NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 Pengkhianat di Dalam Rumah

Hujan turun sejak dini hari.

Tetesannya menghantam atap rumah persembunyian dengan irama yang membuat suasana terasa semakin muram.

Biasanya, rumah itu cukup tenang.

Namun pagi itu berbeda.

Kael terbangun lebih awal.

Bukan karena suara hujan.

Melainkan karena firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan.

Selama bertahun-tahun hidup di dunia bawah, ia belajar satu hal:

Insting sering kali menyelamatkan nyawa lebih cepat daripada peluru.

Dan instingnya sedang berteriak bahwa ada sesuatu yang salah.

Di dapur, Elena sedang menyiapkan sarapan.

Darius baru saja selesai berjaga malam.

Sementara Ravian masih memeriksa laporan dari beberapa wilayah yang tersisa.

Sekilas semuanya tampak normal.

Terlalu normal.

Kael tidak menyukainya.

"Mana laporan dari gudang barat?"

tanya Kael.

Ravian mengangkat kepala.

"Belum masuk."

"Seharusnya sudah."

"Benar."

jawab Ravian.

Keheningan kecil muncul.

Karena itu bukan pertama kalinya.

Dalam beberapa minggu terakhir, beberapa informasi penting sering terlambat datang.

Kadang hanya beberapa jam.

Kadang lebih lama.

Hal kecil.

Namun cukup untuk membuat Kael curiga.

Di lantai atas.

Arda sedang membaca buku sejarah yang ditemukan di perpustakaan rumah.

Buku itu menceritakan tentang kerajaan-kerajaan kuno.

Tentang perang.

Pengkhianatan.

Dan perebutan kekuasaan.

Anehnya, semakin ia membaca, semakin ia merasa kisah itu mirip dengan kehidupan yang sedang dijalaninya.

Nama-namanya berbeda.

Zamannya berbeda.

Namun inti ceritanya sama.

Orang-orang saling membunuh demi kekuasaan.

Tidak pernah berubah.

Saat sedang membaca, terdengar ketukan di pintu.

Elena masuk.

"Makan dulu."

Arda menutup bukunya.

Namun sebelum keluar kamar, matanya tertuju pada sebuah foto lama di meja.

Foto dirinya bersama Leon.

Diambil bertahun-tahun lalu.

Saat semuanya masih terasa sederhana.

Saat ayahnya masih hidup.

Saat ia belum menjadi target pembunuhan.

Arda menghela napas pelan.

Lalu turun ke bawah.

Sarapan berlangsung dalam suasana yang tidak biasa.

Kael terlihat lebih diam.

Ravian beberapa kali memeriksa ponselnya.

Darius juga tampak gelisah.

"Ada apa?"

tanya Arda.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Sampai akhirnya Ravian berkata,

"Salah satu gudang kita diserang tadi malam."

Arda terdiam.

"Korban?"

"Dua orang luka."

jawab Darius.

"Untung mereka berhasil kabur."

Kael menatap meja.

Lalu berkata pelan,

"Mereka tahu lokasi gudang itu."

Ruangan langsung sunyi.

Karena semua memahami arti kalimat tersebut.

Lokasi gudang tidak diketahui banyak orang.

Hanya orang-orang tertentu.

Orang-orang dalam.

Setelah sarapan selesai, Kael mengumpulkan semua anggota yang berada di rumah persembunyian.

Jumlah mereka tidak banyak.

Hanya belasan orang.

Orang-orang yang selama ini dianggap paling setia kepada keluarga Valdarez.

Namun hari itu...

Kael mulai meragukan semuanya.

"Ada informasi yang bocor."

ucapnya tegas.

Tidak ada yang berbicara.

"Dan aku ingin menemukan siapa pelakunya."

Beberapa wajah terlihat terkejut.

Beberapa lainnya tampak tersinggung.

Namun tidak ada yang membantah.

Karena fakta sudah terlalu jelas.

Seseorang sedang membantu musuh.

Sepanjang hari suasana rumah menjadi tegang.

Setiap orang mulai saling curiga.

Setiap percakapan terdengar berbeda.

Setiap tatapan terasa mencurigakan.

Bahkan Arda bisa merasakannya.

Dunia yang sebelumnya terasa seperti tempat perlindungan...

Kini mulai terlihat retak.

Malam harinya.

Ravian datang membawa kabar baru.

Dan kabar itu membuat seluruh ruangan membeku.

"Gudang timur juga diserang."

Kael langsung berdiri.

"Kapan?"

"Satu jam lalu."

"Mustahil."

gumam Darius.

Karena lokasi gudang timur baru saja dipindahkan tiga hari sebelumnya.

Belum ada orang luar yang mengetahui tempat itu.

Kecuali...

Seseorang membocorkannya.

Untuk pertama kalinya sejak kematian Leon, Kael terlihat benar-benar marah.

Ia menghantam meja hingga gelas di atasnya jatuh.

BRAK!

"Kita punya tikus."

Tidak ada yang berani berbicara.

Karena semua tahu apa yang terjadi jika ada pengkhianat di organisasi mafia.

Tidak ada kesempatan kedua.

Tidak ada pengampunan.

Malam semakin larut.

Sebagian besar penghuni rumah mulai tidur.

Namun Kael masih berjaga.

Begitu juga Ravian.

Mereka mulai memeriksa semua laporan.

Semua komunikasi.

Semua pergerakan.

Mencari pola.

Mencari kesalahan.

Mencari siapa yang menjual mereka kepada Victor Nero.

Di kamar.

Arda tidak bisa tidur.

Entah kenapa dadanya terasa sesak.

Bukan karena takut.

Melainkan karena kecewa.

Ia selalu menganggap orang-orang di rumah itu seperti keluarga.

Orang-orang yang masih setia kepada ayahnya.

Namun sekarang muncul kemungkinan bahwa salah satu dari mereka adalah pengkhianat.

Dan itu terasa lebih menyakitkan daripada serangan musuh.

Tengah malam.

Suara langkah kaki terdengar dari koridor.

Arda membuka mata.

Awalnya ia mengira hanya salah satu penjaga.

Namun langkah itu terdengar aneh.

Pelan.

Hati-hati.

Seolah tidak ingin diketahui.

Arda bangkit dari tempat tidur.

Lalu berjalan mendekati pintu.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Saat ia mengintip melalui celah pintu...

Ia melihat seseorang.

Pria itu mengenakan jaket hitam.

Dan sedang bergerak menuju tangga belakang.

Diam-diam.

Mencurigakan.

Arda mengenal wajahnya.

Salah satu anggota lama Valdarez.

Namanya Marcus Hale.

Rasa penasaran membuat Arda mengikuti dari kejauhan.

Koridor gelap.

Lampu redup.

Dan suara hujan di luar membantu menutupi langkah mereka.

Marcus turun ke lantai bawah.

Lalu keluar melalui pintu belakang rumah.

Arda berhenti di dekat jendela.

Mengamati dari balik tirai.

Marcus mengeluarkan ponsel.

Kemudian menelepon seseorang.

Wajahnya terlihat tegang.

Seolah sedang menyampaikan informasi penting.

Jantung Arda mulai berdetak lebih cepat.

Ia tidak bisa mendengar isi percakapan itu.

Namun nalurinya mengatakan satu hal.

Ada sesuatu yang salah.

Sangat salah.

Beberapa menit kemudian Marcus kembali masuk ke rumah.

Arda buru-buru kembali ke kamarnya sebelum ketahuan.

Namun pikirannya tidak bisa tenang.

Bayangan pria itu terus muncul.

Telepon rahasia.

Keluar tengah malam.

Bersikap sembunyi-sembunyi.

Semuanya terasa mencurigakan.

Pagi berikutnya.

Saat sarapan, Arda terus memperhatikan Marcus.

Pria itu terlihat normal.

Terlalu normal.

Ia tertawa bersama beberapa anggota lain.

Berbicara seperti biasa.

Tidak menunjukkan tanda-tanda gugup.

Dan justru itu yang membuat Arda semakin curiga.

Setelah beberapa saat berpikir, Arda akhirnya menghampiri Kael.

"Aku ingin memberitahu sesuatu."

Kael menatapnya.

"Apa?"

Arda menarik napas dalam.

Lalu menceritakan semua yang dilihatnya malam tadi.

Setiap detail.

Setiap gerakan.

Setiap hal yang menurutnya aneh.

Semakin lama ia berbicara...

Ekspresi Kael semakin berubah.

Ravian yang ikut mendengarkan juga ikut terdiam.

Karena nama yang disebut Arda bukan sembarang orang.

Marcus Hale.

Pria yang telah bekerja untuk Leon selama hampir sepuluh tahun.

Pria yang selama ini dianggap setia.

Pria yang tidak pernah dicurigai siapa pun.

Kael berdiri perlahan.

Tatapannya menjadi dingin.

Sangat dingin.

"Kalau apa yang kau lihat benar..."

ucapnya pelan.

"Maka kita baru saja menemukan pengkhianat."

Dan untuk pertama kalinya...

Rumah persembunyian itu tidak lagi terasa aman.

Karena musuh ternyata mungkin sudah hidup bersama mereka selama ini.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!