruna menatap ke arah pelayan yang masih terduduk di lantai, tubuhnya berguncang hebat menahan isak tangis. Ia mencoba mendekati wanita itu dengan nada yang jauh lebih lembut.

"Katakan padaku, dimana kalung itu sebenarnya? Mbak gak perlu takut." tanya Aruna pelan, berusaha tidak membuat pelayan itu semakin takut.

"Maaf, Nona... maafkan saya..." rintih pelayan itu terbata-bata. "Saya menyimpannya di tempat biasa Tuan menyimpan perhiasan Nyonya Besar. Tapi... barusan saat hendak saya ambil, kalung itu sudah tidak ada di sana. Saya sudah cari kemana-mana tapi tidak ketemu..."

Aruna menghela napas, lalu menoleh kembali ke arah Axel yang masih tampak murka. "Axel... dengar dia bilang menyimpannya di tempat perhiasan ibumu. Bisa jadi Ibumu yang memakainya atau memindahkannya, kan? Coba telepon beliau dulu, tanyakan baik-baik."

Meskipun terlihat malas dan enggan, Axel akhirnya menuruti saran Aruna. Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor ibunya. Namun, panggilan itu tak kunjung diangkat. Satu kali, dua kali, hingga berkali-kali, tetap saja tidak ada jawaban.

Kekesalan Axel semakin memuncak. Ia melempar ponselnya dengan kasar ke atas meja di sampingnya, membuat suara benturan keras terdengar memekakkan telinga. Wajahnya kini tampak sangat tegang, urat-urat lehernya terlihat menonjol, seolah emosinya siap meledak kapan saja.

Melihat keadaan itu, Aruna mendekat lagi. Ia mengangkat tangannya, perlahan menyentuh pipi pria itu yang terasa panas karena emosi.

"Hey... tenang dulu," bisiknya lembut.

"It's okay. Kalau kalungnya hilang, bisa dibeli lagi kan? Kamu kan punya banyak uang. Lagipula..."

"Aruna!" potong Axel cepat, memotong ucapan gadis itu. "Uang bukan masalahnya! Tapi kalung itu berbeda. Itu kalung turun-temurun dari nenek buyutku. Sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Ah, sudahlah... kamu pasti tidak akan pernah mengerti seberapa berharga benda itu bagiku." serunya kesal.

Aruna menatapnya lekat-lekat, lalu tersenyum miring dengan keberanian yang biasanya ia miliki. "Hm... jadi itu kalung yang sangat berharga ya... Apa tidak lebih berharga dariku?" tantangnya pelan.

Axel menghela napas kasar, menatap Aruna tak percaya. "Jangan aneh-aneh, Aruna. Aku sedang tidak ingin bercanda." balas Axel mencoba untuk tidak membentak Aruna meski kesal.

"Baiklah... kalau begitu, aku pulang saja ya," ucap Aruna sengaja. Ia berbalik badan, berpura-pura hendak meninggalkan tempat itu.

Namun, baru saja ia melangkah satu langkah, tangan kekar Axel langsung mencengkeram pinggangnya dan menariknya kasar namun lembut ke dalam pelukan. Pria itu memeluknya erat dari belakang, menahan gadis itu agar tidak bisa pergi kemana-mana.

Dan di depan mata para pelayan yang masih ada di sana, Axel dengan bebas menundukkan wajahnya, mengecup lembut namun posesif bagian tengkuk leher Aruna. Dan, aroma tubuh gadis itu seolah menjadi penenang baginya.

"Ah... Axel, stop!!" Aruna tersentak, wajahnya langsung memerah padam karena malu.

"Gak ada akhlak kamu ya! Unghhhh... kamu ngapain sih?! Dilihat banyak orang, tahu.. Axel !! " protesnya sambil berusaha melepaskan diri, tapi pelukan pria itu terlalu kuat.

"Siapa suruh kamu pergi?" bisik Axel tepat di telinganya, suaranya terdengar rendah dan berat, bercampur dengan sisa amarah namun juga nada manja yang tak biasa.

"Kamu dengar kan? Kalung itu hilang... jadi sekarang kamu tak boleh pergi dari sini sampai kalung itu ketemu."

"Uuhh... setidaknya berhenti dulu. Malu tahu, dilihat orang..." ucap Aruna, suaranya terdengar terengah-engah, campur aduk antara rasa malunya yang memuncak dan upayanya yang sia-sia untuk melepaskan diri.

Tubuhnya bergerak-gerak mencoba memberontak, namun lengan kokoh Axel seolah terbuat dari baja; pria itu sama sekali tak bergeming, justru malah semakin mendekatkan wajahnya, membuat jarak di antara mereka nyaris tak terasa.

Di sekeliling mereka, para pelayan berdiri kaku seperti patung. Tak ada satu pun yang berani mengangkat wajah untuk menatap pemandangan di depan mata, namun tak ada juga yang berani melangkah pergi. Mereka terpaku di tempat, menundukkan pandangan dengan jantung berdebar, karena sadar betul bahwa selama Axel sendiri belum memberi perintah untuk bubar, mereka harus tetap berdiri di sana, menjadi saksi bisu yang tak berdaya.

"Mbak... tolong... saya minta sapunya dong... tolongin saya nih..." Aruna mencoba mencari jalan keluar, suaranya berubah menjadi rengekan memelas saat ia menatap salah satu pelayan wanita yang kebetulan memegang sapu lidi di tangannya.

Pelayan itu tampak bingung dan gugup, matanya melirik takut-takut ke arah Axel sebelum kembali ke wajah Aruna.

"I... iya, Non... tapi... buat apa?" tanyanya terbata-bata.

Belum sempat Aruna menjawab, tiba-tiba ia merasakan sensasi gigitan lembut namun mengejutkan di daun telinganya.

"Ah!!" jerit Aruna keras, tubuhnya langsung menegang kaget.

"Axel!! Kamu keterlaluan banget sih!!" bentaknya sambil memukul pelan dada pria itu, wajahnya memerah padam karena campuran rasa malu, kesal, dan sesuatu yang lain yang tak bisa ia ungkapkan.

"Mbak! Cepetan kasih sapunya! Ughhh... tolongin aku, Mbak, please!" rengeknya lagi, kali ini dengan nada yang lebih mendesak dan putus asa.

Melihat situasi yang semakin canggung dan mendengar permohonan Aruna, pelayan itu akhirnya memberanikan diri. Dengan tangan gemetar, ia segera menyodorkan gagang sapu itu ke arah Aruna.

Begitu sapu berada di genggamannya, tanpa pikir panjang Aruna langsung menusukkan ujung sapu itu sekuat tenaga tepat ke arah kaki Axel. Namun, refleks pria itu luar biasa cepat. Axel dengan mudah menggeser kakinya sedikit saja, sehingga tusukan itu meleset dan hanya menghantam udara.

"Arghh!" Aruna mendengus kesal karena usahanya gagal. Rasa emosi membuat ia tak mau menyerah begitu saja. Dengan gerakan cepat, ia memutar tubuhnya, membalikkan badan menghadap Axel, dan mulai memukul-mukul bahu serta punggung pria itu berulang kali menggunakan sapu tersebut.

Plak! Plak! Plak!

Suara tamparan sapu terdengar beruntun. Namun yang aneh, Axel sama sekali tidak berniat melawan atau menangkis. Ia hanya berdiri diam membiarkan dirinya dipukuli, bahkan sudut bibirnya terlihat sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang menggemaskan sekaligus menjengkelkan.

"Aruna... hey... santai saja, sayang.. kenapa malah ngamuk begitu..." suara Axel terdengar tenang, seolah-olah pukulan-pukulan itu hanyalah sentuhan ringan yang tak berarti baginya.

Suasana yang tadinya tegang tiba-tiba berubah menjadi kekacauan yang lucu dan penuh tawa. Aruna dan Axel malah berubah menjadi seperti Tom dan Jerry yang sedang kejar-kejaran, berlari memutari ruangan, melompat melewati sofa, dan menyelinap di balik tirai.

Tanpa sadar, mereka terus berlari keluar menuju area taman yang luas dan indah di belakang rumah. Aruna masih memegang sapu di tangannya, masih berusaha memukul kembali Axel. Lampu-lampu taman yang berwarna hangat mulai menerangi jalan mereka, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak cepat di atas rumput hijau dan bebatuan.

Di sepanjang jalan, puluhan pelayan rumah berdiri terpaku, mata mereka terbelalak tak percaya menyaksikan pemandangan di depan mata. Mereka semua menahan napas, beberapa bahkan menutup mulut dengan tangan untuk menahan tawa yang hampir meledak.

Bagaimana tidak? Di hadapan mereka, sosok Axel yang selama ini dikenal sebagai pria yang kaku, galak, berwajah dingin bak es, dan tak pernah menunjukkan belas kasihan sedikit pun, kini terlihat benar-benar berbeda. Pria yang biasanya membuat orang gemetar ketakutan hanya dengan satu tatapan mata, saat ini justru terlihat seperti anak kecil yang sedang asyik bermain kejar-kejaran.

Ia tertawa kecil, matanya berbinar cerah, dan ekspresinya begitu santai dan riang. Ia mengejar Aruna dengan semangat, kadang berpura-pura lambat agar gadis itu bisa lari lebih dulu, kadang mempercepat langkahnya seolah-olah akan menangkapnya, tapi selalu membiarkan Aruna lolos di detik terakhir.

Sementara itu, Aruna berlari dengan napas memburu, rambutnya sedikit berantakan, namun wajahnya berseri-seri. Ia sesekali menoleh ke belakang sambil mencibir, memancing Axel agar terus mengejarnya.

Pemandangan kontras ini—di antara sisi dingin Axel yang terkenal tegas dan sisi manisnya yang hanya muncul saat bersama Aruna—membuat semua pelayan sadar betul betapa besarnya rasa sayang pria itu pada gadis tersebut. Hanya Aruna yang mampu mencairkan hati es Axel dan mengubahnya menjadi sosok yang begitu manusiawi dan menggemaskan.

"Ah udah ah, capek banget! Kesel aku, kamu larinya kencang banget sih." seru Aruna dengan napas yang masih memburu-buru. Ia melempar sapu yang ada di tangannya ke tanah dengan kasar, lalu melipat kedua tangan di dada. Wajahnya memerah menahan kesal, bibirnya manyun panjang, terlihat sangat kesal dan manja sekaligus.

"Kan kamu yang mulai duluan..." jawab Axel santai, nada suaranya terdengar sedikit mengejek namun penuh kasih sayang. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung melangkah mendekat dan menarik tubuh Aruna ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh, membuat gadis itu tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.

Aruna yang awalnya masih ingin marah, perlahan luluh dalam dekapan pria itu. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Axel, merasakan detak jantung yang tenang dan menenangkan.

"Gimana? Ibu kamu udah bales pesan kamu belum?" tanya Axel lagi, kali ini suaranya lebih lembut sambil mengelus pelan punggung Aruna.

"Bentar, aku cek dulu..." jawab Aruna pelan. Ia melepaskan pelukan sedikit, lalu merogoh saku bajunya untuk mengambil ponsel. Jari-jarinya dengan cepat menekan layar, membuka aplikasi pesan, dan memeriksa notifikasi terbaru.

Dan benar saja...

Di sana, terdapat sebuah foto yang baru saja dikirim oleh ibunya. Dalam foto itu, sang ibu tersenyum ramah, dan di lehernya, tergantung jelas sebuah kalung yang berkilau indah. Kalung itulah yang selama ini dicari-cari Axel, barang yang menjadi pusat perhatian mereka berdua.

Mata Aruna terbelalak sedikit saat melihatnya, lalu ia segera menoleh dan menunjukkan layar ponsel itu kepada Axel.

"Lihat deh... Sangkaanku bener kan.. Kamu harus minta maaf sama pelayan itu. Kalau perlu sujud sekalian." katanya, matanya berbinar penuh kemenangan.

Axel tak menjawab, hanya menatap layar ponsel itu dengan rahang mengeras. Dalam hati ia mengakui, dia memang salah besar, karna sudah marah-marah, pada pelayan tadi.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!