NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Pendaratan di Pulau Frostfire

   Gemuruh jalur angin hangat The Dragon's Breath perlahan mereda saat lambung raksasa The Sky Leviathan berhasil keluar dari cincin badai salju abadi.

   Di depan ruang kemudi utama, sebuah pemandangan yang megah sekaligus mengerikan terhampar luas menembus kabut fajar yang tipis.

   Pulau Melayang Frostfire melayang kokoh di antara gugusan bintang malam utara, berupa gundukan daratan melayang raksasa yang diselimuti oleh kontras alam yang ekstrem, setengah bagian pulau berupa puncak gunung es abadi yang berkilau keperakan, sementara setengah bagian lainnya dialiri oleh retakan celah magma bawah tanah yang memancarkan pendaran cahaya jingga kemerahan.

   "Turunkan ketinggian kapal secara bertahap. Kunci jangkar sihir pada tebing batu es di sektor selatan," perintah Clara tegas. Suaranya bergema jernih di dalam ruang kemudi, memancarkan aura kepemimpinan yang kini sepenuhnya dipatuhi oleh seluruh kru tanpa ragu.

   "Siap, Kapten Clara! Jangkar sihir pelapis pertama dilepaskan!" sahut wakil komandan dek.

   Krieeek...

   BUM!

   Dua pasang rantai besi raksasa bertenaga sihir melesat dari bagian bawah lambung kapal, menghantam dan mengunci posisi The Sky Leviathan pada dinding tebing batu es yang kokoh.

   Kapal terbang itu berguncang sedikit sebelum akhirnya berhenti bergerak, melayang aman beberapa meter di atas permukaan daratan Pulau Frostfire.

   Lapisan sihir kamuflase tingkat ketiga segera diaktifkan kembali, membuat keberadaan kapal raksasa itu melebur sempurna dengan kabut salju di sekitarnya.

   Clara melangkah mundur dari jendela besar, menghembuskan napas panjang yang membentuk uap putih tebal di udara dingin. Di tangannya, tongkat komando elang perak masih ia genggam erat. Ia menoleh ke arah Bernet yang berdiri di dekat meja peta dengan wajah yang penuh kecemasan.

   "Bagaimana kondisi anak-anak, Bernet?" tanya Clara segera sembari merapatkan jubah wol bulu beruang langitnya.

   "Tuan Muda Leo sedang menemani Tuan Muda Toby di kabin dalam, Nyonya. Kondisi Nona Rin juga sudah stabil setelah kehangatan energi dari kakaknya tadi sore mencairkan kutukan es di dadanya," lapor Bernet dengan sikap hormat yang kaku. Pria tua itu melirik ke arah luar jendela. "Namun, ekspedisi darat menuju jantung gunung es di depan sana akan jauh lebih berbahaya. Suhu di daratan bawah pulau ini terus berfluktuasi antara dingin ekstrem dan hawa panas beracun dari celah magma."

   "Aku tahu, Bernet. Itulah alasan mengapa aku tidak akan membawa Rin dan Toby ikut serta dalam perjalanan darat ini," kata Clara dengan nada suara yang melunak namun penuh dengan keputusan yang mutlak. "Mereka berdua terlalu rentan terhadap distorsi energi pulau ini. Aku akan membawa Leo bersamaku."

   "Tuan Muda Leo?" Bernet membelalakkan matanya sedikit karena terkejut. "Tapi Nyonya, dia masih berusia dua belas tahun. Medan di depan sangat berbahaya bagi seorang anak kecil."

   "Leo bukan anak kecil biasa, Bernet. Dia adalah seorang Phoenix," koreksi Clara dengan seulas senyum tulus yang memancarkan rasa percaya yang besar pada putranya. "Keberhasilan dia mengendalikan suhunya untuk menyembuhkan Rin tadi sore membuktikan bahwa ia telah siap. Di dalam gua es di depan sana, kekuatan api murni miliknya adalah satu-satunya perisai yang bisa melindungi kita dari pembekuan energi kutukan hitam. Aku membutuhkannya sebagai rekanku, bukan sebagai beban yang harus dilindungi."

   Sebelum Bernet sempat membalas, pintu ruang kemudi terbuka dengan sentakan pelan. Leo melangkah masuk dengan pakaian musim dinginnya yang tebal, lengkap dengan sepasang sepatu bot kulit anti-slip dan sebuah tas ransel kecil di punggungnya. Sepasang mata jingga bak api, berkilat penuh tekad yang membara.

   "Aku siap pergi bersama Ibu," kata Leo tegap, meniru sikap kedisiplinan militer ayahnya dengan sempurna di hadapan para perwira kemudi. "Aku sudah berjanji pada Ayah untuk menjaga Ibu selama beliau pergi ke ibu kota. Dan aku tidak akan membiarkan Ibu berjalan di atas daratan es ini sendirian tanpa perisai api."

   Clara tersenyum hangat melihat keberanian putra sulungnya. Ia melangkah mendekat, lalu mengelus pipi Leo dengan tangan kanannya yang terbalut sarung tangan Sutra Laba-laba Salju. "Terima kasih, Leo. Mari kita bawa penawar itu pulang untuk adik-adikmu."

   Persiapan ekspedisi darat dilakukan dengan sangat cepat dan taktis. Clara memimpin barisan kecil yang terdiri dari dirinya sendiri, Leo, dan lima prajurit elite kapal yang membawa senjata pelontar sihir penolak roh.

   Mereka turun dari buritan kapal menggunakan tali seluncur sihir, mendarat dengan mulus di atas permukaan tanah Pulau Frostfire yang dilapisi oleh lapisan salju tebal yang membeku keras layaknya lantai kaca.

   Hawa dingin di daratan pulau ini terasa sepuluh kali lebih menusuk dibandingkan saat berada di atas dek kapal. Setiap kali hembusan angin utara berembus, serpihan es tajam melesat terbang di udara, mampu menggores kulit jika tidak berhati-hati.

   "Leo, aktifkan kehangatan apimu dalam radius dua meter di sekitar barisan kita. Jaga suhunya tetap konstan, jangan biarkan meledak," instruksi Clara lembut sembari membuka gulungan peta lokasi mata air magis.

   "Baik, Ibu," sahut Leo. Anak laki-laki itu memejamkan matanya sejenak, memfokuskan konsentrasinya seperti yang diajarkan Clara di ruang kemudi tadi.

   Perlahan-lahan, sebuah pendaran lingkaran cahaya jingga keemasan yang sangat lembut merebak dari tubuh Leo, membentuk perisai hawa hangat tak kasat mata yang menyelimuti seluruh anggota ekspedisi.

   Suhu dingin yang menusuk tulang di sekitar mereka mendadak mereda, berganti dengan kehangatan yang nyaman seolah-olah mereka sedang berjalan di bawah sinar matahari musim semi.

   Para prajurit elite kapal memandang Leo dengan tatapan takjub. Selama bertahun-tahun di atas The Sky Leviathan, mereka hanya mengenal Leo sebagai anak bermasalah yang selalu menghancurkan barang dengan ledakan apinya setiap kali mengamuk. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat putra sulung kapten mereka menggunakan kekuatannya dengan tingkat presisi dan kendali emosi yang begitu matang, semua itu berkat bimbingan psikologis yang tepat dari Clara.

   Barisan ekspedisi mulai melangkah maju menyusuri lereng bukit es menuju pintu masuk Gua Air Mata Phoenix Ice yang berada di dasar gunung es terbesar di pulau tersebut. Berdasarkan peta kuno Kuil Agung, mata air magis penawar kutukan hitam terletak di titik terdalam gua tersebut, di mana energi es abadi dan magma bawah tanah bertemu dalam keseimbangan mistis yang sempurna.

   Namun, baru saja mereka berjalan sejauh beberapa ratus meter mendekati mulut gua, geografi magis di sekitar mereka mendadak mengalami distorsi. Tanah es di bawah telapak kaki mereka bergetar hebat. Dari balik kabut salju yang tebal di depan mereka, beberapa siluet bayangan hitam bermata merah mulai bermunculan satu per satu, merayap keluar dari celah-celah batu es yang retak.

   Itu bukan Wraith Sky biasa yang mereka hadapi di pertempuran udara kemarin sore. Makhluk-makhluk di depan mereka adalah Frost Wraith—roh es purba penunggu pulau terlarang yang tubuh asapnya telah mengkristal menjadi cangkang es tajam yang mematikan, dikendalikan oleh sisa-sisa energi hitam kuno yang tersimpan di dalam tanah pulau tersebut.

   "Bentuk formasi pertahanan lingkaran! Siapkan pelontar sihir perak!" seru wakil komandan ekspedisi darat dengan lantang sembari menghunus pedangnya.

   Clara melangkah maju satu langkah, memposisikan dirinya di depan Leo yang terus mempertahankan perisai kehangatan mereka. Tangan kanannya yang terbalut sarung tangan perak tipis mulai memancarkan pendaran cahaya putih murni yang stabil, siap bertarung bertaruh nyawa kembali demi melindungi putranya.

   Di saat yang sama, jauh di belahan langit tenggara, di dalam ruang pertemuan raksasa Markas Besar Militer Kekaisaran di ibu kota bawah, Kapten Alden berdiri tegap dengan rahang yang mengeras di hadapan para petinggi militer yang sedang memperdebatkan laporan palsu mengenai aktivitas sekte hitam.

   Sepasang mata abu-abu badai milik sang Kapten tidak terfokus pada perdebatan politik di depannya, pikirannya sepenuhnya terbang melintasi ribuan mil samudra langit, tertuju pada keselamatan istri dan anak-anaknya di Pulau Es.

   Alden meraba dada kemeja militernya, tempat di mana selembar saputangan kecil bersulam benang perak milik Clara ia simpan sebagai jimat keberuntungan. Rasa debar yang konstan di dadanya seolah mengirimkan isyarat batin bahwa keluarganya saat ini sedang mulai memasuki fase pertempuran darat yang paling menentukan di utara terlarang.

   'Clara... Leo... bertahanlah. Aku akan segera menyelesaikan kekacauan di sini dan menyusul kalian,' batin Alden penuh dengan luapan rasa cinta dan tekad perlindungan seumur hidup yang membara di dalam hatinya yang kini tidak lagi sedingin es. Perjuangan di dua medan perang yang berbeda kini telah resmi mencapai puncaknya demi masa depan kebahagiaan keluarga sejati mereka.

Gimana? Makin menegangkan nggak?

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!