Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Langkah Pertama di Paviliun Nahendra
Gerbang besi hitam menjulang tinggi yang mengitari kediaman utama keluarga Narendra
terbuka perlahan. Mobil sedan hitam mewah yang membawa Kiara meluncur mulus melewati
pekarangan luas yang ditumbuhi pohon-pohon palem hias dan taman teratai yang tertata
simetris. Di ujung jalan setapak, berdiri sebuah bangunan paviliun bergaya modern-klasik
dengan dinding kaca besar. Paviliun barat—tempat yang mulai hari ini menjadi sangkar emas
Kiara.
Kiara turun dari mobil, membawa satu koper medium berisi pakaian dan beberapa
peralatan lab mini pribadinya. Pelayan paruh baya menyambutnya dengan membungkuk
hormat, menuntunnya masuk ke dalam paviliun yang interiornya didominasi warna putih, abu-
abu, dan aksen ungu keemasan—warna khas Narendra Cosmetics. Segalanya tampak sempurna,
terlalu sempurna untuk sebuah kebohongan.
"Nona Kiara, Tuan Besar Arkan meminta Anda langsung menemuinya di ruang kerja lantai
dua setelah merapikan barang-barang Anda," ujar pelayan itu sopan sebelum undur diri.
Kiara menghela napas panjang. Ia meletakkan kopernya di kamar utama yang sangat luas,
lalu melangkah ke lantai dua. Ketika ia mendorong pintu ruang kerja yang tidak dikunci,
pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Arkan yang sedang duduk di balik meja
kayu jati besar, fokus menatap tiga layar monitor yang menyala terang. Pria itu sudah
mengenakan pakaian rumahannya—kaus hitam kasual yang mencetak jelas lekuk tubuh
atletisnya.
"Duduk," perintah Arkan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
Kiara menarik kursi kulit di hadapan Arkan dan duduk dengan anggun, melipat kakinya.
"Saya tidak tahu kalau fasilitas untuk 'istri kontrak' mencakup pengawasan ketat dua puluh
empat jam, Tuan Narendra. Sopir Anda menguntit saya seperti detektif hari ini."
Arkan akhirnya mengalihkan pandangan. Mata elangnya menatap Kiara tajam, penuh
selidik yang dingin. "Itu bukan penguntitan, Kiara. Itu proteksi aset. Kamu membawa formula
bernilai miliaran di kepala dan tanganmu. Dan... aku hanya memastikan asetku tidak
melakukan 'transaksi luar' tanpa persetujuanku."
Kiara tersenyum tipis, menyembunyikan detak jantungnya yang sempat berdesir
mendengar kata 'transaksi luar'. Apakah Arkan tahu sesuatu? "Anda terlalu paranoid. Fokus
saya saat ini hanya mempersiapkan peluncuran lini produk *brightening* baru kita minggu
depan. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan pendaftaran pernikahan kita?" "Semua berkas legal sudah selesai diproses oleh pengacara keluarga. Besok pagi, kita akan
menandatangani dokumen resminya di hadapan Madam Amalia," Arkan memajukan tubuhnya,
menumpukan kedua lengannya di atas meja, memperkecil jarak di antara mereka. "Dan mulai
malam ini, untuk meyakinkan seluruh pelayan dan mata-mata media di luar sana, kita akan
berbagi paviliun ini. Kamarmu tepat di sebelah kamarku, dengan pintu penghubung yang tidak
boleh dikunci."
Kiara tertegun. "Pintu penghubung? Tidak dikunci? Bukankah itu terlalu berisiko?"
"Berisiko untuk siapa? Untukmu atau untukku?" Arkan terkekeh sinis, menyandarkan
tubuhnya kembali ke kursi. "Aku pemilik rumah ini, Kiara. Jika aku ingin melakukan sesuatu
padamu, aku tidak perlu menunggu pintu itu terbuka. Pintu itu ada agar jika terjadi situasi
darurat—atau jika ada pemeriksaan mendadak dari nenekku—kita tidak perlu membuang
waktu."
Kiara mengepalkan tangannya di bawah meja. Pria ini benar-benar manipulator ulung. Dia
tahu betul bagaimana cara mengunci ruang gerak Kiara tanpa membuat Kiara bisa protes secara
hukum. "Baik. Tapi jika Anda melanggar batas privasi saya, saya tidak akan segan-segan
menambahkan racun dosis kecil yang memicu iritasi kulit kronis di kopi pagi Anda, Tuan."
"Ancaman yang menarik dari seorang formulator," balas Arkan dengan binar mata yang
mendadak berubah intens. "Kita lihat saja siapa yang pertahanannya akan jebol duluan di
paviliun ini."
Malamnya, suasana paviliun begitu sepi. Kiara berdiri di balkon kamarnya, menatap
hamparan lampu kota dari kejauhan. Di tangannya, sebuah botol kecil berisi sampel ekstrak
herbal langka yang baru ia selesaikan. Tiba-tiba, pintu penghubung kamarnya terbuka tanpa
ketukan.
Arkan berdiri di sana, memegang sebuah map dokumen baru. Namun, pandangan Arkan
mendadak terkunci pada penampilan Kiara. Gadis itu mengenakan gaun tidur satin tipis
berwarna ungu muda yang kontras dengan kulit putih susunya yang berkilau alami (*glowing*)
akibat rutinitas perawatan formulanya sendiri. Rambut panjangnya dibiarkan terurai bebas,
menciptakan kesan rapuh namun sangat sensual.
Arkan berdeham pelan, mencoba mengusir ketegangan aneh yang mendadak menyerang
benaknya. "Ini jadwal lengkap untuk konferensi pers gabungan minggu depan. Pelajari."
Kiara berbalik, berjalan mendekati Arkan untuk mengambil map tersebut. Namun karena
terburu-buru, ujung gaun tidurnya tersangkut kaki meja rias. Tubuhnya limbung ke depan.
Dengan refleks kilat, Arkan maju dan menangkap pinggang ramping Kiara. Sentuhan itu
begitu mendadak hingga tubuh mereka merapat sempurna. Tangan besar Arkan mencengkeram pinggang satin Kiara, sementara tangan halus Kiara refleks bertumpu pada dada bidang Arkan,
merasakan detak jantung pria itu yang mendadak berpacu liar sama sepertinya.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Napas hangat Arkan menerpa kening
Kiara. Keheningan malam itu mendadak dipenuhi oleh ketegangan seksual yang begitu pekat.
Mata Arkan turun ke bibir tipis Kiara yang sedikit terbuka karena terkejut, dan untuk sesaat,
akal sehat sang CEO dingin itu benar-benar lumpuh oleh pesona alami gadis di pelukannya.
Tepat pada detik yang krusial itu, ponsel Arkan yang berada di saku celananya berdering
nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak: **"Detektif Swasta - Yudha"**.
Bunyi itu seperti siraman air es yang langsung menyadarkan mereka berdua. Kiara dengan
cepat mendorong dada Arkan dan mundur tiga langkah, wajahnya merona merah padam hingga
ke leher. Arkan berdeham dingin, melangkah mundur ke ambang pintu penghubung sambil
mengangkat teleponnya.
"Ya, Yudha. Ada informasi apa?" tanya Arkan langsung, suaranya kembali berat dan
profesional, meski matanya masih melirik Kiara yang berpura-pura merapikan gaunnya.
"Bos, kami sudah melacak sinyal enkripsi semalam. Sosok 'R' yang ditemui Kiara ternyata
adalah mantan kepala riset PT Mahardika Utama yang dipecat secara tidak hormat setahun
lalu. Dan dari data yang kami retas... Kiara Sabitha sebenarnya adalah putri kandung dari
pemilik formula asli Narendra Cosmetics yang dicuri sepuluh tahun lalu oleh ayahmu sendiri."
Mendengar kalimat terakhir dari seberang telepon, pupil mata Arkan seketika melebar.
Seluruh dunianya serasa runtuh dalam satu detik. Ia menatap Kiara yang kini sedang berdiri
membelakanginya di dekat balkon. Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Kiara bukan sekadar
formulator berbakat yang mencari untung; dia adalah korban masa lalu keluarganya yang
datang untuk menuntut balas.